fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

3 Langkah Brand Manager untuk Memulai Model Bisnis D2C

LummoSHOP Brand Manager D2C


D2C? Apa Itu?

Istilah D2C (direct to consumer) mungkin masih sedikit asing di telingamu. Padahal, secara tidak sadar, mungkin kamu sudah berhubungan dengannya setiap hari atau bahkan sejak dulu. Ya, model bisnis ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Hanya saja, dulu belum ada istilah seperti itu. Saat ini, hanya “packaging”-nya yang berbeda di mana teknologi internet atau informasi menjadi pendukung utamanya. Poin dari model bisnis D2C (direct to consumer) sebenarnya masih sama, yakni ketika kamu sebagai pemilik bisnis langsung bisa menawarkan produk/jasamu kepada pemakai terakhir atau konsumen tanpa melalui perantara seperti distributor, pengecer, reseller, atau semacamnya.

Bisa dibilang, model bisnis D2C (direct to consumer) ini sebenarnya bukanlah barang baru. Kalau kamu mau melihat jauh ke belakang, perusahaan seperti Avon misalnya, ia mengawali bisnisnya di tahun 1800-an dengan memasarkan langsung produknya kepada konsumen. Atau, contoh lain yang lebih sederhana, misalnya kamu memproduksi/membuat rujak cingur kemudian menawarkannya ke tetangga sekitar yang notabene konsumen, maka saat itu kamu mempraktikkan model bisnis D2C.

Seiring dengan berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi informasi, model bisnis D2C tak lagi mengenal batas tempat dan waktu. “Hanya” dengan berbekal internet serta beragam perangkat pendukung, kamu sebagai pemilik bisnis sudah bisa menjangkau dunia yang merupakan calon konsumenmu. Ya, ibaratnya hanya dalam satu “jentikan” jari atau satu kedipan mata tanpa perlu bantuan orang ketiga, kamu sudah bisa berhubungan langsung dengan mereka di mana pun berada. Ehm, sounds interesting, right?

 

Peran sebagai Pemilik Bisnis sekaligus Brand Manager

Jika saat ini, bisnis online kamu masih baru berdiri, tidak ada salahnya kalau kamu “merangkap” jabatan tidak hanya sebagai pemilik melainkan juga sebagai brand manager untuk meminimalisasi pengeluaran operasional. Sebagai brand manager, kamu ibarat ujung tombak atau magnet di mana tertarik atau tidaknya calon konsumen terhadap produk atau jasa semua bergantung padamu. Misi utamamu adalah bagaimana membuat mereka “jatuh cinta”.

Sebagai brand manager sekaligus pemilik bisnis online, kamu bertanggung jawab terhadap barang atau jasa yang sedang kamu tawarkan dari a sampai z. Menurut thebrandingjournal.com, setidaknya ada beberapa poin yang menjadi tanggung jawabmu sebagai brand manager: melindungi brand dari citra negatif/diambil orang lain, bekerja sama dengan pihak-pihak terkait, dan menjalin komunikasi yang sehat dengan konsumen.

 

3 Langkah Penting Masuk ke Model Bisnis D2C

Tidak ada artinya beribu teori tanpa praktik alias bukti. Pun dalam berbisnis. Sebagai brand manager sekaligus pemilik bisnis online, kamu bisa langsung mengambil 3 langkah penting ini untuk masuk ke model bisnis D2C sekarang. Apa saja?

  1. Membuat perencanaan yang matang untuk memperkenalkan produk bisnis/jualan online kepada konsumen
    Tugas penting brand manager adalah membuat citra positif mengenai produk yang nantinya akan “dilempar” ke pasaran. Tentu saja, yang dimaksud membentuk citra positif tidak sama dengan pencitraan. Jika yang pertama ibaratnya cantik luar dalam, maka yang kedua hanya agar terlihat menawan padahal kualitasnya belum tentu seperti yang dipromosikan. Tentunya, kamu tak mau seperti itu ya karena hal tersebut akan mempengaruhi kelangsungan bisnis/jualan online kamu dalam jangka panjang.Hal-hal berikut ini bisa kamu jadikan pertimbangan untuk mempermudah tugasmu. Apa saja?
    • Temukan keunikan dari produk yang akan dikenalkan ke konsumen. Sebisa mungkin, jangan menggunakan cara yang mirip dengan yang dilakukan kompetitor. Namun, sekadar survei sebagai pembanding tentu saja sangat boleh. Jangan juga menjiplak karena hal tersebut akan membuat citra bisnismu jelek. Belum-belum kok sudah plagiat? Begitulah kira-kira.
    • Web perusahaan sebagai “pintu masuk” konsumen untuk berkenalan dengan produk yang kamu jual. Cara buat toko online atau web perusahaan tidaklah sulit, kamu bisa menggunakan LummoSHOP. Yang jelas, petakan sejak awal, web perusahaan seperti apa yang kamu inginkan. Rencanakan dengan detail website bisnis/jualan online kamu nanti akan diisi apa saja.
    • Memperkenalkan web perusahaan atau jualan online kamu kepada konsumen, misalnya dengan bantuan media sosial atau Google Ads. Untuk media sosial, ada baiknya kamu dan tim membuat jadwal jam berapa saja akan posting di masing-masing platform. Sedangkan untuk Google Ads, cara ini mungkin lebih efektif dan cepat karena konsumen akan langsung terhubung dengan website-mu ketika mereka mengetikkan kata kunci tertentu. Yang kamu perlukan adalah merencanakan untuk membuat tulisan-tulisan yang ramah SEO.
  1. Membangun komunikasi positif dengan konsumen
    Langkah penting berikutnya yang tidak boleh kamu abaikan untuk bisa masuk ke model bisnis D2C adalah membangun komunikasi positif dengan konsumen. Inilah kesempatanmu untuk menciptakan hubungan yang lebih erat dengan konsumen yang kelak berpotensi menjadi pelanggan tetapmu. Kunci hubungan yang harmonis antara kamu sebagai pemilik bisnis dengan konsumen sebenarnya satu, yaitu anggaplah mereka sebagai mitra yang setara, bukan objek penjualan semata. Libatkan mereka dalam berbagai hal, tanyakan tingkat kepuasan mereka juga saat menggunakan produk/jasamu, dan bersikaplah terbuka dengan kritik.
  1.   Kaizen
    “Kai” berarti perbaikan sedangkan “zen” berarti bagus. Kaizen adalah salah satu filosofi kerja dari Negeri Sakura yang berarti perbaikan terus-menerus atau dengan kata lain belajar setiap saat untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Jika dikaitkan dengan bisnis online/jualan online yang baru kamu rintis, penerapan filosofi ini seolah menjadi sebuah keharusan. Bagaimana tidak, sebagai bisnis yang baru bertumbuh, tak bisa dipungkiri jika kadang kamu melakukan kesalahan. Trial and error seolah menjadi hal biasa sebelum kamu benar-benar menemukan pola atau formula yang tepat.Berikut beberapa penerapan kaizen yang kamu lakukan:
    • Jangan mudah terlena dengan pujian konsumen
    • Jangan mengabaikan komplain pelanggan
    • Jangan lambat memberikan pelayanan karena konsumen bisa beralih ke yang lain
    • Lakukan inovasi atas produk/jasa yang kamu tawarkan agar tidak tergilas di tengah persaingan

 

Brand manager ibarat penulis. Sebelum memulai aktivitasnya, ia harus mengawalinya dengan membuat outline agar tulisan yang dihasilkan bisa terarah dan tepat sasaran. Pun brand manager, ia harus tahu apa visi dan misi dari produk yang akan ia “kenalkan” kepada konsumen, berikut filosofi/sejarah serta “penampakan” atau keunikan produknya. Ia juga tak boleh lupa memberikan “nyawa” kepada produk tersebut sebagaimana penulis yang harus menulis dari hati agar pesan yang ia tuliskan bisa sampai ke pembaca. 

 

Kesimpulan

Model bisnis D2C atau direct to consumer sebenarnya merupakan model bisnis lama yang “diperbarui” dengan perangkat teknologi informasi. Sebagai brand manager yang notabene bertanggung jawab dengan semua yang berkaitan dengan brand sekaligus pemilik bisnis yang baru dirintis, kamu akan mendapatkan banyak manfaat ketika memilih model bisnis tersebut. Untuk itu, hal penting yang harus ada adalah memiliki web perusahaan/toko online sendiri sehingga konsumen bisa langsung terhubung dengan bisnismu dan brand kamu bisa semakin kuat di mata mereka. Tak perlu pusing bagaimana mengawalinya karena jualan pakai LummoSHOP bisa membantumu mewujudkannya.