fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Generasi Z, Apa yang Spesial dari Mereka? Temukan di Sini

Generasi z

Setelah generasi milenial atau generasi Y dengan karakteristiknya yang melek teknologi, muncul generasi Z yang bukan hanya melek teknologi, tapi digital native alias lahir di era digital dan sangat lekat berinteraksi dengan dunia digital dan teknologi informasi. Siapa generasi Z, apa karakteristik mereka, dan hal yang membuat mereka spesial? Yuk, kita bahas.

Generasi Z, Siapa Mereka?

Generasi Z atau Gen Z memang generasi yang sangat lekat dengan internet. Sebab, generasi Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi. Dengan demikian, mereka beroleh sebutan digital native. Berdasarkan waktu kelahiran, Gen Z lahir antara tahun 1996-2012. Ditinjau dari usia, Gen Z berada pada kisaran usia 10-26 tahun pada 2022 ini. Lantas, sejak kapan terminologi atau istilah generasi Z muncul?

Istilah generasi Z tidak langsung muncul setelah generasi Y atau generasi milenial. Namun, diawali dengan istilah Homeland Generation atau Homelanders yang muncul sekitar tahun 2005, untuk menggambarkan generasi setelah milenial. Kemunculan istilah ini erat kaitannya dengan kejadian serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Setelah kejadian tersebut, sebagian besar masyarakat Amerika Serikat merasa lebih aman tinggal di dalam negeri (homeland), kemudian muncul istilah Homeland Generation. Akan tetapi, istilah itu tidak populer.

Istilah generasi Z mulai muncul saat Bruce Horovitz, jurnalis USA Today, menulis artikel After Gen X, Millenials, What Should Next Generation Be? Dalam artikelnya, Horovitz menuliskan kemungkinan para pembaca akan memilih istilah generasi Z sebagai kelanjutan abjad Y pada penamaan generasi sebelumnya. Nah, untuk mendapat jawaban dari pertanyaan Horovitz tersebut, USA Today melakukan kontes online bagi para pembaca. Kemudian, istilah generasi Z menjadi peraih terbanyak voting dari seluruh pembaca.

Selain istilah Gen Z, juga muncul istilah lain di berbagai belahan dunia, seperti: Gen Tech, Gen Wii, Net Gen, Digital Natives, Gen Next, Post Gen, ReGen, Plurals, Post-Millennials, TwoKays atau 2K’s, Generation i atau iGen, Conflict Generation, @generation, Swipe Generation, Tweennials, Screeners, Centennials, Deltas, Internet Generation, Neo-Digital Natives, Gen Zers, hingga istilah Founders. Namun, yang populer hingga kini adalah Gen Z.

Karakteristik dan Ciri Generasi Z

Generasi Z The Annie E. Casey Foundation mempublikasikan artikel yang menyebutkan, bahwa kehadiran Gen Z membuat perubahan drastis dalam kehidupan dunia. Berdasarkan statistik yang dikompilasi oleh Pew Research Cen­ter, berikut ini beberapa karakteristik dan ciri Gen Z.

  1. Tidak Pernah Lepas dari Smartphone dan Internet

Generasi Z adalah generasi yang sangat akrab dengan smartphone dan internet. Mereka juga sangat mahir dalam menggunakan beragam platform media sosial, seperti Instagram, Facebook, Twitter, WhatsApp, dan lainnya. Tak hanya sebagai media komunikasi, mereka juga memanfaatkan media sosial untuk belajar, berkarya, hingga bekerja.

  1. Memiliki Wawasan Finansial yang Baik

Sebagian Gen Z tumbuh dengan menyaksikan orang tua mereka mengalami kesulitan finansial akibat Great Reces­sion atau Krisis Ekonomi yang terjadi pada tahun 2008. Menyaksikan perjuangan orang tua mereka, membuat generasi ini menjadi generasi yang pragmatis dan berusaha mengamankan diri.

Mereka pun berusaha membekali diri dengan pengetahuan dan wawasan finansial sejak kecil. Mengutip dari katadata, dalam urusan finansial, Gen Z sangat berhati-hati agar tidak terjebak dalam utang. Mereka juga menyadari pentingnya menabung dan investasi di masa yang akan datang.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP
  1. Kompetitif dan Pragmatis

Karakteristik ini terkait dengan nomor 2, karena berdasar pengalaman orang tua mereka yang mengalami masa Krisis Ekonomi, Gen Z menjadi lebih kompetitif daripada generasi sebelumnya. Sebab, mereka ingin menjadi bagian dari tim pemenang, bukan pecundang. Sementara itu, perihal kecenderungan bersikap pragmatis, Gen Z akan mengalkulasi berbagai hal sebelum mengambil keputusan. Contohnya, mereka akan berhitung apakah perlu kuliah atau tidak, berdasarkan rasionalitas kepentingan mereka. Jika menurut mereka kuliah akan menguntungkan, maka mereka akan menjalaninya. Sebaliknya, jika tidak, maka mereka memilih tidak kuliah.

  1. Tantangan Kesehatan Mental

Kecenderungan aktivitas online yang padat, bahkan menghabiskan waktu lebih banyak di online, membuat sebagian ahli mengategorikan Gen Z sebagai “loneliest generation” atau generasi yang kesepian. Seperti dilansir dari artikel ini, seseorang yang terlalu banyak menghabiskan waktu secara online cenderung membuatnya rentan terisolasi dan depresi. Terlalu sering menghabiskan waktu di media sosial atau menonton layanan streaming yang kini makin banyak tersedia juga membuat Gen Z kurang memupuk relasi yang lebih dalam dan bermakna dengan orang lain.

  1. Pola Pikir Global

Menukil dari Tempo, generasi Z memiliki kemudahan dalam menjelajah dan terkoneksi dengan banyak orang di berbagai tempat secara virtual melalui koneksi internet. Namun, hal ini menyebabkan pengalaman Gen Z menjelajah secara geografis menjadi terbatas. Meski begitu, kemudahan terhubung dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia membuat Gen Z memiliki pola pikir global.

Nilai-Nilai yang Diusung Generasi Z

generasi z 03Beragam perubahan dan krisis dunia di tahun-tahun Gen Z tumbuh membuat mereka memiliki pandangan dan nilai-nilai yang kemudian mereka usung dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya:

  • Menghargai Keragaman

Kajian The Annie E. Casey Foundation dengan studi kasus demografi Amerika Serikat mengungkap, bahwa Gen Z akan menjadi generasi terakhir yang secara jumlah mayoritas berkulit putih. Ke depan, ras Gen Z akan lebih beragam. Hal ini adalah efek dari terpilihnya presiden berkulit hitam pada tahun-tahun awal lahirnya Gen Z, makin banyaknya keluarga campuran (multiras), juga makin banyak Gen Z yang dibesarkan oleh single parent. Hasilnya, generasi Z adalah generasi yang lebih menghargai keragaman dan tidak takut dengan perbedaan ras, agama, dan perbedaan lainnya..

  • Memiliki Pandangan Politik yang Lebih Progresif

Sebagian besar Gen Z cenderung lebih terbuka dalam pandangan politik ketimbang generasi sebelumnya. Mereka juga lebih progresif dan berpihak dalam isu-isu sosial dan perubahan iklim dan lingkungan.

Peran Generasi Z yang Membuat Mereka Spesial Dalam Ekonomi

Berdasarkan kajian McKinsey, populasi Gen Z pada 2025 nanti akan mencapai seperempat jumlah populasi kawasan Asia Pasifik. Tentu, jumlah yang sangat besar. Sementara itu, populasi Gen Z di Indonesia ternyata juga sudah banyak. Berdasarkan hasil sensus penduduk BPS tahun 2020 lansiran katadata, terdapat 74,93 juta gen Z di Indonesia atau sekitar 27,94% dari total penduduk Indonesia.

Usia Gen Z saat ini yang berkisar 10-26 tahun memang belum memasuki usia produktif. Tetapi, berdasarkan proyeksi, sebagian besar Gen Z akan masuk ke usia produktif pada lima hingga tujuh tahun mendatang. Kondisi inilah yang akan menyebabkan Indonesia memiliki bonus demografi.

Dalam usaha untuk lebih memahami perilaku konsumen Gen Z, pada 2019 lalu McKinsey melakukan survei kepada lebih dari 16.000 konsumen di 6 negara–Australia, China, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan Thailand-. Kemudian, mereka membagi hasil survei tersebut berdasar tiga generasi, yakni Gen Z, Gen milenial, dan Gen X. Survei itu bertanya kepada responden terkait perilaku mereka terhadap brand, kebiasaan berbelanja, digital, dan media.

Muncul lima simpulan perilaku Gen Z terkait konsumerisme dari survei tersebut, yakni:

  • Gen Z bergantung pada media sosial terkait brand dan belanja.
  • Generasi Z menginginkan banyak produk dan mereka terbiasa untuk mendapatkan produk yang mereka inginkan tersebut.
  • Gen Z cenderung memilih brand yang memahami personalitas dan keunikan mereka.
  • Pemilihan brand oleh Gen Z dipengaruhi konten-konten video yang mereka tonton, terutama di YouTube dan TikTok.
  • Gen Z ingin tampak sebagai sosok yang peduli lingkungan dengan mengonsumsi atau menggunakan produk yang ramah lingkungan.

Segmen Gen Z

Selain perilaku terkait konsumerisme, kajian McKinsey juga mengidentifikasi 6 segmen konsumen Gen Z, yakni:

  • Brand-Conscious Followers (25%)

Merupakan segmen yang cermat mengikuti tren dan menyukai segala macam merek, tapi belum tentu suka belanja. Mereka tahu apa yang mereka mau dan tidak mau menginvestasikan upaya ekstra untuk mencari diskon

  • Premium Shopaholics (24%)

Segmen yang tergila-gila pada kegiatan berbelanja. Mereka meluangkan waktu untuk meneliti dan membandingkan (umumnya secara online), sehingga ada kemungkinan mereka membeli secara spontan.

  • Ethical ‘Confidents’ (18%)

Merupakan segmen yang lebih menyukai merek ramah lingkungan dan etis secara sosial. Di Indonesia, 62% segmen ini lebih memilih produk alami dan organik dan 76% lebih memilih untuk membeli merek ramah lingkungan.

  • Quality-Conscious ‘Independents’ (15%)

Segmen pencari kualitas (menurut ukuran mereka sendiri) dan bersedia membayar lebih mahal. Mereka tidak melihat nama merek sebagai jaminan mutu. Mereka memilih merek yang ramah lingkungan dan alami atau organik, bukan karena tren atau rasa etis, tetapi karena mereka memandang karakteristik ramah lingkungan dan organik sebagai kualitas tinggi.

  • Value Researchers (14%)

Merupakan segmen dengan tingkat loyalitas merek yang tinggi. Mereka selalu mencari penawaran terbaik dan lebih suka mencari serta membeli secara online. Sebanyak 81% Gen Z di Indonesia dari segmen value researcher selalu meneliti sebelum membeli. Value researchers tidak akan membayar lebih demi mendapatkan merek yang dapat mengangkat status sosial.

  • Disengaged Conformists (4%)

Segmen yang tidak terlalu peduli dengan konsumsi. Mereka ingin menghabiskan waktu sesedikit mungkin untuk berbelanja. Ketika mereka menemukan sesuatu yang mereka sukai, mereka cenderung membelinya. Meskipun mereka senang saat beroleh diskon, mereka tidak akan berusaha mencarinya.

Dunia bisnis perlu memahami perilaku dan segmen ini untuk mengembangkan produk dan layanan supaya dapat memenuhi kebutuhan konsumen Gen Z, yang dalam waktu dekat akan menjadi kelompok penduduk usia produktif. Bonus demografi yang juga berefek besar pada ekonomi akan dapat dinikmati oleh Indonesia, asalkan Gen Z dipersiapkan dengan matang.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Baca juga artikel terkait lainnya :

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP