fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Begini Sistem Pendanaan untuk Sebuah Startup

pendanaan startup

Sebagaimana data dari startupranking.com, Indonesia menjadi negara terbanyak nomor 5 di dunia dan nomor 1 di Asia Tenggara yang memiliki startup. Perusahaan rintisan atau startup memang memiliki daya tarik tersendiri bagi generasi milenial. Tak heran jika pertumbuhannya begitu pesat. Salah satu daya tariknya adalah pendanaan startup yang relatif mudah. Jika dulu mendirikan bisnis butuh dana besar, belum lagi masalah pemilihan lokasi yang tepat dan semacamnya, maka sekarang berbeda. Startup membuatmu bisa mendirikan bisnis saat ini juga tanpa harus terlalu pusing memperhitungkan lokasi karena bisa kamu jalankan secara online dengan modal seadanya.

Namun, meski pendanaan startup cenderung lebih mudah didapat, bukan berarti kamu bisa menyepelekannya. Jangan hanya melihat kisah suksesnya, baca juga kisah gagalnya startup. Konon, di antara sekian banyak penyebab gagalnya startup, faktor pendanaan menjadi salah satu penyebab utamanya sebagaimana data dari CB Insights.

Oleh sebab itu, jika saat ini kamu ingin mendirikan atau baru saja menjalankan startup, kamu harus membekali diri dengan pengetahuan mengenai pendanaan startup yang notabene memiliki beberapa tingkatan. Startup kamu sudah di level mana? Cek, yuk!

  1.   Pre-seed funding

Sebagaimana namanya, boleh dibilang, ini adalah pendanaan startup paling awal saat ia mulai berdiri. Sumber modalnya bisa dari diri sendiri, teman, keluarga, atau rekan satu circle, dan yang serupa. Rasanya memang cukup logis, ya. Berhubung bisnis baru mulai berdiri dan belum terlihat seperti apa hasilnya, hanya tampak prospeknya, maka pendanaan pun biasanya datang dari orang-orang yang sudah dikenal atau memang dari pihak ketiga yang benar-benar tertarik dengan konsep bisnisnya.

pendanaan startup

Contoh yang mendapatkan pendanaan dari pihak ketiga adalah Pensieve. Startup yang berkecimpung di dunia teknologi artificial intelligence ini mendapatkan dana dari investor yang berasal dari Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Tidak salah jika pihak-pihak tersebut kerap disebut angel investor karena keberadaannya seolah menjadi “malaikat penolong” sehingga startup bisa berdiri/beroperasi.

  1.   Seed funding

Tahap berikutnya adalah seed funding yang terjadi saat bisnis sudah berjalan dan ingin berkembang. Banyak startup gulung tikar di tahap ini karena tak mampu bersaing di pasaran, produknya ternyata kurang diminati, tak bisa mengelola dana dengan baik, hingga tak juga menemukan investor yang tepat/mau mendanai. Sumber pendanaan seed funding ini berasal dari micro venture capital dan crowdfunding. Micro venture capital adalah modal dari beberapa investor sedangkan crowdfunding adalah modal dari penggalangan dana seperti donasi. Melansir katadata.com, contoh startup yang meraih seed funding di 2022 ini adalah startup quick commerce Bananas. Startup tersebut bergerak di bidang bahan dan makanan.

  1.   Pendanaan seri A

Ketika bisnis sudah memiliki produk tetap dan bisa membuktikan kinerja, performa, serta eksistensinya, maka ia berkesempatan untuk mendapatkan pendanaan lanjutan, yaitu pendanaan seri A. Di posisi ini, startup sudah dikenal oleh masyarakat luas dan memiliki pelanggan. Sehingga, ia memang butuh “suntikan” dana lagi untuk berinovasi. Sumber pendanaan seri A ini berasal dari investor “kelas kakap” atau perusahaan modal ventura raksasa. Contoh startup yang mendapatkan pendanaan seri A adalah PINTEK di 2021 kemarin sebagaimana dilansir oleh katadata.com. PINTEK adalah perusahaan teknologi keuangan di bidang pendidikan yang memberikan pinjaman untuk membiayai sekolah atau kuliah.

