fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Kenali Habit Konsumen Fashion Online dari Generasi Z

generasi z

Bicara industri fashion online, tidak bisa dilepaskan dari generasi Z dan milenial karena merekalah segmen yang paling sering belanja online. Lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang pesat, menjadikan mereka terbiasa dengan berbagai kecanggihan teknologi dalam keseharian. Internet telah menjadi gaya hidup, dan mereka pun terbentuk menjadi generasi yang terbiasa memenuhi kebutuhan lewat bantuan internet.

Generasi ini sangat banyak jumlahnya. Menurut sensus penduduk Indonesia 2020 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa sementara generasi milenial (lahir 1981—1996) sebanyak 69,90 juta jiwa. Secara persentase, jumlah kedua generasi itu mendominasi lebih dari separuh jumlah penduduk.

Jumlah yang sangat banyak dan lekat dengan dunia maya membuat kedua segmen usia itu menjadi sasaran berbagai brand pakaian. Namun meski jumlahnya besar, mereka punya habit tersendiri dalam belanja pakaian secara online. Sebagai pelaku bisnis fashion, kamu harus mampu menyesuaikan karakteristik mereka dengan metode pemasaran online yang tepat agar cuanmu maksimal. 

Buat kamu yang sudah terjun di industri fashion online, rangkuman hasil beberapa riset di bawah ini sangat menarik dicermati. Identifikasi dan kenali habit mereka saat berbelanja, rumuskan menjadi strategi pemasaran online yang tepat, agar mereka rela menjadi pelanggan setia.

 

Konsumen Fashion Online, Siapakah Mereka? 

Belanja online menjadi salah satu aktivitas yang dilakukan generasi Z dan sebagian besar milenial. Tidak perlu keluar rumah, belanja dapat dengan mudah dilakukan lewat gawai di mana saja. Ketimbang datang ke outlet atau mall, mereka memilih belanja pakaian secara online.

Layaknya perilaku konsumen offline, setiap orang juga punya kebiasaan sendiri dalam belanja pakaian secara online. Sebagian mengincar brand tertentu. sebagian lainnya membeli karena tawaran diskon yang menggiurkan.

Survei yang dilakukan Populix terhadap lebih dari 2.000 orang tentang kebiasaan belanja gen Z di Indonesia pada kuartal kedua tahun 2021 lalu, mengungkapkan fakta yang bisa menjadi insight penting untuk menyiapkan strategi pemasaran online produk fashionmu. Berikut data-datanya: 

  1. Brand Explorer

Coba perhatikan data hasil riset Populix berikut: 62,65% generasi Z yang disurvei menyatakan dirinya tidak terpaku pada satu brand saja ketika berbelanja. Itu artinya, mereka ternyata tidak terlalu ‘picky’ terhadap brand pakaian. 

Begitulah, belanja online pada dasarnya memungkinkan konsumen untuk melihat lebih banyak brand pakaian. Mulai dari produk lokal hingga impor, semuanya tersedia ketika berbelanja online. Namun, bukankah data ini sekaligus menggambarkan sebuah peluang bagi brand yang masih berjuang untuk unjuk diri? 

Hasil riset tersebut sekaligus mengonfirmasi anggapan bahwa Gen Z cenderung eksploratif dalam hal busana. Dan dibandingkan perempuan, konsumen laki-laki dari generasi Z lebih berani mengeksplorasi berbagai brand pakaian.

Namun begitu, segmen yang ‘picky’ terhadap brand ternyata juga masih ada. Lebih dari 23% generasi Z mengaku hanya percaya pada brand tertentu. Loyalitas ini pula yang membuat mereka rutin memantau media promosi brand pilihannya untuk mendapatkan informasi produk terbaru atau sekadar memburu potongan harga.

generasi z

  1. T-Shirt & Outer Paling Dicari

Perkara kreatifitas berbusana, Gen Z paling handal memilah item fashion untuk bergaya. Mereka jagonya padu padan beberapa item fashion untuk tampil eye catchy. Dan untuk memenuhi kebutuhan beragam item fashion itu, channel apa lagi yang ditelusur kalau bukan toko online?

Pertanyaan selanjutnya, produk fashion apa saja yang paling dicari? Berdasarkan survei Populix, 47,72% responden dari segmen pria mengaku kaos oblong lah yang menjadi produk yang paling diincar. Sementara segmen perempuan, lebih banyak mengincar pakaian luaran seperti sweater, cardigan, jaket, blazer dan jenis-jenis outer lainnya. 

Item perburuan di urutan berikutnya adalah kemeja dengan total pemilih sebanyak 15,91%. Untuk item ini, peminatnya merata baik laki-laki laki maupun perempuan. Selanjutnya, celana menempati urutan berikutnya dengan persentase mencapai 13,67%. 

 

  1. Pilih Rekomendasi Teman Ketimbang Ikut Tren

Kalau ada pemain industri fashion yang percaya bahwa konsumen Gen Z bisa didikte dengan tren yang dimunculkan melalui endorsing selebritis, internet, maupun media massa, ia harus hati-hati. Persepsi itu bisa menjadi jebakan. Meski kehadiran tren fashion dapat mendongkrak minat masyarakat pada brand tertentu, tidak semua tren yang populer di dunia diminati di Indonesia. 

Fenomena tren fashion ternyata tidak terlalu dipersoalkan generasi muda. Ketimbang mengikuti tren yang dipicu selebriti, internet maupun media massa, gen Z ternyata lebih mempercayakan urusan brand pakaian kepada rekomendasi teman atau kerabat sekitar. Lebih dari 68% responden yang diriset Populix menyatakan sangat mempertimbangkan rekomendasi teman untuk memilih brand pakaian.

Keunikan generasi Z Indonesia yang tidak gampang terbawa tren fashion ini penting kamu perhatikan untuk menentukan strategi komunikasi pemasaran bisnis-mu. Saat suatu tren muncul, kamu tidak perlu buru-buru menghadirkan produk yang mirip dengan tren tersebut. Ingat-ingat saja, membaca kebutuhan pasar jauh lebih penting ketimbang latah. Alih-alih dapat untung, bisa-bisa kamu buntung karena pasar tidak ternyata memberikan respons seperti yang kamu prediksi. 

 

  1. Hati-hati Pasang Harga Murah

Mari perhatikan juga data berikut ini: 58,69% responden setuju lebih mementingkan kualitas daripada harga miring. Dan lebih dari 18% di antaranya menyatakan sangat setuju kalau kualitas lebih penting daripada harga.

Jelas ya, gen Z ternyata lebih memprioritaskan kualitas daripada harga murah. Mereka adalah golongan perfeksionis dan high quality consciousness, yang rela merogoh kocek lebih dalam asalkan mendapat produk bermutu. Mereka adalah segmen yang mengutamakan konsistensi kualitas ketimbang mempertimbangkan diskonan. 

64,32% generasi Z dalam survei Populix percaya bahwa kualitas akan berbanding lurus dengan harga. Lebih jauh lagi, sebagian besar bahkan kerap mengidentifikasikan harga murah dengan kualitas rendah. 

Memang benar bahwa mereka menikmati fitur-fitur yang “memanjakan” yang disediakan semua situs marketplace untuk memilah produk berdasarkan anggaran atau harga tertentu. Namun, fitur tersebut ternyata tidak memengaruhi keputusan mereka dalam menentukan pilihan. Bagi gen Z, fitur tersebut sekadar sarana berselancar dan bersenang-senang saat sedang melakukan online window shopping.

Perhatian gen Z yang tinggi terhadap standar kualitas produk ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku bisnis fashion untuk membangun kepercayaan konsumen.

  1. Ingin Belanja Online yang Nyaman

Kecenderungan perfeksionis dan berorientasi pada kualitas membuat generasi Z Indonesia menginginkan informasi lengkap mengenai produk pakaian yang akan dibeli. Masalahnya, saat belanja secara online kita tidak akan bisa melihat dan merasakan sentuhan fisik secara langsung dengan produk pakaian yang kita incar. Keterbatasan itu tentu saja menjadi kesulitan tersendiri bagi pelaku bisnis fashion online untuk membuktikan kualitas produknya.

Kalau itu yang terjadi pada bisnis fashionmu, kamu bisa mengambil celah pembuktian dengan meningkatkan kenyamanan konsumen saat berbelanja di toko onlinemu. 

Salah satu cara jualan online yang penting adalah tersedianya foto dan video produk secara detail. Tampilkan spesifikasi produk pakaian secara detail untuk membangun kepercayaan konsumen. Jaga tampilan website dan media promosi brand agar nyaman dilihat dan dipelajari. Karena kenyamanan menjadi faktor penting saat mereka menentukan pilihan.

  1. Pilih Jasa Kirim Reguler

Pilihan jasa pengiriman paket juga menjadi salah satu pertimbangan konsumen online saat berbelanja fashion. Menjamurnya jasa ekspedisi pengiriman paket merupakan kelebihan bagi pelanggan karena memberikan lebih banyak pilihan pengiriman. Selain itu, paket pengiriman yang terbagi atas reguler dan ekspres membuat mereka bisa mempertimbangkan pilihan kategori produk sesuai efisiensi waktu dan uang.

Paket pengiriman apa yang mereka sukai? Lebih dari 89,5% konsumen ternyata memilih paket regular. Faktor sampai tepat waktu dan harga yang lebih murah menjadi dua alasan tertinggi.

Berbanding jauh dengan paket ekspres yang berada pada persentase 21,6%. Paket pengiriman ekspres hanya mendapatkan sedikit peminat. Rata-rata konsumen jasa logistik jenis ini memilih hanya untuk kebutuhan darurat atau saat belanja produk yang tidak tahan lama.

generasi z

  1. Online Marketplace Paling Populer

Dari banyaknya platform, nyatanya marketplace masih menjadi tempat favorit bagi para pelanggan untuk melakukan aktivitas belanja online. Walaupun beberapa media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok mulai meluncurkan fitur Shop, hal itu tidak serta merta membuat marketplace turun posisi. Banyaknya promo, transaksi yang aman, ragam metode pembayaran, dan gratis ongkir menjadi empat alasan teratas marketplace digandrungi pelanggan.

Hadirnya banyak pilihan marketplace, membuat pelanggan tidak terpaku hanya pada satu kanal marketplace. Hal tersebut terlihat dari survei yang menyebutkan sebanyak 85,2% pelanggan menggunakan lebih dari satu marketplace. 

Kategori penjual di marketplace pun dikategorikan lewat official store, star seller, dan toko biasa. Official store (47,6%) menjadi pilihan utama pelanggan karena sudah terverifikasi (62,3%) dan review-nya bagus (56,8%). Di samping itu, promo yang diberikan (34,6%) juga menggugah hati.

 

  1. Perempuan: belanja sedikit tapi sering

Menilik dari sisi gender, perempuan lebih sering berbelanja online daripada pria. Akan tetapi nilai rata-rata transaksi perempuan ternyata lebih rendah dibandingkan segmen pria. Diketahui, kaum laki-laki lebih banyak belanja produk yang lebih mahal dalam sekali transaksi, ketimbang perempuan yang sering belanja tapi dengan harga yang lebih murah.

Dari segi kanal belanja, perempuan cenderung membeli produk lewat marketplace (91%) ketimbang pria (81,4%). Kategori produk yang paling sering dibeli perempuan terjadi pada produk fashion dan aksesoris (75,6%). Disusul oleh perawatan kecantikan (57,7%), serta pulsa dan voucher (45,2%).

Di luar data-data di atas, kamu pasti juga menemukan fakta-fakta lain di lapangan. Silakan dipadukan, mudah-mudahan bermanfaat sebagai consumer insights guna  untuk mempertajam strategi pemasaran produk fashion di toko online-mu.