fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Gunakan Soft Selling agar Penjualan Makin Lancar, Ini Tipsnya

Soft selling

Soft selling, sebagaimana melansir dari Investopedia, merupakan pendekatan periklanan dan penjualan yang menampilkan bahasa halus dan teknik non-agresif. Biasanya, praktik soft selling adalah cara untuk menawarkan produk secara halus dengan membangun cerita atau narasi terlebih dahulu. 

Prinsip utama teknik promosi soft selling adalah mendorong pelanggan untuk membeli produk tanpa terlihat memaksa. Biasanya, teknik penjualan ini berlangsung dengan membangun narasi atau cerita yang relevan dengan konsumen. Narasi juga bisa kamu bangun ke arah menjadikan produk atau layanan bisnis kamu sebagai solusi dari permasalahan mereka. 

Karena lebih menekankan cara halus dengan bungkus narasi, maka teknik ini akan sangat bergantung pada pengulangan ide, pesan, atau komunikasi sesuai keinginan brand atau perusahaan. Selain itu, taktik ini cenderung bersifat persuasif sehingga membuat orang merasa nyaman dan berkemungkinan kecil untuk kehilangan calon pembeli.

Soft sellingPerbedaan Soft Selling dengan Hard Selling

Lantas, apa perbedaannya dengan teknik hard selling? Hard selling adalah sebuah taktik pemasaran yang bersifat gamblang dengan tujuan untuk melakukan transaksi penjualan produk secara cepat. Oleh sebab itu, sebutan teknik penjualan ini biasanya adalah teknik penjualan agresif yang tidak mengenal basi-basi terhadap konsumen. Promosi lebih bersifat to the point, dengan batas waktu yang membuat konsumen merasa terburu-buru untuk segera melakukan transaksi. 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Berbeda dengan pendekatan penjualan secara halus yang bertujuan agar para konsumen menjadi tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut tentang produk atau layanan kamu. Dengan cara ini, konsumen merasa tidak harus melakukan transaksi pada saat itu juga.

Selain itu, masih ada beberapa perbedaan dari keduanya, seperti berikut ini:

  1. Kurun Waktu Penjualan

Pada taktik hard selling, kurun waktu penjualan untuk jangka pendek. Pasalnya kamu menginginkan calon konsumen untuk segera membeli produk yang kamu tawarkan. Di sisi lain, soft selling lebih fokus kepada penjualan untuk jangka panjang yang dapat memperluas jangkauan konsumen.

  1. Tingkat Ketertarikan Konsumen

Perbedaan selanjutnya adalah ketertarikan konsumen. Maksudnya adalah penggunaan penjualan secara halus biasanya karena perusahaan ingin membangun keterikatan atau engagement. Selain itu, perusahaan juga ingin membangun image yang baik di mata konsumennya. 

Makin tinggi engagement yang terjadi antara brand dengan konsumen, maka kemungkinan besar akan semakin tinggi juga penjualannya. Pasalnya, terdapat kecenderungan bahwa konsumen akan lebih tertarik dengan brand yang melakukan penjualan secara halus.

Sedangkan hard selling, meskipun memiliki kemampuan menarik konsumen, tapi hanya bertahan untuk jangka waktu yang tidak terlalu panjang. Hal ini biasanya karena konsumen hanya tertarik untuk membeli satu produk saja, tanpa adanya ketertarikan atau keinginan untuk mengeksplor brand lebih jauh.

  1. Bidang Industri yang Menggunakannya

Melansir dari Business to Community, pemilihan penggunaan teknik hard selling atau soft selling tak terlepas dari pengaruh bidang industrinya. Ada beberapa industri yang identik dengan penggunaan teknik hard selling, seperti industri asuransi, telemarketing, atau pekerjaan lain yang berbasis komisi. 

Sementara soft selling, karena sifatnya yang halus dan tidak langsung, maka akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pendekatan ke pelanggan. Sehingga, industri yang biasanya menggunakan taktik penjualan secara halus ini adalah konsultan, manufaktur, konstruksi, dan firma arsitek.

Manfaat Penting Soft Selling bagi Bisnis

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa harus menggunakan taktik penjualan secara halus ke dalam strategi pemasaran bisnis atau brand kamu:

  1. Mengurangi Tekanan atau Paksaan pada Pelanggan 

Karena promosi penjualan secara halus tidak mendorong calon pembeli untuk langsung bertransaksi membeli produk atau layanan, maka bagi pelanggan pun akan merasakan lebih sedikit tekanan atau paksaan untuk membeli. 

Dengan menggunakan promosi penjualan secara halus, kamu sebagai brand atau bisnis telah memberi audiens kemampuan untuk menemukan brand kamu dan membuat keputusan pembelian pada waktu yang mereka tentukan sendiri.

  1. Meningkatkan Brand Awareness

Dengan teknik soft selling, artinya kamu akan lebih banyak berkutat dengan strategi content marketing yang tujuannya membagikan konten yang relevan bagi audiens kamu Saat membuat promosi penjualan secara halus, fokuslah pada kualitas konten, bukan pada penjualan. 

Bila kamu mampu berhasil membuat konten berkualitas tinggi yang membangkitkan emosi positif, maka audiens akan berpotensi untuk membagikan konten tersebut. Dan imbasnya, lebih banyak orang yang akan melihat konten kamu sehingga tanpa disadari akan meningkatkan brand awareness bisnis. 

  1. Membangun Kepercayaan

Hasil lain dari fokus pada kualitas konten adalah kamu akan membangun kepercayaan di mata audiens, pelanggan serta calon pelanggan potensial kamu. Dengan taktik penjualan secara halus ini, pada dasarnya menawarkan sesuatu yang berkualitas kepada audiens tanpa meminta imbalan. 

Dan tahukah kamu bahwa ini menunjukkan kepada mereka bahwa kamu peduli terhadap mereka dan bukan sekadar berjualan. Akibatnya, mereka akan lebih cenderung menjelajahi brand lebih jauh. Kamu pun pasti setuju bahwa bahwa membangun kepercayaan sangat penting bagi bisnis untuk membangun hubungan yang langgeng.

Kekurangan Soft Selling

Meski penjualan secara halus memiliki banyak manfaat bagi bisnis, namun ada juga kekurangan dari strategi ini, seperti: 

  1. Transaksi Terjadi Lebih Lambat

Karena model soft selling dimana proses promosi yang tidak langsung, maka produk atau jasa yang kamu tawarkan tidak bisa langsung segera mendapatkan respons oleh konsumen. Seperti sudah disebutkan di atas, bahwa penjualan secara halus berguna untuk jangka panjang, sehingga mengurangi kesempatan atas terjadinya transaksi secara cepat. Dengan kata lain, tidak dapat menunjukkan hasil secara singkat atau instan bila dibandingkan dengan strategi hard selling

  1. Kalah dalam Kompetisi

Selain menunjukkan hasil yang lamban, metode penjualan secara halus ini berpotensi untuk kalah dalam kompetisi. Kok bisa? Karena metode penjualan secara halus cenderung digunakan sebagai teknik marketing jangka panjang, maka bisa muncul potensi kompetitor atau brand lain akan merebut konsumen kamu.

Soft selling

Tips Menerapkan Soft Selling yang Baik

Mulai penasaran tentang bagaimana cara menerapkan promosi penjualan secara halus yang baik? Ada beberapa hal yang harus kamu pahami terlebih dahulu dengan simak penjelasannya di bawah ini ya.

  1. Tentukan Target Market

Dalam strategi marketing apapun, menentukan target market adalah salah satu hal penting. Termasuk juga dengan taktik soft selling. Pastikan kamu tahu tipe masyarakat atau kumpulan orang yang seperti apa, dengan karakteristik demografis, psikografis dan perilaku seperti apa yang cocok untuk kamu jadikan target market. 

Setelah menentukan target market ini, maka kamu bisa menentukan tone dan voice saat berbicara dengan mereka. Jangan sampai salah, ketika target market kamu adalah segmen premium atau eksklusif, tapi kamu berbicara dengan gaya seperti layaknya gen-Z. Itulah sebabnya menentukan target market yang tepat adalah hal esensial. 

  1. Membuat Konten Berkualitas

Setelah mengetahui target market, saat membuat konten berkualitas. Tak perlu takut atau ragu untuk membuat konten ini, karena dari sisi pembuatannya, terhitung mudah. Kuncinya buat satu artikel dengan topik yang terkait dengan bisnis kamu. 

Sebagai contoh, kalau kamu berkecimpung di bisnis fashion, kamu bisa membuat artikel dengan topik “5 Rekomendasi Outfit untuk Hangout Bareng Temen”. Jangan lupa sisipkan satu atau dua kalimat promosi pada bagian akhir artikel yang mengajak pembaca untuk berbelanja di tempat kamu. 

  1. Optimalkan Visual yang Menarik

Konten yang berkualitas perlu ada penunjang visualisasi yang menarik. Jenis konten ini bisa kamu gunakan untuk media sosial. Apalagi saat ini tren di media sosial banyak orang yang lebih menyukai suguhan visual, baik berbentuk foto, grafis, maupun video, daripada teks. Buat konten yang topiknya bisa disambungkan ke dalam bisnis kamu dan jangan lupa untuk menyisipkan promosi penjualan secara halus pada konten tersebut. 

Nah itu dia adalah pembahasan mendalam seputar strategi soft selling bagi bisnis. Bila dapat menjalankannya dengan baik, soft selling bisa menjadi salah satu strategi yang dapat menghasilkan keuntungan secara jangka panjang. 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Published by Emilia Natarina

Content Marketing LummoSHOP