fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Mau Ganti Nama Brand? Perhatikan Hal-hal Ini!

Bagi pakar branding, memberikan nama brand yang tepat merupakan hal penting dan menjadi langkah awal untuk membangunnya. Bayangkan jika kamu membuat produk air mineral yang dijual di supermarket. Tanpa nama, bagaimana konsumen dapat membedakan produkmu dengan produk kompetitor? Padahal, dengan memiliki nama, kamu bisa menyiapkan strategi untuk membangun brand.

Mengapa Brand Perlu Sebuah Nama Khusus?

Semua yang memiliki nama dan nilai, dapat menjadi sebuah brand. Nama merupakan elemen dasar dari sebuah brand. Layaknya manusia, ia juga akan dibangun dengan menyematkan kepribadian di dalamnya atau yang biasa dikenal dengan brand personality. Strategi branding pun dibuat; bagaimana menempatkannya di benak konsumen atau yang biasa disebut dengan brand positioning. Semakin lama, ia tumbuh, menciptakan image di pikiran konsumen. Saat ia kokoh, dapat dipercaya, mampu memuaskan pelanggannya, saat itulah, ia menjelma menjadi brand yang berada di puncak ingatan konsumen, dan akhirnya, membuat konsumen jatuh cinta hingga tak mau lagi berganti ke brand lain. 

Begitulah perjalanan panjang sebuah brand. Setelah kamu membuat produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, langkah berikutnya adalah menentukan nama. Ada beberapa cara yang kerap dilakukan untuk menentukan nama sebuah brand

  • Diambil dari nama pembuatnya atau lokasi bisnis berawal

Kamu pasti sudah enggak asing dengan nama-nama seperti Sambal Bu Rudy atau si raja burger, Mc Donald’s kan? Ya,  nama-nama tersebut diambil dari nama pemilik atau pendirinya. 

Begitu juga dengan nama brand yang diambil dari lokasi bisnis tersebut berada, seperti Bakso Lapangan Tembak atau Nasi Uduk Kebon Kacang. 

Hanya saja, membuat nama brand dari pemilik, memiliki kekurangan. Jika kamu tidak memiliki nama yang sangat unik, apalagi cenderung banyak yang punya, bukan tidak mungkin akan ada produk sejenis yang menggunakan nama yang sama. Atau, boleh jadi, ada brand lain yang sudah lebih dulu menggunakan dan mendaftarkan mereknya. Artinya, kalau kamu tetap ingin menggunakan cara ini, kamu harus mengecek terlebih dulu apakah nama tersebut sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM atau belum. 

  • Representasi produk 

Nama juga sebaiknya mengingatkan konsumen akan deskripsi produk. Misalnya, Aqua. Dalam Bahasa Latin, Aqua berarti air, sesuai dengan produknya, air mineral. Atau, permen Kopiko karena rasa kopinya yang kuat. Contoh lain, Twitter karena difungsikan sebagai platform media sosial dengan tulisan pendek tapi bisa menjadi topik perbincangan hangat. 

  • Penggabungan dari dua kata yang menjadi representasi produk

Cara ini juga kerap dilakukan oleh beberapa perusahaan besar untuk memberi nama produk atau jasanya. Sebutlah, bukalapak atau SnapChat. 

  • Permainan kata 

Cokelat Kit Kat adalah contoh dari permainan kata. Terasa berirama di telinga dan menarik saat didengar, kan?


Nah, itu beberapa cara membuat nama untuk
brand kamu. Pada dasarnya, ketika kamu harus membuat nama brand, ada beberapa prinsip yang perlu kamu perhatikan:

  • Praktis dan Mudah Diucapkan 

Usahakan tidak membuat nama brand lebih dari tiga suku kata. Selain itu, mudah untuk diucapkan. Memberi brand dengan pelafalan yang sulit bukan hanya menyulitkan konsumen untuk mengingat tetapi juga perlu strategi dalam mengenalkannya kepada konsumen. Nama yang sulit memberi potensi salah pelafalan di kalangan konsumen. 

  • Merepresentasikan (Kelebihan) Produk 

Jika kamu memilih nama brand yang mampu merepresentasikan kelebihan produk atau minimal jenis produk, ini lebih memudahkan konsumen untuk mengingat dan memahami brand seperti apa yang kamu promosikan. GoJek termasuk brand yang masuk dalam kategori ini. Simple dan merepresentasikan fungsi atau kelebihan yang dimiliki. Terlebih karena kata “ojek” sendiri sudah familiar di kalangan masyarakat. 

nama brand

Bagaimana Jika Brand Harus Berganti Nama?

Tidak sedikit pebisnis yang ketika pertama kali membuat produk, belum memikirkan serius nama yang tepat. Setelah berjalan beberapa waktu barulah mulai berpikir bahwa nama brand yang dibuatnya kurang tepat atau kurang menarik. Ada juga pebisnis yang terpaksa mengganti namanya dikarenakan tersandung masalah hukum, yakni tidak bisa mendaftarkan mereknya karena sudah ada brand lain yang lebih dulu didaftarkan. Untuk alasan terakhir ini, mau tidak mau, kamu memang harus menggantinya. 

Namun, jika alasan kamu mengganti nama brand karena merasa kurang tepat, maka, sebelum menggantinya, kamu perlu melakukan beberapa hal:

  1. Mengecek Kesadaran Mereknya
    Jika produk yang kamu miliki telah diluncurkan untuk waktu yang cukup lama, lihatlah seberapa tinggi tingkat brand awareness atau kesadaran merek dari konsumen. Kesadaran merek merupakan kemampuan konsumen dalam mengingat nama brand. Cara yang dapat dilakukan untuk mengukurnya adalah dengan melakukan survei pada sejumlah orang yang menjadi target market dari brand yang kamu miliki. Tentu saja, ini memerlukan usaha dan biaya. 

    Selain kesadaran merek, evaluasi juga pandangan konsumen tentang brand kamu. Apakah mereka sudah puas dengan kualitas dan pelayanan yang selama ini diberikan?

  2. Evaluasi Penjualan
    Dengan nama brand yang selama ini kamu gunakan, bagaimana penjualannya? Meningkat, stagnan atau malah menurun? 
  3. Tentukan Perubahannya
    Berubah nama diharapkan tidak sekadar mengubah nama dari A ke B tapi lebih dari itu, rebranding! Ada perubahan yang lebih signifikan; perbaikan kualitas produk, kemasan lebih cantik, pelayanan yang lebih baik, dan sebagainya. Ini yang lebih penting.
  4. Libatkan Pelanggan
    Tidak ada salahnya ketika kamu berencana untuk mengubah nama, libatkan pelanggan untuk memberi masukan.  Pada era marketing seperti sekarang, pelanggan bukan lagi menjadi target market tapi teman yang mendukung keberadaan brand kamu.

Hal yang perlu diingat, membangun brand tidak sekadar berhenti pada pemberian nama. Ketika kamu memutuskan untuk mengganti nama, itu artinya kamu membangun brand baru. Kamu harus menginformasikan kembali nama brand baru kepada konsumen, mengganti semua elemen brand, dari mulai logo, tagline, warna korporat, kemasan, dan sebagainya. 

Jika kesadaran merek cukup tinggi, brand image baik, penjualan pun bagus, pikirkan ulang untuk mengganti namanya. Namun jika kamu harus menggantinya, buat strategi yang bagus dan siapkan anggaran promosi untuk memperkenalkan produk dengan nama brand baru. 

nama brand
Salah satu cara berpromosi yang dapat kamu lakukan adalah membuat toko
online sendiri, terlebih jika konsep bisnis yang kamu lakukan adalah direct to consumer. Kalau kamu masih mencari informasi seputar membuat toko online, kamu bisa bergabung dengan pebisnis lain di LummoSHOP. LummoSHOP merupakan aplikasi yang membantu kamu menjalankan model bisnis D2C dengan memfasilitasi website toko online pribadi gratis. Bagi yang baru terjun jualan online, jangan khawatir, kamu akan mendapat banyak informasi tentang cara jualan online, cara buat website jualan hingga cara sukses jualan online.

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP