fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Cara Minimalisir Retur Barang Berikut Ini Bikin Bisnismu Mudah Diatur

Cara Retur Barang

Seorang pengusaha perlu mengetahui cara retur barang dan meminimalisirnya atau pengembalian barang oleh konsumen. Kalau hanya sesekali mungkin masih wajar. Tapi, kalau konsumenmu sering meminta retur, ini yang tidak wajar. Artinya, bisnismu sedang tidak baik-baik saja. Kamu harus segera mengecek dan memperbaikinya.

Kegiatan mengembalikan barang atau retur itu pada dasarnya disebabkan oleh konsumen yang kecewa karena barang tak sesuai ekspektasi. Makanya, mereka pun menuntut penjual untuk mengganti kekecewaannya itu.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Kamu perlu mengantisipasi hal-hal tak menyenangkan seperti itu. Kamu harus memiliki cara retur barang dan cara meminimalisirnya agar bisnismu bisa berjalan lancar dan bisa berkembang cepat. Namun, sebelum membahasnya lebih lanjut, sebaiknya kamu mengetahui lebih dulu alasan kita perlu membahas cara retur barang.

Menyikapi Retur

Dalam menyikapi retur penjualan, kita bisa melakukan tiga hal. Pertama, penjual mengembalikan uang konsumen baik sebagian atau pun seluruhnya. Penjual selanjutnya bisa mengurangi piutang konsumen jika mereka membelinya secara kredit. Selain itu, penjual tak mengeluarkan uang sepeser pun untuk mengganti, tapi memberikan barang baru sebagai kompensasi.

Dari ketiga hal di atas, kita bisa menyimpulkan retur bisa sangat merugikan bisnismu. Uang kas yang ada bisa tergerus gara-gara sering mendapat retur. Lama-kelamaan, profit bisnismu bisa menurun drastis, dan persediaan barang juga jadi menipis.

Itu sebabnya, penting bagimu mengetahui cara retur barang serta cara meminimalisirnya yang tepat agar kamu tidak perlu melakukan tiga hal di atas. Lagi pula, adanya retur bukan melulu kesalahanmu, tapi bisa bisa jadi kesalahan konsumen. Kok bisa? beberapa alasan berikut bisa memicu konsumen mengajukan retur:

  • Retur terjadi karena konsumen kecewa dengan pengiriman barang yang terlambat

Pengiriman barang yang tidak sesuai batas waktu yang disepakati penjual dan konsumen bisa membuat konsumen kecewa. Apalagi, jika barang yang dipesan itu untuk keperluan yang mendesak atau digunakan pada waktu tertentu oleh konsumen. Alhasil, konsumen bisa meluapkan kekecewaannya di media sosial yang bisa merusak citra produk atau penjualnya.

  • Retur terjadi karena barang rusak selama di perjalanan

Barang pesanan konsumen bisa saja rusak selama perjalanan dari penjual ke tempat tujuan pengiriman. Hal itu menjadi salah satu kejadian tak terduga meskipun pengemasan barang sebenarnya sudah cukup aman. Tapi, bisa juga kerusakan itu karena pihak pengirim tidak berhati-hati dalam mengirim barang ke tujuan. Kalau begini, penjual perlu menjelaskan kerusakan itu kesalahannya atau pengirim barang.

  • Retur terjadi karena barang tak sama dengan yang ada di foto

Kasus seperti itu kerap terjadi pada era Digital Marketing seperti sekarang. Konsumen yang melihat barang tersebut di media sosial menilai kualitasnya lebih bagus dibandingkan kenyataannya. Akibatnya, konsumen marah dan kecewa karena merasa tertipu oleh penjual barang tersebut kemudian menuntut retur.

  • Retur terjadi karena barang tak sesuai ukuran

Perbedaan ukuran bisa terjadi karena ketidakcermatan konsumen alih-alih kesalahan penjual. Contoh sederhananya, seorang ayah membelikan sepatu untuk anaknya tanpa memastikan ukuran kaki anaknya terlebih dahulu. Ayah tersebut hanya mengira-kira saja ukuran sepatu untuk anaknya itu sehingga sepatu tersebut ternyata memang kekecilan di kaki sang anak saat mencobanya.

  • Kesalahan lainnya

Yang termasuk kesalahan lain misalnya keliru mengirimkan barang pesanan untuk konsumen. Terkadang, saking banyaknya pesanan, seorang pebisnis bisa saja keliru saat melakukan proses packing. Yang harusnya barang untuk konsumen A, malah dikirim ke B atau sebaliknya. Contoh kesalahan lainnya adalah konsumen salah membeli barang sehingga penjual perlu memberikan pemahaman yang ramah bahwa itu merupakan kesalahan konsumen.

  • Beberapa Cara Minimalisir Retur Barang

Cara Retur Barang

Supaya tidak mengalami kejadian-kejadian di atas, kamu sebagai pebisnis, bisa mencoba beberapa cara retur barang seperti di bawah ini:

    1. Untuk keluhan barang yang tak sama dengan foto, penjual bisa mengantisipasinya dengan mengambil foto barang menggunakan model manusia. Contohnya, untuk produk-produk fashion, penjual tidak sekadar menggunakan boneka manekin. Lebih baik lagi jika ada video produk untuk lebih meyakinkan konsumen.
    2. Cara minimalisir retur karena salah beli bisa dengan mengingatkan atau meyakinkan konsumen mengenai barang yang ia beli sebelum mereka check-out atau melakukan pembayaran. Kamu bisa menyebutkan kembali secara gamblang barang apa saja konsumen pilih untuk dibeli.
    3. Cara minimalisir retur karena barang rusak, kamu bisa mengemas produkmu lebih baik lagi. Jika konsumenmu berada di luar kota, pastikan juga untuk menuliskan keterangan “barang jangan dibanting” di kemasannya. Kamu juga bisa mengganti perusahaan ekspedisi yang lebih baik pelayanannya apabila pernah mendapatkan keluhan dari ekspedisi sebelumnya. Cara ini juga berlaku untuk konsumen pernah kecewa karena barang lama datangnya.
    4. Untuk transaksi online, kamu bisa meminta konsumen untuk mengambil video proses pembuka kemasan barang atau unboxing sesaat setelah konsumen menerima barang tersebut. Video itu sekaligus menjadi bukti apabila ada cacat pada produk. Kamu bisa menambahkan ketentuan tidak menerima keluhan tanpa bukti video unboxing tersebut.
    5. Tandai pembeli yang sering komplain dan mengajukan retur untuk mengetahui kecenderungan konsumen yang baik atau tidak. Bisa saja kamu sudah memberikan yang terbaik, tapi konsumen yang sama tetap saja menuntut bahkan sengaja mengarang cerita agar bisa melakukan retur barang.
    6. Cara minimalisir retur lainnya adalah dengan memberikan batas waktu kepada konsumen yang ingin melakukan retur. Misalnya, jika dalam sepekan tidak ada komplain, maka pengajuan retur sudah tidak berlaku pada hari kedelapan. Selain itu, kamu juga bisa memberikan garansi dengan jaminan perbaikan atau pengembalian barang hingga batas warku tertentu.
  • Masalah Komunikasi

Sejumlah permasalahan yang memicu konsumen meminta retur sebenarnya berkaitan dengan komunikasi antara penjual dan kunsumennya. Karena itu, seorang penjual harus bisa mendeskripsikan produknya secara terperinci. Tak hanya keunggulannya, bila perlu, kamu bisa menuliskan juga hal-hal yang harus memerlukan kewaspadaan khusus dari konsumen.

Misalnya, informasi tentang larangan mencuci baju di mesin cuci dan menyarankan konsumen mencucinya secara manual. Konsumen perlu mengetahui informasi itu sebelum mereka mengajukan keluhan karena baju yang kamu jual ternyata terlanjur rusak setelah konsumen mencucinya di mesin cuci.

Tak lupa, kamu juga perlu melakukan Quality Control secara rutin dan lebih teliti lagi sebelum kamu memasarkannya ke konsumen.

Kesimpulannya, retur bisa menjadi masalah yang kompleks karena bisa memengaruhi operasional bisnismu. Bahkan, dalam jangka panjang akan mengancam kelangsungan bisnismu. Itu sebabnya, penting banget buat kamu sebagai pebisnis mengetahui cara retur barang dan meminimalisirnya karena itu artinya kamu juga akan meminimalisir kerugian.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Tidak ada pebisnis yang suka menerima tuntutan retur dari konsumen. Namun, kamu tetap harus mengantisipasi apabila sewaktu-waktu harus mengalaminya. Apabila sudah ada konsumen yang komplain dan mengajukan retur, tenang, cara-cara di atas bisa kamu tempuh. Selamat mencoba!

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya :