fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Seluk-Beluk Neobank dan Nilai Pentingnya untuk Bisnis

Neobank

Perkembangan teknologi digital saat ini membawa banyak perubahan, termasuk di dunia perbankan. Bank digital yang merupakan sebutan lain dari neobank mengusung konsep baru yang berpotensi menjadi game changer di industri finansial. Adakah yang penasaran akan seluk-beluk neobank?

Sederhananya, konsep neobank atau bank digital serupa dengan bank pada umumnya. Hanya saja, neobank menjalankan kegiatan usahanya secara digital, tanpa kantor fisik, tanpa kantor cabang. Para nasabahnya bisa membuka rekening secara online, tanpa datang ke kantor cabang atau mengirim dokumen fisik. Semua kegiatannya daring (dalam jaringan).

Ada beberapa bank digital atau neobank di Indonesia yang sudah cukup populer di mata masyarakat, seperti Jenius dari Bank BTPN, Bank Jago, TMRW dari Bank UOB, Bank Aladin, Neo Commerce, dan masih banyak lagi. Sebagian dari contoh di atas merupakan transformasi dari bank-bank kecil yang kemudian berubah menjadi bank digital dengan ekosistem bisnis yang kuat.

Apa Itu Bank Digital atau Neobank?

Forbes dalam artikelnya menyebutkan, bahwa neobank adalah perusahaan teknologi finansial (fintech) yang menawarkan aplikasi, perangkat lunak, dan teknologi lainnya yang menyediakan layanan mobile dan online banking. Perusahaan-perusahaan fintech ini memiliki spesialisasi di beberapa produk finansial, misalnya deposit atau tabungan.

Pada umumnya, neobank juga cenderung memiliki proses yang lebih cepat dan transparan ketimbang dengan pesaingnya yaitu bank-bank besar. Kendati demikian, banyak di antaranya juga berpartner dengan bank-bank besar tersebut untuk memberikan keyakinan terhadap produk yang mereka jual kepada nasabahnya.

Pengertian lainnya mengenai neobank, yakni produk maupun jasa perbankan digital yang menggunakan proses teknologi digital dari awal hingga akhir. Hal itu untuk meningkatkan kemampuan teknologi dari internet banking dan mobile banking melalui pengenalan nasabah secara elektronik (electronic know your customer/eKYC), kecerdasan artifisial, fitur baru, dan bisnis model yang baru.

Bank digital bisa berdiri sendiri atau terintegrasi dengan aplikasi berbasis sektor konsumen. Di Indonesia banyak bank digital yang terintegrasi dan masuk ke dalam ekosistem bisnis yang dekat dengan aplikasi e-commerce.

Berdasarkan regulasinya, sebenarnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum membuat kategori khusus untuk neobank atau bank digital ini. Lantaran belum terdapat izin khusus untuk bank digital, semua bank baik itu digital maupun konvensional tetap harus mematuhi peraturan sesuai dengan dengan POJK No. 12/POJK.03/2021 untuk memberikan layanan digitalnya kepada nasabah. Mengutip dari www.cnbcindonesia.com, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Heru Kristiyana menyatakan, bahwa sejauh ini belum ada bank di Indonesia yang beroperasi secara full digital.

Tren Neobank di Indonesia

Neobank tidak memiliki bentuk fisik seperti bank pada umumnya, tapi hadir sepenuhnya secara online. Istilah neobank sendiri sudah muncul sejak 2016 untuk menggambarkan penyedia keuangan berbasis teknologi finansial.

Target pasar mereka sangat jelas, yakni generasi muda yang tech savvy dan sangat menjunjung tinggi kepraktisan. Ya, anak muda zaman sekarang memang telah terbiasa dengan kecanggihan teknologi sehingga mereka selalu mencari segala hal yang dapat mempermudah kegiatan mereka.

Apalagi cara kerja neobank benar-benar menyesuaikan dengan gaya hidup masyarakat modern saat ini. Hanya melalui gadget, semua jenis transaksi dapat berlangsung dengan satu klik. Tentunya ini adalah magnet yang sangat kuat bagi bank digital untuk menggaet calon nasabah yang berasal dari kalangan muda.

Menakar Potensi Neobank di Indonesia

Jika menimbang prospek neobank di Indonesia, tentunya neobank memiliki peluang. Bagaimana tidak, target pasarnya yang mumpuni, serta tingginya minat masyarakat pada layanan perbankan digital seakan sudah menjadi bukti nyata bahwa bank digital ini bisa sukses ke depannya.

Beberapa meramalkan tren bank digital akan terus berlanjut seiring dengan ramainya pemain fintech yang memasuki pasar dan terus menapaki lingkup e-wallet serta pembayaran digital lainnya. Kehadiran neobank juga telah membantu masyarakat yang sebelumnya kurang terlayani atau bahkan belum pernah mendapat layanan keuangan sama sekali.

Berdasarkan laporan dari McKinsey pada tahun 2019 lalu, pengguna layanan bank digital di Indonesia terus meningkat. Dalam laporan tersebut tercatat bahwa Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara yang masyarakatnya memiliki kemauan untuk mencoba layanan digital perbankan setelah Myanmar.

Selain itu, McKinsey juga mengemukakan bahwa 50% orang dari 900 responden yang mereka libatkan memilih untuk menggunakan layanan bank digital tanpa bentuk fisik. Mayoritas responden juga menyampaikan keinginannya untuk memindahkan 25 hingga 50% aset mereka ke bank digital.

Sementara survei EY 2021 NextWave Global Consumer Banking menunjukkan sebanyak 42% responden Indonesia telah memiliki produk atau layanan dari neobank. Rata-rata alasan mereka menggunakannya adalah karena produk dan layanan bank digital inovatif dan user friendly.

Konsep Bank Digital

Neobank

Sebenarnya, bank digital merupakan transformasi dari bank konvensional. Pada era perbankan tradisional, operasional perbankan sangat mengandalkan adanya kantor cabang, dan sangat tergantung pada sumber daya manusia. Sementara itu, alat yang digunakan adalah mesin ATM.

Selanjutnya, konsep tersebut berkembang menjadi era internet banking. Pada era ini, keberadaan kantor cabang masih termasuk kebutuhan dalam operasionalnya, terutama untuk menjalankan tugas-tugas administratif. Sementara itu, transaksi mulai beralih menggunakan aplikasi, melalui website bank yang tersedia maupun aplikasi mobile banking-nya.

Perubahan terkini yaitu era digital banking. Operasional bank sudah meninggalkan penggunaan kertas (paperless), tidak membutuhkan kantor cabang (branchless), dan mulai meninggalkan transaksi tunai (cashless). Hal itu merupakan salah satu bagian seluk-beluk neobank.

Ada beberapa faktor yang menjadi landasan transformasi tersebut, mulai dari perubahan perilaku nasabah, alternatif dari layanan sektor finansial yang sudah ada, akses yang lebih luas, dan restriksi sosial akibat pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir.

Perilaku nasabah perbankan mulai berubah. Adopsi layanan digital terus meningkat signifikan. Setidaknya, merujuk Laporan Digital 2021 yang berasal dari We Are Social dan Hootsuite, terdapat 202,6 juta pengguna internet di Indonesia. Menukil dari databoks.katadata.co.id, terdapat proyeksi bahwa sebanyak 89,2% populasi di Indonesia menggunakan ponsel pintar atau smartphone.

Generasi Teknologi Digital

Dua hal tersebut membentuk sebuah generasi baru yang sangat familier dengan teknologi digital. Perubahan tersebut juga membuat para nasabah industri perbankan kini berharap semakin banyak digitalisasi produk dan jasa dengan pendekatan yang lebih personal.

Sementara itu, indeks literasi keuangan juga telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, meskipun masih cukup rendah. Pada 2019, hasil survei OJK menunjukkan bahwa literasi keuangan di Indonesia telah mencapai 38,03%. Berdasarkan data dari Brain & Company, sebanyak 92 juta penduduk dengan usia produktif di Indonesia masih belum tersentuh sektor perbankan. Artinya, layanan perbankan harus bisa melakukan penetrasi yang lebih dalam, terutama di kota-kota tier 2, 3, dan 4.

Kebijakan pemerintah selama pandemi Covid-19 turut membentuk iklim positif bagi bank digital. Restriksi dalam bentuk Pembatasan Sosial Berskala Besar menyuburkan tren bank tanpa kantor cabang. Sebagai penggantinya, digitalisasi perbankan tumbuh secara masif.

Bank-bank tradisional berkapitalisasi besar mulai mengadopsi konsep neobank. Sebagai contoh, Bank BCA yang menghadirkan layanan digitalnya bernama Blu, dan Bank Mandiri dengan Livin by Mandiri. Transformasi ini memberikan sejumlah keuntungan, mulai dari mengurangi beban operasionalnya, peningkatan nilai bagi konsumen, serta benefit dari ekosistem yang terbentuk.

Ekosistem Bank Digital

Neobank

Di dunia, tren bank digital memang sudah dimulai sejak beberapa tahun ke belakang, mewarnai seluk-beluk neobank. Riset dari Boston Consulting Group menyebutkan, bahwa ada lebih dari 200 digital berdiri sejak 2010. Dari jumlah tersebut, 46 di antaranya berasal dari kawasan Asia Pasifik. Sementara itu, Cina dan Korea Selatan merupakan negara dengan pasar perbankan digital yang paling berkembang di kawasan tersebut.

Di Korea Selatan, contoh sukses penerapan konsep neobank adalah Kakao Bank. Bank ini diluncurkan di Korea Selatan pada 27 Juli 2017 dan berkembang cukup pesat hanya dalam waktu singkat. Beberapa bulan semenjak berdiri, Kakao Bank sudah memiliki 5 juta pengguna. Kakao Bank berhasil mencetak laba pada tahun keduanya, yaitu pada 2019. Bank ini juga mencatatkan total pengguna aktif bulanan mencapai lebih dari 13,6 juta pengguna pada akhir 2020. Barangkali, catatan ini sulit dilakukan dengan konsep bank konvensional.

Kakao Bank sukses menjadi bank digital yang untung dan berkembang pesat karena memiliki ekosistem sangat besar, mulai dari aplikasi obrolan yang sangat populer yaitu KakaoTalk, platform pembayaran, dan fungsi perdagangan.

Manfaat Menggunakan Bank Digital atau Neobank

Bagi penggunanya, merujuk karakteristik yang ada pada bank digital, terdapat beberapa manfaat yang bisa diperoleh, baik itu bagi nasabah perseorangan maupun korporasi, di antaranya, yakni:

  1. Fleksibel dan Praktis

Sebagaimana uraian di atas, salah satu karakteristik dari bank digital ketimbang bank tradisional adalah kecepatan dan transparansinya. Para pengguna bisa melakukan transaksi lebih cepat di mana pun dan kapan pun.

  1. Hemat Biaya Administrasi

Salah satu perbedaan lainnya antara bank digital dengan bank konvensional, yakni biaya administrasi. Dengan beban administrasi yang lebih rendah karena konsep branchless dan paperless, bank digital dapat mengurangi beban administrasi secara signifikan .Hal ini juga diterapkan pada beban administrasi yang lebih murah bagi pelanggannya.

  1. Bunga Lebih Besar

Rata-rata bank digital menerapkan bunga tabungan yang cukup tinggi daripada rata-rata bank konvensional. Bunga tabungan ini bervariasi, sekitar 3% – 4% per tahun, setara bunga deposito. Bahkan, ada bank yang berani memberi bunga tabungan sebesar 7% per tahun.

  1. Banyak Sistem Reward dan Promo

Banyak bank digital yang memberikan sejumlah promo untuk menarik nasabah baru, mulai dari rewards, cashback, poin, maupun voucher diskon.

Kelebihan Neobank

Dengan 100% berbasis digital, tanpa kantor fisik, ada banyak kelebihan bank digital ini. Sebab, dengan layanan tersebut bank digital ini bisa melakukan efisiensi biaya dan waktu.

  1. Biaya Lebih Murah

Karena tidak memiliki kantor fisik, maka neobank bisa menghemat sumber daya, termasuk sumber daya manusia. Dengan beban operasional yang kecil, efeknya ke nasabah adalah beban yang kecil juga. Tidak heran jika kemudian bank digital ini tidak menarik biaya administrasi bulanan ke nasabah.

  1. Lebih Nyaman

Pada dasarnya seluruh layanan perbankan neobank bisa dilakukan melalui aplikasi. Tidak hanya transfer antar rekening dan pembayaran transaksi jual beli, neobank juga menawarkan pembukaan rekening tabungan hingga deposito. Semua hal itu bisa dilakukan secara online tanpa perlu kamu datang ke kantor cabang.

  1. Proses Cepat, 24 jam

Dengan layanan digital, nasabah bisa cepat mengatur akun dan memproses permintaan transaksi. Pengisian dokumen juga bisa dipercepat karena paperless. Apalagi dengan sistem digital, proses perbankan bisa berlangsung 24 jam.

Kekurangan Bank Neo Commerce

Neobank
Unhappy young Asian man shrugging shoulder having trouble with his smartphone isolated on light blue studio background
  1. Literasi Digital yang Kurang, Butuh Edukasi pada Teknologi

Jika kamu tidak suka mengikuti tren teknologi, mungkin kamu tidak terlalu antusias dengan neobank. Dengan luas wilayah dan jumlah penduduk Indonesia yang beraneka ragam, edukasi sangat penting, tidak hanya terkait layanan perbankan yang neobank sediakan, namun juga faktor keamanannya. Kurangnya literasi dan pengetahuan digital masyarakat Indonesia menjadi tantangan bank digital ini.

  1. Disebut Belum Memiliki Landasan Hukum yang Kuat, Keamanan Jadi Pertanyaan

Terkait neobank, banyak yang mengatakan bahwa saat ini Indonesia belum memiliki landasan hukum yang kuat. Karena itulah masih banyak masyarakat yang belum mempercayai sistem keamanan bank digital ini. 

Namun sebenarnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mengatur tentang bank digital dalam POJK Nomor 12/POJK.03/2021. OJK mendefinisikan bank digital adalah Bank Berbadan Hukum Indonesia (BHI) yang menyediakan dan menjalankan kegiatan usaha yang utamanya melalui saluran elektronik tanpa kantor fisik selain kantor pusat (KP), atau dapat menggunakan kantor fisik yang terbatas.

Bank digital dapat beroperasi melalui dua jenis model. Pertama, mendirikan bank baru sebagai bank digital. Kedua, transformasi dari bank umum menjadi bank digital. Untuk pendirian bank baru, OJK mewajibkan investor pengendali menyediakan modal inti minimum senilai Rp10 triliun. 

  1.  Tanpa Kantor Cabang, Akses Internet Bisa Jadi Kendala

Walau transaksi keuangan bisa kamu lakukan online, namun ada saatnya nasabah pasti perlu atau ingin datang langsung ke kantor fisik. Entah untuk keperluan terkait keluhan layanan, maupun hal yang lain. Ini bisa menjadi salah satu kelemahan bank digital ini. Apalagi di Indonesia,  akses internet di masyarakat tidak merata, sehingga bank digital ini sulit orang yang tinggal di pedalaman miliki. 

  1. Menawarkan Layanan yang Lebih Sedikit

Jika kamu bandingkan dengan bank umum, layanan yang bank digital ini tawarkan cenderung lebih sedikit daripada bank konvensional.

Layanan yang Neobank Tawarkan

  1. Rekening tabungan dan deposito
  2. Layanan pembayaran dan transfer uang
  3. Layanan perencanaan keuangan (pos-pos belanja, mengatur transfer terjadwal, dsb) 

Perbedaan Neobank dengan Bank Konvensional

Untuk lebih detail, begini beberapa pembeda utama layanan bank digital dengan bank konvensional.

  1.  Registrasi 100% secara Digital

Hampir semua layanan bank digital atau neobank berlangsung secara online. Mulai dari pembukaan rekening. Jika pada bank konvensional nasabah harus datang ke kantor cabang untuk membuka rekening, maka pembukaan rekening akun bank digital bisa berlangsung di mana saja.

Registrasi dimulai dengan mengunduh aplikasi bank yang tujuan. Pengguna kemudian harus membuat akun lengkap dengan password-nya pada aplikasi tersebut. Lalu, melakukan verifikasi nomor handphone dan email. Nasabah kemudian mengisi formulir pendaftaran berupa informasi personal.

Tahap selanjutnya adalah verifikasi kartu identitas. Nasabah harus memotret kartu identitas dan selfie bersama kartu identitas tersebut. Proses ini merupakan salah satu inovasi penting dalam layanan digital banking. Verifikasi berlangsung secara penuh melalui digitalisasi dengan bantuan teknologi kecerdasan artifisial. Hal ini membuat prosesnya menjadi sangat cepat dan efisien. Sebelumnya, proses seperti ini berlangsung secara manual oleh petugas di kantor cabang.

Rangkaian proses registrasi yang berlangsung secara online ini juga bisa meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia. Layanan bank digital dapat memberi akses kepada warga negara yang tinggal di kota-kota kecil, yang belum tersentuh oleh kantor cabang dari bank konvensional.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks inklusi keuangan nasional tahun 2019 mencapai 76,19 persen dengan tingkat literasi keuangan sebesar 38,03 persen. Adapun, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menargetkan tingkat inklusi keuangan Indonesia naik hingga 90% pada tahun 2024. 

Dengan adanya digital perbankan, target tersebut cukup realistis untuk tercapai. Hanya dengan bermodal smartphone, internet dan kemampuan memahami teknologi, semua orang bisa melakukan berbagai transaksi perbankan. Mengutip Kompas.com, setidaknya saat ini Indonesia memiliki 202,6 juta pengguna internet dan penetrasi smartphone yang sangat tinggi, yakni pada angka 98,2%.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP
  1.  Menentukan Tujuan Finansial

Layanan bank digital juga memiliki ambisi untuk menjadi aplikasi yang sangat personal untuk para penggunanya. Dalam registrasi tadi, mereka akan menanyakan tujuan dari pembukaan rekening dan beberapa pertanyaan turunannya.

Kehadiran fitur ini adalah untuk menentukan tujuan finansial nasabahnya. Misalnya, jika seorang nasabah memilih pilihan investasi pada pertanyaan di atas, maka layanan seperti deposito atau reksadana akan selalu muncul pada home page pada aplikasi tersebut.

Beberapa aplikasi, seperti Jenius dan Jago, bahkan memberikan fitur untuk mengelola pengeluaran dari nasabahnya. Nasabah bisa memisahkan dananya berdasarkan tujuannya, misalnya, untuk keperluan sehari-hari, dana travelling, atau tabungan pendidikan anak. 

Hal tersebut membuat nasabah menjadi terkondisikan supaya harus berlatih untuk bisa mengatur keuangannya dengan memisahkan pos-pos pengeluaran sejak awal. Nasabah juga bisa mengatur pos-pos pengeluaran tadi, sesuai kebutuhan dan selera masing-masing. Hal ini membuat layanan perbankan masing-masing orang akan berbeda dan lebih bersifat personal.

  1.    Pengiriman Kartu Debit ke Alamat Nasabah

Sebagian besar aplikasi perbankan dari layanan bank digital masih menyediakan fasilitas kartu debit. Pengguna juga bisa melakukan registrasi untuk administrasi kartu debit. Proses analisis dari registrasi tersebut juga berlangsung secara digital. 

Tetapi, tidak semua bank digital melakukan hal tersebut. Blu, yang merupakan produk bank digital dari Bank BCA, tidak memberikan fasilitas kartu debit, melainkan menggunakan sistem penarikan tanpa kartu yang bisa berlangsung melalui ATM BCA terdekat. 

Penggunaan kartu debit masih cukup signifikan di Indonesia. Hal ini karena ekosistem tanpa kartu, termasuk dari infrastruktur dan perilaku konsumen di Indonesia, masih dalam tahap perkembangan. Kartu debit merupakan alat untuk menarik uang tunai atau melakukan pembayaran di merchant melalui mesin EDC (electronic data capture).

Neobank

Neobank di Tanah Air, Ada Apa Saja, ya?

Saat ini sudah semakin banyak neobank yang bermunculan di Indonesia. Mengutip bisnis.com, Deputi Direktur dan Perbankan OJK mengatakan bahwa saat ini terdapat sejumlah bank di Indonesia yang berada dalam proses go digital, antara lain Bank BCA Digital, PT BRI Agroniaga Tbk., PT Bank Neo Commerce Tbk., PT Bank Capital Tbk., PT Bank Harda Internasional Tbk., PT Bank QNB Indonesia Tbk., dan PT KEB HanaBank.

Sedangkan bank-bank yang telah menyatakan diri sebagai bank digital di antaranya Jenius dari Bank BTPN, Wokee dari Bank Bukopin, Digibank dari Bank DBS, TMRW dari UOB, dan Bank Jago.

Menariknya, kini banyak dari perusahaan fintech yang berinvestasi hingga mengakuisisi bank di Indonesia. Tren pengakuisisian oleh perusahaan fintech ini memang tengah marak, bahkan diperkirakan akan semakin masif ke depannya.

Tujuan dari akuisisi ini adalah untuk memudahkan mereka dalam mengantongi izin layanan yang tidak dilakukan sebelumnya. Selain itu, hal ini juga merupakan cara untuk mengurangi biaya penyaluran dana.

Mengutip Katadata, setidaknya ada tujuh fintech yang melakukan investasi hingga mengakuisisi bank di Indonesia, di antaranya:

  1. Akulaku

PT Akulaku Silvrr Indonesia atau Akulaku mengakuisisi 24,9% saham Bank Neo Commerce pada November 2021 lalu. Bank Neo sendiri adalah nama baru dari Bank Yudha Bhakti yang berdiri pada tahun 1990.

  1. GoPay

PT Dompet Karya Anak Bangsa melalui pengelola GoPay menguasai 22,16% saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO) pada 2020. Investasi ini adalah bagian dari strategi GoPay untuk memimpin layanan keuangan digital di Indonesia.  

  1. Kredivo

PT Finaccel Teknologi Indonesia atau Kredivo resmi memegang kendali PT Bank Bisnis Internasional Tbk. (BBSI) pada tahun 2020. Awalnya Kredivo memiliki saham Bank Bisnis Internasional sebanyak 24%, namun kemudian fintech tersebut membeli kembali saham Bank Bisnis Internasional sebesar 16%.

  1. Ajaib

PT Takjub Finansial Teknologi atau Ajaib resmi memiliki saham PT Bank Bumi Artha Tbk. sebanyak 24%. Kabar akuisisi ini tersebar setelah Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) merilis laporan tentang kepemilikan saham investor di atas 5%.

  1. WeLab

Perusahaan milik miliarder Li Ka-Shing ini kabarnya telah mengakuisisi 24% saham PT Bank Jasa Jakarta untuk kepentingan pengembangan bank digital di Indonesia.

  1. Alami

Fintech lending syariah satu ini baru saja membeli Bank Perkreditan Rakyat (BPR) pada November tahun lalu. Rencananya BPR akan ekspansi menjadi bank berbasis teknologi untuk meningkatkan skala bisnis Alami.

Keunikan Fitur Masing-Masing Bank

Masing-masing bank digital biasanya memiliki pendekatan yang berbeda-beda terhadap nasabahnya. 

Pendekatan itu yang menjadi perbedaan fitur-fitur yang menjadi keunggulan bank tersebut. Ada yang menawarkan bunga tabungan tinggi, fitur cardless, koneksi dengan e-wallet, maupun situs ecommerce yang terkoneksi dengan bank tersebut.

Dengan merangkum dari berbagai sumber, berikut rincian perbedaan fitur-fitur masing-masing bank:

Nama Aplikasi Keunikan
Blu (versi 1.8.0)
  • bluGether: perencanaan keuangan dengan pengguna lainnya (bunga 3% per tahun)
  • bluDeposit; membuka akun deposito dengan minimal Rp1 juta (bunga 4% per tahun)
  • Penarikan tunai menggunakan aplikasi (cardless) melalui ATM BCA terdekat
Jago (versi 5.7.0)
  • Kantong: memisahkan dana berdasarkan penggunaan atau tujuan finansial yang ditargetkan.
  • Send & pay: mengirimkan penagihan pembayaran atau split bill
  • Terkoneksi dengan platform ecommerce dan manajer investasi dalam satu ekosistem yang sama.
Jenius (versi 3.1.0)
  • Save It: fitur tabungan dengan bermacam spesifikasi untuk tujuan finansial.
  • Moneytory: pelaporan finansial dan layanan analisis
  • Charge Money: mengirimkan permintaan pengiriman dana dan/atau split-bill.
LINE Bank (versi 1.1.5)
  • Time Deposit: Deposito dengan jangka waktu pendek dengan minimal layanan Rp1 juta.
  • Kartu debit menggunakan desain lucu dengan karakter•karakter yang ada di LINE sticker.
Motion Banking (versi 2.1.3)
  • Pengelolaan deposito, layanan KTA, KPR melalui aplikasi
TMRW ID (versi 4.1)
  • City of TMRW: fitur yang menggunakan permainan untuk menabung, dengan visualisasi dan konsep yang menarik.
SeaBank (versi 2.7.0)
  • Fitur tabungan dengan bunga yang cukup tinggi, sebesar 7% per tahun. 
  • Terkoneksi dengan layanan ecommerce dalam grup SEA Ltd

Tantangan Keamanan Neobank 

Survei berjudul Pursuing Cybersecurity Maturity at Financial Institutions yang dilakukan oleh Deloitte pada 2019 menunjukkan bahwa bank, asuransi, investasi, dan perusahaan finansial lainnya menghabiskan rata-rata 10% bujet IT-nya pada keamanan siber.

Namun, seringkali neobank tidak memiliki bujet sebesar itu untuk membentuk tim siber internal. Oleh sebab itu, menurut First Bridge, kamu harus memahami bahwa ada beberapa tantangan keamanan dari neobank, di antaranya: 

  1. Bujet Keamanan Siber yang Tererbatas 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, neobank harus memprioritaskan keamanan siber untuk menghindari risiko jangka panjang. Namun, neobank merupakan perusahaan bank yang lebih kecil dibanding bank tradisional, sehingga bujet untuk keamanan pun terbatas.

Neobank harus bergantung pada pihak ketiga yang bisa menangani keamanan siber mereka untuk menghemat bujet. Sayangnya, layanan dari pihak ketiga tentunya tidak bisa semaksimal tim internal.

Ketergantungan neobank pada pihak ketiga ini juga cukup berbahaya, sebab akan meningkatkan adanya kebocoran data bila vendor tidak memiliki regulasi yang tepat.

  1. Memiliki Kemungkinan Besar untuk di-Hack

Keunggulan utama dari neobank adalah sifatnya yang serba digital, yang memang sangat menarik bagi konsumen. Tapi hal ini justru menimbulkan masalah baru seperti adanya kemungkinan serangan dari hacker. Neobank harus lebih waspada sebab bila ada jaringan yang terkena malware, keamanan di seluruh platform pasti akan kacau.

  1. Phishing dan Spoofing

Menurut Indonesia Computer Emergency Response Team (ID-CERT), aksi kejahatan siber yang paling sering terjadi saat ini adalah phishing dan spoofing.

Melansir dari Phishing.org, phishing adalah sebuah penipuan online yang berpura-pura menjadi sebuah lembaga resmi.

Neobank

Pelaku phishing akan meminta informasi personal dari pengguna, seperti password dan detail akun, lalu mereka menggunakannya untuk memalsukan identitas yang berujung pada kerugian finansial. 

Berbeda dari phishing yang berusaha meyakinkan pengguna untuk memberikan data, spoofing akan langsung mencuri data pengguna dengan cara menyamar menjadi individu atau lembaga yang kamu kenal. 

Konsumen dapat menerima sebuah email atau SMS dengan link yang membahayakan keamanan akun mereka. Mereka mengaksesnya karena mengira link tersebut datang dari lembaga yang terpercaya. Untuk neobank yang semuanya berbasis online, risiko penipuan ini tentunya lebih tinggi.

  1. Kurang Teregulasi Dibanding Bank Tradisional

Akibat tidak benar-benar berdiri sebagai sebuah bank, kamu mungkin akan mengalami kesulitan dalam memproses keluhan bila ada masalah pada aplikasi dan layanannya. Kamu juga harus memastikan neobank sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Neobank biasa menggunakan bot sebagai customer service, sedangkan konsumen terkadang memilih untuk langsung bertanya pada orang sungguhan. Tanpa adanya bank resmi di balik neobank, kemungkinan akan terjadi kebingungan siapa yang bertanggung jawab bila terjadi penipuan atau kesalahan saat transaksi. 

Bagi kamu yang sudah sangat akrab dengan dunia digital, neobank tentunya sangat menarik untuk dicoba, bukan?

Namun, Forbes mengutarakan bahwa tidak semua orang cocok menggunakan neobank. Mereka punya layanan yang terbatas dibanding bank konvensional, sehingga hanya cocok digunakan untuk transfer atau menabung saja, tapi tidak untuk cicilan atau kredit. Neobank juga tidak memiliki akses customer service seperti bank pada umumnya. 

NeobankAda pertimbangan yang harus kamu pikirkan sebelum membuat akun neobank, di antaranya: 

  • Seberapa perlunya kamu dengan layanan finansial yang mereka tawarkan? Apakah layanan tersebut cocok dengan kebutuhanmu atau sebenarnya masih bisa kamu dapatkan dari bank biasa? 
  • Berapa besar biaya administrasi yang mereka terapkan? Karena pasti ada biaya-biaya tersembunyi yang tidak terlihat. 
  • Berapa besar bunganya? 
  • Seberapa bagus fitur edukasi finansial dan budgeting yang dimiliki oleh platform mereka? 
  • Karena semuanya beroperasi secara digital, apakah kamu sepenuhnya nyaman dengan teknologi? 
  • Apakah kamu bersedia mengunduh aplikasi dan memberikan akses ke data personalmu? 
  • Apakah kamu nyaman mendiskusikan kebutuhan finansialmu dengan chatbot, bukan dengan manusia?

Sudah Siapkah Ekosistem Keuangan Indonesia untuk Go Digital?

Di balik pertumbuhan neobank yang begitu pesat, terdapat kekhawatiran lain yang muncul dari berbagai kalangan. Tak bisa dimungkiri bahwa pemerintah masih berupaya keras agar masyarakat bisa pelan-pelan beralih ke ranah digital.

Namun, jika kita melihat banyaknya bank digital yang mulai bermunculan, rasanya kekhawatiran tersebut bisa langsung patah. Menurut lembaga riset INDEF, 40 dari total 110 bank di Indonesia dinilai berpotensi untuk menjadi neobank di masa mendatang.

Hal ini karena 40 bank tersebut telah menciptakan ekosistem digital sehingga mereka akan lebih mudah beralih menjadi bank digital. Meski begitu, masih butuh pengembangan dari sisi infrastruktur agar implementasi neobank dapat tersalurkan hingga ke pelosok wilayah.  

Selain itu, masih butuh teknologi yang mampu memperkuat sistem keamanan serta percepatan internet untuk mengurangi trust issue dari masyarakat.

Membuka Gerbang Kesuksesan Digital di Indonesia

Neobank atau bank digital dapat membuka gerbang kesuksesan digital Tanah Air karena kemampuannya yang dapat mengakomodir kebutuhan transaksi nasabah secara lebih mudah dan praktis. Selain itu, bank digital ini juga dapat meningkatkan literasi keuangan masyarakat.  

Berdasarkan data di atas, Indonesia adalah salah satu negara yang mengalami pertumbuhan teknologi paling tinggi. Itu artinya, bangsa ini berpotensi untuk mengembangkan implementasi layanan perbankan digital dan neobank di masa depan. Dengan begitu, hal ini akan membuka pintu keuangan baru bagi perekonomian negara.

Neobank memang pas buat kamu yang super sibuk, tidak gaptek, dan menyukai kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. 

Namun, jangan langsung ikut-ikutan menggunakan neobank tanpa tahu bahayanya, terutama bila bahaya tersebut terkait dengan keamanan data personalmu. Pertimbangkan baik-baik segala pro dan kontra yang ada sebelum memakai neobank, ya!

Demikian ulasan mengenai neobank. Setelah melihat seluk-beluk neobank, kehadirannya berpotensi menjadi game changer dalam industri keuangan. Efisiensi yang berlangsung seiring penerapan teknologi digital mampu melahirkan bank-bank baru yang cukup kompetitif, terutama dalam menggaet nasabah-nasabah barunya. Lalu, apakah kamu berminat untuk menjadi nasabah baru neobank? 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Baca juga artikel terkait lainnya

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP