fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Curi Perhatian Konsumen di Media Sosial dengan Cara Ini

Perhatian konsumen di media sosial

Dalam dunia digital yang berkembang makin menggila dewasa ini, setiap orang tentu mengalami overload informasi. Setiap hari ada banyak sekali informasi yang diterima, sehingga menuntut setiap orang memiliki kemampuan untuk memilah dan memilih informasi. Tak terkecuali dengan konsumen yang merupakan target pembelimu. Bagaimana cara menarik perhatian konsumen di media sosial yang tepat dengan kondisi seperti ini?

Menonjol di Tengah Hujan Informasi 

Bisa jadi konsumen hari ini mengalami beban psikologis jika tidak dapat mengelola informasi yang mereka terima. Bahkan, sebagian mungkin mengalami stres. Bayangkan, konsumen setiap harinya juga tidak bisa dilepaskan dari smartphone pribadinya yang terdiri dari sekian banyak aplikasi dan channel media sosial.

Ada banyak distraksi terjadi dan perlu cara yang cerdas untuk kamu para pebisnis, dalam menarik perhatian konsumen di media sosial secara khusus. 

Ada perbincangan menarik di kalangan pebisnis, apakah menarik perhatian konsumen di media sosial berarti harus memprioritaskan ads supaya menjangkau lebih banyak audiens? Sedangkan banyak survei membuktikan kalau konsumen lebih terpengaruh jika membaca atau mendengar rekomendasi organik dari honest review yang bertebaran di media sosial. Manakah yang lebih efektif?

Berikut beberapa cara menarik perhatian konsumen di media sosial dari sekian banyak interupsi yang membuat konsumen mengalami kebingungan. Cara-cara ini kami sarikan dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Teixeira, bahwa yang perlu digarisbawahi adalah soal konten berkualitas dan distribusi konten yang sesuai dengan target audiens. Seperti apa ya? Ini dia.

Branding yang Alami

  • Meminimalisasi Over Branding

Over branding di sini berarti melakukan upaya branding yang berlebihan, misalnya memunculkan logo berkali-kali, atau terlalu menjadi center of attention dengan menempatkannya di tengah dan dalam ukuran besar. Konsumen akan merasa eneg dan berusaha menghindari konten yang terlalu terkesan advertorial.

Tentu, psikologi konsumen akan berpegang teguh pada insting mereka bahwa mereka tak terlalu suka terpengaruh untuk membeli sesuatu, karena tak ingin mendapatkan kerugian membeli sesuatu yang tak mereka butuhkan.

Fokuslah pada upaya yang sejalan dengan inbound marketing, yang memberikan customer experience. Lebih baik mengedepankan behind the story atau karakter brand daripada menjual produk secara terang-terangan. Kamu bisa meletakkan logo bisnismu di sisi samping atau bagian belakang sebagai watermark. Berikan mereka penawaran, setelah mereka menemukan experience di dalam kontenmu. 

 

Perhatian konsumen di media sosial

Ciptakan Kedekatan Dengan Konsumen

  • Ciptakan Perasaan Emosional Konsumen yang Positif

Pernahkah kamu menonton iklan asal Thailand yang sangat mengejutkan di akhir, tetapi di awal sangat menyentuh emosi karena kekuatan story telling yang disajikan? Perhatian calon konsumen terhadap iklan jenis story telling sangat tinggi. Sebab, ada sentuhan perasaan positif yang pada akhirnya membawa kesenangan bagi konsumen.

Dengan banyaknya interupsi yang terjadi, konten yang menyentuh emosi akan dengan mudah mendapatkan perhatian konsumen di media sosial. Belajarlah pada alur sebuah drama, maka kamu akan bisa mendapati sebuah alur cerita yang memainkan emosi. Bukankah saat ini banyak perempuan yang tergila-gila dengan alur cerita drama Korea? Ya, karena romansa dan kisah di dalam drakor yang memabukkan dan membuat candu untuk menontonnya hingga akhir. 

  • Membangun Emosi Konsumen yang Dinamis

Hampir mirip dengan cara sebelumnya, tapi mencuri perhatian konsumen di media sosial dengan membangun emosi konsumen yang dinamis ini, lebih kepada up and down emotion. Saat konsumen mendapati konten yang kamu bikin, seketika mereka akan merasakan sedih, gemas, deg-degan, bahagia, dan perasaan campur baur lainnya.

Artinya, ada siklus yang perlu kamu perhatikan pada pengalaman konsumen saat melihat kontenmu. Mulai dari penasaran, lalu menjadi fokus pada lead yang kamu hadirkan, kemudian menjadi exciting, lalu menjadi netral. Kamu perlu memahami siklus ini ketika membuat strategi konten.


Suguhkan Konten dengan Talkability Tinggi

  • Beri Konsumen Kejutan Menarik, Bukan Shock Therapy

Berbeda lagi dengan perasaan sebelumnya, memberikan kejutan pada konsumen akan memberikan pengalaman yang mengesankan. Misalnya, konten seorang make up artist yang berhasil membuat seorang nenek-nenek berusia lanjut tampak lebih muda 20 tahun. Bagi audiens, hal itu mengejutkan dan membuat mereka mau untuk mengetahui lanjutan konten tersebut.

Yang perlu digarisbawahi, konten boleh mengejutkan, tapi jangan sampai membuat shock. Membuat perasaan shock akan menggiring konsumen untuk meninggalkan konten tersebut dan beralih pada konten yang lebih menarik perhatiannya. Misalnya, shock karena ada hal-hal yang tidak senonoh yang ditampilkan, atau sesuatu yang menjijikkan, atau bahkan sesuatu yang dianggap melanggar norma-norma tertentu. 

Untuk dapat menerjemahkan itu semua, kamu perlu strategi untuk bisa menarik perhatian konsumen di media sosial, yaitu dengan memahami target konsumenmu dengan baik. Memahami target konsumen dengan baik, tak hanya soal usia, karakter, tapi juga latar belakang budaya, pengalaman, dan pengetahuan akan sangat membantu. Ini akan membuatmu lebih berhati-hati, sehingga meminimalisir konten yang menimbulkan efek shock therapy.  


Perhatian konsumen di media sosial

  • Targetkan Konsumen untuk Membagikan Kontenmu Secara Organik

Targetkan konsumen untuk share kontenmu, karena memang mereka murni ingin membagikannya kepada orang-orang di circle mereka, yang mungkin diprediksi menyukai konten tersebut.

Membagikan sebuah konten adalah pengalaman personal dari konsumen yang boleh jadi merupakan bagian dari kepribadiannya. Membagikan dalam banyak platform sangat mungkin dilakukan oleh konsumen yang memang sudah memberikan perhatian khusus pada kontenmu, misalnya dengan membagikannya di story Instagram mereka, beranda Facebook, retweet di Twitter, atau bahkan share ke WhatsApp Group atau story WhatsApp. Semuanya akan menjadi sangat berharga bagi kamu tentunya.

 

Bermain dengan Psikologis Konsumen

Setelah mengetahui cara mencuri perhatian konsumen di media sosial, tentu kamu sangat ingin mempraktikkannya. Buat pilihan konten yang menarik, terutama dengan format audio visual, agar kamu tetap bisa mencuri perhatian. Pastikan juga lead atau hook dari kontenmu cukup nendang dan membuat konsumen penasaran untuk mencari tahu. 

Dengan begitu, konsumen sudah “terjebak” dalam siklus psikologi konsumen yang seharusnya. Selanjutnya, konten story telling-mu akan menentukan. Jangan khawatir, setelah konsumen melibatkan perasaannya dan merasa memiliki pengalaman dengan apa yang kamu bagikan, secara otomatis, konsumen akan memiliki brand awareness dan kemudian menjadi konsumen setiamu. 

Rasanya untuk mencuri perhatian konsumen di media sosial bukan tentang marketing saja, tapi juga tentang bagaimana kamu belajar memahami perilaku manusia dalam menerima informasi, juga mempelajari berbagai emosi yang mungkin terjadi dalam diri manusia, termasuk perasaan-perasaan yang kompleks. 

Satu pesan dari studi yang dilakukan Teixeira, berorientasilah pada customer, bukan pada brand-mu. Ketika customer terpenuhi kebutuhannya, perhatian mereka pada brand-mu juga akan meningkat dengan cukup baik.  

Published by Emilia Natarina

Content Marketing LummoSHOP