fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Membaca Tren Kopi di Indonesia

tren kopi pilihan 01

Kopi kini mulai menjamur penggemarnya. Seiring dengan itu, bisnis kedai kopi pun mulai bertumbuhan. Ada peluang bisnis dari si “biji hitam” ini.

Sejak Kapan Tren Kopi di Indonesia?

Kopi memiliki sejarah yang merentang cukup panjang hingga ke era kolonial sekitar abad 17. Ia bermula dari program tanam paksa pemerintah kolonial Belanda. Salah satu komoditi dalam tanam paksa itu adalah kopi. Pemerintah kolonial Belanda saat itu memaksa masyarakat pribumi untuk menanam kopi secara besar-besaran di daerah Priangan, Jawa Barat. Beberapa tahun setelahnya, Belanda memperluas menanam ke berbagai daerah, seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Kepulauan Timor.

Berdasarkan buku  Peluang Usaha IKM Kopi, terbitan Kementerian Perindustrian pada tahun 2017, jenis kopi yang termasuk dalam program tanam paksa pada tahun 1646 adalah arabica. Sejak tanam paksa tersebut, perlahan masyarakat pribumi juga jadi terbiasa dengan “minuman hitam” ini. 

Penanaman kopi pada saat itu tergolong pasang surut juga. Salah satu tantangan dari penanaman si “biji hitam” pada era kolonial itu adalah adanya serangan penyakit karat daun. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Hindia Belanda mendatangkan jenis kopi yang baru, yaitu Robusta. Ini tepatnya terjadi pada tahun 1900. Robusta ternyata lebih tahan penyakit ketimbang Arabica. Bahkan, hasil produksinya lebih tinggi. 

Baca juga: 11 Ide Usaha Niche market untuk Bisnis Makanan & Minuman

tren kopi pilihan 02Kedai yang Mulai Berjamur di Kota-Kota

Senada dengan buku terbitan Kemenperin, menurut penelitian Jefrizal berjudul “Perkembangan Kedai Kopi Kedai Rasa Sedap di Kota Jambi 1940 – 2015”, setelah penanaman Robusta, kebutuhan kopi masyarakat Indonesia semakin meningkat. Hal itu seiring juga dengan meningkatnya permintaan di berbagai negara.

Untuk konsumsi dalam negeri, Pemerintah Hindia Belanda sampai membuat perusahaan pengolahannya di Batavia, sekitar tahun 1878. Liaw Tek Soen adalah sosok yang mengelola perusahaan pengolahan “biji hitam” ini. Seiring waktu, Liaw membuka Waroeng Kopi Tinggi yang berlokasi di jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Hingga kini, kedai  itu masih ada. Itu artinya, usia kedai sudah 138 tahun melintas zaman. Selain menjual minuman, kedai  yang beralamat di Jl. Sekolah Tangki No. 26, Jakarta, juga mengekspor  ke Jepang, Amerika Serikat serta menembus pasar supermarket, hotel dan perkantoran. 

Masih berdasarkan penelitian Jefrizal, masyarakat Surabaya pada masa kolonial tersebut sudah mempunyai tradisi minum kopi. Banyak juga kedai yang berdiri di sana. Sebut saja, depan stasiun Semut, halaman kantor pos besar Kebon Rojo, sekitar stasiun Madoerataram, dan sepanjang jalan Willemskade. 

Banyaknya kedai di Surabaya pada masa kolonial telah menjadi penanda awal muncul dan meluasnya tradisi minuman hitam berwarna pekat ini bagi masyarakat kota Surabaya.

Baca juga: A to Z Ide Bisnis Minuman Kekinian dengan LummoSHOP

Penyuka si “biji hitam” zaman kekinian

Beda zaman kolonial, beda juga di zaman modern. Semenjak munculnya kedai modern di Indonesia, seperti Starbuck yang membuka gerai pertama di Plaza Indonesia, Jakarta, pada tahun 2002 dan kemudian tumbuh hingga mencapai 300 gerai pada tahun 2017. Menurut penelitian Kheyene dan Molekandela Boer berjudul “Representasi Starbucks Sebagai Gaya Hidup Konsumerisme”,  banyak penyuka minuman itu mulai mendatangi kedai tersebut. Meski, masih banyak beberapa kalangan menikmati di kedai-kedai tradisional. 

Dari sanalah, peminum kopi di Indonesia terpecah menjadi dua bagian, yakni masyarakat menengah ke atas yang mendatangi kedai modern dan masyakat menengah ke bawah di kedai-kedai tradisional. 

Namun, beberapa tahun silam. Kalangan anak-anak muda juga mulai ikut minum kopi. Menurut Muhammad Adji dalam penelitian berjudul “Reprentasi  Gaya Hidup  dan Tradisi Minum Kopi dalam Karya Sastra” , salah satu penyebab tren kopi di kalangan anak muda tak lepas dari viralnya film “Filosofi Kopi” pada tahun 2014.

Selain itu, kebiasaan dan budaya baru ini muncul ketika kedai kekinian ala Indonesia berdiri. Konsep kedai kekinian meniru gerai Starbuck dan membuatnya ala Indonesia. Kedai berkonsep nyaman, dan instagramable sengaja dibuat agar anak-anak muda dapat melakukan aktivitas seperti belajar dan mengerjakan tugas. Tempat yang strategis seperti di sekitar kampus, sekolah dan juga pusat kota  menjadikan tempat tersebut mudah dikunjungi oleh konsumen.

Baca juga: Jual Minuman Online

Tren minum kekinian di kalangan anak muda ini berdampak luas munculnya berbagai kedai kekinian di Indonesia. Di samping itu, kedai masih menjadi bisnis menjanjikan, karena banyaknya peminat dari kalangan anak-anak muda. 

Dengan tingkat konsumsi tinggi, mencapai 4.800 atau 288 ribu kilogram (2018-2019), membuat banyak  oran-orang berlomba-lomba membuat kedai  kekinian. 

Adapun beberapa kedai kekinian, seperti  Janji Jiwa, Lain Hati, Kulo, Starbucks, Kenangan, Filosofi, Maxx Coffee, Anomali Coffee.

Kebiasaan Minum Kopi Masyarakat Indonesia 

Pada dasarnya, kebiasaan minum masyarakat Indonesia adalah kopi tubruk. Mereka berkumpul dan membicarakan hal tertentu sambil meminum kopi. Di Yogyakarta, misalnya, masyarakat di sana bukan kumpul di kedai, melainkan angkringan (biasanya berbentuk gerobak atau tandu biasanya konsumen duduk lesehan) yang tersebar di pinggiran kota. Berbagai latar belakang duduk kumpul bersama membicarakan apa saja sambil minum

Salah satu sajian yang biasa dinikmati adalah Kopi Joss, yakni segelas kopi yang dicelupkan arang membara. Metode minum  ini ditemukan oleh para Mahasiswa Universitas Gajah Mada yang gemar menikmati di angkringan. Menurut mereka, arang bisa menetralisir zat asam, sehingga membuatnya jadi nikmat. 

Selain untuk minum, kopi juga memiliki peran sendiri dalam ritual adat. Salah satunya ritual di Keraton Solo. Biasanya, setiap Selasa dan Kamis, ada pemberian sesajen kepada Kyai Petruk untuk melindungi ruang makam keraton. Adapun kopi sebagai sesajen, masyarakat Jawa mempercayai kopi sebagai minuman para dewa. Dalam ritual lain, kopi juga menjadi minuman untuk kerbau yang dikeramatkan saat tahun baru Jawa.  

Baca juga: FAQ Jual Minuman Online

Perbedaan Arabica dan Robusta

Arabica dan Robusta mempunyai penikmat masing-masing. Perbedaan keduanya adalah sebagai berikut. 

Robusta

Robusta merupakan biji hitam.yang cocok untuk daerah tropis. Biasanya dapat berbuah ketika umur 2 sampai 5 tahun. Adapun biji biji hitam robusta berbentuk bulat dan lebih kecil daripada Arabica. Rasanya ketika di mulut cenderung mirip dengan jenis kacang-kacangan, lebih pahit, dan kasar. Rasa pahit itu menandakan kadar kafein pada Robusta yang tinggi, yaitu 1.5 sampai 3.3%, atau 2 kali lipat dari kandungan kafein Arabika.

Arabika

Arabika sebetulnya berasal dari pegunungan Ethiopia dan ditanam pada  ketinggian 1.000-2.000 mdpl. Adapun bentuk bijinya berbentuk lonjong, memiliki rasa yang sedikit asam dan warna yang tidak terlalu pekat.

Mengutip dari Coffeeland, rasa asam pada arabika sebetulnya ada dua macam, yang pertama rasa asam seperti pada buah buahan yang manis, dan kedua rasa asam yang terbentuk karena kesalahan pada proses paska panen, dimana rasa asamnya itu seperti asam cuka. Biasanya bagi penikmat minuman hitam pekat, yang tidak terbiasa akan merasa tidak enak di lidah. Apalagi ada juga Arabika yang mempunyai  rasa asam busuk yang telah terfermentasi akibat perubahan kimiawi yang disebabkan mikroorganisme pada biji hitam. Penyebabnya, biji hitam mengandung kadar gula (glukosa) yang tinggi. Sehingga rentan terhadap kontaminasi lingkungan.

Baca juga: Gunakan Gimmick dalam Bisnis, Yes or No?

tren kopi pilihan 03

Peluang Usaha Kopi Minimalis dan Menjanjikan

Dengan angka konsumsi yang meningkat tiap tahun, menandakan peluang usaha biji hitam masih menjanjikan.  Adapun jenis usaha yang bisa dibuat  tak perlu sampai kedai modern, tapi cukup bisnis seperti berikut: 

      1. Berbisnis Cold Brew

Cold brew atau kopi seduh dingin bisa menjadi peluang. Kamu tak perlu menyewa sebuah ruangan, rumah untuk kafe dan kedai besar, yang kamu perlukan adalah kemampuan menjual melalui media sosial

Adapun alat yang bisa kamu gunakan adalah alat seduh dingin yang harganya mulai dari dua ratus ribuan, seperti Hario Mizudashi Coffee Pot. Alat tambahan lain, seperti pembuat cold brew atau cold drip, alat seduh manual pour over untuk meracik kopinya. 

Jika semua alat lengkap, kamu tinggal melakukan eksperimen dengan beberapa biji hitam yang sesuai dengan brand cold brew kamu. Jangan lupa, kamu juga pikirkan botol dan kemasan menarik agar konsumen tertarik.

      2. Penjual Biji Kopi

Untuk bisnis satu ini, yang kamu perlukan adalah jaringan, roaster, pabrik, dan petani. Mengapa hanya itu? Sebab, dalam memulai bisnis ini, kamu menjual biji-biji hitam ke berbagai kedai.

     3. Kedai Kopi Manual

Untuk memulai bisnis ini, kamu tak perlu membeli mesin espresso mahal, sofa mewah, dan tempat usaha, yang modalnya bisa merogoh kocek ratusan juta rupiah. 

Namun, tidak perlu itu semua. Kamu bisa membuat konsep kedai dengan alat seduh manual. Adapun alat yang kamu perlukan, pembuat espresso yaitu Rok Presso atau Bellman, lalu manual brew lengkap, seperti V60, Chemex, Aeropres. Kamu tidak perlu menjual makanan berat, cukup kopi saja.

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Published by Emilia Natarina

Content Marketing LummoSHOP