fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Pengertian Inflasi, Seluk-Beluk, dan Tips Menghadapinya Bagi Pebisnis

inflasi bagi pebisnis 01

Barangkali, kamu masih ingat (atau mungkin belum lahir?), Indonesia pernah mengalami inflasi 77% pada 1998 sebagaimana lansiran dari katada.co.id. Kondisi tersebut sebagai salah satu imbas dari krisis ekonomi global. Satu dasawarsa kemudian, tepatnya 2008, Indonesia mengalami krisis ekonomi lagi, walaupun tak separah 1998. Kamu bisa membayangkan, bagaimana struggling-nya pebisnis ketika itu yang tak kalah struggling-nya dengan pebisnis pada masa Covid-19. Memang, kondisi eksternal yang unpredictable seperti inflasi yang tinggi menjadi salah satu momok para pebisnis. That’s why, kamu yang saat ini sedang merintis usaha, mesti banget memiliki pengetahuan terkait inflasi agar bisa membuat antisipasi. Apa pengertian inflasi, seluk-beluk, dan tipsnya? Yuk simak artikel ini.

Pengertian Inflasi

Mungkin, kamu sudah sangat familier dengan istilah inflasi, namun belum terlalu ngeuh akan pengertian inflasi. Bank Indonesia, melalui website-nya menjelaskan, bahwa inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Adanya inflasi membuat daya beli konsumen menurun. Betapa tidak, jika sebelumnya uang Rp10 ribu bisa untuk membeli paket nasi lengkap misalnya. Lantaran inflasi, uang Rp10 ribu tak bisa lagi kamu gunakan untuk mendapatkan paket nasi yang sama. Kalau pun ingin mendapatkan paket nasi lengkap, kamu harus merogoh kocek lebih dalam, misalnya Rp15 ribu.

Baca juga: Apa yang Dimaksud Harga Pokok Penjualan (HPP)? Simak Pengertian dan 7 Tips Pentingnya

Penyebab Inflasi

Setelah memahami pengertian inflasi atau apa itu inflasi, selanjutnya hal yang tidak kalah penting, kamu mesti tahu penyebab inflasi. Apabila merujuk pada pemaparan sebelumnya, bahwa inflasi adalah kenaikan harga barang atau jasa secara terus-menerus. Bisa jadi, kamu bertanya mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Melansir dari laman money.kompas.com, penyebab inflasi di suatu negara adalah sebagai berikut.

1. Meningkatnya permintaan atau demand pull inflation

Penyebab inflasi yang pertama, yakni meningkatnya permintaan. Sebagaimana teori ekonomi yang menyatakan, bahwa jika permintaan bertambah, harga akan naik. Asumsinya, jumlah barang atau jasa yang tersedia terbatas.

2. Meningkatnya biaya produksi, bahan baku, bahan penolong, ongkos kirim, dll., atau cost push inflation

Penyebab inflasi yang kedua, yaitu meningkatnya biaya produksi, entah itu bahan baku, bahan penolong, ongkos kirim, atau yang lain. Jelas, jika semua biaya tersebut naik, harga pun ikut naik.

Baca juga: Biaya Overhead Termasuk Unsur Penting, Ini 5 Tipsnya

3. Meningkatnya jumlah uang yang beredar

Penyebab inflasi berikutnya adalah meningkatnya jumlah uang yang beredar. Bayangkan saja, dengan asumsi jumlah barang atau jasa tetap, namun jumlah uang yang tersedia melimpah. Apa yang akan terjadi? Konsumen akan rela membayar berapa pun harganya, asalkan bisa mendapatkan barang tersebut. Uang seolah-olah menjadi tak ada “harganya” lagi, karena jumlahnya terlalu melimpah.

4. Perilaku konsumen

Penyebab inflasi berikutnya, yakni perilaku konsumen atau masyarakat. Contoh paling nyata adalah kebiasaan menimbun barang. Bayangkan, jika semua orang punya hasrat menimbun barang yang menjadi hajat hidup orang banyak seperti beras, minyak goreng, atau yang sejenis. Apa yang akan terjadi? Kelangkaan bisa terjadi. Jika sudah demikian, harga pun akan melambung.

5. Meningkatnya jumlah penduduk

Penyebab inflasi berikutnya, yaitu meningkatnya jumlah penduduk yang berimplikasi pada meningkatnya jumlah permintaan. Jika barang yang tersedia terbatas atau bahkan kurang, sedangkan pertambahan jumlah penduduk tak terkendali, maka inflasi bisa terjadi.

6. Pengaruh ekonomi global

Hal ini terjadi saat krisis ekonomi global tahun 1998 dan 2008. Dua peristiwa tersebut berimbas pada perekonomian dalam negeri.

7. Hal-hal yang tak bisa diprediksi seperti pandemi, perang, atau hal-hal tak kamu sangka sebelumnya

Siapa yang menyangka kalau 2020 dunia akan “dihantam” Covid-19. Kondisi tersebut membuat perekonomian dunia kocar-kacir, tak terkecuali di negeri sendiri. Jika kamu melihat data inflasi yang ada di website Bank Indonesia, persentasenya masih mengalami fluktuasi. Ambil contoh saja saat kasus pertama Covid-19 diumumkan, data inflasi pada Maret 2020 sebesar 2,96% atau turun sebesar 0,02% daripada Februari 2020, tapi naik 0,28% ketimbang Januari di tahun yang sama. Berikutnya, data inflasi menunjukkan penurunan persentase hingga di akhir 2021 sebesar 1,87%.

Baca juga: Usaha Konveksi Masih Berpotensi Setelah Pandemi? Simak Kiatnya di Sini

Pada 2022 ini, data inflasi menunjukkan kenaikan kembali. Posisi terakhir pada April 2022 adalah 3,47%. Memang tak serta-merta karena Covid-19, fluktuasi ini terjadi karena ada faktor lain seperti perilaku konsumen saat hari besar keagamaan yang notabene belanja lebih banyak daripada hari biasa.

Dampak Inflasi

inflasi bagi pebisnis 02Adanya inflasi, jelas membawa pengaruh atau dampak pada semua hal, tak terkecuali para pebisnis. Apa saja dampak inflasi yang harus kamu waspadai atau di sisi lain syukuri?

1. Meningkatkan kreativitas pebisnis

Dampak inflasi yang pertama jika dilihat dari sisi positif adalah meningkatkan kreativitas. Sebagai pebisnis, kamu terdorong untuk mencari bahan baku pengganti yang berkualitas sama, tapi dengan harga lebih rendah. Sebagai pebisnis, kamu juga jadi terdorong untuk menambah pemasukan dengan cara lain. Misalnya, jika sebelumnya kamu tak terpikir untuk merambah dunia online, saat ini ruang tersebut menjadi salah satu caramu untuk menambah atau menghadirkan keuntungan.

Baca juga: Cara Jualan Online Laris di Whatsapp, Ini Ulasan Lengkapnya

2. Daya beli konsumen menurun

Dampak inflasi yang kedua dan nyata, yakni daya beli konsumen yang menurun. Apalagi, bagi mereka yang berpenghasilan tetap, adanya inflasi akan lebih terasa. Sebagai pebisnis, kondisi tersebut membuatmu berpotensi kehilangan konsumen, kecuali jika barang yang kamu jual sifatnya kebutuhan primer.

3. Berlaku hukum rimba: pebisnis yang mampu beradaptasi yang bertahan

Dampak inflasi berikutnya, yakni sebagaimana hukum rimba. Dalam hal ini, bukan mereka yang kuat yang bertahan, tapi mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Sebagai contoh, inflasi yang disebabkan kondisi unpredictable seperti pandemi. Dampak inflasi karena hal tersebut, salah satunya adalah bergesernya “pasar” para pebisnis dari yang sebelumnya lebih banyak offline menjadi online.

Haree genee, terutama saat kasus Covid-19 tinggi-tingginya, siapa yang tak tahu istilah belanja online, toko online, atau semacamnya. Namun, apa iya semua pebisnis mau atau bisa menggunakan media online sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan. Jawabannya tidak. Tak semua pebisnis ngeuh. Tak semua pebisnis bisa atau mau beradaptasi. Bisa ditebak kelanjutannya, mereka yang tak bisa beradaptasi, lama-lama akan “mati”.

4. Inflasi yang terkendali justru meningkatkan perekonomian

Dampak inflasi berikutnya dari sisi positif, yaitu peningkatan perekonomian pada inflasi yang terkendali. Bayangkan saja, apa yang terjadi jika permintaan konsumen naik karena meningkatnya jumlah penduduk? Pebisnis akan terdorong untuk bekerja lebih keras memenuhi hal tersebut. Bukan begitu? Lapangan kerja berkemungkinan bertambah, yang itu artinya tingkat perekonomian pun bisa lebih baik.

5. Inflasi yang tak terkendali bisa menyebabkan resesi

Dampak inflasi yang menyeramkan, yaitu resesi. Ada beberapa indikator yang membuat negara disebut resesi atau masuk dalam jurang resesi sebagaimana lansiran dari bisnis.com. Beberapa di antaranya, yakni banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan, pebisnis terus merugi atau tak menghasilkan apa pun, dan pengeluaran negara mengalami penurunan yang sangat signifikan. Hal tersebut bisa terjadi, salah satunya karena inflasi yang tak terkendali sebagaimana yang terjadi di tahun 1998.

Ibarat pisau bermata dua, dampak inflasi tak hanya  menguntungkan, melainkan juga merugikan bahkan mematikan.

Cara Mengatasi Inflasi

inflasi bagi pebisnis 03Setelah paham apa itu inflasi atau pengertian inflasi, tentu kamu sepakat, bahwa inflasi adalah sebuah keniscayaan. Rasanya, tak ada satu negara pun yang bisa terhindar dari inflasi. Boleh kamu bilang, inflasi adalah layang-layang yang terbang di awan. Ketika kamu menariknya terlalu kencang, ia akan lepas.  Apabila membiarkan, kamu akan kehilangan. Yang benar adalah tarik dan ulur.

Baca juga: Mengenal Seluk-Beluk dan Cara Membuat NPWP

Dalam konteks ini, inflasi adalah sesuatu yang tak boleh kamu takuti, melainkan kamu antisipasi dan sikapi dengan baik. Ada beberapa cara mengatasi inflasi yang disepakati Bank Indonesia dan pemerintah sebagaimana yang tertuang dalam website Bank Indonesia bertajuk “5 Langkah Strategis Menjaga Inflasi” Nomor 23/38/DKOM, yaitu sebagai berikut:

  1. Menjaga inflasi kelompok pangan bergejolak dengan memastikan masalah keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, komunikasi efektif, dan menjaga ketersediaan pasokan saat hari besar keagamaan nasional.
  2. Memperkuat koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam pengendalian inflasi.
  3. Menguatkan sinergi antar kementerian maupun lembaga dengan dukungan pemerintah daerah.
  4. Memperkuat ketahanan pangan nasional dengan meningkatkan produksi.
  5. Menjaga ketersediaan cadangan beras pemerintah (CBP).

Cara mengatasi inflasi sebagaimana yang dijabarkan di atas akan berpengaruh pada pebisnis dan juga konsumen. Kedua pihak tersebut akan merasa terlindungi karena harga pasar serta pasokan barang yang ada tak serta-merta dibiarkan begitu saja, melainkan dikendalikan sesuai kebutuhan. Dengan demikian, kamu sebagai pebisnis tak perlu terlalu galau berlebihan. Tugasmu adalah memastikan, bahwa produkmu berkualitas agar tetap bisa bersaing di masa-masa sulit sekalipun. Kamu juga jangan bertumpu pada satu jenis sumber.

Sebagaimana teori investasi yang mengatakan don’t put all your eggs into one basket. Maksudnya, ketika kondisi eksternal tak mendukung atau sedang bergejolak, kamu terhindar dari kerugian besar karena memiliki banyak “pintu” atau sumber pemasukan. Misalnya, ketika bisnis A hancur karena dampak inflasi, kamu masih punya bisnis B yang tak terlalu kena dampak.

Baca juga artikel terkait lainnya

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP