fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Peluang Usaha Toko Kelontong Saat ini, Masih Menjanjikan?

usaha toko kelontong

Kehadiran minimarket modern yang cukup invasif di berbagai daerah sempat dianggap menjadi akhir dari masa jaya toko kelontong di industri perdagangan ritel di Indonesia. Tetapi, hingga saat ini usaha toko kelontong terbukti masih mampu bertahan di tengah gempuran modernisasi. Simak peluang bisnisnya berikut ini.

Sejarah Toko Kelontong

Menurut artikel Kompas.com, toko kelontong memiliki sejarah yang cukup panjang. Toko-toko kelontong mulai bermunculan pada akhir abad ke-19. Namun cikal bakal toko kelontong terjadi yang berawal dari penjual kelontongan keliling terjadi jauh sebelum itu.

Kelontong merujuk pada alat yang selalu dibawa oleh pedagang keliling yang merupakan pendatang dari China pada jaman dahulu. Alat ini berbentuk seperti rebana kecil yang bertangkai dan memiliki tali di kedua sisi dengan ujung tali berbentuk biji. Ketika tangkai kelontong digerakkan ke kanan dan ke kiri, akan terdengar suara kelontong yang menjadi tanda kehadiran pedagang keliling ini. 

Para pedagang ini menjajakan dagangannya berupa barang keperluan sehari-hari seperti yang bisa kita lihat di toko-toko kelontong saat ini. Kegiatan perdagangan ini pada zaman dulu juga dikenal sebagai Tjina Kelontong karena banyak pedagang dari etnis China yang melakukan hal ini.

Namun lambat laun kegiatan berdagang keliling ini semakin sepi dan para pedagang memilih untuk menetap. Mereka membuka toko di lokasi-lokasi strategis yang memungkinkan para pembelinya mendatangi toko dengan mudah. 

Sementara barang-barang jualan toko kelontong pun semakin banyak ketimbang saat berdagang keliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Kendati sudah tidak berkeliling dan tidak lagi menggunakan kelontong ketika berdagang, penggunaan nama toko kelontong masih digunakan hingga saat ini.

Kehadiran Ritel Modern

Kehadiran minimarket sebagai bentuk ritel modern pada 2003 menjadi ancaman serius untuk usaha toko dan warung kelontong. Konsep minimarket yang berlokasi dekat dengan tempat tinggal konsumen jelas menciptakan persaingan secara langsung dengan toko kelontong karena memiliki produk dan  target market yang benar-benar sama. 

Ancaman ini semakin serius karena pertumbuhan minimarket terbilang sangat cepat, terutama setelah minimarket membuka peluang waralaba bagi masyarakat. Banyak investor yang membeli waralaba minimarket, sehingga jumlah ritel modern ini semakin membanjiri pasar. Minimarket mulai masuk ke area perumahan, perkantoran, kawasan niaga, kawasan wisata, jalan raya, dan sebagainya.

usaha toko kelontongPeluang Usaha Toko Kelontong

Meskipun menghadapi persaingan yang cukup ketat, mulai dari sesama toko atau warung kelontong hingga persaingan dengan minimarket dengan konsep retail modern, peluang usaha toko kelontong masih cukup terbuka. Terlebih lagi dengan mempertimbangkan bahwa toko kelontong memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan konsep toko lainnya. Beberapa di antaranya yaitu:

  1. Lokasi yang sangat dekat dengan pembeli

    Meskipun lokasi minimarket saat ini cukup dekat dengan rumah-rumah warga, pada umumnya toko maupun warung kelontong memiliki jarak yang lebih dekat dibandingkan dengan minimarket. 

    Warung-warung kelontong bahkan bisa berada di gang-gang yang tidak mungkin dijangkau oleh minimarket. Hal ini menjadi salah satu utama preferensi pembeli ketika menentukan tempat untuk membeli barang yang dibutuhkan.

  2. Jam buka yang lebih fleksibel

    Toko maupun warung kelontong bisa beroperasi sesuai dengan keinginan pemiliknya. Misalnya jika pemilik ingin membuka toko 24 jam, maka tidak ada aturan yang melarangnya. Berbeda dengan minimarket yang memiliki aturan yang cukup ketat mengenai hal ini. Sejumlah peraturan daerah dengan jelas memberi batasan jam operasional toko. 

    Contohnya di Surabaya, khusus minimarket, sesuai Perda 8/2014, jam kerja akan mulai pukul 08.00 WIB hingga maksimal pukul 21.00 WIB pada hari biasa. Sedangkan pada Sabtu dan Minggu, boleh buka hingga pukul 23.00 WIB.

    Hal yang sama juga terjadi ketika Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang membatasi operasional minimarket, bahkan menutup minimarket selama kebijakan tersebut berlangsung. Dengan demikian, toko kelontong menjadi opsi yang lebih ramah konsumen.

  3. Pembeli bisa utang

    Karena memiliki lokasi yang dekat dengan rumah pembeli, pada umumnya pemilik toko mengenal dengan baik pembelinya. Sehingga praktik utang dalam transaksi toko kelontong cukup umum ditemui. Bahkan praktik ini sudah ada sejak awal sejarah pedagang kelontong keliling pada zaman dulu. Utang menjadi solusi bagi para pembeli yang belum memiliki uang namun kebutuhannya mendesak.

  4. Perizinan yang lebih sederhana

    Pendirian toko kelontong memiliki prosedur hukum sederhana. Hal ini tercantum pada Pasal 6 ayat (1) huruf b UU No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan yang menyebutkan jika perusahaan kecil tidak memerlukan surat izin perdagangan dan tidak perlu mendaftarkan usahanya ke badan hukum. 

    Kendati demikian, jika omset dari toko kelontong meningkat dengan pendapatan lebih dari Rp600 juta per tahun, toko kelontong masuk ke dalam ranah wajib pajak dan wajib membayarkan pajak dari hasil usahanya.

  5. Modal yang lebih kecil

    Membuka toko kelontong membutuhkan modal yang relatif kecil, terlebih lagi jika toko maupun warung yang digunakan adalah tempat tinggal sendiri. Selain itu, toko kelontong juga bisa dilakukan tanpa merekrut karyawan karena menggunakan tenaga kerja dari anggota keluarga sendiri. Artinya sebagian besar modal digunakan untuk berbelanja atau kulakan.

Estimasi Modal yang Dibutuhkan

Seperti penjelasan di atas, modal untuk membuka toko kelontong bisa fleksibel menyesuaikan budget dari pemilik toko. Sementara itu Ivana Lestari dalam bukunya berjudul Untung Berlipat Modal 1 Juta menyebutkan bahwa toko kelontong bisa dimulai dari modal Rp2,3 juta. Tentunya ini tergantung dari barang apa saja yang akan dijual di toko kelontong tersebut. 

Berikut contoh perhitungan kebutuhan modal untuk membangun bisnis toko kelontong. Perhitungan dilakukan dengan asumsi toko menggunakan rumah sendiri, sehingga tidak memasukkan komponen biaya sewa toko.

Membeli etalase kaca dengan panjang 1 meter Rp 900.000
Etalase kaca kecil 60 cm Rp 300.000
Kulkas kaca satu pintu Rp 3.000.000
Meja dan kursi Rp 500.000
Timbangan warung Rp 500.000
Belanja bahan-bahan sembako (menyesuaikan budget) Rp 4.000.000 
Biaya perlengkapan lainnya Rp 300.000
Total Rp 9.500.000

 

usaha toko kelontongPermasalahan yang Dihadapi Toko Kelontong

Setiap usaha biasanya memiliki tantangannya masing-masing, begitu pula dengan usaha perdagangan melalui toko kelontong. Berikut beberapa permasalahan yang biasanya dihadapi toko maupun warung kelontong.

  • Keuntungan yang cukup kecil

Pembeli dari toko kelontong pada umumnya cukup sensitif terhadap harga. Pembeli sangat mudah berpindah toko jika merasa ada toko yang menawarkan harga lebih murah. Hal ini membuat pemilik toko harus mau berkompetisi dari segi harga yang kemudian juga membuat margin toko menjadi lebih kecil. 

Jika dibandingkan dengan usaha lain seperti usaha makanan atau bisnis kuliner yang memiliki margin rata-rata diatas 10% maka usaha sembako terbilang kecil karena keuntungan yang didapat pada angka 3-7% saja.

Kondisi ketika harga barang naik signifikan, bisa memberi keuntungan lebih. Seperti minyak goreng beberapa waktu lalu, akan memberi keuntungan lebih besar bagi para pedagang yang memiliki stok banyak yang dia beli ketika harga belum naik.

  • Terlalu banyak pembeli yang berhutang

Salah satu kelebihan toko kelontong adalah pembeli bisa melakukan utang jika belum memiliki uang untuk melakukan transaksi. Tetapi hal ini juga bisa menjadi boomerang bagi pemilik toko. Hal ini disebabkan karena produk yang dijual seringnya berupa fast moving consumer goods yang memiliki perputaran cepat. 

Dengan demikian kebutuhan arus kas yang lancar menjadi sebuah keharusan. Sementara banyaknya utang oleh pembeli bisa menjadi hambatan terhadap hal ini. Di beberapa kasus masalah ini juga bisa berimbas pada kebangkrutan toko.

  • Mengelola stok barang

Pengelolaan stok barang menjadi salah satu kunci utama keberhasilan sebuah toko kelontong. Toko kelontong dengan perputaran barang yang cepat juga memiliki risiko berupa barang menumpuk sehingga menyebabkan kadaluarsa atau rusak di gudang. Oleh karena itu manajemen stok dalam hal ini menjadi sangat penting.