fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

7+ Makanan Khas Jawa Tengah yang Bisa Jadi Ladang Bisnis Kuliner

makanan jawa tengah 01

Ada banyak sekali ragam kuliner makanan khas Jawa Tengah yang bisa menjadi peluang bisnis kuliner. Tiap-tiap jenis makanan memiliki cita rasa yang berbeda satu sama lain, termasuk sejarah panjang di dalamnya. Berikut ulasannya:

1. Lumpia Semarang

Lumpia merupakan makanan legendaris dari Semarang, ibu kota Jawa Tengah. Seperti daerah-daerah pesisir utara Jawa lainnya, budaya Tionghoa memberi pengaruh yang cukup kuat pada kuliner daerah-daerah tersebut, terutama di Semarang.

Lumpia atau “Lun pia” sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan merupakan salah satu jajanan tradisional hasil percampuran Tionghoa dan Jawa. Cita rasa lumpia Semarang memiliki khas tersendiri. Saat ini, makanan itu bisa terjumpa di berbagai kota di Indonesia.

Makanan ini muncul pertama kali pada tahun 1800, ketika seorang perantau dari Tiongkok, Tjoa Thay Yoe menjual makanan yang mirip dengan martabak dengan isian rebung dan daging babi. Selanjutnya, Tjoa Thay Yoe  bertemu dengan penduduk Jawa bernama Wasi yang menjual makanan serupa dengan isi daging ayam dan udang.

Persaingan bisnis membuat keduanya menjadi dekat, dan pada akhirnya menikah. Keduanya membuat satu resep makanan yang hingga saat ini populer dengan nama lumpia Semarang. Sampai saat ini, makanan itu masih populer. Mengutip dari Good News From Indonesia, UNESCO mengakui lumpia sebagai warisan budaya nusantara semenjak 2014.

Baca juga: 12 Kiat Mempromosikan Bisnis Baru Minim Persaingan

2. Tahu Gimbal

Tahu gimbal juga juga berasal dari Semarang. Makanan itu terdiri atas tahu goreng, rajangan kol mentah, lontong, taoge, telur, dan gimbal (udang yang digoreng dengan tepung) dan dicampur dengan bumbu kacang yang khas karena menggunakan petis udang. Berbeda dengan saus kacang untuk pecel Madiun yang agak kental, yang untuk tahu gimbal agak sedikit encer.

Tahu gimbal diperkirakan sudah ada sejak abad ke-19. Pada awalnya, makanan ini menggunakan tahu pong, yaitu tahu yang kosong bagian dalamnya. Namun dalam perkembangannya, tahu pong diganti dengan tahu isi yang lebih padat.

Baca juga: Ide Bikin Konten Bisnis Makanan Selezat Makananmu!

3. Satai Balibul dab Batibul

Satai balibul atau batibul merupakan satai yang menggunakan daging kambing dengan usia yang masih sangat muda. Batibul merupakan akronim dari bawah tiga bulan, sedangkan balibul akronim dari bawah lima bulan.

Satai ini tidak menonjolkan bumbu, melainkan pada kualitas penggunaan daging. Kambing usia muda, dagingnya empuk dan tidak berbau perengus.

Jauh sebelum muncul satai kambing muda, Tegal memang sudah terkenal dengan satai kambingnya. Kondisi geografis sebagian wilayah Tegal merupakan kawasan dataran tinggi yang memiliki cuaca dingin merupakan salah satu faktor yang mendasari banyak warga setempat menyukai satai.

4. Aneka Soto

makanan jawa tengah 02Soto juga merupakan hasil percampuran budaya Tionghoa dengan pribumi. Awalnya, makanan ini bernama caudo yang pertama kalinya dipopulerkan di wilayah Semarang. Pada awalnya, keturunan Tionghoa-Indonesia yang kerap mengonsumsi caudo.

Lambat laun, akhirnya makanan ini juga menjadi bagian dari kuliner pribumi dengan variasi bumbu-bumbu khusus yang bisa cocok dengan selera lidah lokal. Beberapa soto dari pesisir utara Jawa Tengah, di antaranya, soto tauco, soto grombyang, dan soto Kudus.

Soto tauco atau tauto merupakan makanan khas Pekalongan yang berasal dari perpaduan kuliner Tionghoa dan India, yakni caudo asal Tiongkok dengan bumbu utama tauco dari India. Selain menggunakan tauco, soto ini juga menggunakan mie putih atau sohun serta daging kerbau.

Baca juga: Hanya untuk yang Serius Jualan Kuliner Online!

Soto grombyang merupakan soto dari Pemalang yang sudah ada sejak tahun 1960an. Kuahnya pun penuh akan rempah, seperti lengkuas, jahe, kunyit, daun salam, kemiri, dan lainnya. Taburan irisan daun bawang (loncang) dan bawang merah juga termasuk dalam penyajian makanan itu. Pada awalnya, soto ini juga menggunakan daging kerbau.

Jenis soto lainnya yang juga populer adalah soto Kudus. Hampir mirip dengan soto Lamongan, soto Kudus berisi suwiran ayam dan taoge.Terkadang, soto Kudus juga menggunakan daging kerbau. Kuahnya lebih bening ketimbang soto tauco dan soto grombyang.

5. Mangut Lele

Merupakan menu khas dari daerah “Mataraman” (Yogyakarta-Solo) dan Semarang-Kendal. Sesuai dengan namanya, komposisi utamanya adalah lele asap, tersaji dengan bumbu mangut. Pada awalnya penyajian mangut lele hanya untuk kalangan keraton sampai Sri Sultan Hamengkubuwono VII memasyarakatkan resepnya. Kini, masyarakat segala kalangan dapat menikmati makanan tersebut.

Meskipun tidak sepopuler Gudeg, mangut lele juga menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Saat ini sudah banyak warung dan restoran yang menjadikan kuliner ini sebagai hidangan utamanya. Pada daerah pesisir utara Jawa Tengah, mangut juga populer dengan menggunakan daging ikan asap sebagai pengganti lele.

Baca juga: 5 Tips Food Photography Buat Nambah Daya Tarik Jualan Makananmu

6. Tengkleng

Tengkleng merupakan makanan sejenis sup dengan bahan utama tulang kambing. Makanan ini merupakan hasil kreasi masyarakat kelas bawah pada masa penjajahan. Saat itu, bahan makanan sangat langka. Adapun daging hanya untuk konsumsi kaum bangsawan.

Di tengah masa penjajahan, orang Solo berpikir untuk tetap bertahan hidup dengan mengolah semua bahan pangan, termasuk tulang belulang dan jeroan kambing. Ketika itu, para bangsawan tidak mengonsumsi bagian tulang belulang dan jeroan, kemudian masyarakat memanfaatkan dengan memberi bumbu khas yang cukup kompleks.

Kendati berawal dari riwayat nestapa, tengkleng menjadi salah satu makanan asal Solo yang cukup populer sampai saat ini. Biasanya, warung makan maupun restoran turut menyajikan gulai kambing dan tongseng kambing, bukan hanya tengkleng.

7. Gudeg

makanan jawa tengah 03Gudeg merupakan salah satu makanan khas Jawa yang sangat populer. Diperkirakan, gudeg hadir pada abad ke-16, sebelum Yogyakarta berdiri. Saat itu, para prajurit Kerajaan Mataram membongkar hutan untuk membangun peradaban. Hutan tersebut memuat banyak sekali pohon nangka dan kelapa yang akhirnya menjadi bahan utama gudeg.

Para prajurit kala itu menyebut makanan ini sebagai hangudek yang berarti mengaduk. Hal itu merujuk cara memasak gudeg, yakni mengaduk santan dan nangka muda dalam tungku besar.

Kuliner Lainnya

Selain yang telah tercantum di atas, masih banyak lagi jenis makanan khas Jawa Tengah, di antaranya brongkos, satai srepeh, satai kere, satai ambal, selat Solo, mie ongklok, buntil, aneka bacem. Itu pun belum semua.

Baca juga: 7 Cara Kenali Calon Pelanggan Bisnis Kuliner Online

Angkringan

Meskipun populer di Yogyakarta, cikal bakal angkringan sebenarnya berasal dari Klaten pada tahun 1930. Mengutip dari travel.tribunnews.com, warga Klaten dari Desa Ngerangan Eyang Karso Dikromo yang memprakarsai angkringan. Hal itu berdasarkan penuturan founder ikon Desa Cikal Bakal Angkringan, Gunadi dan Suwarna.

Menukil dari kagama.co, angkringan merupakan istilah dari bahasa Jawa, angkring yang berarti alat dan tempat jualan makanan keliling yang pikul serta berbentuk melengkung ke atas. Selain melengkung, angkringan juga ada yang berbentuk gerobak dorong, seperti yang terdapat di pinggiran Kota Yogyakarta. Berlandaskan itu, angkiran merupakan konsep jualan, bukan nama dari makanan.

Pada awalnya Eyang Karso menjual makanan dan minuman yang bisa menghangatkan tubuh di malam hari dengan menggunakan gerobak pikul. Pada saat itu, masih belum banyak orang yang berjualan pada malam hari. Semakin lama, barang jualan Eyang Karso semakin bervariasi dengan merambah ke jajanan-jajanan ringan.

Minuman Khas

Tak hanya makanan, Jawa Tengah mun memiliki minuman khas. Sama seperti makanan, peluang bisnis minuman tradisional, seperti jamu juga tidak kalah potensial. Jamu merupakan ramuan herbal tradisional dengan berbagai macam khasiat yang pemanfaatannya berlaku secara turun temurun. Merujuk sejarahnya, diperkirakan jamu sudah ada sejak 1300 Masehi.

Pada umumnya, ada delapan jenis jamu yang lumrah menjadi, yaitu beras kencur, cabe puyang, kudu laos, kunci suruh, uyup-uyup/gepyokan, kunir asem, pahitan, dan sinom. Meskipun cukup lekat dengan kesan tradisional, potensi bisnis jamu yang terkemas secara modern bisa sangat menjanjikan.

Modernisasi Bisnis Kuliner Tradisional

Meskipun mengusung konsep kuliner tradisional, pengemasan bisnis kuliner dari Jawa Tengah juga bisa dengan sentuhan modernisasi sedemikian rupa guna mengikuti perkembangan jaman yang ada. Ada beberapa contoh pelaku usaha yang berhasil melakukannya.

Misalnya, Tiga Ceret Cafe di Solo yang bisa memodernisasi konsep angkringan yang lekat dengan gerobak dorong di pinggir jalan menjadi cafe untuk kelas menengah atas. Makanan dan minuman yang tersuguh sama persis dengan angkringan pada umumnya, tetapi dengan variasi yang jauh lebih banyak. Aspek kebersihannya pun menyamai restoran cepat saji internasional.

Contoh lainnya, adalah warung jamu Suwe Ora Jamu Cafe dan Bar Jamu Salihara di Jakarta yang sama-sama mengusung kuliner aneka Jamu. Uniknya, minuman jamu di sini dibuat sangat modern dan tidak hanya terbatas pada minuman hangat tetapi juga menyediakan minuman jamu dingin yang juga tak kalah nikmat.

Modernisasi ini bisa menjadi kunci utama menghadapi perkembangan dan kompetisi bisnis kuliner di Indonesia dengan masih mempertahankan keunggulan-keunggulan warisan budaya kuliner yang ada.

Baca juga artikel terkait lainnya

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP