fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Ketahui Keinginan Konsumen di 2022

“Jika kamu fokus pada kompetitor, kamu harus menunggu sampai kompetitor melakukan sesuatu. Sedangkan fokus kepada konsumen lebih memungkinkan kamu menjadi pelopor.” – Jeff Bezos

 

Kelangsungan hidup bisnis memang bergantung dengan produk yang dihasilkan pebisnis. Namun, untuk dapat memproduksi sesuatu yang menarik minat konsumen bukanlah hal yang mudah. Padahal tanpa adanya konsumen, produk kita tidak akan berarti alias usang tidak terpakai. 

Sementara itu, konsumen juga memiliki standar yang berbeda dalam menilai suatu produk. Meskipun begitu mereka memiliki satu kesamaan yaitu membeli untuk memenuhi kebutuhan dan atau keinginan. 

Kecenderungan lainnnya, konsumen biasanya menyukai produk yang harganya murah, beragam, dan mudah didapat. Bukan berarti yang harganya mahal, limited, dan prosesnya lama seperti produk handmade tidak ada yang menyukainya. Hanya saja kondisi pasar pada umumnya lebih cepat akan perputaran produk yang harganya murah, beragam, dan mudah didapat.

Dengan adanya persaingan bisnis online di era D2C atau direct to consumer sebetulnya sudah mewakili kebutuhan dan keinginan konsumen akan produk yang mudah didapat. Namun tidak menutup kemungkinan, kebutuhan atau keinginan konsumen mengalami pergeseran karena pengaruh tren yang ada. Seperti kamu tahu, kondisi pasar itu rentan terhadap tren. Jadi sudah sewajarnya konsumen sebagai pelaku di dalamnya pun begitu.

Sebelum kami membahas lebih dalam tentang tren bisnis di tahun 2022 yang akan mempengaruhi kebutuhan dan keinginan konsumen, sebaiknya kamu perlu tahu hal dasar tentang produk dimulai dari karakteristiknya terlebih dulu. Yuk, disimak!

 

Karakteristik Produk yang Disukai Konsumen Secara Umum

Mudah Digunakan

Mudah digunakan berarti produk tersebut tidak membutuhkan petunjuk khusus dan langsung dapat digunakan atau petunjuk yang ada sudah jelas dalam menerangkannya sehingga konsumen menjadi mudah memahaminya. Contohnya adalah produk dari IKEA. Konsumen dapat dengan mudah melakukan pembelian perabotan secara terpisah atau belum dirakit lalu membawanya ke rumah dan merakitnya sendiri dengan cara mengikuti buku petunjuk yang ada.

Tahan Lama

Produk yang tahan lama akan membuat konsumen merasa tidak akan sia-sia untuk mengeluarkan harga lebih mahal. Kualitas produk benar-benar dipertaruhkan karena produk yang tidak mudah rusak itu memenangkan persaingan pasar. Bahkan terkadang konsumen akan rela membayar lebih asal produk tersebut lebih tahan lama dibanding yang lain. Contohnya sepatu Nike yang kualitasnya sepadan dengan harganya.

Murah

Pernah mendengar ada harga ada rupa? Karakteristik produk sejatinya seperti itu. Sama dengan perumpamaan high risk high return. Tapi pada faktanya, konsumen cenderung lebih menyukai produk murah. Namun, bukan berarti murahan, ya. Siapa coba di sini yang tidak pernah menawar harga produk? Kalau bisa dapat diskon plus plus, kenapa tidak? Contohnya thrift shop barang branded yang terkenal murah tetapi kondisinya masih oke punya.

Kemasan Menarik

Saat ini konsumen sudah lebih selektif dalam memilih produk. Tidak hanya kualitasnya, tetapi lebih detail lagi hingga ke kemasan yang ada. Tidak heran pebisnis berlomba-lomba menciptakan kemasan yang fungsional juga unik. Contohnya kemasan minuman dan makanan Menantea yang dapat dijadikan satu dan menawarkan nilai praktis kekinian di kalangan anak muda.

 

Menciptakan Brand Image yang Baik untuk Menarik Konsumen Sehingga Merasa Memerlukan Produk yang Kamu Jual

Brand image adalah kesan merek yang melekat di ingatan konsumen terhadap sebuah merek. Hal tersebut menjadi penting sebagai pembeda antara perusahaan yang satu dengan lainnya. Sehingga brand image akan membentuk Unique Selling Point. Jika sudah terbentuk dengan baik maka bukan kamu yang akan mengejar konsumen, tapi sebaliknya, lho!

Membangun brand image memang tidak mudah. Namun begitu brand image sudah melekat di ingatan konsumen dan dapat menjadikan perusahaan kamu berbeda dengan kompetitor, itu akan berimbas pada keberlangsungan bisnis kamu ke depan.

Nantinya setiap produk yang segera kamu luncurkan akan dapat mendapat kepercayaan konsumen secara langsung sebelum dicoba. Contohnya saja McD yang selalu mengeluarkan berbagai varian baru dan selalu membuat konsumen rela antri untuk mendapatkannya.

Maka dari itu kamu perlu mengetahui cara untuk menciptakan brand image sebelum dapat menarik minat konsumen. Caranya adalah dengan memiliki positioning, brand value, dan konsep yang tepat. Harapannya, kesan positif yang dirasakan konsumen nantinya akan membuat mereka loyal meskipun saat itu konsumen merasa belum benar-benar butuh akan produk kamu. Itulah mengapa kebutuhan dan atau keinginan konsumen bisa saling melengkapi sebagai daya tarik sebuah produk.

 

Apa yang Pembeli Masa Kini Inginkan di Era Tren Bisnis 2022?

Setelah kamu sudah tahu bagaimana caranya menarik hati konsumen, kini saatnya kamu lebih fokus lagi untuk dapat benar-benar memenuhi keinginan konsumen di masa yang akan datang, yaitu era tren bisnis 2022. Sudah bisa kamu bayangkan betapa maraknya model bisnis D2C akan merajalela di tahun depan?

Saat ini saja sudah ada banyak brand rintisan hingga besar yang mulai aktif berjualan di website pribadi mereka. Sebut saja Brodo dan Cottonink di Indonesia. Atau yang lebih besar lagi adalah Casper dan Allbirds yang target pasarnya sudah secara internasional. Pergeseran tren itu dimulai dengan masyarakat yang mulai beradaptasi di tengah pandemi untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya melalui transaksi e-commerce.

Tahukah kamu? Bank Indonesia memperkirakan transaksi e-commerce naik 33,2% dari  Rp226,3 triliun pada 2020 menjadi Rp337 triliun tahun 2021. Tren yang terus meningkat ini terjadi karena dampak dari pandemi. Selain itu, transaksi layanan digital bank berupa penggunaan uang elektronik juga diperkirakan nilai transaksinya naik 32,3% menjadi Rp266 triliun pada 2021. Angka yang sungguh fantastis!

Simplicity is the new luxury. Inilah yang sedang konsumen inginkan di era D2C saat ini. Praktis untuk mendapatkan yang mereka butuhkan dan atau inginkan. Sebagus apa pun produknya, jika konsumen merasa kesulitan untuk mendapatkannya, mereka akan mundur dan memilih produk penggantinya yang lebih mudah didapatkan secara online.

Sejatinya model bisnis D2C atau direct to consumer tidak hanya menguntungkan pihak konsumen dalam hal kemudahan. Namun model bisnis ini juga memiliki keunggulan dari sisi pebisnis, yaitu:

  • Tidak perlu memikirkan laba
  • Bebas menentukan metode penawaran produk
  • Mudah mengidentifikasi data konsumen
  • Terjalin hubungan erat dengan konsumen

Dari keunggulan mudah mengidentifikasi data konsumen dan terjalin hubungan erat dengan konsumen, kamu sebagai pebisnis dapat dengan mudah memetakan apa yang menjadi kebutuhan dan atau keinginan konsumen. Sehingga nantinya data tersebut dapat kamu proyeksikan menjadi sebuah produk dengan value yang menarik minat konsumen. 

 

Bagaimana cara memetakan kebutuhan dan atau keinginan konsumen?

Manfaatkan social commerce bisnis kamu. Itulah cara cepat hemat biaya yang sering dilakukan pebisnis lain. Misalnya kamu bisa membuat mini survei di story media sosial kamu semacam permainan this or that yang sedang tren. Konsumen pun tidak akan merasa dirinya sedang disurvei. Karena survei dilakukan dengan menarik. 

Survei dapat dilakukan pada pelanggan loyal kamu dan akhiri dengan hadiah kecil tanda terima kasih membuat jalinan silaturahmi dengan pelanggan pun kian hangat. 

Nantinya agar data konsumen yang kamu dapati akurat dan cukup mewakili jawaban secara keseluruhan, kamu dapat melakukan mini survei tadi secara berulang dengan pertanyaan yang sama. Jadilah sederet daftar kebutuhan dan keinginan konsumen yang dapat membantu kamu untuk pengembangan produk selanjutnya. Mudah, kan?

Wahai pebisnis, sudah siapkah kamu menciptakan keinginan konsumen di tahun 2022 nanti? Jangan lupakan quote pembuka di awal, ya. Fokus pada produk, bukan kompetitor. Alhasil produk yang akan kamu ciptakan penuh dengan inovasi yang cocok untuk menjawab tantangan tren bisnis 2022 di era model bisnis D2C nantinya. Tetap semangat!