fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Bijak Menetapkan Stok Barang di Bisnis Online D2C

Stok Barang

“Nyetok barang berapa banyak kira-kira? Ya kalau cepat laku, kalau enggak? Stok barang numpuk dong di gudang, yang itu artinya menambah biaya persediaan. Mana pangsa pasar juga belum jelas. Huft!”.

Sebagai pemilik bisnis online D2C (Direct-to-Consumer) yang baru saja berjalan, mungkin kamu kerap menggerutu atau bertanya pada diri sendiri berapa banyak sebaiknya barang yang akan kamu produksi. Masih mending kalau produkmu itu tahan lama seperti buku, kalau sebaliknya seperti makanan atau minuman bagaimana?

Baik kelebihan maupun kekurangan stok, keduanya sama-sama merugikan. Jika yang pertama rugi di masalah biaya persediaan. Ya, kamu harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menampung produk yang belum laku. Maka yang kedua adalah rugi karena konsumenmu mungkin akan pindah ke lain hati. Kamu dianggap tidak serius karena tak bisa memenuhi apa yang mereka butuhkan. Kita sendiri pastinya keki ya ketika beli makan di warung/restoran, tapi menu yang kita inginkan ternyata tak tersedia. Padahal, jelas-jelas di buku menu, semuanya tertulis. Kalau seperti itu, kita serasa di-PHP nggak, sih? Pastinya, ya. Nah, konsumenmu pun begitu.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Jika dijabarkan, beberapa masalah yang bisa kamu hadapi berkaitan dengan stok barang adalah sebagai berikut:

  1.  Kualitas barang menurun

Karena disimpan terlalu lama, kualitas barang bisa menurun karena rusak. Kalau sudah begini, siapa yang kira-kira mau beli? Semakin lama barang disimpan, harganya akan semakin jatuh.

  1. Biaya perawatan tinggi

Bila pun kualitas barang terjaga rapi, tetapi ada biaya perawatan yang tinggi. Alih-alih mendapat laba, yang ada malah sebaliknya, uang habis hanya untuk “merawat” stok barang yang tersisa.

  1. Barang akan out of date, trendnya sudah lewat

Stok berlebih juga berpotensi membuatnya out-of-date. Kalau trennya sudah lewat seperti itu, harganya pun bisa turun drastis.

  1. Kehilangan pelanggan loyal karena merasa dikhianati

Bukan sinetron tapi sebagaimana yang ditulis di atas, ini juga yang menjadi kekhawatiran ketika stok barang tak sesuai harapan pelanggan. Kalau di poin-poin sebelumnya identik dengan stok berlebih, maka di poin ini berkaitan dengan minimnya stok. Pelanggan bisa kecewa karena kamu dianggap tidak serius/mempermainkannya.

  1. Ada biaya penyimpanan barang di gudang

Jelas, pastinya ada biaya penyimpanan di gudang untuk menampung barang-barang produksimu yang belum laku. Adanya biaya gudang ini akan menambah biaya operasional dan mengurangi laba bisnismu.

Tentu saja, kamu tidak mau hal-hal seperti di atas terjadi, kan?

Kalau kamu adalah reseller atau bahkan dropshiper yang kerap identik dengan jualan online tanpa modal dan stok barang, mungkin masalah ini bisa kamu skip. Toh, peranmu adalah perantara. Tinggal promosi, terima orderan, kemudian mengambilkan barang untuk konsumen sesuai jumlah yang tertera, selesai. Tapi, hal ini tak berlaku jika kamu berbisnis ala D2C. Kamu pemilik, kamu penjual, maka kamu juga yang harus menentukan berapa banyak barang yang akan kamu produksi.

Itu sebabnya, bijak menentukan stok barang di bisnis online ala D2C (Direct-to-Consumer) kamu hukumnya wajib! Tak perlu galau karena kamu bisa menerapkan beberapa cara berikut ini:

  1. Strategi pre-order dengan harga khusus

Sebenarnya, tidak hanya reseller atau dropshiper saja yang bisa jualan online tanpa modal dan stok barang, kamu sebagai pemilik bisnis online D2C pun bisa. Caranya adalah dengan menggunakan strategi pre-order atau yang kerap kita kenal dengan istilah PO. Dengan metode tersebut, konsumen akan membayar lebih dulu sebelum produk di-launching. Nantinya, kamu hanya akan memproduksi barang sejumlah pesanan konsumen. Hal ini akan meminimalisir stok menumpuk sia-sia, bukan?

