fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Hal Penting dalam Menentukan Supplier yang Tepat bagi Bisnis D2C

menentukan supplier

Bisnis tidak bisa dijalankan “sebatang kara” atau sendirian. Bahkan, untuk jenis bisnis yang tak terlalu membutuhkan keterlibatan banyak pihak seperti model D2C (Direct to Consumer). Misalnya untuk memproduksi barang, tentunya kamu membutuhkan bahan baku. Dan untuk mendapatkannya, kamu perlu menentukan supplier atau pemasok. Supplier berperan penting dalam proses produksi bisnismu. Tanpanya, bisnismu bisa terhenti kapan saja.

Tidak sedikit yang bilang bahwa supplier mirip dengan distributor. Sekilas memang tampak serupa, padahal berbeda. Supplier berbeda dengan distributor meskipun sama-sama menyalurkan barang. Jika supplier menyalurkan bahan baku maka distributor menyalurkan barang jadi/produksi akhir. Dan jika supplier adalah bagian dari proses produksi, maka distributor adalah bagian dari proses penjualan/promosi.

Yang kemudian kerap menjadi masalah adalah menentukan supplier yang tepat untuk bisnis online D2C (Direct to Consumer) milikmu. Berhubung mereka adalah pihak yang akan bekerja sama denganmu dalam jangka waktu lama, selama bisnis online kamu beroperasi, maka memutuskan mana pemasok yang akan kamu pilih tak bisa sembarangan.

Tidak bermaksud menakut-nakuti. Tapi, coba bayangkan saja jika kerjasama supplier tidak berjalan sebagaimana mestinya (supplier-mu menghilang tanpa kabar misalnya). Padahal, kamu sudah terlanjur terikat kontrak dengan konsumen untuk membuatkan barang pesanan mereka. Menakutkan ya rasanya. Jangan sampai hal tersebut terjadi pada bisnismu.

Untuk itu, penting bagimu menentukan supplier yang tepat. Bagaimana caranya? Tak perlu khawatir karena kamu bisa menerapkan beberapa cara berikut ini.

 

  1. Mencari dari lingkaran terdekat

Mulailah dari lingkungan terdekat atau orang-orang di lingkaranmu. Dengan asumsi, kamu sudah sangat mengenal mereka. Tak perlu lagi pedekate karena hubungan kalian sudah sama-sama nyaman. Meskipun demikian, hubungan kalian harus tetap profesional, bila perlu ada perjanjian tertulis. Karena tak jarang juga, persaudaraan atau persahabatan bisa putus gara-gara menjalin kerjasama bisnis. 

Coba deh, di antara lingkungan terdekatmu, di antara orang-orang yang kamu kenal dekat, adakah kira-kira yang punya usaha yang sekiranya bisa kamu gandeng untuk menjadi supplier. Kalau ada, bersyukur banget pastinya.

  1. Mencari dari komunitas atau perkumpulan yang kamu ikuti

Mencari pemasok dari komunitas atau perkumpulan yang kamu ikuti juga bisa menjadi pilihan, apalagi jika interaksimu di komunitas tersebut intens. Misalnya, bisnismu adalah penyediaan jasa di bidang tulis-menulis. Kemudian, kamu punya klien yang membutuhkan beberapa penulis untuk mengerjakan proyek tertentu. Nah, kenapa tidak mencoba “menghubungkan” saja mereka. Dalam hal ini, teman-teman di komunitasmu adalah supplier atau pemasoknya sedangkan klienmu adalah “konsumen”mu.

Hampir sama dengan poin sebelumnya. Mendapatkan supplier dari komunitas juga lebih menguntungkan karena lagi-lagi kamu tak perlu pendekatan, basa-basi ini itu, atau semacamnya karena memang sudah kenal.

  1.  Mencarinya di toko offline

Jangan lupakan toko offline meskipun model bisnismu online. Misal produk bisnismu adalah baju tidur yang kamu desain sendiri, maka kamu bisa beli kain dan segala macam yang berhubungan dengannya di Tanah Abang yang notabene terkenal dengan pusat grosir. Kamu bisa bertanya ke saudara, teman, kolega, atau netizen mengenai toko kain yang recommended yang bisa kamu coba.

  1. Don’t put your eggs in one basket

Salah satu teori investasi yang mengatakan don’t put your eggs in one basket rupanya bisa kamu terapkan juga dalam mencari supplier. Ada baiknya, kamu tidak hanya punya satu supplier melainkan beberapa. Ada pemasok utama, ada juga pemasok cadangan. Bukannya berharap hal buruk terjadi, tapi apa salahnya jika kamu mengantisipasi sejak dini. Kalau suatu saat nanti, supplier utamamu tidak bisa memenuhi kebutuhan bahan baku untuk produkmu, maka kamu tak perlu bingung mencari pemasok baru.

  1. Analisis track record

Analisis track record pemasok ini bisa dengan beragam cara, apalagi zaman sekarang sudah ditunjang dengan teknologi yang memadai. Selain bisa bertanya ke orang lain, kamu juga bisa mencarinya sendiri di mesin pencarian dengan mengetikkan nama calon pemasokmu. Bagaimana perilaku dia di media sosial. Kalau punya website pribadi, seperti apa mayoritas tulisan-tulisan yang ia miliki. Dengan demikian, meskipun kamu tak terlalu kenal, tapi setidaknya sudah ada gambaran.

  1. Perhatikan saat sudah bekerjasama 

Setelah menjalin kerjasama supplier, bukan berarti tidak perlu ada kontrol. Kamu tetap harus mengamati apakah pemasokmu ini konsisten? Pernahkah melakukan wan prestasi? Atau, hal-hal lain yang berkaitan. Kamu mungkin sepaham bahwa ada orang yang hanya terlihat baik atau sungguh-sungguh di awal, tapi kemudian makin lama makin tidak bertanggung jawab setelah kenal dekat. Nah, jangan sampai ini terjadi padamu.

  1. Karakter menjadi pertimbangan

Meskipun kesannya sepele, tapi kamu boleh banget mempertimbangkan karakter untuk memilih supplier. Apalagi, jika kamu punya banyak pilihan. Kamu bisa memilih siapa di antara mereka yang paling membuatmu nyaman. Ya, kecuali kalau kamu memang tak punya pilihan lain. Apa boleh buat.

  1. Memberdayakan supplier tradisional

Memberdayakan supplier tradisional juga bisa kamu lakukan jika bisnismu ada hubungannya dengan mereka. Hitung-hitung membantu juga, bukan. Misalnya, usahamu di bidang kuliner. Alih-alih membeli bahan baku dari para grosir, kamu lebih memilih para petani sebagai pemasok utama usahamu. Mereka senang karena bisa memasarkan hasil panennya tanpa harus repot-repot mencari pasar. Kamu pun senang karena mungkin akan mendapatkan harga yang lebih murah sedikit. Secara sosial, secara tidak langsung bisnismu juga bisa membantu meningkatkan perekonomian mereka.

  1. Pameran

Mencari supplier di pameran atau bazar juga bisa menjadi pilihan yang boleh dicoba. Kamu tinggal memilih saja manakah pameran yang ada hubungannya dengan bisnis online yang sedang kamu lakoni.

  1. Membuka lowongan atau menginformasikan kalau kamu butuh supplier dengan kriteria tertentu

Kamu bisa lebih leluasa jika menggunakan cara ini karena sejak awal kamu sudah menentukan kriteria supplier seperti apa yang kamu inginkan. Mereka yang melamar pastinya adalah yang sesuai kriteriamu atau setidaknya mendekati. Meskipun salah satu kekurangannya adalah para supplier yang ingin bekerjasama denganmu mungkin masih pemula karena jika sudah senior tak perlu lagi mencari-cari pasar lagi.

menentukan supplier
Yang juga tidak kalah penting ketika sudah mendapatkan
supplier untuk bisnis D2C (direct to consumer) milikmu adalah “merawat” atau menjaga hubungan baik. Jika kamu memiliki beberapa supplier sebaiknya berbuatlah adil. Jangan sampai hanya mendekat ketika ada butuhnya saja. Kerjasama supplier tidak hanya bersifat jangka pendek, melainkan sebaliknya, selama bisnis kamu masih beroperasi. Itu sebabnya, jagalah mereka seperti kamu menjaga hatimu. Tak berlebihan kok, memang harusnya seperti itu.

Supplier adalah salah satu faktor terpenting dalam bisnis D2C milikmu. Mencari atau memilihnya mungkin sedikit susah dan penuh tantangan. Kamu perlu mempertimbangkan beberapa hal untuk menjalin kerjasama supplier. Itulah mengapa setelah mendapatkan supplier yang loyal, jagalah hubungan baik itu. Selamat mencoba.

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP