fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Inspirasi Trik Marketing Ala ‘Efek’ IKEA Bagi Bisnis D2C

IKEA

Natalia Taylor, selebgram asal Amerika Serikat, membuat heboh usai mengunggah sejumlah foto liburannya di sebuah hotel mewah di Bali pada 2020. “The queen has arrived,” tulisnya dalam caption unggahan foto tersebut. Sejumlah foto yang dia tampilkan tampak glamor dan tentu saja mengundang banyak like

Kehebohan terjadi saat Taylor memberi klarifikasi melalui kanal YouTube miliknya, bahwa foto-foto tersebut ternyata tidak diambil di Bali, melainkan hanya di gerai toko furnitur IKEA di dekat rumahnya. 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Alhasil, para pengikutnya di Instagram yang berjumlah 310.000 akun dibuat terkejut. Taylor mengaku, dia memang sengaja mengerjai para pengikutnya karena penasaran apakah mereka akan benar-benar percaya bahwa dia sedang di Bali. Ternyata benar. 

Dia sebenarnya sedih sampai harus membuat prank bagi para pengikutnya. Namun dengan cara ini, dia hanya ingin menyampaikan pesan agar pengikutnya tidak mudah percaya dengan apa yang dilihatnya di jagat maya. “Terkadang, orang ingin berbohong mengenai diri mereka dan itu tampaknya mudah dilakukan,” ujarnya. 

Lucunya lagi, sebenarnya unggahan foto-fotonya pun tidak menunjukkan hal-hal ikonik di Bali. Anehnya, kok masih banyak yang mempercayainya. 

Bisa jadi karena netizen sekarang memang mudah percaya apa yang mereka lihat tanpa menelusuri lebih lanjut, atau memang harus diakui, cara IKEA merancang toko dan strategi marketingnya cukup manjur membuat mata orang terlena sampai mengabaikan hal-hal detil. 

Efek IKEA

Kamu masih ingat tidak saat pertama kali IKEA hadir di Indonesia? Pada tahun 2014 IKEA melakukan ekspansi bisnis ke Indonesia dengan membuka toko pertamanya di Alam Sutera, Tangerang. 

Toko  ini berluas 35.000 meter persegi dengan area parkir berdaya tampung sampai 1.200 mobil. Ketika itu belum ada bisnis furnitur yang begitu masif seperti itu. 

Tak perlu waktu lama sampai IKEA menjadi bagian dari gaya hidup. Saat itu, rasanya masih sampai saat ini, kalau belum ke IKEA berarti belum keren dan tidak update dengan tren kekinian. 

Padahal, sebelum IKEA masuk, berbelanja ke toko furnitur tidak pernah semenarik itu apalagi sampai menjadikannya sebagai spot wajib swafoto karena Instagramable. Herannya, nggak sedikit yang rela menempuh perjalanan jauh demi merasakan dan mendokumentasikan diri dia sudah menginjakkan kaki di IKEA. Hmm, jangan-jangan kamu salah satu di antaranya?

Berani Tampil beda

Tenang, bukan aib kok, tapi harus diakui bahwa bisnis furnitur asal Swedia ini menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda, yang menyentuh ranah personal kebutuhan manusia. 

Dengan kreativitasnya, IKEA tidak sekadar menawarkan produk furnitur tapi juga menawarkan konsep tata letak yang jadi impian banyak orang. Nah visualisasi tata letak ini juga menjadi semacam terapi ritel bagi pengunjungnya. Logikanya begini, peletakkan tempat tidur, kasur, bantal, dan furnitur pendukung lainnya yang tertata apik akan memicu respons positif otak pengunjung sehingga membuatnya merasa nyaman. Kan kalau sudah nyaman, biasanya jadi ingin memiliki. 

Asyiknya lagi, IKEA memberi kesempatan pada konsumennya untuk merakit dan merancang sendiri perabotan rumah sesuai keinginannya. Bisa jadi hasil rancangannya tidak terlalu ‘wah’, tapi perabot hasil rancangan dan rakitan sendiri pasti terasa lebih membanggakan. 

IKEA juga paham bagaimana meninggalkan kesan manis melalui makanan. Salah satu menu wajib dan favorit orang saat berkunjung ke restoran IKEA adalah Swedish Meatball. Menu ikonik ini ‘IKEA banget’. Rasanya tidak sedikit pengunjung datang bukan secara khusus untuk berbelanja furnitur, tapi sekadar mencicipi Swedish Meatball IKEA. 

