fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Pengertian, Tips dan Seluk Beluk Tentang Return on Investment (ROI)

Return on investment 01

Return on investment atau ROI merupakan salah satu patokan yang cukup populer di kalangan para investor untuk menilai kinerja sebuah investasi, mulai dari investasi di pasar modal, jual beli properti atau real estate, hingga untuk memperkirakan rencana pengembangan sebuah usaha. Simak penjelasannya. 

Definisi Return on Investment

Return on investment (ROI) atau pengembalian investasi adalah tolak ukur kinerja yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi maupun profitabilitas dari sebuah investasi. Return on investment  juga bisa digunakan untuk membandingkan efisiensi antara satu investasi dengan investasi lainnya. 

ROI ini sering berguna dalam banyak kasus untuk menghitung potensi sebuah investasi. Contohnya ada investor yang ingin mengetahui potensi return on investment dari suatu investasi sebelum menanamkan dana untuk investasi pada satu perusahaan.

Dalam konteks kinerja sebuah perusahaan, semakin tinggi persentase return on investment pada sebuah perusahaan berarti semakin tinggi kemampuan perusahaan tersebut untuk memanfaatkan aktiva yang dimilikinya untuk menghasilkan laba bagi perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah return on investment pada sebuah perusahaan berarti semakin kecil kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan aktifanya untuk menghasilkan laba.

Manfaat Penggunaan ROI

Selain menjadi tolok ukur kinerja investasi, ROI juga sering sebuah perusahaan gunakan untuk mengukur keberhasilan proyek tertentu. Misalnya perusahaan menginvestasikan dananya untuk melakukan kampanye iklan menggunakan sosial media dan jasa influencer. Proyek tersebut bisa dihitung return on investment-nya terkait dengan penjualan langsung yang dihasilkan. 

Jika hasil penjualan lebih besar dari biaya yang perusahaan gunakan maka return on investment  dari proyek tersebut positif. Sementara jika biaya lebih besar jika kamu bandingkan dengan penjualan yang menghasilkan maka ROI dari proyek tersebut negatif. Hal ini bisa menjadi evaluasi ketika perusahaan akan melanjutkan proyek tersebut atau tidak.

Beberapa poin penting dalam Return on Investment

  • Return on investment 02Return on Investment (ROI) merupakan tolak ukur profitabilitas yang populer untuk mengevaluasi sebaik apa performa investasi yang dilakukan.
  • ROI berbentuk persentase dan dihitung dengan membagi laba bersih investasi maupun kerugian bersihnya dengan biaya awal (initial cost) atau pengeluaran awal (initial outlay).
  • ROI bisa digunakan untuk membandingkan secara apple to apple dan membuat ranking dari beberapa proyek investasi maupun aset.
  • Return on Investment tidak memasukan komponen lama waktu investasi (holding period) dalam perhitungannya. Hal ini bisa menyebabkan investor kehilangan peluang investasi di tempat lainnya di waktu yang sama.

Cara menghitung Return on Investment

Untuk menghitung return on investment atau ROI caranya adalah dengan mengurangi nilai investasi saat ini (current value of investment) dengan biaya investasi (cost of investment), dibagi dengan biaya investasi tersebut dan dikalikan 100%.

Misalnya, nilai investasi saat ini adalah Rp110 juta, biaya investasi sebesar Rp100 juta. Maka rumusnya adalah (Rp110 juta-Rp100 juta) / Rp100 juta x 100%. Maka ROI memperoleh sebesar 10%.

Karena return on investment dihitung menggunakan persentase, akan sangat mudah membandingkan hasil dari sejumlah investasi yang berbeda. Misalnya membandingkan hasil investasi saham dengan investasi properti.

Kelebihan Return on Investment

Return of investment merupakan tolak ukur yang populer karena terbilang cukup sederhana dan serbaguna. Return on investment bisa digunakan sebagai pengukur dasar dari profitabilitas sebuah investasi, mulai dari investasi saham, perkiraan pengembalian investasi ketika pabrik melakukan ekspansi, atau pengembalian hasil dari transaksi properti.

Perhitungannya pun tidak terlalu rumit, dan cukup mudah untuk kamu interprestasikan dalam berbagai kondisi pengaplikasiannya. Jika sebuah investasi memiliki return on investment yang positif, maka mungkin akan bermanfaat jika dilakukan. Tetapi jika ada peluang dengan return on investment atau ROI yang lebih tinggi dan tersedia, sinyal ini bisa membantu investor untuk mengeliminasi atau memilih opsi terbaik. Selain itu, investor sebaiknya menghindari investasi dengan return on investment negatif, yang memiliki implikasi potensi rugi bersih.

Kekurangan dari ROI

Setidaknya ada tiga kekurangan dengan menggunakan Return on Investment sebagai tolak ukur profitabilitas sebuah investasi, yaitu:

  1. Definisi yang pas mengenai laba dan investasi sulit untuk ditemukan. Laba atau profit memiliki banyak konsep seperti laba sebelum bunga dan pajak, laba setelah bunga dan pajak, laba terkendali, laba setelah mengurangi semua beban dan rugi pendapatan. Sama halnya dengan istilah investasi yang juga memiliki banyak konotasi, mulai dari nilai buku kotor, nilai buku bersih, biaya aset historis, biaya aset saat ini, aset termasuk atau tidak termasuk aset tidak berwujud.
  2. Ketika melakukan perbandingan return on investment dari perusahaan yang berbeda, perlu dipastikan bahwa masing-masing menggunakan kebijakan dan metode akuntansi yang serupa, mulai dari pengukuran valuasi saham, valuasi aset tetap, pembagian biaya overhead, dan perlakuan terhadap riset dan pengembangan pengeluaran.
  3. Dalam kasus pengembangan usaha, pengambil keputusan mungkin akan cenderung memilih investasi pada divisi yang memiliki tingkat ROI tertinggi, atau ROI dengan persentase tinggi. Sementara investasi pada divisi lainnya, meskipun bisa meningkatkan nilai tambah dari sebuah bisnis, mungkin akan pengambil keputusan tolak. Padahal bisa saja investasi yang menolak tersebut dapat meningkatkan ROI yang sebelumnya telah ada meskipun tidak memiliki kontribusi besar terhadap perusahaan secara keseluruhan.

Nilai ROI yang Ideal

Dalam dunia pasar modal misalnya, sebagian besar investor menggunakan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 10% atau lebih sebagai return on investment yang bagus untuk investasi secara jangka panjang. Namun, yang perlu kamu ingat adalah bahwa angka tersebut adalah rata-rata. Mungkin dalam beberapa tahun angkanya bisa lebih rendah atau bahkan negatif. Sementara beberapa tahun lainnya mungkin menghasilkan return on investment yang lebih tinggi.

Sebuah investasi dengan return on investment yang baik akan tergantung dari sejumlah faktor seperti toleransi risiko dari investor dan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan laba. Investor dengan kemampuan mentolerir risiko yang rendah cenderung menerima return of investment yang lebih rendah. Sementara itu, investasi yang dilakukan dalam periode yang lebih panjang biasanya menghasilkan return on investment yang lebih tinggi.

Industri dengan Return on Investment Tertinggi

Return on investment 03Secara historis, rata-rata return on investment pada S&P500 (indeks saham di Amerika Serikat yang sering dijadikan benchmark sebuah investasi) adalah sekitar 10% per tahun. Namun, angka tersebut juga akan berbeda-beda tergantung pada industrinya masing-masing. Misalnya, pada 2020 banyak perusahaan teknologi yang menghasilkan ROI lebih dari 10%. Sementara itu, perusahaan di sektor lainnya seperti energi menghasilkan ROI yang lebih rendah. 

Kendati demikian, normalnya rata-rata ROI pada tiap industri selalu terjadi peralihan. Seperti sektor energi yang pada tahun ini tampaknya akan menghasilkan laba yang tinggi akibat kenaikan harga komoditas energi seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam. Beberapa faktor lainnya yang juga berpengaruh yaitu, peningkatan kompetisi, perubahan teknologi, dan peralihan pilihan konsumen.

Berikut contoh ranking ROI secara sektoral pada kuartal pertama 2022

Consumer Discretionary 24.51 % 
Retail 23.73 % 
Technology 22.52 % 
Capital Goods 17.66 % 
Consumer Non Cyclical 16.85 % 
Financial 14.62 % 
Healthcare 11.99 % 
Conglomerates 10.75 % 
Basic Materials 10.54 % 
Transportation 8.76 % 
Services 8.04 % 
Energy 7.10 % 
Utilities 2.15 %