fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Cara-Cara Meningkatkan Daya Saing Produk Gerabah

Daya saing produk gerabah 01

Siapa sangka kalau produk gerabah Indonesia bisa menembus pasar internasional. Adalah Desa Kasongan, Kabupaten Batul yang memproduksi beragam gerabah tersebut kemudian memasarkannya hingga Eropa dan Amerika sebagaimana finance.detik.com melansir. Masih dari sumber yang sama, Desa Banyumulek yang berlokasi di Mataram juga berhasil mengekspor gerabah hingga Malaysia, Singapura, Autralia, dan Eropa. Ternyata, daya saing produk gerabah Indonesia tak bisa diremehkan, ya. Pasarnya tak main-main, luar negeri! Gerabah dari tanah air terbukti mampu mengambil hati konsumen dari luar negeri. Namun, bukan berarti produk gerabah tak memiliki tantangan. Daya saing produk gerabah nyatanya masih harus ditingkatkan. Tulisan ini akan menjelaskan semuanya.

Peluang Produk Gerabah

Situs kemlu.go.id menyatakan bahwa peluang produk gerabah untuk berkembang di luar negeri sangat jelas. Terlebih, hingga saat ini, gerabah Indonesia sudah masuk pasar Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Belanda, Inggris, dan masih banyak lagi. Tahun lalu, 4 daerah di Indonesia menjadi pemasok gerabak paling populer dan berkualitas sebagaimana situs limakilo.id melansir. Mereka adalah Desa Kapal di Kabupaten Badung Provinsi Bali dengan 400 cetakan per hari, Desa Anjun Jawa Barat dengan 7 jutaan gerabah per tahun, Desa Kasongan Yogyakarta dengan ekspor 80 kontainer per bulan, dan Desa Wisata Sitiwinangun Jawa Barat dengan 70 orang pengrajin. Selain 4 daerah tersebut, tentunya masih ada daerah lain yang juga menghasilkan gerabah seperti di Papua ada Kambung Abar Jayapura sebagaimana regional.kompas.com melansir, Kampung Getaan Pagelaran di Malang sebagaimana newmalangpos.id melansir, dan masih banyak lagi. Itu artinya, dari sisi supply, gerabah tanah air bisa diandalkan.

Tantangan Produk Gerabah

Daya saing produk gerabah 02Meskipun demikian, bukan berarti produk gerabah tanah air tak memiliki tantangan. Beberapa tantangan yang kemudian berdampak pada daya saing produk gerabah adalah sebagai berikut.

  1. Berada di daerah yang tidak mudah dijangkau sehingga membutuhkan biaya transportasi yang tidak sedikit. Hal tersebut pada akhirnya berpengaruh pada harga gerabah yang jadi mahal untuk menutupi biaya operasional.
  2. Pengrajin gerabah masih kesulitan memasarkan produknya karena tidak memiliki link ke luar sebagaimana kontan.co.id melansir.
  3. Tantangan lain adalah cuaca karena produk dari tanah liat ini butuh panas matahari untuk kering. Sehingga, musim hujan seolah menjadi momok tersendiri.
  4. Bahan baku utama, tanah liat, langka. Ya, nyatanya kebutuhan tanah liat memang tidak hanya untuk membuat gerabah saja, tetapi juga genteng. Hal tersebut membuat kebutuhan tanah liat meningkat sehingga menimbulkan kelangkaan. Imbas dari kelangkaan ini adalah harganya menjadi mahal. Tentu saja, hal tersebut akan memberatkan pengrajin.
  5. Masih banyak yang belum dikelola secara profesional alias masih tradisional. Tak mengherankan jika kemudian pengrajin masih menghadapi beberapa kesulitan seperti sulitnya mendapatkan bahan baku, menghadapi harga mahal, hingga sulitnya memasarkan. Memang seolah paradoks mengingat pasar di luar negeri begitu menyukai gerabah dari Indonesia.

Meningkatkan Daya Saing Produk Gerabah

Mengingat potensinya yang begitu bagus atau memiliki masa depan cerah, maka rasanya sayang ya kalau produk gerabah ini dibiarkan begitu saja. Daya saing produk gerabah harus ditingkatkan agar peluang besar yang terpampang nyata di depan mata tidaklah sia-sia. Daya saing produk gerabah tidaklah melulu masalah kualitasnya. Yups, kualitas bisa saja bagus, tapi ternyata pengrajin tak tahu harus ke mana memasarkan produknya karena tak memiliki jaringan. Atau, masalah-masalah lain yang berkaitan sebagaimana dijabarkan di bawah ini.

1.    Ketersediaan Bahan Baku

Bahan baku gerabah adalah tanah liat atau tanah lempung. Jenis tanah ini banyak tersedia di daerah lembab seperti sungai, danau, rawa, dan semacamnya. Cara pertama untuk meningkatkan daya saing produk gerabah adalah dengan memastikan bahan baku tanah liat ada. Adalah Gampong Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh yang dulu menjadi salah satu pusat produk gerabah dan kini satu per satu pengrajinnya tak lagi membuat gerabah karena kesulitan mendapatkan tanah liat sebagaimana naratif.id melansir. Padahal, rasanya sayang ya kalau melihat potensi pasar di luar negeri begitu luas, namun terpaksa harus menyerah karena bahan baku tak ada. Pemerintah setempat bisa mengusahakan ketersediaan bahan baku ini toh produk gerabah juga bisa menjadi ikon daerah setempat yang itu artinya daerah tersebut akan semakin dikenal oleh orang luar.

2.    Akses

Sebagaimana yang sudah ditulis di atas bahwa kebanyakan produk gerabah di tanah air diproduksi di daerah yang sulit dijangkau sehingga untuk bisa mendapatkannya butuh perjuangan yang tidak mudah. Sebenarnya, solusinya adalah dengan membuat daerah pusat penghasil gerabah tersebut sebagai daerah wisata sebagaimana yang sudah dilakukan oleh beberapa daerah penghasil gerabah. Sehingga, calon konsumen tidak hanya mendapatkan produk gerabah saja setelah mereka jauh-jauh datang, melainkan juga bisa menikmati desa wisata yang menawarkan keindahan alam atau hal lain yang menarik.

3.    Harga Jual

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, hal lain yang juga butuh perhatian untuk meningkatkan daya saing produk gerabah adalah mengenai harga jualnya. Karena daerah penghasil rata-rata sulit pada akses, maka ongkos pengirimannya pun jadi mahal. Imbasnya, harga jualnya ikut naik. Sebagai konsumen, pastinya mereka akan memilih gerabah yang harganya terjangkau, ya. KECUALI, jika gerabah memiliki kelebihan lain misalnya di modelnya yang unik dan kualitas barangnya yang bagus/kuat, maka harga mahal pun tak jadi soal.

4.    Koordinasi secara Profesional

Tidak ada artinya potensi pasar di luar negeri yang besar jika masih banyak pengrajin yang kesulitan memasarkan produk gerabah mereka karena tak memiliki jaringan atau tak tahu bagaimana cara ke “sana”. Untuk meningkatkan daya saing produk gerabah, maka harusnya ada koordinasi secara profesional entah oleh pengepul atau pemerintah setempat. Jadi tugas mereka adalah menjadi jembatan antara pengrajin gerabah dengan calon konsumen baik dalam maupun luar negeri.

5.    Lain-lain

Daya saing produk gerabah 03Meningkatkan daya saing produk gerabah yang lain adalah dengan meningkatkan pelayanan misalnya memastikan barang tetap aman/tidak rusak saat dikirim yang itu artinya pengepakannya harus baik, model produk gerabah yang beragam bahkan yang berkaitan dengan keseharian bisa juga misalnya pernak-pernik rumah tangga lucu atau semacamnya, dan masih banyak lagi.

Kesimpulan

Daya saing produk gerabah meliputi beragam aspek, tak hanya persoalan kualitasnya saja. Sebagaimana yang sudah ada di atas, semua aspek tersebut saling berkaitan yang memengaruhi satu sama lain. Mengingat potensi pasar produk gerabah yang begitu luas bahkan hingga luar negeri dan mengingat beberapa produk gerabah tanah air sudah sampai ke sana, maka rasanya sayang kalau tidak maju bersama. Pengrajin gerabah lain yang produknya belum terkenal pun punya kesempatan serupa. Produk mereka pun bisa menembus pasar mancanegara jika poin-poin untuk meningkatkan daya saing produk gerabah di atas terpenuhi. Nah, bagaimana? Apakah kamu tertarik untuk berbisnis ini? Menjadi “pengepul”nya barangkali. Mulailah dengan mendaftar daerah penghasil gerabah yang paling dekat denganmu kemudian mulai survei. Siapa tahu, para pengrajin itu bisa menjadi mitramu. Semangat, ya!