fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Ini Efek Kenaikan Harga BBM, Barang, dan Jasa ke Masyarakat dan Pebisnis

Siap-siap, harga barang bakal semakin tinggi. Setelah pemerintah resmi menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10% ke 11% dan harga BBM jenis Pertamax, pemerintah juga berencana menaikkan tarif listrik, harga gas elpiji 3 kg, Pertalite, dan Solar (Kompas,13/4/2022). Tidak heran jika sejumlah pebisnis sudah ancang-ancang menaikkan harga barang dagangannya tidak lama lagi.

Dikutip dari pemberitaan Kompas.com, salah satu yang akan menaikkan harga jualnya adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kerupuk kaleng di Jakarta. Mereka sepakat menaikkan harga kerupuk kaleng eceran di Jakarta dari Rp1.000 menjadi Rp2.000 per buah mulai tanggal 6 Mei 2022. Naiknya harga kerupuk dua kali lipat ini merupakan imbas dari kenaikan harga minyak goreng dan bahan baku kerupuk, yaitu tepung tapioka. 

Biaya Hidup Makin Mahal

Sehubungan dengan kenaikan harga tersebut, makin mahal, dong, hidup di Indonesia? Betul. Pandemi dan kenaikan harga BBM dan sejumlah barang dan jasa membuat beban masyarakat dan pengusaha makin bertambah. Jika harga-harga naik tinggi, maka sudah bisa dipastikan pebisnis akan menaikan harga produknya dan masyarakat akan semakin tertekan daya belinya.

Seperti ayam dan telur, siapa yang duluan? Kenaikan harga juga berarti inflasi yang lebih tinggi. Inflasi yang tinggi bisa menyebabkan kenaikan biaya produksi, kenaikan beban usaha, dan penurunan penjualan. Inflasi juga meningkatkan biaya bunga bank yang dikenakan kepada debitur. Jadi bila kamu saat ini memiliki utang bank, siap-siap saja membayar bunga yang lebih tinggi.

neraca keuangan

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam waktu tertentu. Biasanya inflasi yang tinggi terjadi di musim-musim tertentu, seperti Ramadan. Jika pada Ramadan tahun lalu, inflasi hanya disebabkan oleh kenaikan permintaan dan bertambahnya uang beredar, maka tahun ini inflasi Ramadan juga disumbang oleh kenaikan barang kebutuhan yang lain, seperti minyak goreng dan bahan bakar minyak.

Ingat, menurut teori, penyebab terjadinya inflasi karena beberapa faktor, seperti tingginya permintaan, bertambahnya jumlah uang beredar, naiknya biaya produksi, hingga faktor luar negeri. Lalu mengapa Ramadan terjadi inflasi tinggi? Karena Ramadan identik dengan belanja yang membuat permintaan barang dan jasa naik. Sehingga pada kurun waktu tersebut umum terjadi inflasi.

Uang beredar juga meningkat karena ada Tunjangan Hari Raya (THR). Itulah sebabnya Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp175,26 triliun untuk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri pada tahun ini. Sedangkan di sisi pebisnis, kenaikan permintaan dan biaya produksi membuat harga produk semakin mahal.

Menurut data Bank Indonesia (BI), pada Ramadan dan Lebaran tahun lalu, inflasi tercatat sebesar 1,42% YoY pada April 2021 dan 1,68% (YoY) pada Mei 2021. Untuk tahun ini, dengan kenaikan sejumlah harga kebutuhan, maka diperkirakan akan lebih tinggi lagi.

Inflasi dan Daya Beli

dampak beli followers

Dalam ilmu ekonomi makro, inflasi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan beberapa efek negatif, salah satunya adalah penurunan daya beli dan tingkat belanja masyarakat. Asumsinya seperti ini. Kenaikan harga BBM, minyak goreng, dan barang yang lain akan membuat ibu-ibu mengeluarkan biaya ekstra untuk berbelanja bahan kebutuhan sehari-hari.

Efeknya, mereka harus menurunkan alokasi belanja yang lain, apalagi jika pendapatan mereka tidak bertambah. Kemudian bisa jadi salah satu barang yang harus dipangkas dari rencana belanja bulanan salah satunya adalah produk dan layanan yang kamu tawarkan.

Nah, kalau sudah seperti itu, maka omzet bisnis bisa menurun. Keinginan masyarakat untuk membeli produk-produk tersier yang terkait gaya hidup akan menurun. Contohnya, makin sedikit orang yang nongkrong atau ngopi di kafe. Walaupun itu hanya asumsi, namun bisa jadi hal itu sudah terjadi saat ini.

Inflasi dan Suku Bunga

Apa hubungan antara inflasi dan suku bunga? Seperti disebutkan di atas, salah satu penyebab inflasi adalah jumlah uang beredar di masyarakat yang terlalu tinggi. Nah, salah satu instrumen untuk menstabilkan inflasi adalah melalui suku bunga. Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter biasanya menempuh kebijakan menaikkan suku bunga bank untuk menekan laju inflasi. Sebab dengan menaikkan suku bunga, keinginan masyarakat untuk meminjam uang akan menurun, sehingga peredaran uang di masyarakat berkurang.

Namun, bagi pebisnis dan masyarakat, kenaikan suku bunga berarti biaya pinjaman menjadi mahal karena cicilan akan naik. Tidak hanya suku bunga kredit usaha yang naik, suku bunga KPR juga akan mengalami kenaikan jika suku bunga acuan BI dinaikkan. Apalagi menurut data, sejak Februari 2021, BI tetap mempertahankan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,50%. Alasannya, BI mengharapkan suku bunga acuan yang rendah menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi untuk pulih dari pandemi.

Itu tadi beberapa efek yang mungkin terjadi akibat kenaikan harga BBM, barang, dan jasa bagi masyarakat dan pebisnis. Tulisan ini bukan bermaksud menakuti, hanya berusaha memberikan gambaran utuh untuk diketahui. Semoga bermanfaat!

 

Baca juga artikel lainnya

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP