fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Ekonomi Kreatif Kriya, Cari Tahu Peluangnya di Sini

Ekonomi Kreatif Kriya 01

Kriya atau kerajinan merupakan salah satu subsektor dari ekonomi kreatif yang memiliki potensi ekonomi tinggi. Jika mengacu pada pengertian ekonomi kreatif sebagai sektor perekonomian yang menggunakan ide dan kreatifitas sebagai faktor produksi utamanya, hal ini juga berlaku pada produk-produk kriya. 

Proses produksi kriya juga mengutamakan ide sebagai modal utamanya, baik dalam proses kreasi, produksi, serta distribusi oleh para pengrajin. Sementara itu, ada beragam bahan baku yang bisa kamu gunakan dalam ekonomi kreatif kriya, mulai dari keramik, logam, serat alam, batu-batuan, tekstil, kulit, dan kayu. 

Seperti subsektor lainnya di ekonomi kreatif, kerajinan juga mengandalkan kecerdasan dan kreativitas manusia sebagai modal utama. Sehingga, meskipun menghasilkan produk fisik, penekanannya lebih diutamakan lebih kepada ide atau hasil pemikiran. Tidak ada batasan-batasan produk yang bisa kamu hasilkan selain imajinasi dari pengrajinnya.

Kriya atau Kerajinan di Indonesia

Ekonomi Kreatif Kriya 02Selama ini, Indonesia cukup terkenal dengan produk-produk kerajinan buatan tangan. Ini juga menjadi nilai tambah produk, karena tidak ada satu pun produk yang benar-benar identik. Hal ini menjadi nilai tambah yang sekaligus bisa mendongkrak harga jualnya. 

Sejak 2015 kriya tercatat sebagai salah satu dari tiga subsektor penyumbang Pendapatan Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif terbesar di Indonesia, berkontribusi lebih dari 14% untuk PDB ekraf (2018-2019).

Ada banyak sekali produk ekonomi kreatif kriya yang berkualitas dan sangat populer di Indonesia. Mereka berhasil menghasilkan produk-produk kreatif dan menjadikan merek-nya dikenal oleh masyarakat luas hingga ke pasar mancanegara. 

Salah satu contohnya adalah JewelRocks yang merupakan produsen perhiasan asal bali. Produk dari JewelRocks dibuat dari bahan material unik. Produsen perhiasan asal bali ini menjadi salah satu dari dua perwakilan resmi Indonesia di Paris Fashion Week Showroom B2B pada awal Maret 2022 di Palais Brongniart, Paris. Satu peserta lainnya adalah SeanSheila yang masuk ke subsektor ekonomi kreatif fashion.

Merek lain yang juga mampu menembus pasar internasional yaitu Dowa. Produsen tas lokal asal Yogyakarta ini sukses tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga pasar internasional. Tas Dowa merupakan tas rajut yang dikombinasikan dengan kulit sapi, dan di finishing dengan empat finishing hardware logam.

Peluang Pasar Ekonomi Kreatif Kriya 

Kriya sebagai subsektor ekonomi kreatif di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian para pelaku di sektor ini mencapai 700 ribu unit usaha dan menyerap sebanyak 1,32 juta tenaga kerja.

Sektor kriya juga merupakan salah satu sektor yang cukup tangguh selama pandemi Covid-19 dua tahun terakhir. Sektor ini masih bisa beradaptasi dan terus tumbuh di tengah kondisi ekonomi dunia yang lesu. Hal ini terbukti dari naiknya nilai ekspor produk kerajinan Indonesia beberapa tahun belakangan.

Ekspor Kriya atau Kerajinan ke Berbagai Negara

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, ekspor kerajinan tangan Indonesia pada 2021 mencapai US$743,50 juta atau naik 16,48 persen dibandingkan nilai ekspor produk yang sama pada 2020 yang mencapai US$638,33 juta.

Nilai ekspor tersebut diperoleh dari sejumlah negara tujuan ekspor. Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor utama produk-produk kerajinan Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 58,89% diikuti Malaysia sebesar 7,54%, Belanda 3,86%, Jepang 3,70%, dan Jerman 3,64%. Beberapa produk yang paling diminati di antaranya adalah rambut palsu, produk anyaman, produk kayu, serta patung dan ornamennya.

Timpangnya nilai ekspor ke Amerika Serikat dibandingkan dengan sejumlah negara tujuan ekspor lainnya menunjukkan bahwa peluang untuk meningkatkan penetrasi ekspor produk kriya Indonesia masih cukup lebar. Sejauh ini pemerintah masih gencar memasarkan produk-produk kerajinan ke sejumlah negara seperti Prancis, Spanyol, Austria, Norwegia, Belgia, Denmark, Afrika Selatan, Inggris, Swiss, Rusia, Cyprus, India, dan sejumlah negara lainnya.

Selain pasar internasional, pasar domestik pun sebenarnya tidak kalah menarik. Di beberapa kasus, justru para pengrajin lokal terlalu fokus menggarap pasar internasional hingga lupa mengisi pasar domestiknya sendiri.

Hal ini Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) sampaikan. Data dari asosiasi menyebutkan bahwa 98% anggotanya menggarap pasar ekspor. Sementara itu, hanya sebagian kecil yang memasok untuk pasar di dalam negeri, dan umumnya merupakan industri kecil menengah (IKM).

Kurangnya pasokan untuk pasar domestik tersebut memicu masuknya produk-produk impor ke Indonesia. Data impor dari HIMKI menunjukkan bahwa nilai impor produk kerajinan periode Januari – November 2021 mencapai US$1,2 miliar naik 30,96% jika kamu bandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar US$939,8 juta.

Tantangan Ekonomi Kreatif Subsektor Kriya

Ekonomi Kreatif Kriya 03Secara garis besar, setidaknya ada empat tantangan utama ekonomi kreatif kriya, di antaranya adalah terkait inovasi, akses permodalan, akses pasar, dan terbatasnya bahan baku untuk keperluan produksi.

Inovasi menjadi tantangan pertama. Meskipun kriya Indonesia memiliki daya saing keunikan budaya yang tidak negara lain miliki, faktor inovasi masih cukup penting. Para pelaku usaha harus mulai meningkatkan usahanya untuk selalu berinovasi dan melakukan pengembangan desain produknya agar semakin kompetitif di pasaran.

Desain menjadi salah satu hal yang para calon pembeli pikirkan dan menjadi modal utama para pengrajin untuk bisa bersaing. Oleh sebab itu para pengrajin mesti ulet dan terampil agar produknya semakin kreatif dan inovatif. Hal ini bisa kamu maksimalkan melalui pemanfaatan teknologi terkini.

Pemodalan atau Akses Pembiayaan Kriya

Selanjutnya mengenai permodalan atau akses pembiayaan. Permasalahan ini sudah terjadi cukup lama. Pada umumnya, pelaku usaha kesulitan mendapatkan akses pembiayaan karena keterbatasan kemampuan dalam menyusun laporan keuangan. Selain itu, sumber daya manusia yang juga kurang mendapatkan pelatihan dalam aspek manajemen keuangan. Padahal pada umumnya, sektor ekonomi kreatif kriya berdominasi oleh usaha kecil dan menengah yang memiliki modal terbatas.

Permasalahan lainnya adalah kendala akses pasar. Meskipun sudah banyak para pelaku usaha ekonomi kreatif kriya yang mampu menembus pasar ekspor, masih banyak pelaku usaha yang justru kesulitan memperoleh akses pasar yang lebih besar terutama untuk golongan usaha kecil dan menengah (UKM). Akses pasar yang lebih luas, terutama untuk pasar ekspor bisa menjadi solusi ketika daya beli konsumen di dalam negeri melemah.

Tantangan terakhir adalah masalah bahan baku. Para pelaku industri ekonomi kreatif kriya tidak jarang harus berhadapan dengan masalah ketersediaan dan harga bahan baku produksi. 

Sejumlah industri nasional harus berjibaku dengan dengan tantangan ketersediaan dan harga bahan baku.

Seperti yang industri mabel alami dan furnitur yang kerap mengalami kelangkaan bahan baku rotan sejak tahun lalu. Permintaan yang cukup tinggi terhadap rotan tidak dapat seimbang pasokannya, sehingga membuat harga melambung tinggi. Sama halnya dengan kayu yang ketersediaannya cukup terbatas. Permasalahan bahan baku ini juga terjadi di produk-produk kerajinan lainnya.

Jika sejumlah permasalahan tersebut bisa teratasi , maka bisa jadi ekonomi kreatif kriya di Indonesia bisa semakin maju dan menjadi andalan ekonomi Indonesia kedepannya.