fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

6 Taktik Promosi Bisnis D2C Agar Tetap Eksis dan Makin Laris

LummoSHOP_Strategi-Promosi

Siapa yang tak kenal dengan brand Nike. Produsen terbesar pakaian dan sepatu olahraga yang berdiri di Oregon pada tahun 1964. Awalnya perusahaan ini bernama Blue Ribbon Sports, tetapi pada 1971 berubah nama menjadi Nike. 

Pada tahun 2011, sekitar 10 tahun sebelum Nike memutuskan strategi pemasarannya beralih ke direct to consumer atau D2C, perusahaan yang go public di tahun 1980 ini sudah mulai serius menggarap strategi D2C. 

Dalam laporannya di tahun itu, Nike menulis, meskipun grosir masih mendominasi pendapatan brand Nike, tetapi pertumbuhan saluran D2C menggembirakan. Ketika itu, penjualan D2C Nike menghasilkan 16% dari pendapatan, atau sekitar US$2,9 miliar dari total US$18,1 miliar. 

Menariknya lagi nih, sejak beberapa tahun sebelum pandemi Covid-19, Nike sudah mulai menarik diri dari department store dan gerai grosir lainnya, serta mengklaim penjualan digital lebih menguntungkan. Terbukti pada kuartal pertama 2020, penjualan e-commerce Nike melonjak 82%.

Nggak cuma Nike, raksasa olahraga Adidas pun dalam rencana empat tahunnya mengumumkan target peralihan model pemasarannya secara direct to consumer. Adidas sendiri langsung memasarkan produknya ke konsumen dan mengurangi mitra grosir. Targetnya sampai 2025, penjualan bersih secara D2C bisa naik sampai 50%. 

Maka berbahagialah kamu yang memilih jalan direct to consumer dalam pemasaran jualan online kamu. Mengingat beberapa pakar meyakini bahwa strategi direct to consumer bakal terus bertumbuh di 2022. 

Ya gimana enggak, selama pandemi konsumen semakin sadar dan menyalurkan hasrat belanjanya lewat belanja online. Ditambah lagi dengan adanya pembatasan mobilitas dan penutupan pusat perbelanjaan. Mau tidak mau, belanja online menjadi pilihan paling aman. 

Terbukti selama semester pertama 2021, Bank Indonesia mencatat, transaksi perdagangan bisnis online meningkat 63,4% dibanding tahun sebelumnya atau menjadi Rp186,7 triliun. 

Tapi jangan santai dulu, potensi bisnis D2C yang menjanjikan tentu sejalan dengan persaingan yang semakin ketat. 

Seperti dituliskan Forbes.com lewat artikel berjudul Five Direct to Consumer E-commerce Trends for 2022. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dari fenomena tumbuhnya bisnis D2C di 2022 adalah akan lebih banyak pengecer tradisional beralih ke D2C. Apalagi dengan berkurangnya minat orang menyambangi toko offline, akan membuat retailer mendekati konsumennya secara online alias direct to consumer

Oleh karena itu, kamu perlu pandai-pandai menyiapkan taktik dan strategi promosi jualan online agar bisnis D2C kamu tetap eksis dan makin laris.

Taktik Promosi Jualan Online

Bisnis D2C itu pada dasarnya memangkas jalur distribusi produk dari produsen langsung ke konsumen. Dalam pola pemasaran tradisional, cara produsen menjangkau konsumen sangat terbatas, biasanya hanya lewat katalog atau pemesanan melalui surat misalnya. Sementara dalam konsep D2C, teknologi memungkinkan jangkauan pasar lebih luas. Ini yang harus dimanfaatkan agar promosi jualan online maksimal.

blog_perbandinganD2C

Sumber: Plytix.com

Terus aku kudu piye?

Setidaknya ada 6 taktik promosi jualan online biar bisnis kamu kinclong tahun ini:

1. Identitas Brand yang Kuat

Di zaman serba internet ini, banyak banget saluran yang bisa digunakan pebisnis online untuk memasarkan produknya. Entah melalui website, media sosial, dan platform teknologi lainnya. Semua orang bisa melakukannya. Karena itu kamu perlu membangun identitas brand yang kuat dan konsisten, yang ketika orang sekali lihat, langsung tahu itu brand milikmu dan tahu apa jualan bisnis online kamu. 

LummoSHOP_Strategi-Promosi

2. Data adalah Segalanya

Kekuatan data mengalahkan segalanya. Enaknya, di era internet ini, banyak sekali tools yang bisa kamu gunakan untuk mengumpulkan dan menganalisa data tentang siapa, karakter, dan mana target pasar yang tepat. Dengan begini kamu bisa menyusun strategi promosi yang tepat. 

Misalnya, ketika kamu tahu konsumen bisnis online kamu kebanyakan emak-emak, sodorin deh promo potongan harga, uji coba sampel gratis, atau apa pun yang antiribet. Lagi-lagi, kreativitas harus diasah. 

3. Bersosialisasi di Media Sosial

Pasti kamu sering mengalami situasi ini. Dalam hati punya keinginan membeli barang A. Eh tiba-tiba pas buka media sosial, jualan-jualan online barang A sudah meramaikan linimasamu. Itulah kehebatan algoritma media sosial, ramalannya mengalahkan cenayang profesional. 

Maka manfaatkan itu. Selain berjualan melalui website, brand kamu juga harus beredar di jagad media sosial lintas-platform. Analisa pengikutmu, pelajari demografi, apa kesukaan dan minat, perilaku, serta bangun interaksi dengan pelangganmu. 

Urusan interaksi di media sosial ini, kamu bisa mempelajari cara Netflix Indonesia mengelola media sosialnya. Setidaknya ada 3 hal yang membuat akun Netflix Indonesia sangat interaktif dengan pengikutnya. 

Pertama, konten mulai dari tema, topik, penggunaan warna dan font tersusun dengan baik. Kedua, gaya penyampaiannya santai, penuh humor, dan menghibur layaknya percakapan sehari-hari. 

Ketiga, relate dengan audiens. Netflix kan tujuannya sebagai sarana hiburan, nah media sosialnya pun dikelola untuk menghibur audiensnya walau sebenarnya isinya promo film-filmnya juga, tapi audiens tidak menyadari karena penyampaiannya menyenangkan. 

Maka buatlah konten media sosial yang ringan dan menyenangkan, karena pada dasarnya orang mengakses media sosial sebagai selingan di sela kepenatan. 

4. Viralkan

Tidak dalam konotasi negatif demi mencari sensasi lho ya. Tapi kamu bisa membuat iklan yang cerdas, konten yang menghibur, atau dibantu influencer yang tepat. Walau memang tidak ada yang bisa memprediksi apakah sebuah konten akan viral atau tidak. 

5. Personal Touch

“Gimana mungkin, bisnis online kan tidak ada perjumpaan fisik dengan pelanggan?” Mungkin kok. Intinya bagaimana memperlakukan pelanggan bukan sebagai sumber cuan, tapi mengetahui kebutuhan dan kebiasaan, serta memberi pengalaman berbelanja yang berbeda. 

Temukan cara untuk mempersonalisasi pengalaman belanja pelanggan di bisnis online kamu. Misalnya:

  • Kalau jualan kamu di bidang produk kecantikan, sertakan sampel produk yang sekiranya cocok dengan pesanan pelanggan kamu. Berlaku juga untuk bisnis online produk lainnya. 
  • Sediakan fitur augmented reality (AR) atau semacamnya, supaya pelanggan bisnis online kamu tetap bisa menjajal, menguji, atau menyocokan produk jualan kamu sebelum memutuskan membeli. 
  • Jangan lupa lengkapi website bisnis online kamu dengan fitur ‘chat’, atau ‘call now’ sebagai sarana berkomunikasi dengan pelanggan. Kalau kamu jualan pakai LummoSHOP sih tenang, karena fitur ini sudah tersedia.

6. Saluran Pemasaran Tradisional Tak Pernah Gagal

Seperti iklan di billboard, branding iklan di gerbong Commuter Line atau KRL, email, dan channel pemasaran tradisional lainnya. Meski zaman semakin canggih, tapi cara-cara ini diyakini masih efektif. 

Terbukti kok beberapa brand D2C masih menjalankan pemasaran tradisional. Casper misalnya, produsen kasur dan bantal yang berdiri sejak 2013. Casper sempat mengalami kesulitan pemasaran saat konsumen enggan membeli kasur tanpa bisa menjajalnya lebih dahulu. 

Langkahnya, Casper fokus memasarkan produknya hanya di dua kota besar di Amerika Serikat yakni Los Angeles dan New York. Casper secara masif memasang iklan-iklan di stasiun-stasiun subway. Iklannya kurang lebih mengarahkan konsumen bahwa Casper mengusung tren masyarakat perkotaan. Casper juga menggandeng influencer, Kylie Jenner yang ternyata sangat efektif mendongkrak penjualan produknya. 

Mumpung masih awal tahun, coba review kembali rencana bisnis dan strategi pemasaran direct to consumer kamu. Jangan sampai, tahun sudah baru, tapi bisnis kamu masih gitu-gitu melulu. Ingat juga, bisnis e-commerce bakal terus berubah seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Maka jangan berhenti belajar, kepo terus supaya pengalaman semakin matang. 

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP