fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Pebisnis Mesti Tahu, Cara Kelola Cash Flow Bisnis UMKM

Cash Flow Bisnis UMKM

Sebagai pebisnis, sudahkah kamu menerapkan manajemen cash flow dengan benar? Seperti namanya, cash flow adalah aliran kas masuk dan kas keluar. Cash flow kamu terbilang sehat jika kas masuk lebih besar daripada kas keluar. Pun sebaliknya, cash flow kamu terhitung stagnan atau bahkan mengalami kemunduran jika kas masuk sama dengan kas keluar. Terlebih lagi kalau kas masuk lebih kecil dibandingkan kas keluar. Kondisi itulah yang kemudian akan menjadi pertimbangan pemilik bisnis untuk mengambil kebijakan tertentu. Sepenting itu cash flow dalam bisnis sehingga harus dikelola dengan baik, tak terkecuali bisnis berskala UMKM.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Cara Mengelola Cash Flow

Lalu, bagaimana cara mengelola cash flow bisnis UMKM yang tepat? Mari cek bersama. Apakah kamu sudah menerapkan prinsip mengelola cash flow bisnis UMKM seperti di bawah ini?

  • Membuat Cash Flow Forecast

Mulailah dengan membuat cash flow forecast atau cash flow projection. Itu adalah semacam perkiraan uang yang masuk dan yang keluar selama periode yang sudah kamu tetapkan, misalnya 3 bulan, 6 bulan, atau 12 bulan ke depan. Kamu bahkan bisa juga membuat proyeksi keluar masuknya kas sebulan atau seminggu ke depan. Mudahnya sih sesuaikan juga dengan kondisi bisnismu. Jika masih baru saja berjalan, mungkin perputaran uang kas bisnismu belum terlalu banyak jadi kamu bisa membuat cash flow forecast untuk jangka waktu yang lebih pendek. Begitu juga sebaliknya.

Membuat perkiraan cash flow bisnis UMKM ini tak kalah pentingnya dengan membuat cash flow statement. Dalam lingkup personal saja misalnya, pastinya kamu punya bayangan berapa pengeluaran dan pemasukanmu untuk satu bulan ke depan, termasuk sumbernya. Dengan memiliki perkiraan seperti ini, setidaknya kamu jadi punya bayangan mengenai kemungkinan terealisasinya rencana yang kamu buat.

Lalu, dari mana dasar membuat cash flow forecast ini padahal belum benar-benar terjadi? Meskipun belum terjadi, tapi bukan berarti kamu tengah mimpi di siang bolong. Pastinya, kamu punya “bahan” dalam memperkirakan pemasukan dan pengeluaranmu. Misalnya, kamu mencatat 10 hari lagi akan ada pemasukan dari upah menulis karena saat ini kamu sedang mengerjakan proyek penulisan. Pun dalam lingkup bisnis. Kamu berani memperkirakan akan ada uang yang masuk karena saat ini getol melakukan promosi untuk meningkatkan penjualan dan semacamnya.

Dalam menyusun perkiraan cash flow bisnis UMKM, beberapa poin berikut inilah yang biasanya tak boleh kamu lupakan:

    • Saldo uang kas minimum yang besarnya bisa kamu tentukan sendiri
    • Perkiraan pemasukan dan pengeluaran bisnis
    • Saldo kas akhir perkiraan yang didapat dari kas minimum ditambah perkiraan pemasukan dan dikurangi perkiraan pengeluaran
  • Membuat Cash Flow Statement

Cash flow statement adalah aliran kas yang benar-benar terjadi selama periode yang sudah kamu tentukan. Dari poin 1 dan 2 ini, kamu kemudian bisa mendapatkan informasi seberapa efektifkah aliras kas yang bisnismu miliki. Dengan informasi tersebut, kamu jadi dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan, seperti: apakah pengeluaran yang terjadi melebihi ekspektasi, apakah penerimaannya sama dengan perkiraan, faktor-faktor apa saja yang membuat penerimaan tak sesuai dengan ekspektasi, dan faktor-faktor apa saja yang membuat pengeluaran melebihi batas.

Hal-Hal yang Tak Boleh Dilakukan untuk Mengelola Cash Flow

Selain perihal cashflow forecast dan cash flow statement, hal-hal yang tak boleh kamu lupakan dalam mengelola cash flow bisnis UMKM adalah sebagai berikut:

  1. Pisahkan Cash Flow Pribadi dengan Bisnis

Pebisnis kadang meremehkan ini. Karena menganggap skala usahanya masih belum terlalu besar, mereka kerap mencampur cash flow pribadi dan bisnis. Misalnya, uang kas bisnis diletakkan di dompet yang sama dengan uang pribadi, dibiarkan tercampur tanpa ada pemisahan catatan antara jumlah uang pribadi dan uang bisnis. Padahal, ini adalah kebiasaan buruk yang sudah seharusnya dihindari pebisnis sejak awal. Sebagai manusia yang kadang lupa, bukannya tidak mungkin uang bisnis terpakai untuk pribadi atau sebaliknya. Jika sudah begini, apa tidak rugi? Terlebih jika tidak ada catatan sama sekali. Bersikaplah profesional meskipun bisnismu masih belum besar.

  1. Alokasikan Keuntungan dengan Bijak

Jangan terlena dengan keuntungan yang besar kalau pengelolaannya buruk. Hal tersebut serupa dengan orang yang mendapat gaji tinggi tapi setiap bulan selalu kekurangan dan bahkan berutang untuk kegiatan konsumsi yang kontraproduktif. Sama halnya dalam bisnis. Ketika mendapatkan keuntungan, hendaknya kamu langsung mengalokasikannya setidaknya dalam tiga poin penting: cadangan kas (sebagai cadangan kalau terjadi sesuatu), ditabung, dan digunakan untuk pengembangan bisnis.

  1. Segera Penuhi Kewajiban Jika Ada

Jika kamu memiliki utang pada pihak ketiga atau punya tanggungan untuk memberikan bagi hasil pada investor, maka penuhilah segera. Hal ini berhubungan dengan kredibilitas bisnis yang sedang kamu bangun atau jalankan.

  1. Ketahui Kapan Break Event Point atau Titik Impas (Tidak Untung dan Tidak Rugi)

Dengan mengetahui kapan kira-kira total pengeluaran setara dengan total pemasukan, kamu bisa membuat cash flow forecasting dengan lebih tepat. Misalnya, kamu memproduksi 100 unit produk A dengan total biaya Rp1 juta yang itu artinya harga jual produk A per unitnya Rp10.000,-. Dengan harga jual Rp10.000,- dan jumlah produksi 100 unit, kapankah kira-kira produk tersebut terserap habis di pasaran? Dengan asumsi kamu giat melakukan promosi ditambah dengan harganya yang sangat terjangkau, kamu memperkirakan dalam waktu satu minggu semua produk akan ludes. Itu artinya dalam seminggu, kamu akan menerima pemasukan sejumlah tersebut.

Pentingnya Membuat Cash Flow Bisnis UMKM

Cash flowSetelah membaca penjabaran di atas, pasti semakin yakin kalau mengelola cash flow bisnis UMKM tidak bisa kamu sepelekan. Sekalipun pemasukan yang kamu terima belum besar, tapi setidaknya kamu sudah bersikap profesional dan disiplin sejak awal. Ini adalah kebiasaan baik. Logikanya, jika untuk skala kecil saja kamu tidak bisa mengelolanya, bagaimana nanti jika skala bisnisnya semakin besar? Jangan-jangan, kamu keteteran. Dan lagi, dari kegiatan tersebut ada banyak informasi yang bisa kamu dapatkan untuk kemudian kamu perbaiki atau tingkatkan seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Jika dianalogikan, manajemen cash flow bisnis UMKM ini juga tidak jauh beda dengan saat kamu ingin traveling ke suatu tempat. Di awal, kamu pasti membuat itinerary beserta budget atau anggarannya. Dengan membuatnya, setidaknya kamu punya gambaran. Dalam perjalanannya, acara traveling-mu bisa jadi merugikan atau bisa menguntungkan. Uang kasmu bisa berkurang banyak, bisa juga impas, atau bahkan masih bersisa. Kamu kemudian mengevaluasi kembali, apa yang menyebabkan uang berkurang banyak melebihi anggaran yang telah kamu buat. Ternyata, kamu tergoda untuk membeli banyak souvenir. Itulah kenapa, di kegiatan traveling berikutnya, kamu berjanji pada diri sendiri untuk tidak mudah tergoda membeli yang tidak perlu.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Setelah membaca paparan di atas apakah kamu termasuk orang yang sudah mengelola cash flow bisnis UMKM dengan tepat selama ini? Jika sudah, selamat. Namun jika sebaliknya, belum terlambat. Yuk, kelola cash flow bisnis UMKM-mu saat ini juga dengan membuat catatan-catatannya seperti yang sudah ditulis di artikel ini. Selamat berjuang, ya!