fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Analisa Keuntungan Bisnis untuk Menggaet Investor

Analisa keuntungan bisnis

Jika kamu adalah investor, apa yang membuatmu mau berinvestasi atau mempercayakan uangmu untuk dikelola dalam sebuah bisnis? Pastinya, kamu tidak gambling, kan. Ada faktor-faktor yang membuatmu akhirnya meng-IYA-kan investasi di bisnis tertentu.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Investasi

Coba cek, apakah beberapa poin di bawah ini menjadi pertimbanganmu?

  1. Bisnis Tersebut Berprospek

Berprospek tidak melulu masalah untung. Bisa saja bisnisnya belum menghasilkan keuntungan berarti karena baru beberapa hari berjalan, akan tetapi kamu menilai kalau bisnisnya berprospek (produknya unik, diminati atau diterima konsumen, harganya bisa dijangkau, bisnis tersebut sedang naik daun, dan semacamnya).

  1. Kredibilitas Pengelolanya Bagus

Pertimbangan lain mengapa kamu mau berinvestasi pada bisnis tersebut adalah karena kamu sudah tahu kredibilitas pemilik bisnisnya yang bisa jadi adalah orang yang sudah sangat kamu kenal dekat. Hubungan bisnis butuh kepercayaan. Untuk membangunnya butuh waktu atau proses, tidak bisa instan hanya dalam sehari dua hari apalagi beberapa jam. Itu sebabnya, berinvestasi pada pemilik bisnis yang kamu sudah bisa jamin bagaimana kualitasnya karena sudah kenal rasanya cukup logis, ya.

  1. Analisa Keuntungan Bisnis Rapi

Poin ini akan kita bahas lebih lanjut di sini. Berbicara bisnis, apa sih yang ada dalam benakmu pertama kali? Pasti keuntungan atau uang. Bisnis selalu berhubungan dengan bagaimana cara menghasilkan uang. Itu sebabnya, rasanya mustahil kamu akan “menitipkan” uangmu ke pemilik bisnis yang memiliki laporan keuangan tidak rapi/ngasal atau tidak memiliki analisa keuntungan bisnis yang meyakinan. Jangan-jangan pembagian keuntungannya nanti bisa keliru karena kurangnya faktor kerapihan ini. Dari hal tersebut, kamu sebagai investor bisa menilai, kira-kira seperti apa bisnis yang kamu biayai: sehat atau tidak?

Di atas adalah point of view jika kamu menjadi investor. Selanjutnya, bagaimana jika kamu adalah pemilik bisnis. Bagaimana cara menggaet investor agar bisnismu makin berkembang dan maju? Pastinya, kamu akan menerapkan cara-cara tepat agar tiga poin penting di atas terpenuhi, terutama poin ketiga yang secara kasat mata tertulis proyeksinya dalam angka.

Apakah sepenting itu membuat analisa keuntungan bisnis? Jelas! Mau sedekat atau sepercaya apa pun hubunganmu dengan calon investor, mereka butuh data keuangan tertulis untuk melihat bahwa bisnismu memang layak didanai. Selain itu, analisa keuntungan bisnis juga berguna untukmu sendiri. Dengan analisa keuntungan bisnis, kamu dapat mengevaluasi apakah bisnismu sudah berjalan dengan baik ataukah sebaliknya (membuang-buang uang saja).

Bagaimana Cara Membuat Analisa Keuntungan Bisnis?

Jika saat ini bisnismu masih baru mau berjalan atau dalam artian belum berjalan dalam hitungan tahun atau bahkan baru mau beroperasi (tinggal menunggu dananya saja), maka kamu bisa membuat analisa keuntungan bisnis dengan metode pendekatan BEP atau break event point.

Break event point diartikan sebagai suatu kondisi impas atau tidak untung tidak rugi. Atau secara sederhananya, total biaya yang kamu keluarkan sama dengan total pemasukan yang kamu dapatkan. Mereka kerap bilang balik modal.

Untuk lebih jelasnya, seperti inilah kira-kira perhitungan sederhananya:

Total biaya = biaya tetap + biaya variabel + biaya lain-lain

Total pendapatan = harga jual x jumlah barang yang terjual

Dari model perhitungan di atas, kamu mestinya sudah bisa mengidentifikasi mana yang termasuk biaya tetap di bisnismu dan mana yang masuk biaya variabel serta biaya lain-lain.

Misalnya, kamu memproduksi barang A 100 buah dengan total biaya Rp1.000.000,-. Agar balik modal, maka harga yang kamu patok adalah Rp1.000.000,- : 100 atau setara dengan Rp10.000,00 per buah. Informasi ini jelas penting bagi investor. Setidaknya, dengan total biaya sejumlah tersebut, investor bisa memutuskan apakah ia akan mendanai 100% atau hanya sekian persen.

Faktor lain yang juga bisa didapat dari informasi tersebut adalah apakah harga Rp10.000,00 itu sudah bisa diterima konsumen (tak terlalu murah/mahal) atau berapakah harga maksimal yang bisa ditetapkan agar bisa mendapatkan untung yang optimal juga mengingat kalau mematok harga terlalu tinggi peminat akan sepi dan ujung-ujungnya untung pun malah tak bisa diraih.

Contoh di atas adalah jika bisnismu baru saja berdiri/baru akan mulai beroperasi/baru beroperasi beberapa hari. Lalu, bagaimana jika bisnismu sudah berjalan dalam bilangan tahun dan kamu butuh investor untuk mengembangkan bisnismu agar bisa lebih besar lagi? Tentu saja, analisa keuntungan bisnis yang kamu berikan ke investor sedikit lebih kompleks.

Data Keuangan yang Dibutuhkan untuk Investor

Berhubung bisnismu sudah berjalan, maka beberapa data keuangan ini kamu butuhkan untuk menarik hati mereka:

Laporan Keuangan

Analisa Keuntungan Bisnis_02Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan dalam kurun waktu tertentu. Karena bisnismu sudah berjalan selama beberapa waktu, pastinya kamu memiliki laporan keuangan. Dari sanalah, investor melihat seperti apa kualitas bisnismu. Layak atau tidak untuk didanai. Akan semakin meyakinkan ketika kamu juga memiliki pendapat auditor “wajar tanpa pengecualian” yang artinya bisnismu dalam kondisi sangat sehat.

Laporan keuangan terdiri dari beberapa catatan keuangan:

  • Neraca, adalah catatan keuangan berisi total aset, total utang, dan total modal yang kamu miliki.
  • Laporan laba rugi, berisi catatan semua penerimaan atau pendapatan bisnismu dikurangi dengan semua biaya yang kamu keluarkan. Margin-nya: jika positif disebut dengan keuntungan dan jika negatif disebut dengan kerugian.
  • Laporan arus kas, berisi catatan ke mana saja lalu lintas uang kas yang ada.
  • Laporan perubahan modal, berisi catatan mengenai modal awal ditambah dengan laba atau dikurangi dengan rugi.
  • Catatan atas laporan keuangan (opsional)

Perhitungan Return on Investment

Secara sederhana, return on investment atau yang kerap disebut dengan ROI adalah persentase pendapatan atau laba dari total investasi yang ditanamkan. Tentu saja, semakin tinggi persentasenya, semakin tinggi ROI-nya, yang artinya semakin bagus karena ternyata investasi yang dilakukan memberikan tingkat keuntungan/pengembalian/laba/return yang besar. Pun sebaliknya.

Dengan asumsi, pada poin ini, bisnismu sudah berjalan, maka kamu bisa memiliki gambaran pada investor seperti apa tren ROI selama ini. Misalnya dengan modal Rp100 juta, laba yang didapat ternyata Rp25 juta. Itu artinya ROI-nya adalah Rp25 juta/ Rp100 juta atau 0,25 atau 25%. Dari informasi ini, investor sudah punya gambaran, kalau dengan investasi Rp100 juta saja, tingkat pengembaliannya 25%, bagaimana jika Rp200 juta? Bisa jadi lebih tinggi.

Meskipun ROI bukanlah harga mati dalam artian prediksi tersebut bisa salah karena pastinya ada faktor lain yang turut mempengaruhi bisnis, kejadian luar biasa seperti pandemi misalnya, tapi setidaknya dengan adanya ROI, baik investor maupun kamu sebagai pebisnis sama-sama punya gambaran yang tak terlalu abstrak ketimbang hanya gambaran di awang-awang.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Dalam menjalankan bisnis, sering kali kamu tak bisa sendiri. Butuh orang ketiga bernama investor. Baik sudah berjalan maupun akan berjalan, entah sudah kenal ataupun belum dengan calon investor, memberikan analisa keuntungan bisnis tetap wajib sebagai salah satu bentuk pertanggungjawabanmu pada mereka sekaligus menunjukkan bahwa bisnismu memang profesional sekalipun skalanya mungkin masih belum terlalu besar. Bagaimana? Sudah mulai ada bayangan akan membuat analisa keuntungan bisnis untuk menggaet investor? Yuk!