Namun demikian, menerapkan metode ini tak serta merta membuatmu lebih enteng. Kamu harus benar-benar memastikan bahwa produkmu berkualitas. Tak hanya itu, cara kamu berkomunikasi dengan mereka pun harus menarik sehingga konsumen yakin bahwa PO di kamu adalah keputusan yang tepat. Meskipun harus menunggu sedikit lama, tapi semua tak jadi soal ketika kualitas produk di atas ekspektasi mereka.

Stok Barang

  1. Membuat barang sudah limited edition sejak awal produksi

Cara lain untuk menentukan stok barang adalah dengan membuat produkmu limited edition sejak awal. Informasi ini nantinya kamu sampaikan juga kepada konsumen ketika promosi. Sehingga, jika suatu waktu mereka pesan dan barangnya ternyata sudah habis, kamu tidak akan disalahkan karena sedari awal memang sudah ada informasi bahwa barang ini stoknya terbatas. Selain bisa mengontrol stok agar tidak sampai over, strategi ini juga membantumu agar tidak kehilangan konsumen. Mereka justru akan menyalahkan diri sendiri karena tidak segera membeli produkmu. One day, ketika kamu produksi lagi, mereka yang sebelumnya “ketinggalan” ini akan lebih cepat bergerak takut kehabisan.

  1. Metode pesanan

Metode ini hampir sama dengan metode PO sebenarnya. Jadi sebagai pemilik bisnis D2C, kamu pun bisa jualan online tanpa modal dan stok barang dengan cara ini. Bedanya dengan metode PO adalah produk sudah di-launching, tinggal produksi saja yang belum (menunggu pesanan). Kalau dalam dunia perbukuan, kita mengenal ada istilah POD atau print-on-demand yang berarti buku baru akan dicetak jika ada yang pesan.

  1. Klasifikasikan mana produk yang paling banyak disukai dan mana yang tidak

Seiring berjalannya waktu, kamu bisa menilai sendiri, manakah produk yang laris manis dan perputarannya cepat dan manakah yang tidak. Untuk produk yang menjadi favorit, kamu bisa menambah stoknya. Sedangkan untuk produk yang kurang disukai, kamu bisa mengurangi stoknya atau mengurangi harganya atau keduanya.

  1. Jual sisa barang yang ada dengan memberi diskon atau potongan harga

Kadang, perhitunganmu meleset. Dalam bisnis, hal ini sudah biasa sebenarnya. Kamu memprediksi bahwa produkmu akan terserap sempurna di pasaran, tetapi pada kenyataannya tidak. Ada saja sisa, bahkan jumlahnya kadang diluar ekspektasi. Kalau sudah begini, kamu harus bagaimana? Ibarat nasi sudah menjadi bubur, kamu harus “mendandani” bubur tersebut agar menarik minat pembeli.

Beberapa cara di bawah ini bisa kamu terapkan:

    • diskon cuci gudang
    • diskon separuh harga di waktu-waktu tertentu, misal jual murah di malam hari, metode ini cocok untuk barang yang berpotensi cepat membusuk
    • menjadi sponsor di acara-acara yang berkaitan atau ada hubungannya dengan produkmu hitung-hitung promosi lagi
    • memberikannya cuma-cuma sebagai hadiah kepada pelanggan loyal
    • metode bundling atau menjual paketan (jual bersama produk lain yang berhubungan)
    • membuat giveaway
    • menjadikannya sebagai sample produk bisnismu atau tester untuk mereka yang masih belum menjadi konsumenmu, dengan asumsi kualitasnya masih belum berkurang
Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Masalah stok barang di bisnis online bertipe D2C (Direct-to-Consumer) ternyata bisa menjadi sangat krusial karena bisa mempengaruhi kelangsungan bisnismu. Kamu bisa menggunakan beberapa cara untuk menetapkan jumlah barang yang diproduksi agar jangan sampai kekurangan apalagi kelebihan stok. Selamat mencoba, ya!

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP