fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Pelanggan Senang, Cuan Bisnis Pun Berdatangan

LummoSHOP_Cuan Bisnis

Sadarkah kamu bahwa pandemi Covid-19 banyak mengubah kebiasaan, gaya hidup, dan interaksi kita sehari-hari? Kita jadi lebih peduli pada kesehatan. Interaksi antarmanusia pun berubah jauh. Pandemi memaksa kita, yang alaminya makhluk sosial, menjaga jarak fisik antar manusia, dan beralih secara digital. Tak hanya itu, perilaku konsumsi kita pun banyak berubah. 

Dalam sebuah diskusi, pakar branding, Silih Agung Wasesa mengungkapkan, setidaknya ada tiga perubahan perilaku konsumsi masyarakat Indonesia di masa pandemi ini. 

Pertama, masyarakat kelas menengah kapok punya cicilan lagi. Alasannya, selama pandemi perekonomian kelas menengah dengan gaji berkisar Rp15 jutaan merosot jauh. Sebelum pandemi, dengan gaji segitu, biasanya mereka habiskan untuk gaya hidup plus menutupi cicilan sana-sini. Nah, ketika pandemi, pendapatan turun drastis, sementara cicilan jalan terus. 

Kedua, masyarakat kelas menengah ke bawah biasanya akan berpikir panjang sebelum pandemi dan prinsipnya, ‘yang penting murah’. Ternyata konsep ini tak berlaku lagi, bagi masyarakat kelas bawah bukan harga murah yang jadi alasan satu-satunya, tapi apakah brand  tersebut mengusung gaya hidup sehat dan ramah lingkungan. 

Ketiga, belanja online semakin diminati. Kementerian Koperasi dan UKM memperkirakan, peningkatan belanja online selama pandemi berkisar 26% atau mencapai 3,1 juta transaksi. 

Well, pandemi memang tidak mengenakan, dua tahun kita lewati dengan susah payah. Namun, pandemi tidak melulu soal keluh dan kesah. Bagi bisnis direct to consumer atau D2C pandemi ibarat blessing in disguise alias berkah di balik musibah. 

McKinsey, sebuah perusahaan konsultan manajemen bahkan mencatat, sebanyak 84% konsumen berbelanja online selama pandemi di mana 150 juta orang di antaranya pertama kali berbelanja online. Menurut McKinsey, pertumbuhan belanja online selama 10 tahun tercapai dalam 90 hari di masa awal pandemi. 

LummoSHOP McKinsey

Sumber: McKinsey
*10 Tahun Pertumbuhan dalam Waktu 3 Bulan

Ada yang mengatakan, pandemi seperti membawa tahun 2030 ke 2020 bagi bisnis D2C. Bagaimana tidak, ketergantungan pada internet membuat perilaku konsumen beralih ke belanja online dan mempercepat ekosistem tren ritel online

Merek-merek besar berlomba-lomba meninggalkan cara pemasaran lama, dan meluncurkan inisiatif direct to consumer yang ternyata cukup efisien.

LummoSHOP_Cuan Bisnis

Lalu bagaimana dengan prospek D2C di 2022? Bagaimana mendekatkan diri pada pelanggan yang tentunya berdampak pada bertambahnya cuan bisnis?

Kami kasih bocoran nih, empat tren di bisnis online direct to consumer yang perlu kamu perhatikan di tahun ini. 

  • Retailer tradisional akan banyak yang beralih ke D2C

Seiring dengan makin malasnya konsumen berbelanja offline, retailer tradisional akan meniru jejak merek-merek D2C online dan mulai mendekati konsumen secara online

  • Bisnis online direct to consumer memperluas variasi produk

Seperti dijelaskan pakar branding di atas, bahwa pandemi mengubah perilaku konsumen yang rela merogoh kocek lebih untuk produk yang berkaitan dengan kesehatan atau merek yang mengusung semangat ramah lingkungan. 

Covid-19 membuat permintaan pada produk-produk olahraga, perawatan diri bagi yang work from home, dan produk kesehatan lainnya meningkat. Prediksinya, merek-merek D2C yang menawarkan produk tersebut atau berdekatan akan tetap diburu konsumen pascapandemi. Ini bisa jadi inspirasi bagi kamu yang ingin meluncurkan produk atau varian baru dari produk andalanmu. 

  • Konsumen yang melek teknologi akan memilih D2C

Ketika Covid merebak, kita tiba-tiba tersadar betapa tergantungnya kita pada internet dan belanja online. Situasi ini jelas membawa cuan bisnis online berkonsep direct to consumer. Apalagi konsumen semakin percaya diri berbelanja online. Di Amerika Serikat saja, penjualan belanja online pada kuartal 3 tahun 2021 naik 45,6% dibanding periode yang sama tahun 2019. 

  • Konsumen menyukai layanan pengembalian gratis

Permintaan retur atau pengembalian pesanan dari konsumen adalah bagian dari romantika bisnis online. Entah karena pesanan yang sampai cacat produksi atau tidak sesuai yang diiklankan. Kamu sebagai pengusaha D2C pasti sudah terbiasa menghadapi hal ini. 

Biar bagaimanapun, konsumen akan tetap menyukai ketika kamu menawarkan program pengembalian atau penukaran barang secara gratis, termasuk ongkos kirimnya. Selain itu, kemudahan proses pengembalian, mulai dari pengajuan sampai pengembalian dana tidak ribet dan bertele-tele. 

Ya namanya juga pengusaha, pasti maunya banyak cuan bisnis. Supaya cuan bisnis online kamu semakin menggembirakan, tentukan tujuan dari bisnis direct to consumer kamu. Kalau tujuannya jelas, kamu juga bisa merancang strategi bisnis dengan tepat. 

Yang paling penting dari metode D2C adalah, jualan online kamu memberi nilai pada pelanggan dan mereka tidak menemukan harga produkmu yang lebih murah selain di website jualanmu.

LummoSHOP_Cuan Bisnis

Lalu bagaimana caranya supaya bisnis kamu bisa lebih dekat dengan pelanggan?

  • Lakukan Inovasi

Perusahaan pengolahan makanan asal Amerika Serikat yang sudah berusia ratusan tahun, Heinz dibuat pontang-panting saat pandemi Covid-19 melanda. Kebijakan lockdown saat pandemi membuat konsumen kesulitan mengakses produk-produk mereka, karena tidak bisa menjangkau toko fisik. 

Maka untuk pertama kalinya setelah sekitar 150 tahun Heinz menjalankan metode direct to consumer. Pada tahun 2020, di masa awal pandemi, Heinz meluncurkan layanan online bernama Heinz to Home yang memungkinkan konsumen memesan paket favorit produk-produk Heinz dan diantarkan langsung ke depan pintu rumah pelanggan. 

Artinya produk yang kamu jual harus mudah diakses. Kalaupun situasinya sulit bagi konsumenmu, maka kamu harus melakukan inovasi yang membuat pelangganmu tetap bisa mendapatkan produk jualan online kamu. 

  • Bangun Komunitas Online 

Tidak sulit rasanya, apalagi hampir semua orang sekarang sangat bergantung pada internet, dan media sosial sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Kamu tidak harus melulu berjualan lho, membangun komunitas untuk kamu yang menjual produk Kesehatan, bisa dengan mengadakan kelas olahraga bersama via zoom. Begitu juga jika produk yang kamu jual adalah produk kecantikan, kelas beauty class masih bisa dilakukan untuk menjalin komunikasi dengan pelangganmu. 

  • Buat Program Loyalitas 

Penelitian membuktikan bahwa hampir 60% pendapatan bisnis direct to consumer berasal dari pelanggan yang telah membeli sebelumnya. Bukankah lebih baik hubungan pelanggan yang sifatnya jangka panjang, ketimbang datang sekali membeli dan tidak datang lagi. 

Maka dari itu, untuk mendapatkan kesetiaan pelanggan kamu bisa mengapresiasi mereka melalui loyalty program alias program loyalitas. Kamu bisa membuat program loyalitas yang berjenjang. Misalnya dengan sistem poin atau berdasarkan jumlah pembelanjaan, semakin meningkat, apresiasinya juga berbeda. 

Berdasarkan sebuah survei di tahun 2017, setidaknya ada tiga alasan konsumen menyebut sebuah program loyalitas disebut berhasil. Sebanyak 53 % mengatakan karena programnya mudah digunakan. Lalu 39 % mengatakan karena programnya memberi potongan harga luar biasa. Dan 37 % sisanya mengatakan jika programnya mudah dimengerti. 

  • Pelanggan Terbaikmu adalah Marketing Terampuhmu 

Word of mouth alias pemasaran dari mulut ke mulut masih menjadi jurus jualan paling jitu, termasuk jualan online. Kamu pasti punya pelanggan terbaik dan setia, jangan abaikan mereka. Jadikan mereka ujung tombak promosi jualan online milikmu. 

Caranya gimana? Seperti loyalty program, kamu bisa memilih beberapa pelanggan terbaikmu untuk terlibat penjualan dengan reward tentunya. Buat reward berjenjang berdasarkan pencapaian mereka. Biasanya konsumen akan lebih percaya pada mereka yang sudah lebih dulu menjajal produk atau jasa yang ditawarkan. 

  • Personalisasi Produk 

Beberapa tahun silam, Coca-Cola pernah meluncurkan kampanye ’Share a Coke.’ Dengan kampanye ini, konsumen bisa menuliskan namanya di kaleng atau botol kaca dan plastik Coca-Cola. Kampanye tersebut diluncurkan di Denmark, Australia, Prancis, dan Inggris. 

Kampanye ini mendapat respon positif, walau Coca-Cola hanya mencetak 122 nama yang paling umum di Spanyol atau panggilan umum seperti ayah, ibu, anak, dan sebagainya. Personalisasi semacam ini membuat penasaran konsumen dan ingin memiliki produk Coca-Cola. Kalau perlu, minumannya tidak akan diminum dan akan disimpan sebagai benda koleksi. 

Mondelez International, induk perusahaan kudapan Oreo juga pernah melakukan hal yang sama. Oreo mengundang pelanggannya untuk mendesain kemasan Oreo plus membubuhkan pesan pribadi di dalamnya. Kampanye ini disebut Colorfilled.

Kamu bisa mencari formula personalisasi yang tepat sesuai produk yang kamu tawarkan. Namun, supaya lebih yakin, data mendapati bahwa 40% konsumen rela membayar lebih untuk produk yang bisa dipersonalisasi. 

 

Yuk, bersepakat dulu bahwa ukuran cuan bisnis tidak melulu uang. Tapi juga terbangunnya brand awareness, bertambahnya pelanggan di website kamu, atau pengikutnya yang semakin banyak di media sosialmu. Semoga tahun 2022 ini menjadi tahun semakin bersinarnya bisnis direct to consumer milikmu.