Ini juga menjadi trik IKEA supaya pembelinya betah dan terus berbelanja. Seperti dikatakan Researcher and Associate Professor of Marketing di Tulane University Business School, Daniel Mochon.  “Jadi hal cerdas yang harus dilakukan adalah memiliki makanan di tengah pengalaman berbelanja, sehingga Anda dapat mengisi ulang, mengisi bahan bakar, berbelanja lagi, IKEA telah melakukan itu,” ujarnya. 

Melirik Konsep D2C IKEA

IKEANah, cara IKEA ini sebenarnya bagian dari konsep direct to consumer alias D2C. Pola marketing D2C biasanya mengedepankan proses personal selling. Proses ini juga harus dijalankan berurutan. 

Urutannya begini:

  • Pendekatan

    IKEA sepertinya paham benar kalau pasar Indonesia sangat potensial. Karakter konsumennya juga cenderung mudah membelanjakan uang, apalagi untuk sesuatu yang lagi jadi tren.

  • Presentasi

    Urusan ini IKEA juaranya. Bagaimana ia mempresentasikan produk jualannya, bahkan bisa sampai menipu ratusan ribu followers selebgram asal Amerika Serikat tadi tentu menjadi nilai lebih IKEA. Selain itu, secara berkala IKEA juga meluncurkan katalog yang dirancang serius.

  • Mengatasi Keberatan

    Di tahap ini kamu bisa mencari tahu apa yang menjadi keberatan konsumen lalu mencari solusi mengatasinya. IKEA melakukan ini dengan membiarkan konsumennya merancang dan merakit sendiri produknya. Dengan begitu IKEA bisa tahu apa yang menjadi keberatan konsumennya sebagai bekal memperbaiki produknya di kemudian hari.

  • Ditutup dengan Penjualan

    Pada akhirnya bisa mengarahkan pengunjung ke terjadinya transaksi pembelian tentu menjadi tujuan bisnis apa pun bukan?

Lima Trik Marketing IKEA Berhasil

Selain menjalankan pola bisnis furnitur secara D2C, setidaknya ada lima trik yang membuat strategi marketingnya  berhasil, yang bisa kamu adopsi untuk meningkatkan bisnismu:

Merek yang Konsisten Mengusung Tema dan Kreativitas

Ini yang membuat brand awareness nya sangat kuat. So, triknya, cari hal paling kuat dari merek yang kamu tawarkan dan jadikan itu landasan penggambaran atas merekmu.

Fleksibilitas

IKEA berasal dari benua Eropa, tentu tidak semua hal bisa diadopsi untuk pasar Indonesia. Maka fleksibilitas menjadi sangat penting. Kamu harus punya banyak opsi solusi untuk memenuhi kebutuhan konsumenmu supaya mereka loyal.

Ramah Lingkungan itu Terjangkau

Kamu pasti tahu tas belanja IKEA yang besar berwarna biru. Tas belanja ini juga ikonik, namanya Frakta. Tas belanja yang bisa dipakai ulang ini menunjukkan komitmen perusahaan pada keberlanjutan lingkungan.

Bocoran nih, salah satu pakar branding pernah menyampaikan, bahwa pandemi Covid-19 banyak mengubah perilaku konsumen, khususnya di Indonesia. Meski keuangan ketat akibat pandemi, tetapi masyarakat era pandemi ini tidak segan mengeluarkan kocek lebih dalam untuk produk atau jasa yang menyangkut kesehatan dan segala sesuatu yang berbau ramah lingkungan. 

Menampilkan Visualisasi Terbaik untuk Setiap Produk Furniturnya

Perhatikan deh, foto-foto produk di katalog IKEA itu tersaji dengan indah dan ditata serius. Melihat fotonya saja, kita seperti menikmati sebuah ajang pameran foto. Komposisi layout ruangan dan furnitur yang pas dipadu kualitas foto yang jempolan menghasilkan tampilan visual yang mengesankan. Alhasil konsumen jadi ‘terprovokasi’ untuk membeli.

Mengaburkan Batas Kenyataan

Tahun 2017 IKEA meluncurkan aplikasi augmented reality (AR). Dengan aplikasi ini konsumen bisa memvisualisasikan produk IKEA seolah berada di rumah mereka. Pengalaman ini membuat konsumen bisa mengira-ngira apakah produk tersebut cocok di rumah mereka saat belanja online. 

Intinya, di era digitalisasi ini, kamu mesti cerdik-cerdik memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memasarkan produkmu. Salah satunya dengan berjualan pakai LummoSHOP. 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Melakoni bisnis, apalagi bisnis online di masa sekarang meski dimudahkan dengan kemajuan teknologi, tapi tetap punya tantangannya sendiri. Kompetitor semakin banyak, konsumen pun punya banyak pilihan. Harga murah bukan alasan utama, kreativitas mengelola produk dan merek itu kunci keberlanjutan usaha.