fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Ingin Paham tentang Bisnis C2C? Simak di Sini

C2C

C2C dan B2C sekilas nampak serupa. Keduanya sama-sama menjadikan konsumen sebagai end user. Bedanya, jika B2B antara pemilik usaha/pebisnis dengan konsumen, maka C2C antara konsumen dengan konsumen. Perbedaan yang lainnya adalah dalam B2C, kamu sebagai pebisnis biasanya memiliki produk/jasa sendiri, maka tidak selalu demikian dengan C2C. Untuk lebih jelasnya simak artikel ini.

Pengertian C2C

Investopedia menjelaskan pada lamannya bahwa C2C adalah transaksi jual beli yang dilakukan antar-konsumen. Kalau kamu pernah menonton film Transformer I yang pemerannya masih Shia LaBeouf, mungkin kamu masih ingat scene saat Sam Witwicky (Shia LaBeouf) berusaha menjual barangnya melalui marketplace. Dalam konteks tersebut, Sam melakukan penjualan model C2C. Ya, model bisnis consumer to consumer membutuhkan tempat sebagai “lapak” untuk berjualan. Dalam konteks online, kamu bisa menggunakan marketplace yang saat ini sudah makin menjamur.

C2C

Jenis-Jenis C2C

Model bisnis consumer to consumer memiliki dua jenis, sebagaimana melansir dari MySkill.Id, yaitu sebagai berikut:

  1. Marketplace

Jenis pertama C2C adalah marketplace. Dalam artian, kamu membutuhkan perantara marketplace untuk menjual atau membeli barang. Transaksi jual/belinya sendiri bisa kamu lakukan secara online. Misalnya, kamu ingin menjual buku-buku bekas milikmu. Maka dengan bantuan marketplace, kamu bisa menjualnya di sana dengan konsekuensi ketika barang-barangmu laku (terjual), kamu harus membayar komisi untuk marketplace tersebut.

  1. Classified

Berbeda dengan jenis pertama, jenis kedua C2C adalah classified. Kegiatan transaksi jual/beli kamu lakukan adalah secara langsung. Bilapun membutuhkan platform sebagai penghubung biasanya hanya sebagai sarana saja untuk mencari penjual/pembeli. Sedangkan untuk transaksinya sendiri, kamu lakukan di luar itu. Kamu tak ada kewajiban untuk membayar komisi. Misalnya, sebagaimana contoh sebelumnya, kamu ingin menjual buku-buku bekasmu secara langsung (tak melalui platform seperti marketplace). Kamu menggunakan WA Story untuk menginformasikan bahwa kamu menjual buku bekas. Tak berapa lama, ada temanmu yang tertarik untuk membeli. Transaksi yang kamu lakukan dengan temanmu tak mengharuskanmu membayar sejumlah tertentu pada media sosial yang kamu gunakan. Seperti itulah model C2C classified.

Di antara dua jenis model bisnis consumer to consumer, manakah yang paling membuatmu tertarik?

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Peluang Bisnis C2C

Peluang bisnis model consumer to consumer ini cukup menggiurkan. Beberapa alasan di bawah ini adalah jawabannya.

  1. Siapa pun Bisa Melakukannya

Sejatinya, C2C adalah model bisnis yang siapapun bisa melakukannya, tak terkecuali kamu yang saat ini sedang belajar bisnis. Bahkan, saat ini pun, kamu bisa mempraktikkannya, lho. Tidak percaya? Coba sekarang cari barang-barang bekas milikmu yang masih layak, pasti ada. Nah, setelah terkumpul, coba informasikan ke kerabat atau temanmu melalui media sosial yang sering kamu gunakan atau boleh juga melalui WA Group. Percaya deh, di antara sekian banyak teman atau saudara yang kamu miliki, pasti ada salah satu di antaranya yang tertarik. 

  1. Sederhana

Berkaitan dengan poin sebelumnya, C2C adalah model bisnis yang simple alias sederhana untuk diaplikasikan. Siapa pun bisa (kalau mau).

  1. Lebih Hemat karena Tak Mengharuskan Adanya Toko Fisik

C2C adalah tipe bisnis yang tak mengharuskanmu memiliki toko fisik yang itu artinya kamu bisa menghemat biaya.

  1. Untung Bisa Lebih Banyak

Karena tak perlu pusing dengan toko fisik, maka untung yang kamu dapat bisa lebih banyak.

  1. Memberikan Peluang Transaksi Barang Langka atau Tak Ada di Pasaran

Ini adalah kelebihan yang boleh jadi tak kamu temukan di model bisnis yang lain. C2C adalah bisnis yang memungkinkanmu menjual barang-barang yang sudah tidak ada di pasaran padahal masih banyak yang membutuhkan. Pun sebaliknya. Kamu juga bisa mendapatkan barang-barang yang sesuai keinginanmu yang mungkin tak tersedia di pasaran. Misalnya, kamu menjual koleksi novel-novel klasikmu yang sudah tak ada lagi di toko buku. Atau, kamu mendapatkan pakaian yang ukurannya sangat jumbo, tak dijual di toko pada umumnya. Seperti itulah kira-kira.

  1. Membantumu Menemukan Konsumen yang Tepat

Berkaitan dengan poin sebelumnya, dengan C2C, kamu bisa menemukan pembeli atau penjual yang tepat. Misal kamu mencari baju berukuran jumbo atau di lain waktu kamu menjual buku-buku bekas. Yakin, kamu akan menemukan apa yang kamu cari melalu model C2C. Ibarat kantong Doraemon, model bisnis consumer to consumer bisa lebih detil mengetahui apa yang kamu inginkan dan butuhkan.

  1. Peluang Harga Lebih Murah

Dari sisi konsumen yang butuh barang, peluang mendapatkannya dengan harga murah juga lebih besar. Misalnya, tetanggamu pindahan dan menjual sebagian besar isi rumahnya seperti kulkas, AC, dan semacamnya. Kamu yang memang sedang butuh perkakas tersebut bisa membelinya dengan harga miring. Sementara tetanggamu juga merasa terbantu karena barang-barangnya berkurang tanpa harus dibuang atau diberikan orang lain dengan cuma-Cuma. Win win solution alias simbiosis mutualisme, bukan.

Contoh Penerapan

Di atas sudah sedikit disinggung contoh penerapan bisnis consumer to consumer ini. Namun, untuk lebih jelasnya akan dijabarkan sebagaimana di bawah ini.

  1. Melalui Marketplace

Contoh penerapan consumer to consumer adalah melalui marketplace yang jumlahnya melimpah ruah di masa sekarang ini. Kamu bisa menjual apa pun di sana bukan sebagaimana kamu juga bisa membeli apa pun di sana.

  1. Melalui Media Sosial

Penerapan berikutnya adalah jual beli yang kamu lakukan melalui media sosial. Jika pada marketplace, kamu wajib memberikan komisi, maka tidak demikian dengan media sosial. Kamu hanya bermodalkan kuota saja. Contohnya, kamu menawarkan baju-baju preloved di status WA atau Instagram atau Facebook. Tak lama, teman-temanmu berbondong-bondong bertanya karena tertarik.

  1. Konvensional

Model C2C konvensional adalah yang sama sekali tak melibatkan teknologi alias benar-benar langsung menawarkan barang/jasa dan bertransaksi secara langsung. Contohnya sebagaiman ayang sudah ditulis di atas. Tetanggamu mau pindah ke luar daerah dan ia menjual barang-barangnya kemudian kamu membelinya.

Di antara ketiga contoh penerapan C2C, manakah yang lebih kamu sukai?

bisnis c2c 03

Kebutuhan yang Perlu Disiapkan untuk Bisnis C2C

Apa pun model C2C yang akan kamu pilih, hendaknya kamu tak melupakan beberapa hal berikut ini. Jangan sampai mengabaikannya ya karena bisa berakibat fatal.

  1. Kepercayaan

Baik sebagai pembeli maupun penjual, hendaknya sama-sama menjaga kepercayaan, apalagi jika transaksi yang dilakukan secara online. Jika kamu sebagai pembeli hendaknya langsung transfer tanpa menunda apalagi menunggu barangnya sampai kecuali kalau sistimnya memang COD. Dan jika kamu sebagai penjual pastikan juga bahwa barang yang kamu tawarkan memang sesuai dengan deskripsi yang kamu jabarkan.

  1. Keamanan

Berikutnya adalah tingkat keamanan. Jika kamu sebagai penjual, pastikan bahwa transferan sudah masuk baru barang kamu kirim. Sedangkan jika kamu sebagai pembeli, pastikan nomor rekeningnya benar pun penjualnya juga bukan fiktif. Apalagi, jika transaksi jual beli yang kamu lakukan online.

  1. Promosi

Sebenarnya, semua model bisnis juga menuntut adanya promosi, termasuk model C2C. Hanya saja, promosi yang kamu lakukan pada model C2C hendaknya lebih spesifik karena toh sebagaimana yang dikatakan pada poin di atas bahwa salah satu kelebihan C2C adalah kamu bisa menjual atau membeli barang yang tidak biasa. Nah, kenapa tak kamu gunakan kelebihan itu sebagai sarana promosi. Misalnya, kamu promosi kalau menjual baju-baju berukuran jumbo. Yakin deh tak lama pasti ada saja konsumenmu yang berukuran tubuh besar yang ingin membeli barang yang kamu tawarkan.

Consumer to consumer adalah bisnis yang melibatkan konsumen sebagai pembeli dan penjualnya. Sebelum mulai mempraktikkannya, ada baiknya jika kamu memahami beberapa hal yang sudah disampaikan di atas. Selamat mencoba, ya!

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Published by Emilia Natarina

Content Marketing LummoSHOP