fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Artificial Intelligence dalam Bisnis, Ini yang Perlu Kamu Tahu

Artificial inteligent

Artificial Intelligence (AI) sudah menjadi teknologi kekinian segala aspek. Penerapan kecerdasan buatan ini sangat memudahkan berbagai pekerjaan, termasuk dalam dunia bisnis.

Saat kamu memanfaatkan asisten virtual Siri untuk menemukan informasi dengan menggunakan suaramu,”Di mana restoran terdekat?”, saat kamu menggunakan Spotify untuk mencari musik atau film yang sesuai dengan minatmu, saat menemukan iklan-iklan dari barang yang kamu cari atau lihat sebelumnya di e-commerce, sadarkah kamu, bahwa saat itu kamu tengah berpaparan dengan kecerdasan buatan? Artifical intelligence bukan lagi hanya muncul dalam film-film fiksi ilmiah. Tapi ia sudah mewujud dalam kehidupanmu sehari-hari. 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Apa itu Artificial Intelligence (AI) ?  

Artificial Intelligence adalah cabang luas dari ilmu komputer, berkaitan dengan membangun mesin pintar yang mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.  AI mengumpulkan dan mengolah berbagai data menjadi informasi berguna agar dapat menyelesaikan tugas.

Istilah ini muncul sejak abad 20, baik dalam berbagai penelitian maupun film-film bergenre fantasi. Berawal dari kehadiran Atanasoff Berry Computer (ABC) di tahun 1940, yang membangkitkan semangat para ilmuwan untuk mengembangkan ide pembuatan otak elektronik. Ide itu berkembang dan terus berkembang sebagai kecerdasan buatan yang kita kenal sekarang. 

Artificial intelligence

Sejarah Artificial Intelligence

Sejarah AI bermula tahun 1950 melalui tulisan seorang ilmuwan matematika bernama Alan Turing. Saat itu, dalam tulisannya yang berjudul Computing Machinery and Intelligence, Alan melontarkan pertanyaan kontroversial, ”Jika manusia mampu menyelesaikan masalah dan membuat keputusan berdasarkan informasi dan tatanan yang tersedia, mengapa mesin tidak bisa melakukan hal yang sama?” Pertanyaan itulah yang membangkitkan semangat pengembangan kecerdasan buatan di kalangan ilmuwan bertahun-tahun setelahnya. 

Tahun 1956, istilah Artificial Intelligence untuk pertama kalinya tercetus dalam program AI Darthmouth Summer Research Project on Artificial Intelligence (DSRPAI) milik John McCarthy. Tapi program ini mandek karena kurangnya kurangnya komitmen dari para peneliti yang terlibat. Perkembangan AI baru mendapatkan momentum kembali pada tahun 1960, ketika komputer bisa menampung lebih banyak informasi dan kesempatan akses dengan lebih mudah dan cepat.  Beberapa algoritma machine learning juga mulai terpakai untuk menyelesaikan permasalahan spesifik. 

Model AI yang pertama adalah Natural Language Processing (NLP) bernama STUDENT yang bisa menyelesaikan permasalahan aljabar. STUDENT menjadi milestone awal dalam dunia AI – NLP 

Tahun itu juga muncul ELIZA, chatbot pertama sebelum ada Siri, Alexa dan berbagai robot NLP yang ada sekarang. Masuk tahun 1970, Jepang menciptakan WABOT-1, robot pintar pertama yang mampu bergerak, melihat, serta berbicara. 

Perkembangan pada Akhir Millennium

Sempat melambat hampir dua dekade, AI menunjukkan perkembangan baru ketika dunia masuk akhir abad millennium. Tahun 1997, IBM mengeluarkan mesin ‘Deep Blue’ yang bisa mengalahkan pemain catur kelas dunia Garry Kasparov. Tahun itu pula Windows mengimplementasikan penggunaan speech recognition software pada Dragon Systems yang mereka ciptakan.

Kemudian pada tahun 1998, Dave Hampton dan Caleb menciptakan binatang robot mainan anak-anak yang mendapat banyak perhatian kalangan orang tua. Setahun kemudian, SONNY meluncurkan  Artificial Intelligence RoBOt (AIBO), robot anjing yang mampu berinteraksi dengan dunia luar.

Masuk abad 21, kecerdasan buatan semakin eksis dalam ruang publik. Produk-produk berteknologi AI bermunculan, dan informasi seputar AI juga semakin masif tersebar.  Semakin banyak korporat yang memanfaatkan AI, dan terus mengembangkan machine learning dengan dukungan perangkat komputer yang semakin andal. 

Tahun 2009, Google diam-diam memulai rancangan mobil tanpa pengemudi. Mobil itu rilis ke publik lima tahun kemudian, setelah lolos dari Nevada’s self-driving test. Dan sampai hari ini, Artificial Intelligence terus berkembang dengan berbagai kemungkinan yang mungkin tidak terbayang di benak kita. 

Kecerdasan Buatan, Pro dan Kontra

Kalau kamu pernah menonton film “The Matrix”,  “Terminator” atau “A Space Odyssey”,  sadarkah kamu bahwa Hollywood saat itu tengah menanamkan ketakutan tentang sistem artificial intelligence sebagai kekuatan yang menyeramkan?

Membahas pro dan kontra kecerdasan bikinan memang membangkitkan sisi emosional banyak orang. Bahkan ilmuwan setara Stephen Hawking pun, yang awalnya mengira manusia bisa hidup berdampingan dengan AI, kemudian menyimpulkan “AI jahat sulit dihentikan” tanpa perlindungan yang memadai.

Tapi seperti halnya teknologi, kecerdasan buatan tidak hitam putih, membawa sifat baik dan buruk. Semua tergantung siapa yang memakai dan bagaimana cara penerapannya.  

Kenyataannya sekarang, kecerdasan buatan juga memberi banyak manfaat dan bisa dikendalikan untuk kehidupan manusia. Contoh penerapannya ada di bawah ini. 

Menyelesaikan Pekerjaan Membosankan di Pabrik

Manusia ada jenuhnya, tapi mesin tidak. Artificial intelligence memungkinkan pengerjaan proses rumit, yang sangat menolong untuk meningkatkan produktivitas serta menghilangkan peran tenaga berulang-ulang yang membosankan manusia. 

  • Cepat Bertindak dan Mengambil keputusan 

Berbeda dengan manusia yang selalu penuh pertimbangan, AI dan teknologi kognitif akan membantu kita dalam membuat tindakan dan menambil keputusan secara cepat. Mereka punya kemampuan untuk mendeteksi penipuan secara otomatis, membuat perencanaan dan membuat penjadwalan lebih lanjut.

  • Pembelajaran Mesin  

Big Data berarti kumpulan data dalam petabyte. Otak manusia tak kan mampu menyaring data sebanyak itu. Tapi, kecerdasan buatan dapat menganalisanya secepat prosesor Xeon tanpa kesalahan. Sepanjang kamu telah memrogramnya dengan benar, komputer tidak pernah salah. AI akan selalu memastikan pemrosesan data nir kesalahan, tak peduli sebesar besar dataset yang mereka kelola.

Kinerja Kontraproduktif Artificial Intelligence

Meski begitu, bukan berarti kekhawatiran Hawking bisa diabaikan. Penerapan AI dalam skala industri sudah membawa dampak yang tidak diinginkan sebagian manusia. Salah satu alasannya adalah karena AI akan menghilangkan banyak kesempatan kerja. 

Orang-orang yang kurang terampil dalam pekerjaan adalah pihak yang paling khawatir job-nya direbut AI. Robot telah mengambil banyak pekerjaan di jalur perakitan. Ia bisa melakukan melakukan tugas-tugas kompleks dengan sangat baik, dan kenyataannya, mereka mengambil banyak pekerjaan dengan keterampilan rendah.

Hal lain yang menjadi faktor kontraproduktif AI adalah “ketidak-manusiawian”nya. Contoh nyatanya terjadi waktu ada drama penembakan dan penyanderaan di pusat kota Sydney Australia tahun 2014. Dalam kepanikan, orang-orang mulai menelpon Uber agar bisa keluar dari wilayah terdampak. Nah, karena terjadi lonjakan permintaan yang terkonsentrasi di satu wilayah, algoritma Uber secara otomatis menaikkan tarif di sekitar TKP. Banyak konsumen marah karena merasa diperas saat krisis itu. 

Begitulah, AI tidak memiliki kemampuan untuk membuat penilaian, dan mungkin tidak pernah mendapatkan kemampuan itu. Kejadian tersebut memaksa Uber untuk mengevaluasi kembali algoritmanya saat menangani kondisi darurat. Tapi yang jelas, AI Uber telah meninggalkan pengalaman sangat tidak menyenangkan bagi konsumennya di Australia. 

Dalam skala yang lebih besar, banyak kekhawatiran manusia terhadap dominasi AI di tangan orang-orang yang salah. AI tidak memanusiakan peperangan. Negara-negara yang punya teknologi canggih dapat saja membunuh manusia tanpa melibatkan manusia yang sebenarnya. 

Contoh Artificial Intelligence di Dunia Bisnis

Di masa kini, banyak perusahaan yang menerapkan AI dalam bisnisnya. Tak hanya di satu tempat saja, mereka menerapkan dalam banyak aspek di perusahaan, seperti :

  1. Pemasaran

Di aspek ini, penerapan AI sangat lazim di dunia bisnis. Selain membantu mengembangkan strategi pemasaran, AI juga bisa menjadi instrumen untuk eksekusi strategi tersebut. Misalnya untuk mengelompokkan pelanggan berdasarkan minat atau demografi. Juga untuk menargetkan ads/iklan berdasarkan sejarah penelusuran di internat, termasuk penggunaan chatbot. 

  1. Penjualan

Di bidang ini, AI bisa membantu meningkatkan prediksi penjualan, kebutuhan konsumen, dan meningkatkan komunikasi. Mesin AI dapat membantu tenaga penjualan profesional untuk mengatur waktu dan mengidentifikasi apa yang dibutuhkan.

  1. Research and Development (R&D)

AI bisa menjadi alat untuk inovasi, terutama di industri kesehatan, farmasi, keuangan, otomotif dan lain-lain. AI bisa mengumpulkan informasi secara efisien dan akurat serta membantu meneliti masalah serta mengembangkan solusi.

  1. Perusahaan Manufaktur

Industri manufaktur juga sering menggunakan AI untuk setiap tahap manufakturing. Mulainya dari rantai pasokan sampai melacak inventaris di toko-toko. Tak hanya mengantisipasi permintaan dan mengatur produksi, AI juga bisa melakukan sensor pada peralatan dan membantu proses kontrol kualitas pada fasilitasnya. 

  1. Perbankan dan Keuangan

Industri ini juga banyak menerapkan kecerdasan buatan untuk efisiensi biaya dan operasional. Otomatisasi proses dengan AI terbukti memberikan hasil sangat signifikan untuk mengatasi masalah akuntansi dan keuangan perusahaan, dan sangat signifikan dalam mengurangi kesalahan. Melalui penggunaan AI, SDM bisa dibebaskan dari tugas berulang agar fokus pada aktivitas lain. AI bahkan bisa memberikan status real-time pada masalah keuangan organisasi karena dapat memonitor melalui NLP.

  1. Pengalaman Konsumen

Burberry adalah contoh merek fashion mewah yang telah memanfaatkan AI untuk memberikan customer experience. Berawal dari pengumpulan data pelanggan melalui program loyalitas, mereka kemudian menggunakan big data dan AI untuk meningkatkan penjualan dan hubungan pelanggan. Termasuk memberikan penghargaan, memberikan rekomendasi belanja, dan bahkan chatbox inovatif yang mengesankan pelanggan. 

Artificial intelligence

Selain model-model di atas, masih banyak contoh penerapan AI dalam dunia bisnis dan industri yang telah memberimu pengalaman sehari-hari. Sebutlah seperti asisten virtual dari Siri, Google dan Cortana yang tersedia dalam platform iOS, Android dan Windows Mobile. Lalu aplikasi Pandora, Netflix, Spotify yang mengenali seleramu terhadap musik dan film sehingga bisa memberikan rekomendasi berdasarkan musik atau film yang kamu pilih sebelumnya. 

Fitur chatbot di e-commerce juga merupakan contoh artificial intelligence di dunia bisnis. Sistem AI akan merespon masukan dan pertanyaan kamu secara otomatis berasarkan pemrosesan bahasa alami atau natural language processing (NLP). Melalui algoritma ini, iklan barang di e-commerce akan muncul secara khusus kepadamu, berdasarkan analisis kata kunci saat kamu membeli produk terakhir. 

Tak terbantahkan, sulit mengelak paparan artificial intelligence dalam kehidupan sehari-hari. Namun di samping segudang manfaat yang membantumu bekerja lebih baik, kamu juga harus ingat bahwa teknologi ini juga memiliki risiko untuk menembus batas privasi. Karena itu, sebaiknya kamu juga selalu berhati-hati saat mengunduh atau memasukkan informasi di dunia maya. 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Published by Emilia Natarina

Content Marketing LummoSHOP