fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

10 Bisnis yang Sukses karena Punya Komunitas Pembeli yang Kuat

komunitas pembeli 01

Bagi jalannya sebuah bisnis, penting untuk membangun ekosistem berupa komunitas. Komunitas pembeli brand-brand saat ini sudah menjadi bagian dari keberadaan bisnis itu sendiri. Apakah dari kamu pernah mengetahuinya?

Memang pada awalnya ada beberapa yang menyepelekan peran komunitas untuk mendukung kekuatan sebuah brand. Padahal jika dikelola dengan tepat, komunitas pembeli brand-brand akan memberikan dampak yang signifikan. 

Yuk, belajar dari brand-brand ternama dan juga brand-brand lokal yang mengelola komunitas pembelinya dengan baik. 

5 Komunitas Pembeli Brand-Brand Ternama 

komunitas pembeli 03Berikut adalah brand ternama yang sudah menerapkan komunitas pembelinya dengan baik, pastinya kamu sudah kenal di antaranya, ya?

1. Beauty Talk

Beauty Talk adalah komunitas brand Sephora, bergerak di bidang perawatan dan kecantikan. Mereka berhasil membangun komunitas brand nya dengan sangat baik sampai-sampai tidak diperlukan hard selling lagi. 

Soft selling sangat terasa saat anggota komunitas Beauty Talk mengunggah foto selfie dengan produk Sephora, kemudian foto tersebut dihubungkan dengan halaman produk sesuai tiap produk yang digunakan. 

Secara tidak langsung, anggota komunitas menjadi “brand ambassador” dan memberi pengaruh ke orang di sekitarnya. 

Dalam komunitas ini, para anggotanya bisa saling berdiskusi, bertanya, dan berbagi seputar perawatan dan kecantikan. Sharing and caring. Benar adanya kalau dalam komunitas, sekat antara kamu sebagai produsen dan konsumen berganti menjadi kata “kami”. Dengan begitu, konsumen terus update tentang produk dan aktif di komunitas.    

2. My Starbuck Idea

Siapa yang tidak kenal dengan brand bergengsi satu ini? Hampir semua orang setuju, brand satu ini identik dengan kesan eksklusif. Begitu juga saat tergabung dengan komunitas brand nya yang bernama My Starbuck Idea. 

Meski komunitas ini berbasis online melalui website, namun semua orang di dalamnya terlibat aktif dalam voting dan memberikan respon. Starbuck sering membagikan survei untuk mendapatkan ide dari konsumen mereka. 

Saling berbagi dengan sesama pecinta kopi dari seluruh dunia tentu menyenangkan, apalagi saat mereka bisa berkontribusi untuk brand kesayangan mereka. 

3. Lego Ideas

Siapa yang gemar bermain lego? Segala usia rasanya cocok untuk memainkan permainan satu ini. Hla ini ditangkap apik oleh Lego ketika mengelola komunitas onlinenya. 

Lego Ideas adalah wadah bagi pencinta lego mulai usia 5 hingga 95 tahun untuk sama-sama melihat, memilih, serta memberi tanggapan tentang desain-desain lego terbaik. Para anggotanya bisa mengirimkan desain ide permainan lego terbaik versi mereka. Tak berhenti di situ, perusahaan selanjutnya memberi ruang bagi desain paling populer untuk dipasarkan berupa produk.

Pencipta desain pun merasa senang karena desain mereka mendapatkan umpan balik, baik dari sesama pencinta lego maupun dari perusahaan lego sendiri. Perusahaan memberikan penilaian lewat prosentase penjualan produk.   

Selain itu, banyak pula kontes-kontes lego yang berlangsung di sana. 

4. Playstation Community

Playstation juga merupakan jenis permainan berbasis game elektronik yang sangat digemari berbagai kalangan. Brand ini juga membangun komunitas online nyauntuk membuat para gamer terhubung. 

Engagement dengan audience terjadi di platform Youtube dan media sosialnya. Bahkan para anggota yang tergabung pada komunitas dapat memilih minatnya sendiri. Mulai dari permainan, minat khusus, atau jenis dukungan yang memang mereka butuhkan. Dengan begitu, anggota lain bisa merespon dengan fokus. 

Komunitas ini juga memiliki user generated content yang memungkinkan baik pihak brand maupun konsumen mengunggah konten buatannya. Bahkan, dalam PS4, pengguna bisa mengunggah klip video dalam game secara online. 

Kekuatan brand terus meningkat dan konsumen pun semakin loyal untuk menunggu fitur keluaran terbaru dari perusahaan. 

5. Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI) dan Harley Owners Group (HOG)

Pengguna Harley-Davidson di seluruh dunia juga terkenal sangat loyal pada brand kesayangan mereka ini. Mereka rela mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk memenuhi hasrat mereka mengendarai motor gede eksklusif ini. 

Di Indonesia sendiri, ada HDCI yang rutin menggelar berbagai event dan juga konvoi, terutama di masa sebelum pandemi. HDCI sendiri sudah berusia 20 tahun lebih, dan merupakan perkumpulan dari pengguna dan penggemar Harley-davidson. 

Bedanya dengan HOG, HOG merupakan keanggotaan yang bersifat global dan berdasarkan pada dealer. Dalam skala global, keanggotaan HOG sudah mencapai 14-15 juta member.

5 Komunitas Pembeli dengan Brand Lokal

komunitas pembeli 02Kalau brand-brand ternama saja fokus dalam mengembangkan komunitas brand nya, seharusnya pebisnis lokal bisa belajar banyak. Komunitas pembeli brand-brand lokal saat ini juga sudah cukup berkembang, ini dia di antaranya.

1. Buttonscarves Ladies Community

Merek lokal yang mengkhususkan diri pada penjualan pattern scarf ini sudah berdiri sejak 2016. Founder nya, Linda Anggrea, benar-benar menjamin produk yang dikeluarkannya memang berkualitas premium dan dikerjakan dari hati. 

Saat ini, selain di Indonesia, Linda telah mengembangkan bisnisnya hingga ke negeri jiran seperti Malaysia dan Singapura. Setiap bulannya, Buttonscarves berhasil menjual hingga 3000 hijab. 

Pattern scarf banyak digunakan BSLady, sebutan bagi konsumen Buttonscarves, sebagai hijab. Yang luar biasa, suatu kali thematic store Buttonscarves dipenuhi perempuan berhijab yang ingin mengoleksi seri terbaru Buttonscarves dan menanti launching nya. Di sini terlihat, benar-benar bangga menggunakan brand tersebut. Bahkan rela mengantri.

2. Kami Idea

Brand lokal berikutnya adalah Kami Idea yang pernah mendapatkan travel grant dari Badan Ekonomi Kreatif. Kami Idea mengeluarkan konsep baju siap pakai (ready to wear) asal Jakarta ini membuka toko online yang beralamat di kamiidea.com. Juga aktif memasarkan produknya melakui Instagram. Kami Idea telah membuka offline store di Yogyakarta, Medan, Padang, Bandung, Palembang, juga Malang. Namun, ada beberapa yang aralaba dan ada pula yang Kami Idea kelola sendiri.

Tak hanya di Indonesia, Kami Idea juga mulai merambah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. Tak hanya itu, saat ini Kami Idea sudah mulai masuk ke department store. Sebut saja Central, Metro, Sogo, dan Lotte Shopping Avenue. Brand ini terus berusaha memperluas pasarnya dengan menjual produk secara online di hijup.com, zalora.co.id, hijabenka.com, juga muslimarket.com. 

Kami Idea beruntung punya basis komunitas pembeli yang kuat, dimulai dari kemunculan Hijabers Community berbasis blogger. Kami Idea sering mendukung event kopdar dengan mensponsori hijabnya, sehingga banyak blogger yang kemudian melakukan review dan tentu mendongkrak penjualan. 

3. Ria Miranda Loyal Community (RMLC)

Ria Miranda merupakan perancang busana asal Padang yang memiliki brand brnama sama dengan namanya. Karyanya banyak meng-explore garis-garis, sentuhan pastel, juga nuansa girly feminin dan banyak disukai hijabers. 

RMLC merupakan komunitas pembeli yang dibangun brand Ria Miranda sejak awal kemunculannya. Menurut Ria, RMLC merupakan partner dan sumber inspirasi, bukan hanya dianggap sebagai target market. RMLC bagi brand Ria Miranda merupakan sebuah support system. 

Faktor lainnya adalah sosok Ria Miranda merupakan inspirasi dan influencer yang banyak memberikan inspirasi. Ini juga mendorong konsumen jadi makin loyal dengan brand Ria Miranda. 

4. Klamby Loyal Customer

Wearing Klamby adalah brand yang menaungi Klamby loyal customer, komunitas pembeli loyalnya. Produk andalannya adalah baju lebaran eksklusif dengan seri tertentu dan luar biasanya selalu konsumen buru. Misalnya koleksi Sasak yang jumlahnya saat peluncuran pertama, 4000-5000 pcs, dan langsung ludes hanya dalam beberapa menit.

Waktu itu, server dari toko online Wearing Klamby sampai tidak kuasa menampung 61 ribuan kunjungan dan antri check out yang sempat mengalami error system. Hingga banjir 12 ribu komentar di postingan akun media sosialnya. Karena itu pula, CS Wearing Klamby sampai harus lembur untuk menangani 5000 chat. 

Dari sini, komunitas pembeli Klamby loyal customer sangat agresif dalam menyambut setiap produk yg diciptakan Nadine Gaus (founder dan creative director) serta Muhammad Ridho (co founder). Nadine dikenal orang yang detil dalam menciptakan produk kreatifnya. Dengan ketelitian dan desain menarik, tak heran, harga Rp 400 ribu untuk setiap pcs nya terjangkau.   

Saat ini, Wearing Klamby juga membuka toko offline berkonsep affordable luxury di Plaza Indonesia, juga Super Mall Karawaci, dan juga di kota-kota lainnya seperti Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Palembang, Padang, Medan, dan Bali.  

5. Mitra Sehat & Healthypreneur Ladang Lima

Ladang Lima merupakan pionir produsen tepung singkong di Indonesia. Berawal dari memenangkan Food Startup Indonesia, Ladang Lima kemudian berkembang dengan pesat. 

Mereka memberikan solusi bagi masyarakat yang intoleran dengan gluten yang terdapat dalam tepung terigu, beralih lebih sehat dengan menciptakan produk gluten free. Tak hanya tepung singkong untuk kebutuhan pembuatan kue saja, tapi juga merambah pada tepung bumbu serbaguna, dan juga mie berbahan dasar tepung Singkong, sampai pada gluten free snack.

Mitra Sehat adalah komunitas pembeli berbasis reseller yang tersebar di seluruh Indonesia dan telah berhasil menciptakan ekosistemnya sendiri. Sedangkan Healthypreneur Ladang Lima adalah komunitas alumni ajang pengusaha di bidang makanan sehat yang diselenggarakan Ladang Lima sejak tahun 2021. Selain itu, Ladang Lima juga rajin mendekati komunitas gaya hidup sehat di awal-awal memperkenalkan produknya. 

Annisa Pratiwi sebagai founder dan juga suaminya juga punya keinginan kuat untuk memperkenalkan produknya sebagai bagian dari edukasi ketahanan pangan lokal dengan bekerjasama dengan para petani di wilayah Jawa Timur. Kini, produk Ladang Lima sudah terekspor ke Inggris dan California.   

Itu dia komunitas pembeli brand-brand yang bisa LummoSHOP hadirkan buat kamu. Dari brand ternama hingga brand lokal semuanya sudah membuktikan bagaimana kekuatan sebuah komunitas pembeli memang berdampak nyata untuk bisnis yang mereka jalani. 

Jadi, membangun komunitas pembeli brand-brand memang satu langkah strategi yang tepat untuk membuat bisnismu berkembang.