fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Mesti Tahu, Efek Perang Harga untuk Bisnismu Jangka Panjang

Perang Harga

Perang harga atau price war merupakan salah satu bentuk persaingan tidak sehat. Bagaimana tidak, pebisnis bisa kehilangan banyak konsumen karena mereka beralih ke produk sejenis yang harganya jauh lebih murah. Dari sisi konsumen, sah-sah saja kalau mereka seperti itu karena kamu pun pastinya terpincut dengan harga yang lebih murah. Efek perang harga pun dapat dirasakan oleh banyak pihak.

Ibarat kerja di kantor, perang harga ini adalah kegiatan “sikut-menyikut” teman agar diri sendiri bisa segera ke puncak. Apa pun dilakukan (menjilat atasan, menekan bawahan, atau memfitnah sesama) demi tercapainya tujuan. Apa iya “seseram” itu? 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Ya, efek perang harga nyatanya tidak main-main. Dari sisi positifnya, perang harga memang bisa meningkatkan kreativitas pebisnis dalam mencari bahan baku yang lebih murah atau semacamnya. Tapi tetap saja efek perang harga lebih banyak negatifnya. Artikel ini akan menjelaskan efek buruk dari adanya perang harga. Dengan begitu, kamu bisa lebih berhati-hati sebagai pebisnis agar tidak masuk ke dalam arusnya.

Mematikan Bisnis Orang Lain, Juga Bisnismu

Sebagaimana yang dilansir harian ekonomi.bisnis.com, beberapa tahun silam pebisnis daging olahan sempat berguguran karena adanya perang harga. Masih dari sumber yang sama, Direktur Utama PT Estika Tata Tiara Tbk., Yustinus Sadmoko, menyatakan kalau persaingan antar pabrikan pun tak terhindarkan karena setiap hari selalu saja ada pemain baru. Dia berharap pemerintah bisa menjadi penengah agar price war tak terus berlanjut. Masih banyak cara untuk berkompetisi selain menjadikan harga semurah-murahnya sebagai target.

Contoh kasus price war lain adalah perang tarif data internet yang terjadi saat awal pandemi sebagaimana dilansir oleh Selular.id. Beralihnya kegiatan ke sistem online berujung pada meningkatnya kebutuhan masyarakat akan data internet. Fenomena ini diikuti oleh turunnya daya beli masyarakat sehingga perusahaan seluler terpaksa perang harga.

Apalagi, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Setiadi mengatakan kalau orang Indonesia cenderung price sensitive. Mereka akan memilih harga yang lebih murah. Harapannya juga sama, pemerintah bisa menjadi regulator agar perang tarif tak terus terjadi.

Efek perang harga bisa mematikan bisnis orang lain dan tentu saja pada akhirnya bisnismu. Tak ada pebisnis yang kuat, sekalipun modalnya sangat besar. Bayangkan kalau kamu terus-terusan menurunkan harga demi memenangkan persaingan. Dijamin bisnismu boncos dalam waktu sekejap.

Perang HargaAda yang namanya etika bisnis. Jika kamu berada di posisi yang menang, apa mungkin hati kecilmu tidak goyah saat tahu hanya bisnismu yang bertahan, sementara semua kompetitormu satu per satu menutup usahanya karena tak kuat bersaing harga denganmu?

Atau sebaliknya, jika kamu adalah pebisnis baru, kamu mungkin tidak bisa menikmati keuntungan karena sudah babak belur duluan. Tak dapat dipungkiri bahwa tujuan bisnis memang untuk mendapat keuntungan. Namun, bukan berarti kamu boleh menghalalkan segala cara untuk menggapainya.

Efek Perang Harga Pada Konsumen

Konsumen memang bisa menikmati harga yang murah karena adanya perang harga. Sekilas, efek perang harga semacam itu tampak positif karena berfokus pada konsumen. Padahal, ini bisa menjadi jebakan. Price war hanya menguntungkan pebisnis yang kuat saja, baik dari segi modal maupun strategi. Pada akhirnya, dia akan menjadi satu-satunya penguasa. Saat itu terjadi, bukannya tidak mungkin pebisnis akan menaikkan harga sesuka hati. Jika sudah begini, konsumenlah yang merugi.

Mereka tak punya pilihan selain menuruti karena pebisnis yang kuat tadi telah memonopoli pasar. Mau tidak mau, konsumen akan bergantung padanya. Ibarat kata, konsumen diberikan harapan setinggi-tingginya hanya untuk disakiti.

Untuk poin 1 dan 2 di atas sebenarnya sudah dipertegas dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Undang-undang ini tidak hanya melindungi konsumen melainkan juga pebisnis.

Merugikan Karyawan yang Ikut Membesarkan Bisnismu

Karyawan juga bisa terkena efek price war. Biasanya, pebisnis kerap mengurangi biaya agar bisa ikut bersaing. Salah satunya adalah biaya upah karyawan. Tentu saja, hal ini sangat tidak manusiawi. Apalagi, jika beban kerjanya sama atau bahkan lebih tinggi. Dengan mengurangi gaji mereka, sama saja kamu menerapkan sistem kerja romusa atau kerja paksa. Kamu tentunya tidak mau dicap seperti itu, kan?

Efek Perang Harga Pada Kualitas Produk

Efek perang harga lainnya adalah penurunan kualitas produk. Bagaimana tidak, pebisnis bisa saja mengganti bahan baku atau bahan lain hanya demi menghasilkan harga jual yang murah. Cara ini berimbas pada turunnya kualitas produk. Ujung-ujungnya, kepercayaan konsumen akan tergerus seiring menurunnya kualitas. Pebisnis pun sudah tentu akan merugi.

Sebaiknya kamu tidak meremehkan efek price war. Skenario terburuknya adalah price war bisa mendorong efek domino bagi pasar dan ekonomi. Kalau seorang pebisnis berhasil memonopoli pasar, ia akan mematok harga seenaknya. Jika itu terjadi, maka sudah pasti tingkat penjualan akan menurun dan hanya konsumen kelas tertentu yang bisa membeli. Hal ini akan berdampak pada macetnya pertumbuhan ekonomi.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Dalam bisnis, persaingan adalah hal yang sama sekali tak terhindarkan. Selama persaingannya sehat, pebisnis justru memiliki ruang untuk mengembangkan bisnisnya. Lain halnya jika persaingan terjadi secara kotor seperti perang harga. Persaingan kotor bisa jadi bumerang buat bisnismu dan konsumen.

Tentu sebagai pebisnis, kamu ingin bisnismu bisa bertahan lama, bukan? Bukan bisnis yang bertahan selama satu atau dua tahun saja. Jadi, sebisa mungkin hindarilah price war.