  1.   Pendanaan seri B

Pendanaan startup seri B adalah lanjutan dari pendanaan seri B. Biasanya hal ini terjadi jika bisnis sudah mampu menghasilkan laba yang stabil dan produknya sudah diterima oleh sebagian besar konsumen alias sudah memiliki nama. Contoh dari pendanaan seri B yang produknya mungkin sudah sangat kamu kenal adalah Kopi Kenangan. Tahun 2020 silam, brand kopi yang saat itu sudah memiliki 324 gerai di seluruh Indonesia dan berencana ekspansi ke Thailand, Filipina, dan Malaysia ini mendapatkan pendanaan seri B sebesar Rp1,6 triliun.

  1.   Pendanaan seri C

Ibarat manusia, pendanaan seri C ini biasanya diberikan pada startup yang sudah matang (dengan bukti pertumbuhan bisnisnya yang kian naik). Contoh startup yang mendapatkan pendanaan ini adalah eFishery. Startup yang fokus di bidang budi daya ikan dan udang ini mendapatkan pendanaan senilai USD90 juta.

  1.   Pendanaan seri D, E, F, G

Seharusnya, setelah startup mendapatkan pendanaan seri C, ia akan menuju jenjang berikutnya yaitu IPO (initial public offering) atau menawarkan sahamnya ke masyarakat luas. Namun, tidak semua startup memiliki kriteria atau mau untuk langsung “terjun” ke IPO. Alih-alih “membuka diri” ke publik, mereka lebih memilih pendanaan lanjutan (seri D, E, F, dan G). Dana yang didapat dari pendanaan-pendanaan tersebut biasanya digunakan untuk membuat produk lain, mengakuisisi bisnis sejenis, atau semacamnya yang berkaitan dengan ekspansi usaha.

  1.   IPO

IPO atau initial public offering adalah penawaran saham bisnis ke masyarakat luas. Nantinya, masyarakat yang membeli saham akan mendapatkan keuntungan bernama deviden. Menurut katadata.com, di 2022 ini, tercatat ada sekitar 4 startup yang menunggu mencatatkan saham perdananya di BEI. Mereka adalah GoTo, Traveloka, Tiket.com, dan Kredivo.

Setelah membaca jenis-jenis pendanaan startup di atas, bagaimana? Apakah bisnismu siap bertarung untuk mendapatkan dana serupa juga? Kabar baiknya, meskipun pandemi belum juga usai, pendanaan untuk startup seolah tak terpengaruh. Melansir dari CNBCIndonesia, berdasarkan analisis VC Dealroom dan agen promo Inggris London & Partners, di 2021 kemarin venture capital menginvestasikan lebih dari USD675 miliar untuk mendanai startup. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengan 2020. Jika itu tadi skala global, maka di skala nasional (tanah air) pun serupa. Menurut catatan Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia atau Amvesindo, pendanaan untuk startup mencapai Rp28 triliun hingga akhir 2020. Dan di 2021, nilai tersebut naik lagi padahal masih pandemi. Jadi, jelas, ini kesempatanmu untuk mendapatkan pendanaan bisnismu. Tunggu apa lagi?

Namun, sebelum kamu berjuang untuk mendapatkan dana, pastikan ada dua hal penting ini di bisnismu:

  1. Startup kamu memberikan solusi

Coba cek, startup yang bisa survive dan mendapatkan dana dari investor rata-rata memang startup yang mampu memberikan solusi pada konsumen, entah itu di bidang transportasi, makanan, bahan baku, pendidikan, keuangan, dll. Jadi, pastikanlah bahwa startup kamu memang bisa memberikan solusi konkret, tidak sekadar teori. Jika kamu belum punya ide membuat startup apa, lihat saja di sekelilingmu, pastinya banyak masalah, ya. Contoh paling mudah, sampah, salah satunya. Kamu bisa mulai merintis startup untuk menangani sampah. Kamu bisa menemukan banyak ide, asal mau jeli melihat peluang.

  1. Memiliki pencatatan keuangan yang rapi

Karena hubunganmu dengan pihak ketiga bernama investor, maka komponen ini jelas sangat penting. Bersikaplah profesional sejak awal dengan memiliki catatan keuangan yang runtut dan rapi.

Nah, jika kamu memang sudah siap “menerima dana”, yuk, segera realisasikan.

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP