fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Pahami Cara Kerja Bounce Rate dan Kiat Mengelolanya untuk Bisnis

Bounce rate

Bounce rate adalah persentase orang yang membuka atau mengunjungi website lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Mereka tidak mengeklik halaman apa pun, apalagi berinteraksi pada website tersebut. 

Coba cek angka bounce rate Google Analytics website milikmu. Kalau angkanya tinggi, jangan keburu senang. Karena prinsipnya, angka bounce rate Google Analytics yang tinggi justru menandakan website jualanmu bermasalah. Bounce rate yang bagus ialah ketika angkanya rendah. 

Bagi pebisnis online yang mengandalkan website sebagai tempat jualan, bounce rate atau rasio pantulan sering kali membuat frusteasi. Padahal, sepertinya kamu sudah mengupayakan berbagai cara. Mulai dari konten yang bagus, desain yang menarik, dan lain sebagainya.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Dua Faktor Penentu

Setidaknya ada dua hal utama yang membuat bounce rate tinggi. Pertama, bisa jadi kualitas konten website tersebut kurang menarik, sehingga pengunjung enggan menelisik lebih jauh. Kedua, kemungkinan pengunjung tidak menemukan konten yang mereka maksud. Sehingga, mereka tidak melanjutkan pencarian dan beralih mencari dari website lain. 

Bounce rate yang bagus angkanya kurang dari 40%. Sedangkan, kalau sudah melebihi 70% berarti sudah mengkhawatirkan. Itu artinya, ada yang salah dengan website tersebut, dan harus segera mendapat penanganan dengan terlebih dahulu memahami seluk-beluknya di artikel ini.

Apa Itu Bounce Rate?

bounce rate

Hal pertama yang harus kamu ingat adalah, bounce rate berbeda dengan exit rate. Bounce rate adalah ukuran yang menunjukkan orang yang datang lalu langsung meninggalkan web tanpa melakukan tindakan apa pun. Sedangkan, exit rate adalah persentase tampilan halaman ketika pengguna memutuskan untuk mengakhiri sesi kunjungan pada halaman tertentu.

Misalnya, seorang pengunjung membuka halaman beranda website-mu, lalu pergi ke halaman lain, kemudian keluar dan melompat ke situs lain, itu yang dinamakan exit rate. Mengukur exit rate memang lebih rumit. Karena, mencakup persentase orang yang meninggalkan website pada halaman tertentu. 

Mengapa Penting?

Manfaat bounce rate adalah sebagai indikator apakah konten dalam website-mu relevan atau justru membingungkan pengunjung. Selain itu, bounce rate yang rendah menunjukkan bahwa pengunjung mengabaikan call to action dalam website-mu. Pengunjung tak peduli dengan ajakan membeli, mengisi formulir, atau tawaran diskon dalam waktu terbatas. 

Seperti yang kita tahu, website dalam bisnis online ibarat toko dalam sebuah mall atau pameran. Betapa sedihnya ketika melihat pengunjung hanya melirik bagian depan toko lalu pergi, tanpa singgah. Bounce rate menjadi sinyal bagi kita untuk melakukan perbaikan pada website. Dengan begitu, promosi online dan upaya yang dilakukan tidak sia-sia. 

Bounce Rate yang Bagus

Apa itu bounce rate yang bagus? Mengutip gorocketfuel.com bounce rate yang bagus berada di angka 26- 40%. Sedangkan, yang berada pada kisaran 41-55% masih dalam kategori rata-rata. Lalu, di antara 56-70% angkanya memang melebihi rata-rata, namun belum pertanda website dalam masalah. Kalau sudah melebihi 70%, jelas ada yang salah dengan banyak hal tak hanya soal konten, kegiatan, dan lainnya. 

Bounce rate
Sumber: gorocketfuel.com

Kendati begitu, angka bounce rate di bawah 20% atau lebih dari 90% justru menjadi pertanda buruk. Rasio pantulan memang harus kamu turunkan, tapi kalau sampai kurang dari 20% malah menunjukkan kecurigaan. Karena, dengan angka tersebut ada kemungkinan terjadi duplikasi kode analitik. Atau, bisa juga ada penerapan pelacakan yang salah, serta kemungkinan lainnya. 

Mungkinkah angkanya melebihi 90%? Itu artinya, semua orang terpental dari situs tersebut. Hal itu bisa saja terjadi akibat desain website yang buruk, atau karena kesalahan konfigurasi teknis lainnya. Namun, angka bounce rate yang bagus ini bukan harga mati ya karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Mulai dari apa yang kamu tawarkan lewat website sampai siapa target audiensmu.

Faktor yang Memengaruhi Bounce Rate

Lalu faktor apa saja yang membuat bounce rate cukup tinggi? Simak penjelasannya di bawah ini.

  1. Kecepatan Loading Lambat

Jangankan konsumen, kita sebagai pebisnis online saja suka gemas ketika menunggu sebuah situs terbuka. Ketimbang menunggu, mending tutup dan buka situs lainnya. Kecepatan situs memang menentukan segalanya.

Menurut website builderexpert.com, sebuah situs belanja harus membayar mahal atas kecepatan akses yang lambat. Sebuah situs belanja online yang menghasilkan USD100.000 per hari, berpotensi kehilangan penjualan sampai USD2,5 juta dalam setahun karena loading yang lambat. 

Info di bawah ini menggambarkan, betapa meningkatkan kecepatan loading sebesar 0,1 detik saja bisa meningkatkan penjualan sampai berlipat ganda.

Bounce rate

Mengacu sumber yang sama, terdapat sebanyak 79% konsumen belanja online yang kecewa tidak akan membeli pada toko yang sama. Sementara itu, 64% lainnya memilih pindah ke toko online lainnya. 

  1. Terlalu Banyak Iklan

Kalimat bijak bilang, yang berlebihan memang tidak baik. Begitu juga iklan atau pop up dalam website. Alih-alih menggencarkan promo, pengunjung justru merasa jengah dan terganggu. Google bahkan akan menurunkan peringkat website yang iklannya berlebihan sampai menyulitkan pengunjungnya mengakses konten. 

  1. Struktur Menu Membingungkan

Navigasi menu pada website yang menyulitkan dan membingungkan hanya membuat pengunjung kesal dan pergi. Hindari hal itu dengan mengefektifkan navigasi menu pada website-mu.

  1. Blank Page atau Error

Jangan-jangan, website milikmu memang tidak bisa diakses. Entah karena blank page atau pengunjung tidak bisa menemukan halamanmu, alias error 404. Coba cek lagi. Kalau memang demikian, minta bantuan ahli untuk memperbaikinya, kecuali kamu paham. 

  1. Konten Tidak Menarik

Ada baiknya kamu meminta pendapat teman atau kolega terkait kualitas konten dalam website-mu. Siapa tahu memang konten-kontenmu yang kurang menarik. Konten ini berkaitan dengan kualitas tulisan dan desain secara visual. 

Yang perlu kamu tahu, menulis untuk website berbeda dengan penulisan biasa. Ada banyak hal teknis yang terlibat. Termasuk dari pembuatan judul, gaya penulisan, memaksimalkan SEO dan sebagainya. Belum lagi soal layout dan desain visualnya. 

  1. Mencurigakan

Siapa yang betah kalau baru mendarat di website sudah diminta data-data pribadi sampai nomor kartu kredit, misalnya. Apalagi, penipuan lewat dunia maya saat ini semakin mengerikan sehingga banyak orang menghindari itu. 

  1. UI dan UX tidak nyaman

User Interface atau UI adalah desain antar muka untuk membuat tampilan situs sedap dipandang. UI mencakup komposisi warna sampai layout. Sedangkan, UX atau User Experience adalah proses meningkatkan kepuasan pengunjung website atau aplikasi.

UX berperan untuk menciptakan situs yang tidak membingungkan. Kombinasi keduanya penting untuk membuat kesan pertama yang baik. Tujuannya tidak lain supaya pengunjung tak buru-buru kabur. 

5 Trik Mencapai Bounce Rate yang Bagus

Bounce rate

Sebagai pebisnis online, website jelas menjadi ujung tombak bisnisnya. Website menjadi tempat kamu menawarkan produk atau jasa jualanmu. Karena itu, kamu tentu ingin menarik pengunjung untuk mampir dan betah berlama-lama. Begini triknya!

  1. Akses dari Perangkat Mobile Mudah

Menurut laporan HootSuite dan We Are Social, sampai Juli 2021 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta atau 73,7% dari total populasi yang sebesar 274,9 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 195,3 juta jiwa atau 96,4% mengakses internet melalui perangkat mobile seperti ponsel pintar. 

Makanya, untuk mencapai bounce rate yang bagus, situs jualanmu harus mobile friendly. Kamu harus memastikan, navigasi menu, pencarian konten, sampai keterbacaan konten mudah dilakukan lewat perangkat mobile. Kalau kontenmu mengandung video, pastikan pula ukurannya tidak terlalu besar. Jangan sampai pengunjung geram karena kontenmu memakan banyak data. 

  1. Minimalisir Gangguan 

Untuk mencapai bounce rate yang bagus, minimalisir gangguan yang menggangu pengalaman pengunjung. Misalnya, membatasi iklan pop up yang berlebihan, atau ajakan call-to-action yang membingungkan. 

  1. Lakukan Pengujian A/B

A/B testing ialah eksperimen atau pengujian perubahan dalam website yang sama. Tujuannya, untuk mengukur efektivitas masing-masing eksperimen. Misalnya, kamu membuat dua versi berbeda pada satu laman, lalu mengaturnya agar tampil pada pengunjung berbeda. Dari situ, kamu bisa mengukur mana pengujian yang berkinerja baik. 

  1. Ubah Meta Description

Bounce rate yang bagus ialah bagaimana menyelaraskan ekspektasi dengan isi. Maka dari itu, buat meta description yang sejalan dengan isi website-mu. Jangan sampai pengunjung merasa tertipu karena laman yang mereka buka tidak sesuai dengan yang kamu janjikan. 

  1. Cek Keterbacaan Teks

Pastikan teks enak dan mudah dibaca. Sebaiknya, kamu menggunakan font dengan ukuran lebih besar. Dengan harapan, pengunjung dari perangkat mobile bisa membaca dengan nyaman. 

Pentingnya Kesan Pertama

Jargon iklan yang cukup populer berkata, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.” Kurang lebih begitulah prinsip kerja bounce rate. Kalau kesan pertama begitu singgah di website-mu sudah menggoda, pengunjung pasti akan menjelajah lebih jauh. 

Pelajari dan gali terus bagaimana membuat website yang bikin betah pengunjung. Perkaya konten dan desain website. Maksimalkan upaya digital marketing supaya kehadiran website bisa ikut mendongkrak angka penjualanmu.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya:

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP