fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Mengubah Sistem Supply Chain dari B2B ke D2C

Bisnis dengan segala dinamikanya telah melahirkan jenis-jenis bisnis. Sebut saja ada B2B, B2C sampai yang masih baru adalah D2C. Jenis-jenis bisnis tersebut memiliki kelebihan masing-masing dan berkembang sesuai kebutuhan konsumen dan bisnis itu sendiri. 

Saat ini model bisnis yang cukup menarik minat adalah D2C. Namun tidak dipungkiri model B2B juga sempat menjadi primadona. 

Lalu apa itu B2B dan D2C?

 

Memahami B2B dan D2C

Apa itu B2B? Tak lain adalah singkatan dari business to business. Sesuai penamaan tersebut, maka jalannya bisnis model ini adalah antar bisnis. Seperti perusahaan konveksi yang membeli benang dari perusahaan benang. Karena berlangsung antarperusahaan, tentu pembelian yang dilakukan dalam jumlah besar. Konsekuensinya adalah harga yang diberikan tentu harus murah. Karena perusahaan masih harus melakukan penjualan lagi ke konsumen.

Jika sekali lagi pertanyaan yang sama diajukan, apa itu B2B? Dapat pula diberikan jawaban penjualan dari perusahaan dengan melewati perantara. Maksudnya di sini adalah dengan menggunakan perantara penjualan. Kalau model ini adalah seperti yang dilakukan banyak bisnis online, yaitu menggunakan marketplace. Bisnis online meletakkan dagangannya di marketplace. Ini juga termasuk model business to business. Ada perantara antara bisnis dan konsumen.  

Tentu saja bisnis yang tidak langsung ke konsumen, perlu mengeluarkan biaya untuk perantara. Biasanya berupa komisi. Hal ini akan mengurangi pendapatan. Sehingga kemudian lahir yang disebut D2C atau direct to consumer

Model direct to consumer, tidak lagi memerlukan perantara dalam bisnisnya. Penjual bisa langsung bertemu dengan konsumen akhir. Sehingga bisa lebih efisien. Maka tidak heran semakin banyak yang mengubah model bisnisnya menjadi D2C. 

 

Mengapa Beralih dari B2B ke D2C?

Dibandingkan dengan business to business atau model bisnis B2B, direct to consumer memiliki beberapa kelebihan, yaitu: 

Menghemat Biaya

Dalam model bisnis B2B, transaksi tidak langsung ke konsumen, ada rantai perantara yang harus dilewati. Sehingga biaya yang dikeluarkan lebih besar. Dengan D2C rantai perantara dihilangkan, oleh sebab itu rantai pasok (supply chain) menjadi lebih pendek, dan dampaknya penghematan biaya.

Memperpendek Rantai Pasok

Hilangnya perantara tentu akan memperpendek rantai pasok atau supply chain. Dengan keunggulan ini, barang akan lebih cepat sampai dan tentu lagi-lagi hemat biaya. Tak hanya hemat biaya pada bisnismu, tetapi juga konsumen. Saling menguntungkan bukan?

Membangun Branding dengan Lebih Baik

Bisnis kemudian branding adalah tentang kamu dengan konsumen. Dengan B2B branding bisa jadi tidak jalan, karena ada salah satu yang menonjol, misalnya si perantara. Namun dengan direct to consumer, branding akan berlangsung lebih baik, karena konsumen langsung mengetahui bisnismu. Proses yang terjadi dalam branding seperti perubahan nama, logo atau perubahan harga juga akan berlangsung lebih mudah. 

Konsumen Lebih Puas

Dengan D2C konsumen menjadi lebih puas karena terhubung langsung dengan bisnis yang diharapkannya. Mereka bisa dengan leluasa melakukan transaksi, berkomunikasi dan mengajukan komplain pada sebuah bisnis.

Bisnis yang Lebih Memahami Kebutuhan Konsumen

Dibandingkan model bisnis B2B, model D2C akan lebih memahami kebutuhan konsumen. Hal ini adalah bekal penting dalam bisnis saat ini. Pemahaman yang baik akan memberikan diferensiasi pada bisnismu. Diferensiasi adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam bisnis online dengan sedemikian banyak kompetitor.

Sistem Supply Chain

Di awal pembahasan, disebutkan mengenai supply chain atau rantai pasok, yang tak lain maknanya adalah penyaluran barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Diberikan nama demikian memang alurnya saling bersambungan seperti rantai. Alur ini harus dibuat seefisien dan seefektif mungkin, sehingga bisnis bisa memaksimalkan pelayanan dan pendapatannya.

Sistem supply chain dengan B2B membutuhkan alur yang lebih panjang untuk sampai ke konsumen. Sedangkan D2C bisa langsung menuju konsumen, tanpa melewati bisnis lain yaitu tidak lain adalah perantara. Dengan putusnya rantai perantara, maka supply chain dengan D2C menjadi lebih efisien dan efektif untuk bisnis online.  

 

Butuh Apa Saja? 

Model bisnis direct to consumer menjanjikan tingkat efisiensi biaya dan efektivitas kerja, termasuk di dalamnya mengenai supply chain. Lalu apa saja yang dibutuhkan dalam perubahan dari B2B menjadi D2C?

Bangun Rantai Pasokan Langsung ke Konsumen

Konsumen hari ini adalah orang yang selalu ingin tahu status barang atau jasa yang dipesannya. Mereka ingin bisa memastikan kapan dan di mana pesanan mereka akan diterima. Bisa tepat waktu, atau terjadi keterlambatan? Oleh sebab itu, bisnis dengan D2C perlu untuk membangun rantai pasok yang fleksibel dan transparan untuk sampai langsung ke pelanggan.

Guna mewujudkan rantai pasok fleksibel dan transparan, salah satunya adalah dengan menyediakan web bisnis online yang mendukung. Salah satu penyedia web bisnis online yang sangat direkomendasikan adalah LummoSHOP, yang bakal memberikanmu dan konsumen pengalaman rantai pasok yang cukup fleksibel dan transparan.

Optimasi Pergudangan

Dengan model D2C, maka pergudangan bukan hanya untuk menyimpan barang. Melainkan juga menjadi penyangga pesanan konsumen. Sebisa mungkin gudang disediakan di dekat konsumen, sehingga pengiriman bisa lebih cepat dan tepat. Sehingga mendirikan gudang di dekat pemukiman padat penduduk bisa jadi sebuah solusi. Akan tetapi perlu diingat pula, bahwa memutuskan untuk memindahkan gudang mendekat kepada konsumen juga membutuhkan biaya yang tinggi.

Menyelesaikan Kerumitan Logistik

Jika bisnis berlangsung dari business to business, tentu untuk sampai ke konsumen, rantai logistiknya akan sangat rumit. Dengan direct to consumer, maka bisnis online bisa menyelesaikan kerumitan logistik. Bisnis online hanya perlu fokus kepada konsumen, yaitu mencari cara bisa menyampaikan barang secepatnya kepada mereka.

Penguasaan terhadap Pengiriman Jarak Jauh

Terhubung langsung dengan konsumen, maka harus siap untuk menguasai pengiriman jarak jauh. Sebab tanpa penguasaan tersebut akan membuat konsumen kecewa. Kekecewaan tersebut berdasarkan sebuah studi oleh Bloomberg menyebabkan 56% pembeli tidak akan membeli lagi dari merek yang membuatnya kecewa. Maka penting untuk menguasai pengiriman jarak jauh, untuk tetap menjaga kepuasan pelanggan.

Pengembalian Barang Jadi Lebih Mudah

Pengembalian barang adalah hal yang lazim dalam bisnis online. Sayangnya pengembalian dalam model B2B lebih sulit dilakukan, karena konsumen tidak langsung terhubung dengan bisnis. Hal ini juga mendatangkan kerugian.

Dengan D2C, pengembalian barang menjadi lebih mudah. Tentu kamu selaku pebisnis online harus tangkas mengatasi pengembalian barang. 

Menemukan Mitra Logistik yang Tepat

Model bisnis D2C tentu masih membutuhkan mitra logistik. Meski dapat berinteraksi langsung dalam bisnis online, untuk pengiriman barang tentu tidak dapat dilakukan sendiri. Penyebabnya adalah biaya yang tinggi untuk penyediaan logistik.

Demi mewujudkan pengiriman barang yang sesuai harapan konsumen, maka penting bagi bisnismu untuk memilih mitra logistik yang tepat. Namun, sekarang ini pilihan logistik bisa diserahkan langsung kepada konsumen. Kamu sebagai pebisnis cukup menyediakan alternatif pilihan logistik. Apakah web bisnis online-mu juga menyediakan pilihan alternatif logistik, seperti LummoSHOP? 

Bisnis online kini menjadi lebih mudah dengan D2C. Rantai pasok makin sederhana, pendapatan bisnismu makin meningkat.