fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Ingin Tahu Perkembangan Bisnismu? Pahami Key Performance Indikator

Key performance indicator

Key Performance Indicator (KPI) penting untuk mengetahui perkembangan bisnismu. Sebagai pengusaha, kamu pasti tahu, setiap bisnis butuh evaluasi kerja. Tak cukup untuk dirimu sebagai leader, setiap anggota tim atau karyawanmu juga mesti paham seberapa efektif kinerja mereka.

Nah, untuk mengukur efektivitas kinerja karyawan itulah perusahaan biasanya menggunakan key performance indicator. Dari KPI itu—yang sering juga disebut key success indicator (KSI) atau Indikator Kinerja Utama (dalam bahasa Indonesia), kamu bisa menyusun strategi bisnis ke depan.

Key performance indicator

Definisi Key Performance Indicator

Ada banyak ahli manajemen yang mendefinisikan KPI dalam redaksional berbeda, namun pengertiannya masing-masing sebenarnya tidak berbeda jauh.  

David Parmenter dalam bukunya “Key Performance Indicator” yang terbit tahun 2007 sudah menyebut KPI sebagai hal paling kritikal untuk kesuksesan organisasi pada kondisi terkini dan di masa mendatang. “Raja” KPI ini menuliskan bahwa Key Performance Indicator adalah metrik finansial maupun non finansial yang berguna membantu suatu organisasi menentukan dan mengukur kemajuannya.

Empat tahun kemudian, J. Warren (2011) dalam buku berjudul sama dengan karya Parmenter menyebutkan, KPI memiliki pengertian sebagai sebuah pengukuran yang berguna untuk menilai tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan visi strategis tertentu. Visi strategis itu sendiri merupakan tujuan yang merujuk kepada cara organisasi supaya dapat terintegrasi secara interaktif dalam keseluruhan strateginya.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Mirip dengan Warren, pada tahun 2012, Iveta Gabcanova mengatakan, KPI adalah titik awal penentuan tujuan dan penyusunan strategi organisasi. Iveta sendiri mendefinisikan KPI sebagai ukuran yang bersifat kuantitatif dan bertahap bagi perusahaan, yang memiliki berbagai perspektif dan berbasiskan data konkrit.

Benang merah dari semua definisi itu adalah pengukuran kinerja organisasi (atau proyek/unit kerja/departemen bahkan individu) guna mencapai sasaran dan tujuan strategisnya. Bukan hanya melalui besaran angka, performance itu juga mesti sesuai dengan bisnis awal.

Sebagai satuan ukur performa KPI, semua orang yang tergabung dalam perusahaan/organisasi mesti terlibat dan mendapatkan sosialisasi agar memiliki pemahaman yang sama. Perkara periodenya, pengukuran KPI bisa berlangsung dalam hitungan hari, pekan atau bulan. 

Indikator KPI

Pada umumnya, indikator yang menjadi ukuran KPI merupakan hasil kesepakatan dari semua pihak terkait. Masing-masing organisasi akan menetapkan indikator berbeda-beda, tergantung pada karakteristik industri dan strategi organisasinya. 

Untuk sekolah, misalnya, indikator kinerja terukur biasanya adalah tingkat kelulusan siswa. Sementara pada perusahaan properti, indikatornya adalah tingkat penjualan. 

Ada juga yang menetapkan indikator berdasarkan jumlah output pada bulan tertentu, serta ketepatan pengiriman barang ke pelanggan. Sementara untuk perusahaan aplikasi startup, para pelakunya biasanya mengukur KPI berdasarkan jumlah pemakai dan pengunduh aplikasinya. 

Kriteria Key Performance Indicator yang Bagus

Melansir KPI.org, setidaknya ada 5 kriteria agar sebuah KPI bernilai bagus. Masing-masing adalah: 

  • Memberikan bukti obyektif kemajuan menuju pencapaian/hasil yang diinginkan. 
  • Mengukur sebuah indikator untuk membantu proses pengambilan keputusan yang lebih baik. 
  • Menawarkan perbandingan tingkat perubahan kinerja dari waktu ke waktu. 
  • Dapat melacak efisiensi, efektivitas, kualitas, ketepatan waktu, tata kelola, kepatuhan, perilaku, ekonomi, kinerja proyek, kinerja personel atau pemanfaatan sumber daya, serta
  • Seimbang antara indikator leading dan lagging

Fungsi Key Performance Indicator bagi Bisnis

Ada banyak fungsi KPI bagi bisnis. Satu yang paling strategis adalah sebagai matrik bagi manajemen perusahaan atau pemangku kepentingan (stakeholder) untuk memahami apakah organisasi/unit kerja bersangkutan sudah berada pada jalur yang sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan bersama atau belum. Dalam konteks profesional, pengukuran KPI juga memungkinkan perusahaan untuk memahami posisi perusahaan dan pencapaian yang telah diraih.

Tak hanya untuk mengevaluasi performa positif, KPI juga bisa menjadi cermin untuk melihat tantangan atau hambatan unit bisnis suatu perusahaan. Jika dilakukan secara berkelanjutan, angka KPI bisa menjadi perbandingan untuk melihat tingkat pertumbuhan perusahaan. Angka ini riil berasal dari lapangan, bukan sekadar estimasi belaka. Melalui KPI, perusahaan bisa menentukan langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan pada masa mendatang.

Cara Merancang KPI dan Contoh Penerapannya

Sebagai alat ukur performa kegiatan bisnis, KPI menggunakan beberapa metrik yang mungkin saja berbeda antar industri, departemen atau area. Meski berada pada industri yang sama, KPI untuk satu divisi bisa saja berbeda dengan divisi lainnya karena memiiki fokus berbeda.  

Oleh karena itu, langkah-langkah untuk menentukan metrik KPI yang tepat  juga harus menyesuaikan dengan tujuan masing-masing organisasi. Namun secara garis besar, penyusunan KPI harus memperhatikan beberapa ketentuan di bawah ini : 

  1. Pilih KPI Sesuai Tujuan Bisnis

Dari sisi skala, KPI dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe yaitu 

    • KPI untuk perusahaan secara keseluruhan,
    • KPI Departemen atau Divisi, dan 
    • KPI Individu. 

Meski memiliki tujuan akhir yang sama, masing-masing  tipe KPI tersebut bisa jadi memerlukan sarana dan kendaraan sendiri untuk sampai ke tujuan. 

Sebagai contoh, KPI bagi perusahaan yang ingin menjadi market leader adalah dapat memilih metrik area asal konsumen, peningkatan pendapatan, dan retaining customer. 

Contoh lain adalah  KPI untuk Departemen/Divisi Digital Marketing.  Dalam hal ini, target KPI mereka biasanya tidak jauh dari pencapaian followers baru dalam jumlah tertentu di media sosial, tingkat engagement unggahan instagram, jumlah konten yang terunggah di akun media sosial dan sebagainya.

  1. Fokus pada Beberapa Metrik Utama

Betul, ada banyak metrik yang dapat digunakan sebagai alat ukur performa perusahaanmu. Meski begitu, kamu harus menentukan beberapa metrik yang bisa menjadi perioritas dalam periode waktu tertentu. 

Ingat, semakin banyak metrik, akan semakin sulit untuk mengukur pencapaian organisasimu. Tapi kalau hasil akhir menunjukkan adanya perubahan, boleh saja kamu mengubah KPI setelahnya. 

  1. Mempertimbangkan Skala dan Tahap Pertumbuhan Bisnis

Tahap pertumbuhan bisnis juga dapat menjadi variabel penting dalam menentukan metrik KPI yang sesuai. Jadi kalau misalnya perusahaan baru saja merilis sebuah produk baru, kamu bisa memilih metrik-metrik yang berhubungan dengan awareness

Key performance indicator

Jenis-Jenis Key Performance Indicator

Terkait tujuan strategis perusahaan, secara garis besar ada dua jenis Key Performance Indicator yaitu KPI FInansial dan KPI Non Finansial. Berikut penjelasannya.

  1. Key Performance Indicator Finansial

KPI Finansial adalah indikator kinerja utama yang berkaitan dengan keuangan. Contoh KPI Finansial antara lain:

    • KPI Laba Kotor (Gross Profit), yaitu KPI yang mengukur jumlah uang tersisa dari pendapatan setelah dikurangi Harga Pokok Penjualan (HPP).
    • KPI Laba Bersih (Net Profit), mengukur jumlah uang yang tersisa dari pendapatan setelah dikurangi HPP dan biaya-biaya bisnis lainnya seperti biaya bunga dan pajak.
    • KPI Marjin Laba Kotor (Gross Profit Margin (Marjin Laba Kotor), mengukur nilai persentase dari pembagian Laba Kotor dengan Pendapatan. KPI ini dapat menjawab pertanyaan seperti: Seberapa untung suatu bisnis, atau seberapa efisien proses produksi.
    • KPI Marjin Laba Bersih (Net Profit Margin), mengukur nilai persentase dari pembagian laba bersih berdasarkan pendapatannya.
    • KPI Rasio Lancar (Current Ratio), mengukur kinerja keuangan necara likuiditas dengan cara membagi aktiva lancar (current assets) dengan Kewajiban lancar (current liabilities). KPI ini  secara efektif menjawab pertanyaan :  seberapa cepat bisnis bisa mengubah aset lancar menjadi uang tunai untuk membayar kewajiban jangka pendek. Serta memperkirakan seberapa baik suatu bisnis akan bertahan kalau mengalami penurunan tiba-tiba.
  1. Key Performance Indicator Non-Finansial

KPI Non-Finansial merupakan KPI yang  tidak mempengaruhi keuangan perusahaan secara langsung. Contohnya :

    • Perputaran Tenaga Kerja (Manpower Turnover)
    • Rasio Pelanggan Berulang terhadap Pelanggan Baru (Repeat Customer to New Customer Ratio)
    • Pangsa Pasar (Market Share)
    • KPI yang berhubungan dengan awareness misalnya qualitative feedback, customer interview, dan stickiness.
    • Jika sudah mulai tahap ekspansi, contoh KPI yang tepat adalah cost per acquisition (proses mendatangkan customer baru), average order size (rata-rata jumlah order per orang), customer lifetime value (nilai dari pelanggan sebuah perusahaan) number of customers acquired (jumlah pelanggan) dan metriks kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction metrics).

Demikian seluk beluk tentang Key Percormance Indicator atau KPI. Kamu bisa menerapkan mana yang sesuai dengan keperluan dan tahap perkembangan bisnismu.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Published by Emilia Natarina

Content Marketing LummoSHOP