fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

9 Faktor untuk Meningkatkan Penjualan pada Bisnis D2C

Meskipun pertumbuhan ekonomi global menyusut sebesar 4,4% di tahun 2020 sebagaimana yang dilansir oleh kontan.co.id, akan tetapi laporan penjualan langsung ternyata mengalami peningkatan. World Federation of Direct Selling Associations (WFDSA) melaporkan bahwa ada peningkatan transaksi penjualan langsung dari 2019 ke 2020 yaitu dari US$175,3 miliar ke US$179,3 miliar sebagaimana dikutip oleh kontan.co.id. Hal tersebut seolah menjadi angin segar buatmu yang saat ini sedang atau baru saja menjalankan bisnis online dengan model serupa, yaitu D2C (direct to consumer). Kamu bisa sedikit bernafas lega karena model bisnis yang kamu jalani adalah usaha yang cepat laku dan menguntungkan.

Bisnis online model D2C ini ibarat simbiosis mutualisme di mana baik pemilik bisnis maupun konsumen sama-sama diuntungkan. Misalnya masalah biaya, dari sisi konsumen, harga yang mereka dapatkan relatif lebih murah karena mereka mendapatkan langsung produk dari pembuatnya, sementara dari sisi pemilik bisnis margin yang didapat akan lebih banyak karena tak ada perantara pihak ketiga.

Sebagaimana menurut Kotler bahwa setidaknya ada tiga keunggulan utama dari model bisnis D2C ini:

  • Mengurangi biaya pemasaran dan pendistribusian produk
  • Menjangkau calon konsumen atau pelanggan dengan cepat
  • Karena pemilik dan konsumen bisa berkomunikasi secara langsung, maka loyalitas mereka akan lebih baik

Namun, sebagaimana bisnis pada umumnya, bisnis model D2C ini perlu strategi penjualan yang tepat agar kamu sebagai pemilik bisnis bisa segera merasakan hasilnya. Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu tujuan seseorang berbisnis adalah mendapatkan laba. Itu sebabnya, orang-orang kerap berbondong-bondong mencari usaha yang cepat laku dan menguntungkan.

Menurut kamu, apa saja sih faktor penting atau krusial untuk meningkatkan penjualan pada bisnis model D2C (direct to consumer)? Yuk, kita telaah bersama-sama!

  1.   Spesifik dalam menentukan target pasar

Konsumen temanmu belum tentu konsumenmu dan konsumen bisnismu belum tentu konsumen bisnis temanmu. Artinya apa? Di dunia yang luas ini, di era yang tak terbatas karena kemajuan teknologi ini, KLASIFIKASI atau PILAH dan PILIH tetap menjadi kegiatan yang sangat berarti. Tidak terkecuali, dalam berbisnis. Sebagaimana perumpamaan yang mengatakan kita tak mungkin bisa cocok dengan semua orang atau dicintai setiap orang. Pasti akan ada orang-orang yang masuk dalam kategori kamu banget, biasa saja, sekadar kenal, dan harus dihindari.

Hal tersebut berlaku juga dalam bisnis. Siapa target pasarmu? Mengapa? Usia berapa sampai berapa? Yang profesinya apa? Semakin spesifik pertanyaan, maka semakin jelas jawaban serta strategi selanjutnya yang harus kamu lakukan. Misalnya, mungkin kamu kerap membatin mengapa masih ada saja yang menjual produk Gundam Plastic. Harganya enggak kaleng-kaleng lagi alias tidak murah. Jika termasuk kategori orang yang tak terlalu suka Gundam, mungkin kamu akan heran, “Siapa sih yang bakal beli? Mahal juga. Kok ya mau ngeluarin duit segitu cuma buat beli robot-robotan?” Tapii, haiii, faktanya, hingga detik ini, penjual Gundam Plastic masih bertebaran di mana-mana. Yang itu artinya, pasarnya pasti ada.

Bagaimana? Nyatanya, tak setiap orang cocok dengan produk yang kamu tawarkan. Maka sebagai langkah awal, targetkanlah produkmu untuk siapa? Dengan begini, kamu meminimalisir kesalahan untuk menawarkan ke mereka yang memang tak satu “frekuensi” dengan produkmu. No baper baper club karena ditolak konsumen karena sebelum itu terjadi kamu sudah tahu bahwa mereka bukanlah target pasarmu.

  1.   Fokus dengan target pasar yang sudah dibuat
    Setelah mengetahui target pasarmu, selanjutnya fokuslah, “masuklah” ke dunia mereka. Kamu bisa bergabung di komunitas yang ada hubungannya dengan produk yang sedang kamu jual. Dengan begitu, kamu bisa meng-update apa yang target pasarmu inginkan, apa yang mereka sukai/tidak, dan pastinya hal ini berimbas pada apakah kamu sudah berinovasi dengan produkmu agar seperti yang target pasarmu inginkan.
  1.   Berikan informasi yang tepat
    Untuk bisa memberikan informasi yang tepat mengenai produkmu, kamu harus benar-benar mengenali apa yang kamu lakukan. Sebagaimana kata sebuah ungkapan kenalilah diri sendiri, maka kamu akan mengenali orang lain dengan baik juga. Ingat, di bisnis model D2C ini, kamu tidak hanya bertindak sebagai pemilik bisnis melainkan juga sebagai pemasar serta penjual. Sehingga tidaklah berlebihan jika kamu dituntut untuk menguasai serta mengenal bisnis online yang kamu jalani dari a sampai z.
  1.   Menjaga hubungan baik dengan konsumen adalah koentji
    Memang, ketika memilih bisnis dengan model D2C, kamu akan sedikit lebih repot karena harus meluangkan waktu lebih untuk menjaga hubunganmu dengan konsumen. Tapi kembali lagi, tak ada penjualan tanpa adanya konsumen, bukan? Maka, menjaga hubungan baik dengan mereka adalah koentji.Jangan remehkan pelanggan setia karena dari mereka kadang kamu mendapatkan pelanggan-pelanggan berikutnya. Ya, tanpa harus diminta, mereka yang puas dengan pelayananmu akan bercerita ke lingkaran mereka masing-masing untuk juga menggunakan produk kamu. Pun sebaliknya, jangan dianggap remeh konsumen atau pelanggan yang kecewa karena mereka bisa menceritakan pengalaman pahitnya ke siapa saja. Tentunya kita sendiri mungkin pernah ya tidak ingin menggunakan produk tertentu padahal mencobanya saja belum. Kenapa bisa begitu? Ternyata karena kita terpengaruh cerita teman.
  1.   Berikan beberapa pilihan untuk mengikat konsumen menjadi pelanggan tetap
     “Kalau jadi member yang mendaftarnya pun gratis, kamu akan dapat kupon serta potongan belanja secara berkala”
    “Ada gratis ongkos kirim khusus member”
    “Ada harga khusus member, ada harga biasa, kamu mau yang mana?”Di atas adalah beberapa contoh yang bisa kamu terapkan untuk bisnis online yang sedang kamu jalani saat ini. Ya, ikatlah mereka dengan menawarkannya menjadi member dengan beragam keuntungan di dalamnya.
  1.   Beli reward kepada pelanggan setia
    Manusiakan pelanggan setia dengan memberikan reward kepada mereka. Apa pun bentuk reward-nya, di mata pelanggan yang menjadi nilai plus adalah perhatiannya. Semua orang suka jika diri mereka diingat, tak dilupakan, tidak terkecuali pelanggan.
  1.   Memberi tester atas produk/jasa yang ditawarkan
    Untuk mereka yang belum menjadi konsumen (masih calon), kamu bisa memberikan tester. Yakin deh ketika mereka merasakan manfaat dari produk yang kamu tawarkan, dengan sendirinya mereka akan membeli produkmu dan tak puas hanya dengan mencicipi tester karena penasaran.
  1.   Promo atau diskon di saat-saat tertentu
    Promo atau diskon adalah trik psikologis yang membuat konsumen merasa menang ketika mendapatkannya dan rugi ketika tak menghiraukannya. Itu sebabnya, hampir semua orang suka dengan harga diskon atau promo. Kamu bisa menggunakan trik ini untuk menggaet konsumen atau pelanggan baru.
  1.   Tunjang dengan website yang bagus
    Memiliki website bisnis online sendiri akan terasa profesional di mata konsumen. Mereka akan merasa bahwa kamu jualan beneran. Kamu juga bebas menuliskan beragam informasi yang sekiranya bermanfaat untuk konsumenmu di website bisnis yang kamu miliki. Tak perlu berkecil hati jika kamu bukan ahli IT karena untuk memiliki website sendiri dengan kualitas yang disukai konsumen, kamu bisa memanfaatkan LummoSHOP. Yakin deh jualan dengan LummoSHOP akan membuat bisnismu lebih lancar.

Memiliki usaha yang cepat laku dan menguntungkan adalah dambaan semua pelaku bisnis, tak terkecuali kamu. Ujung tombaknya, ada di penjualan yang tinggi. Agar bisa menjual lebih banyak, kamu harus peka tidak hanya terhadap konsumen tetapi juga terhadap kualitas bisnis onlinemu sendiri seperti pelayanan kepada pelanggan, website yang user friendly, dan semacamnya. Dengan meningkatkan semua faktor-faktor penting tersebut, percayalah nilai penjualan bisnismu pun akan meningkat.