fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Hard-selling Cocok Untuk Semua Produk? Ini Uraiannya

Hard selling

Hard selling adalah metode periklanan atau penjualan secara langsung, terbuka, dan mendesak. Biasanya penjualan hard selling menggunakan bahasa yang gamblang alias tanpa basa-basi. Tujuannya supaya konsumen langsung membeli tanpa perlu berpikir terlalu lama. Itu kenapa hard selling adalah teknik penjualan yang terkesan agresif. 

Saking agresifnya, konsumen sampai tak mendapat ruang untuk mencerna dan berpikir. Karena memang tujuan metode penjualan ini adalah menghasilkan penjualan dengan cepat. Alhasil konsumen justru yang merasa mendapat tekanan.

Itu kenapa banyak konsumen kurang menyukai metode ini. Beberapa dari kita mungkin bergumam, “Nggak basa-basi langsung disuruh beli” ketika berhadapan dengan sales yang menerapkan metode ini. Wajar sih. Dalam situasi ini, keterusterangan dan minim basa-basi memang terasa menyebalkan. 

Tapi memang begitu adanya. Investopedia.com menyebut, hard selling adalah strategi penjualan yang memaksa sehingga seringkali berkonotasi negatif. Metode penjualan ini justru kontraproduktif. Di satu sisi bisa jadi angka penjualan tercapai, tapi di sisi lain peluangnya kecil konsumen bakal jadi pelanggan setia. 

Meskipun demikian, dari sisi bisnis dan penjualan, metode hard selling terbilang cukup efektif. Asalkan waktu dan situasi penerapannya pas. 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Plus Minus Hard Selling untuk Bisnis

Hard selling Ibarat dua sisi mata uang, begitupula keberadaan strategi hard selling. Pada satu sisi punya banyak manfaat, tapi di sisi sebaliknya juga menyimpan banyak kelemahan. 

Keuntungan Hard Selling Adalah

  1. Penjualan Cepat 

Teknik penjualan yang agak ‘maksa’ memberi tekanan pada konsumen untuk segera membeli. Dengan begitu kamu dapat untung lebih cepat. 

  1. Hemat Waktu

Ciri hard selling adalah penjualan yang terkesan mendesak, sampai-sampai konsumen tak punya waktu banyak untuk membuat pertimbangan. Sehingga transaksi lebih cepat dan bisa menjangkau lebih banyak konsumen. 

  1. Tak Memberi Ruang pada Kompetitor

Ya itu tadi, karena penjualannya seolah mendesak, konsumen jadi tak punya kesempatan membandingkan dengan merek lain. Bagi penjual tentu saja ini menguntungkan. 

  1. Cepat Capai Target

Biasanya tenaga pemasar atau pebisnis online punya target angka penjualan jangka pendek, dalam seminggu misalnya. Maka metode hard selling akan membantu mencapai target lebih cepat. 

  1. Komisi Cepat Cair

Bagi tenaga pemasar yang bekerja dengan sistem komisi, metode penjualan ini jelas menguntungkan. Karena semakin cepat target penjualan tercapai, makin cepat pula komisi mereka cair. 

Kekurangan Hard Selling Adalah

  1. Image Negatif

Kita pasti pernah berhadapan dengan tenaga pemasar yang berapi-api dan agak memaksa. Rasanya pasti menjengkelkan. Yang terjadi kemudian, bukannya kita membeli produknya tapi justru kita membagi pengalaman menyebalkan itu ke orang lain. 

Akibatnya, kita nggak cuma jengkel sama salesnya, tapi juga pada merek produk atau layanan yang mereka tawarkan. Reputasi merek pun jadi negatif. 

  1. Bikin Konsumen Kapok

Selain merasa terganggu karena cara pemasaran yang agresif, konsumen bisa makin kecewa ketika produk yang akhirnya mereka beli tidak sesuai janji tenaga pemasar. 

  1. Sulit Membangun Loyalitas Pelanggan 

Ini berkaitan dengan poin sebelumnya. Konsumen yang merasa terganggu dan kecewa hampir tidak mungkin mengulangi pembelian. Dampaknya, sulit untuk mendapatkan pelanggan yang loyal. Padahal konsumen yang loyal penting untuk penjualan

Waktu yang Tepat Menerapkan Hard Selling

Metode pemasaran ini memang punya kekurangan dan terkesan kurang menyenangkan. Namun metode ini cukup bermanfaat asalkan waktunya tepat. 

Yang perlu kamu ingat, gaya pemasaran ini tidak melulu mengacu negosiasi atau pertemuan langsung antara tenaga pemasar dan konsumen. Tapi juga bisa lewat iklan entah lewat email, promosi, media massa, dan sebagainya. 

Lalu kapan waktu yang tepat untuk menjalankan hard selling?

  • Pertama, ketika kamu menawarkan produk dengan harga rendah atau terjangkau. Seperti penjelasan sebelumnya, ciri khas metode pemasaran ini ialah meminta reaksi cepat dari konsumen. Tanpa perlu pertimbangan panjang. Dalam situasi mendesak, tentu lebih cepat memutuskan membeli barang dengan harga murah ketimbang mahal. 
  • Kedua, saat kebutuhan konsumen akan suatu barang atau jasa mendesak. Biasanya, konsumen yang butuh pengganti pada produk yang rusak cenderung cepat memutuskan pembelian. Apalagi kalau produk yang mereka perlukan penting dan mereka tak punya pilihan lain selain membeli penggantinya. 

Sebenarnya bisnis apapun cocok-cocok saja menerapkan metode pemasaran ini. Hanya saja umumnya industri asuransi, perbankan, dan semacamnya banyak menggunakan cara ini. Selain itu produk-produk yang harganya terjangkau atau menyangkut kebutuhan sehari-hari juga tepat menggunakan metode ini. 

Trik Menerapkan Hard Selling

Prinsip utama menjalankan hard selling adalah nggak maksa dan jangan terlalu agresif.  Mulai dari gaya bahasa, cara menawarkan produk, sampai menjelaskan kelebihan produk jangan berlebihan apalagi sampai memaksa. 

Ingat, kamu tidak hanya membawa nama baikmu sebagai tenaga pemasar, tapi juga citra merek atau bisnis yang kamu tawarkan. 

Trik lain supaya berhasil menjalankan metode pemasaran ini adalah sebagai berikut:

  1. Kuasai Pengenalan Akan Produk

Kunci sukses hard selling adalah penguasaan product knowledge dan keterampilan berpikir cepat. Tanpa pengenalan akan produk, kamu bakal gelagapan saat melakukan penawaran. Sedangkan keterampilan berpikir cepat, membantumu menjawab pertanyaan konsumen yang bermacam-macam. 

  1. Kenali Target Konsumen

Dengan begitu kamu memahami kebutuhan konsumen. Selain itu, hard selling dengan negosiasi memberimu ruang untuk bertemu langsung dengan konsumen. Karena itu kamu harus bisa menunjukkan empati dan mengenali karakter konsumenmu. Ini penting supaya kamu bisa membujuk konsumen dengan baik dan tidak terkesan memaksa. 

  1. Manfaatkan Media yang Berbeda

Hard selling bukan berarti kamu harus bertemu tatap muka dengan konsumen. Kamu bisa memanfaatkan media yang beragam. Seperti lewat iklan, email, atau media sosial. Pastikan kamu merespons tanggapan atau pertanyaan konsumen lewat berbagai media tadi. 

  1. Buat Konten yang Persuasif

Jika kamu melakukan pemasaran lewat iklan, buatlah konten yang persuasif. Bubuhkan kalimat ajakan yang tegas, seperti ‘waktu terbatas’, atau ‘beli sekarang besok harga naik’, dan semacamnya. Pelajari juga analitik media sosialmu untuk mengetahui demografi target pasarmu. 

  1. Rekrut Tenaga Pemasar yang Tepat

Kalau kamu masih menjalankan penjualan langsung secara hard selling, maka kamu perlu merekrut tenaga pemasar yang tepat. Carilah tenaga pemasar yang percaya diri dan bisa bekerja di bawah tekanan. Penting juga untuk mencari yang mentalnya kuat. Mengingat mereka akan menghadapi banyak penolakan. 

Hard Selling atau Soft Selling?

Hard sellingPerbedaannya keduanya ada pada cara kerja. Hard selling melakukan jualan secara gamblang tanpa basi-basi, serta berusaha meyakinkan pembeli untuk segera menuntaskan transaksi. Metode pemasaran ini cenderung agresif dan menggunakan kalimat-kalimat yang to the point. 

Sedangkan cara penawaran soft selling biasanya tanpa tekanan agar pelanggan segera melakukan pembelian. Pendekatan Soft selling lebih banyak menggunakan kata-kata yang halus dan sifatnya pendekatan supaya konsumen merasa lebih penasaran. Ini bertujuan untuk menumbuhkan koneksi jangka panjang dengan pelanggan. 

“Kalau begitu mana yang terbaik? Dan bisakah hard selling berjalan beriringan dengan soft selling.”

Jawabannya tergantung pada kebutuhanmu. Bisa saja kamu menerapkan keduanya, kalau memang sesuai dengan kebutuhan. Atau mungkin lebih baik menggunakan salah satu metode supaya usahamu lebih fokus. 

Untuk mengetahui mana yang cocok dengan bisnis online kamu, coba kamu petakan dulu kebutuhanmu dengan menjawab sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apakah produk yang kamu tawarkan sekali beli untuk pemakaian jangka panjang atau produk yang harus dibeli berulang-ulang?
  • Berapa harga produk yang kamu tawarkan?
  • Apa visi misi bisnis atau produkmu?
  • Apa tujuan pemasaranmu? Apakah semata meningkatkan penjualan? Atau meningkatkan jumlah pelanggan?
  • Apa metode jualan yang nyaman kamu lakukan? Apakah bertemu langsung, melalui telepon, atau memanfaatkan media sosial?
  • Apakah tenaga pemasarmu bekerja berdasarkan komisi?

Dengan menjawab pertanyaan tersebut, kamu bisa menentukan strategi pemasaran mana yang lebih tepat. Kamu bisa memilih salah satunya, atau mengombinasikan keduanya menyesuaikan kebutuhan bisnismu. 

Meskipun memang, sejumlah ahli pemasaran lebih merekomendasikan soft selling. Tapi faktanya, kamu yang mengenal bisnis dan bidang usahamu. Jadi kamu sebagai pebisnis yang paling tahu pendekatan mana yang terbaik untuk bisnismu. 

Kunci dalam Berbisnis

Apapun strategi pemasaran pilihanmu, mau yang langsung pada sasaran tanpa basa-basi, atau dengan cara halus bukan satu-satunya kunci keberhasilan dalam bisnis. Strategi pemasaran, apapun bentuknya, baru berhasil selama kualitas produk, penentuan harga, dan distribusi berjalan dengan baik. 

Jadilah pebisnis yang adaptif. Pebisnis yang mengutamakan konsumen. Supaya apapun strategi pemasaran yang kamu terapkan memang bertujuan menjawab kebutuhan konsumen. Ingat, perilaku konsumen ikut berubah sesuai dengan perkembangan zaman. 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP