fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Crowdfunding: Dari Manfaat hingga Cara Melakukannya

Crowdfunding

Sejak kapan kamu tahu tentang crowdfunding? Kamu akan kaget jika tahu ternyata crowdfunding sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Pemusik klasik, Mozart, Patung Liberty, dan sastrawan Alexander Pope, adalah beberapa nama yang menggunakan metode ini untuk membujuk orang lain menyumbangkan dananya demi mewujudkan suatu tujuan.

Fenomena Crowdfunding

Beberapa waktu lalu, Ukraina juga melakukan crowdfunding untuk mendanai pasukan militernya. Bahkan, rencana urun dana juga mencuat untuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa crowdfunding memang makin populer belakangan ini.

Di Indonesia sendiri, ada platform bernama Kitabisa yang akan langsung mengingatkan pikiran kita dengan kegiatan penggalangan atau urun dana. Bisa jadi, Kitabisa memang menjadi pelopor penggalangan dana di Indonesia, terutama jenis donasi. 

Mengutip website-nya, Kitabisa yang berdiri sejak 2013, merupakan situs dan aplikasi wadah gotong royong masyarakat Indonesia. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja, mereka telah menghimpun enam juta donatur, 100.000 penggalangan dana yang melibatkan 3.000 yayasan/NGO/lembaga sosial, serta sekitar 250 program CSR/brand. Tahun 2020 lalu, Kitabisa mengklaim telah menggalang donasi sebesar Rp835 miliar.

Sejarah Urun Dana

Crowdfunding

Crowdfunding adalah teknik pendanaan untuk proyek atau unit usaha yang melibatkan masyarakat secara luas. Christian Fronea dalam Smallbrooks menyebutkan galang dana untuk tujuan tertentu sudah ada sejak lama. Hal ini karena kecenderungan manusia untuk menolong orang lain yang sedang dalam kesulitan.

Para sejarawan bahkan mendapatkan bukti crowdfunding sudah ada yang melakukannya sejak abad ke-13. Contohnya, sekelompok warga yang mengumpulkan dana untuk mendanai pelayaran. Penggalangan dana yang tercatat dilakukan pada tahun 1.700. Kala itu, Jonathan Swift membuat Irish Loan Fund yang menjadi modal usaha bagi warga miskin yang berlokasi di pedesaan Dublin. Jonathan tidak mengambil keuntungan, murni merupakan pemberian.

Mozart

Contoh urun dana paling terkenal pada masa pramodern adalah aksi pianis klasik Wolfgang Amadeus Mozart dan sastrawan Alexander Pope. Pada tahun 1780an, Mozart merencanakan tur musik tapi kesulitan dana. Mozart lalu meminta bantuan pada penggemarnya untuk melakukan crowdfunding, agar ia dapat menampilkan tiga piano concerto-nya.

Mozart berhasil mendapat 176 pendukung yang mendanai konsernya. Para pendukungnya mendapat manuskrip konser yang secara khusus ia beri nama masing-masing pendukung sebagai ucapan terima kasih darinya.

Pope

Sementara itu, Alexander Pope mendapat pendanaan dari pembacanya saat akan menerjemahkan puisi-puisi klasik Yunani, The Iliad. Pope menggunakan metode subscription dari para pembacanya, di mana ia menjanjikan untuk menerbitkan satu volume setiap tahun.

Hal ini berlangsung selama enam tahun. Para pelanggan buku-buku puisinya mendapat reward berupa pencantuman nama mereka di edisi pertama. Ini merupakan jenis crowdfunding reward-based, yang akan kita bahas lebih detail di bawah nanti.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Patung Liberty

Patung Liberty juga merupakan contoh sejarah crowdfunding yang fenomenal. Pada 1885, Perancis mengalami kesulitan dana untuk membangun konstruksi dasar patung. Joseph Pulitzer, pemilik penerbitan terkenal menggalang dana melalui koran yang ia miliki, The New York World. Mereka pun menawarkan versi Patung Liberty ukuran kecil sebagai reward bagi yang urun dana.

Konsep Modern

Konsep urun dana yang lebih rapi muncul pada tahun 1976 bernama Grameen Bank. Mikrofinansial bentukan Dr. Muhammad Yunus ini bertujuan membantu rakyat kecil untuk membuka usaha dengan bunga yang kecil. Sementara itu, urun dana modern secara online, pertama kali terjadi tahun 1997, ketika band rock terkemuka asal Inggris, Marillon mengadakan penggalangan dana untuk melakukan tur.

Peristiwa ini mencetuskan hadirnya website penggalangan dana khusus bidang seni, yaitu ArtistShare di tahun 2000. Situs itu kemudian berkembang menjadi platform-platform yang terkenal saat ini, seperti Kickstarter, IndieGoGo, GoFundMe, hingga platform lokal seperti Kitabisa, Akseleran, dan lain-lain.

Jenis-Jenis Crowdfunding

Crowdfunding

Ternyata, penggalangan dana tidak hanya ada satu jenis yang mungkin selama ini kita kenal, tapi ada beberapa jenis seiring perkembangan zaman. Secara umum, crowdfunding adalah bagian dari financial tech. Melansir dari Business News Daily, ada empat jenis, yaitu sebagai berikut.

  1. Donation-Based

Sesuai namanya, para donatur yang menyetorkan dananya tidak mendapat imbalan apa pun dari proyek yang mengajukan dana. Biasanya, dalam donation-based, crowdfunding bertujuan untuk proyek-proyek yang bersifat non-profit. Seperti, membantu warga miskin, membangun panti asuhan, sekolah, jembatan, dan sebagainya. Salah satu yang ada di Indonesia adalah Kitabisa.com itu tadi.

  1. Debt-Based

Sebenarnya, urun dana jenis ini sama dengan pinjaman biasa. Para calon debitur akan mengajukan proposal dan para donatur akan menyetorkan dana yang mereka anggap sebagai pinjaman dengan imbal balik berupa bunga. Contoh platform urun dana jenis ini di Indonesia adalah GandengTangan dan Akseleran.

  1. Reward-Based

Dalam penggalangan dana jenis ini, mereka yang mengajukan proposal biasanya memberikan penawaran berupa hadiah atau imbalan lain seperti barang, jasa atau sebuah hak. Mereka tidak memberikan bagi hasil dari keuntungan proyek tersebut.

Urun dana jenis ini biasanya orang gunakan untuk proyek dari industri kreatif seperti games atau musik. Contohnya, seperti yang telah kita simak di atas, yakni inisiatif Mozart, Alexander Pope, dan Band Marillon. Untuk platform urun dana jenis ini di Indonesia adalah kolase.com. 

  1. Equity-Based

Konsep urun dana ini mirip seperti saham. Dana yang kita setorkan akan menjadi ekuitas atau bagian kepemilikan atas perusahaan dengan imbalan deviden. Di Indonesia, kita lebih populer menyebutnya equity/securities crowdfunding.

Urun dana jenis ini sering orang gunakan untuk memperluas akses pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ada sedikitnya tujuh platform lokal yang termasuk dalam jenis ini, yaitu Santara, Bizhare, Crowdana, LandX, Dana Saham, SHAFIQ, dan FundEx

Manfaat Crowdfunding dalam Bisnis

Mencari dukungan modal untuk berbisnis juga bisa menerapkan metode penggalangan dana serupa. Kamu dapat bekerja sama dengan platform debt-based atau equity-based di atas. Saat ini, crowdfunding menjadi cara pengumpulan dana yang paling banyak pebisnis gunakan untuk bisnis rintisan atau startup. Berikut ini beberapa manfaat urun dana dalam bisnis melansir dari Business News Daily.

  1. Membuat Bisnis Kamu Lebih Cepat Terkenal

Ketika melakukan penggalangan dana, kamu perlu menjelaskan rencana pengembangan bisnis kepada publik supaya mendapatkan pendanaan. Sehingga, dengan cara ini, akan semakin banyak orang yang tahu bisnis kamu dan semakin besar pula kemungkinan dana yang bisa kamu dapatkan dari donatur.

  1. Memikat Investor Potensial

Crowdfunding adalah cara potensial mempertemukan pemilik bisnis dengan calon investor yang cocok. Apalagi, kalau ide bisnis kamu unik, menarik, dan menjanjikan, tentu akan banyak orang yang bersedia berinvestasi. Melalui penggalangan dana, calon investor juga dapat mempelajari bisnismu dan peluang keuntungannya.

  1. Mengurangi Kompetisi

Dengan menggunakan metode urun dana, kamu tidak perlu bersaing dengan bisnis atau perusahaan yang sudah memiliki kredibilitas dan nama besar. Sebab, crowdfunding adalah cara menggalang dana untuk bisnis apa pun yang bermodal ide dan potensi bisnis.

  1. Proses Pengajuan yang Mudah

Pengajuan kampanye urun dana cukup mudah karena dapat kamu lakukan secara online. Kamu juga tidak perlu mengunjungi setiap calon investor yang potensial satu per satu untuk mendapatkan dana yang kamu mau. Cukup melakukan promosi di media sosial atau aplikasi pesan singkat.

  1. Membangun Basis Konsumen

Untuk dapat menggalang dana, tentunya produk atau layanan bisnis yang kamu rancang harus masuk ke target pasar yang sesuai. Melalui kampanye penggalangan dana di platform khusus ataupun media sosial, informasi tentang bisnis kamu pun akan terlihat oleh publik. Di antara mereka pasti ada penggalang dana, investor, hingga konsumen yang potensial.

Cara Melakukannya

Pilar crowdfunding adalah adanya website atau platform untuk diakses. Bisnis yang dimiliki nantinya akan didaftarkan ke dalam platform tersebut agar donatur tertarik menanamkan dananya. Biasanya perlu waktu untuk proses review dan verifikasi dari pengelola platform.

Setelah itu, proyek kamu tampil di platform disertai jangka waktu target penggalangan dana. Jika dana yang sudah ditargetkan terkumpul, maka kamu dapat mencairkan dana tersebut. Tetapi, supaya lebih optimal, kamu dapat melakukan beberapa hal berikut, seperti dilansir dari Akseleran dan Kompas.

  1. Merancang Proposal Penggalangan Dana yang Menarik

Kamu bisa membuat proposal yang menarik, informatif, dan interaktif, agar khalayak atau target donatur tertarik memberi atau menanamkan dana. Informasi yang kamu berikan juga harus lengkap seperti jenis urun dana, proses manajemennya, tujuan utama dari urun dana yang dijalani, hingga jangka waktu atau jadwal pengumpulan dana. Kamu dapat menyajikan proposal baik melalui teks, gambar, maupun video. 

  1. Mendaftarkan Proposal ke Platform Crowdfunding

Jika kamu merasa proposal yang kamu rancang sudah keren, langkah selanjutnya adalah mencari platform urun dana yang terpercaya dan sudah memiliki regulasi resmi. Supaya, proses penggalangan dana dan transaksi yang nanti akan berlangsung, lebih aman. 

  1. Memantau Perkembangan Proposal yang Diajukan

Proses ini penting dilakukan, agar jika ada pertanyaan yang diajukan pemilik modal terkait proyek maupun bisnismu, kamu dapat memberikan jawaban yang cepat secara singkat dan jelas.

  1. Selalu Membuat Update atau Informasi Terbaru dari Setiap Aksi yang Kamu Lakukan

Misalnya, apakah sudah mencapai target? Berapa lagi jumlah dana yang dibutuhkan untuk mencapai target? Bagaimana respons positif yang sudah diterima? dan sebagainya.

  1. Penuhi Janji untuk Donatur

Jika di awal atau dalam proposal kamu menjanjikan sesuatu, maka patuhilah itu. Misalnya, berupa reward tertentu, entah berupa suvenir, pencantuman nama, dan lainnya. Tindakan ini akan membuat semua pihak merasa puas dan bisa jadi akan kembali mendukung proyek kamu yang lebih besar di masa datang.

Setelah membaca penjelasan mengenai urun dana atau penggalangan dana di atas, kamu tinggal praktikan itu dalam bisnismu. Tak masalah dari mana modal bisnismu itu berasal, yang terpenting adalah kamu bisa menjaga kepercayaan para donatur dalam menggunakan dana yang mereka berikan.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Baca juga artikel terkait lainnya:

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP