fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

6 Hal yang Perlu Kamu Siapkan Jika BI Menaikkan Suku Bunga Acuan

Suku bunga

Bank Indonesia memberi sinyal akan menaikkan suku bunga acuan jika inflasi tetap tinggi. Kebijakan ini akan memberi dampak secara langsung terhadap sejumlah sektor usaha, termasuk bagi sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Pernyataan tersebut Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo sampaikan yang menyebutkan bahwa respon kebijakan BI akan sangat tergantung dari penyebab inflasi. Seperti dikutip CNBCIndonesia, Dody menyebutkan bahwa BI terus memonitor risiko inflasi ke depan, besaran dan timing dari respon dari respons kebijakan moneter akan tergantung pada faktor-faktor penyebab inflasi. 

Inflasi Bank Indonesia

Jika tekanan inflasi, khususnya inflasi inti, dipandang permanen dan akan melampaui sasaran, BI siap mengambil langkah-langkah berikutnya termasuk penyesuaian suku bunga,

Sinyal dari Bank Indonesia merupakan respon dari rilis data inflasi April 2022, yang dirilis pada 9 Mei lalu. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa inflasi Indonesia pada April 2022 melesat naik ke level 3,47% secara tahunan, angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2019.

Selain itu, angka inflasi tersebut juga mendekati batas atas kisaran target inflasi BI yaitu 2%-4%. Sedangkan inflasi inti pada April menembus 2,6% secara tahunan, yang juga merupakan rekor tertinggi sejak Mei 2020 atau dua tahun lalu di mana pada saat itu inflasi inti mencapai 2,65%.

Suku bunga
Sumber: Bank Indonesia

Inflasi muncul ketika ekonomi mengalami pertumbuhan yang disebabkan oleh meningkatnya daya beli tanpa diikuti peningkatan di sisi produksi barang dan jasa. Ketika hal ini terjadi, harga meningkat, dan nilai tukar mata uang berkurang dari sebelumnya. Jumlah uang yang sama tidak bisa digunakan untuk membeli barang sebanyak sebelumnya.

Ketika nilai mata uang berkurang, nilai tukarnya pun melemah jika dibandingkan dengan mata uang lainnya. Meskipun, ini juga tergantung pada bagaimana kondisi inflasi negara yang menjadi pembanding tersebut. Jika inflasi yang terjadi di negara tersebut lebih tinggi, maka nilai tukar terhadap mata uang negara tersebut mungkin menguat.

Metode untuk Mengontrol Inflasi

Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengontrol inflasi. Beberapa bisa berjalan dengan baik, sementara metode lainnya mempunyai efek negatif. Naiknya suku bunga acuan pun juga memiliki efek negatif, diantaranya perlambatan ekonomi. Hal ini juga mempengaruhi kondisi usaha secara umum.

Ketika bank sentral menaikkan, acuannya bank tidak memiliki pilihan selain juga menaikkan suku bunganya. Ketika hal tersebut terjadi, jumlah orang yang ingin meminjam uang dari bank menurun karena hal tersebut memerlukan biaya yang lebih. Sehingga belanja berkurang, harga turun, dan inflasi melambat. 

Meskipun Bank Indonesia belum benar-benar menaikkan suku bunga, efek dari kondisi yang terjadi saat ini sudah berpengaruh cukup besar di sektor pasar modal. Isu kenaikkan suku bunga telah membuat indeks acuan Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan  (IHSG) turun 4,42% dalam sehari setelah rilis data inflasi April 202 dan masih mengalami tren turun beberapa hari berikutnya.

Fenomena ini wajar terjadi karena para pelaku pasar modal cenderung melihat secara forward looking, sehingga pasar modal seringkali bergerak lebih dahulu dibandingkan dengan sektor riilnya. Dalam masalah ini, pelaku pasar modal telah memperkirakan efek dari inflasi dan potensi kenaikan suku bunga terhadap kinerja keuangan perusahaan secara umum pada periode yang akan datang.

Efek Kenaikan Suku Bunga Terhadap Usaha

Suku bungaMeskipun faktanya bahwa kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral merupakan kebijakan yang bagus dan tepat untuk meredam inflasi, semakin tinggi bunga yang bank terapkan juga memberikan dampak yang cukup besar bagi para pelaku usaha. Beberapa di antaranya yaitu:

  • Semakin Tinggi Suku Bunga, Semakin Rendah Pendapatan Konsumen

Ketika suku bunga naik, maka konsumen yang memiliki pinjaman di bank harus membayar lebih banyak bunga kepada bank. Secara umum ini akan memberikan efek negatif terhadap pola berbelanjanya. Semakin banyak pinjaman yang harus dia bayar, maka semakin sedikit sisa uang yang mereka miliki yang bisa kamu keluarkan untuk berbelanja barang dan jasa. Jika kamu memiliki usaha di segmen barang atau jasa yang tergolong mewah, efek kenaikan suku bunga mungkin akan lebih terasa dibandingkan dengan perusahaan yang menyediakan kebutuhan dasar. Karena barang mewah biasanya merupakan yang dieliminasi pertama kali oleh konsumen ketika mereka harus mengurangi pengeluarannya.

  • Suku Bunga Tinggi Membuat Pelaku Usaha Sulit Mendapat Pinjaman

Hampir semua usaha kecil memiliki pinjaman yang besar, dan ketika suku bunga naik, biaya pinjaman (borrowing cost) menjadi semakin mahal. Apalagi, kebanyakan adalah pinjaman jangka panjang yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dilunasi. Sebagai tambahan, kenaikannya akan membuat para pelaku usaha kecil sulit untuk mendapatkan pinjaman baru jangka pendek untuk membantu mereka membayar kebutuhan tidak terduga atau mengembangkan bisnis ketika mereka butuhkan. Kenaikan suku bunga bisa menghambat pertumbuhan usaha selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

  • Evaluasi 

Evaluasi kembali neraca keuangan untuk melihat berapa banyak jumlah pinjaman yang kamu miliki dan berapa besar biaya finansial yang bisa kamu toleransi. Perusahaan dengan pinjaman yang memiliki suku bunga floating rate biasanya akan lebih mengalami kesulitan jika kamu bandingkan dengan fixed rate. 

  • Ubah Semua atau Beberapa Pinjaman

Yang menggunakan floating rate menjadi fixed rate, tergantung seberapa banyak kenaikan suku bunga yang akan terjadi. Jika suku bunga acuan hanya naik sedikit, cukup beberapa pinjaman saja yang perlu kamu ubah menjadi fixed rate. 

  • Perhatikan Aspek Lainnya

Dalam bisnis yang mungkin juga akan terdampak dari perubahan tersebut. Tidak hanya biaya pinjaman saja yang akan terdampak kenaikan suku bunga. Kredit pemilikan rumah jelas akan naik. Namun, sewa kantor juga biasanya juga ikut naik karena biaya kredit yang pemilik bangunan miliki juga naik. Sewa peralatan dan kendaraan juga biasanya ikut naik.

  • Audit Historikal Cash flow perusahaan

Perusahaan dengan cash flow yang terbatas akan mendapatkan kesulitan yang lebih besar ketika suku bunga naik. Pembayaran sejumlah pinjaman mungkin bisa tertunda karena keterbatasan cash flow. Skenario lain yang mungkin terjadi adalah rencana investasi dan ekspansi bisa jadi batal karena masalah ini yang membuat pertumbuhan perusahaan terhambat. . 

  • Pelajari Kebiasaan Berbelanja dari Konsumen

Perubahan perilaku konsumen akibat naiknya suku bunga juga bisa berdampak pada arus kas perusahaan. Ketika konsumen harus membayar bunga lebih tinggi untuk pinjaman personalnya, termasuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB), kemampuan mereka untuk berbelanja menjadi berkurang. Selain itu, tingginya suku bunga membuat konsumen dan bisnis lebih tertarik untuk menyimpan cash jika kamu bandingkan dengan membelanjakannya.

  • Pertimbangkan Bagaimana Penguatan Nilai Tukar Dolar AS Terhadap Bisnismu

Biasanya ketika inflasi terjadi nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. Hal ini juga terjadi ketika bank sentral AS, Federal Reserve menaikkan suku bunganya. Penguatan dolar AS akan berdampak pada aspek ekspor dan impor.

Inflasi dan kenaikan suku bunga merupakan fenomena yang tidak bisa para pelaku usaha hindari. Oleh sebab itu, salah satu hal yang perlu kamu lakukan adalah mempersiapkan diri ketika hal tersebut terjadi.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP