fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Manfaat Food Photography bagi Pebisnis Kuliner, Berikut Sejarahnya

manfaat food photography

Industri makanan tentu sangat lekat dengan fotografi produk. Selain untuk memberikan gambaran kepada konsumen mengenai kondisi produk, manfaat food photography juga memungkinkan pebisnis kuliner menggaet lebih banyak konsumen dengan tampilan visual yang menarik.

Nah meski terlihat modern, tetapi perkembangan food photography telah mengemuka sejak tahun 1800-an. Bermula sejak kemunculan fotografi makanan untuk pertama kalinya, teknik pemotretan pun mengalami banyak proses evolusi hingga mencapai titik modern seperti sekarang.

(Baca juga: Trik Foto Produk agar Website Bisnis Online Naik Kelas)

Sejarah Perkembangan Food Photography

Bermula sejak tahun 1800-an, bagaimana perkembangan food photography dari gambar hitam putih hingga menjadi gambar penuh warna pada era sekarang?

Bermula pada Tahun 1800-an

Sesuai dengan keterangan waktu, tentu kita tidak bisa mengharapkan teknik food photography yang mutakhir pada tahun 1800-an. Pada saat itu, seseorang bernama William Henry Fox Talbot memperkenalkan foto produk berwarna hitam putih pada 1845.

Layaknya objek lukisan, kamu dapat melihat food photography pada era tersebut dengan ciri khas objek foto berupa buah-buahan di dalam keranjang. Bukannya tidak sengaja, pemilihan tata letak dan objek yang sangat mirip dengan objek lukisan (buah di dalam keranjang) tersebut memang masih terpengaruh teknik lukis kala itu.

Sementara itu, hasil fotografi produk William Henry Fox Talbot yang terkenal adalah berjudul A Fruit Piece dengan objek foto berupa nanas dan buah persik di dalam keranjang. Meskipun pemilihan objek dan tata letak terbilang klasik, tetapi masih banyak food photography menggunakan teknik serupa hingga sekarang.

Sentuhan Warna & Bentuk pada Food Photography 1900-an

Tidak terlalu lama berkutat dengan karya foto hitam putih, pada tahun 1910, seorang fotografer bernama Wladimir Schohin berhasil menambahkan pigmen warna dengan memodifikasi tepung kentang melalui teknik autochrome.

Teknik foto yang mulai mengeksplorasi bentuk serta bayangan produk melengkapi perkembangan food photography pada generasi ini. Jika sebelumnya objek foto belum mengenal teknik pencahayaan, pada tahun 1927 Edward Steichen memperkenalkan foto dengan bayangan objek di dalamnya.

Dengan adanya eksplorasi bentuk dan bayangan, teknik fotografi produk kala itu berkembang lebih dinamis dengan unsur bayangan dan penekanan pada tekstur dan bentuk objek makanan.

Perkembangan Food Photography di Dunia Periklanan pada 1930 – 1940-an

Ternyata, perkembangan food photography makin cepat merambah bidang periklanan. Setelah inovasi penambahan pigmen warna berhasil, fotografi produk pun mulai diadaptasi ke dalam berbagai bentuk iklan atau produk komersial lain.

Setelah itu, banyak yang membuat fotografi produk pada iklan maupun buklet makanan yang berisi banyak foto produk berwarna. Tentu, dengan adanya permintaan masif dari bidang periklanan, perkembangan food photography lebih cepat melesat. Penekanannya lebih banyak terhadap komposisi warna, saturasi serta tingkat kekontrasan di dalamnya.

Pada masa tersebut, fotografi produk mencapai titik di mana para fotografer mulai meninggalkan ‘produk asli’ dengan cara menambahkan busa palsu serta menambah kilau pada makanan dengan berbagai zat aditif. Tujuannya, agar tampilan produk makanan lebih menggoda mata konsumen. Teknik inilah yang kemudian dapat kita lihat pada zaman sekarang di mana makanan pada iklan komersial lebih menarik tampilannya daripada makanan asli yang tersaji saat kita membelinya di gerai.

Masuknya Inovasi Teknologi pada 1950-an

Pernahkah kamu melihat hasil fotografi di mana suatu benda dipotret saat gaya gravitasi seakan berhenti? Nah, teknik tersebut diperkenalkan oleh profesor MIT bernama Harold Edgerton dengan shutter motor dan strobe light-nya.

Pada salah satu eksperimen yang disebut Milk Drop Coronet, tim pengembang mencoba memotret tetesan susu di mana tetesan tersebut seakan membeku di udara sebelum jatuh. Teknik ini kemudian berkembang dan terus digunakan hingga sekarang.

Perkembangan Properti Fotografi pada Tahun 1980an

Setelah sukses dengan teknik membekukan gravitasi menggunakan shutter motor, perkembangan food photography makin pesat dengan penambahan berbagai properti pada tahun 1980-an.

Bukan hanya kamera yang terus berevolusi ke fitur-fitur modern, tetapi juga penggunaan latar foto atau backdrop. Hasil foto pun menjadi lebih hidup dengan story line serta penggunaan objek tambahan guna menciptakan suasana tertentu di dalamnya.

Selain itu, hasil foto pada 1980-an menunjukkan lebih banyak eksplorasi sudut pengambilan gambar serta pengaplikasian teknik shallow depth of field. Shallow depth of field merupakan pengambilan gambar dengan mengambil satu titik fokus dan membuat objek di sekitarnya blurred atau kabur. Teknik ini membuat hasil foto terlihat profesional dan fokus pada objek utama.

Manusia sebagai Objek Foto dalam Food Photography 1990-an

manfaat food photography

Setelah sempat membuat hasil foto terlihat tidak realistis dengan menambahkan polesan warna dan busa palsu, perkembangan food photography mengarahkan hasil foto untuk kembali ke tampilan naturalnya pada tahun 1990-an. Di samping itu, jika sebelumnya food photography hanya melibatkan objek foto berupa produk makanan, pada era ini objek foto berupa si pembuat makanan mulai terlibat di dalamnya.

(Baca juga: 11 Ide Usaha Niche Market untuk Bisnis Makanan & Minuman)

Suasana hiruk pikuk dapur maupun seorang chef yang sedang memasak hidangan mulai banyak berkembang. Pelibatan aktivitas manusia di dalam food photography bukan tanpa alasan. Pasalnya, hal tersebut bisa menghidupkan cerita, serta membuat foto produk terasa lebih dekat dengan konsumen.

Kamera Digital & Media Sosial dalam Food Photography pada Tahun 2000-an

Selain perkembangan lensa fotografi dan kamera digital, fotografer pada era ini mulai membuat karya fotografi makanan yang fokus pada satu titik. Alih-alih menyajikan satu rangkaian produk makanan, fotografer memilih satu titik fokus di mana konsumen dapat melihat detail sempurna yang lebih sempit.

Nah, memasuki tahun 2010, penggunaan media sosial banyak berkontribusi terhadap perkembangan food photography. Pasalnya, banyaknya orang yang mengunggah hasil foto makanan di media sosial membuat fotografi makanan lebih inklusif. Tidak lagi harus menggunakan kamera, kini semua orang bisa membuat hasil foto ciamik dalam genggaman.

Tidak sampai di situ, perkembangan food photography selepas tahun 2000 menunjukkan kecenderungan gaya foto yang kembali mengeksplor bahan makanan tanpa pengolahan. Teknik fotografi semacam ini merupakan salah satu upaya fotografer profesional dalam menandingi popularitas para fotografer amatir di media sosial.

Dengan memanfaatkan studio foto dan teknik pemilihan properti, tentu hasil foto akan sangat berbeda dengan hasil jepretan yang berkembang di media sosial. Meski foto makanan di media sosial terlihat seperti hasil foto profesional, tetapi teknik foto langsung oleh ahlinya tidak dapat menggantikan posisi fotografi produk sebagai bisnis profesional.

(Baca juga: Cara Kerja Algoritma Instagram, Kenali di Sini untuk Bisnismu)

Manfaat Food Photography untuk Bisnis

Sebagai pebisnis dalam bidang kuliner, kamu tentu membutuhkan food photography untuk mendongkrak minat konsumen dalam membeli produkmu. Pasalnya, fotografi produk terbilang cukup efektif dalam meyakinkan konsumen untuk men-check out produk, lho.

Selain itu, apa saja manfaat food photography dalam bisnis?

  1. Menciptakan Kesan Pertama yang Baik

Kesan pertama dari suatu produk bukan terletak pada pemilihan bahan berkualitas, tetapi bagaimana suatu produk ditampilkan. Kamu tentu akan sulit memberikan penilaian baik kepada sesuatu dengan kesan pertama kurang baik.

Nah, food photography yang baik akan membantu sebuah produk terlihat menarik. Alhasil, konsumen akan bersedia meluangkan waktu untuk melihatnya lebih lama. Dari situ, akan tercipta brand awareness atau malah konversi berupa pembelian produk.

  1. Meningkatkan Penjualan

Masih ingat bagaimana perkembangan food photography memasuki era di mana fotografer mulai memberi polesan agar produk terlihat lebih hidup? Nah, hasil akhir dari foto produk tersebut mampu mendorong konsumen untuk membeli produk karena tampilan menariknya.

Dengan fotografi produk, kamu dapat menentukan akan menonjolkan beberapa komponen makanan atau memperkenalkannya sebagai sebuah paket kombo. Kamu juga dapat memotret produkmu dengan mengekspos pengunaan bahan-bahan pilihan di dalamnya.

(Baca juga: Meningkatkan Penjualan Melalui Kepuasan Pelanggan)

  1. Mempercepat Keputusan Pembelian

Jika produk hadir dalam berbagai varian menu tetapi tidak ada satu pun gambar produk di dalamnya, bagaimana konsumen dapat membuat keputusan pembelian?

Nah, dalam hal ini, manfaat food photography adalah mendorong konsumen guna memberikan keputusan lebih cepat. Mereka akan terdorong untuk cepat membeli atau memilih barang karena merasa yakin dengan tampilan asli produk terkait.

  1. Memperbaiki Performa Website

Nah, jika kamu menjual produkmu langsung dari website, visual produk tersebut dapat membantu performa website secara umum. Pasalnya, pembaca akan tertarik untuk mengklik artikel dan tautan yang menyajikan gambar menarik.

(Baca juga: Pentingnya Keberadaan Blog pada Website Bisnis)

Jadi, bukan hanya untuk menarik konsumen agar membeli produk. Visual yang memikat juga memberi kesempatan situs web untuk memiliki ranking lebih baik juga.

  1. Menghapus Hambatan Bahasa

manfaat food photography

Pernahkah kamu berpikir apakah iklan atau deskripsi produk dapat diterima oleh semua konsumen dalam berbagai bahasa? Jika ya, manfaat food photography satu ini adalah jawaban dari permasalahan tersebut.

Hal tersebut karena food photography mampu mengirimkan pesan tanpa kata. Konsumen berbahasa Inggris, Jawa atau Sasak tetap bisa sepakat mengenai bagaimana lelehan keju di dalam burger sangat menggoda atau bagaimana kepulan uap dalam ayam goreng membuat mereka menelan ludah.

Nah, setelah mengetahui perkembangan food photography, sudahkah kamu memaksimalkan fotografi produk dalam bisnismu?

Kendati krusial dalam bisnis, tetapi kamu dapat memanfaatkan smartphone dan peralatan yang ada serta menggunakan tren media sosial guna mendongkrak penjualan produkmu. Hal tersebut sejalan dengan perkembangan food photography di mana generasi awalnya dimulai dengan teknik yang sangat sederhana kemudian mengalami perkembangan sedikit demi sedikit.

 

Baca juga artikel terkait lainnya

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP