fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Pentingnya Brand Voice untuk Sukseskan Bisnis

Brand Voice

Kamu pasti sudah tidak asing dengan brand minuman ringan Coca Cola, kan? Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1886 ini masih terus beroperasi di berbagai negara hingga kini, termasuk Indonesia. Dengan perjalanan bisnis selama itu, tidak heran jika Coca Cola menjadi brand produk minuman ringan yang lekat di benak konsumen. Selama itu pula, Coca Cola berhasil membangun Brand Voice khasnya sendiri. 

Hal menarik yang bisa kamu pelajari dari Coca Cola adalah caranya dalam berkomunikasi dengan target audience mereka di berbagai media promosi, baik media konvensional seperti TV, radio dan majalah, dan media digital. Dengan tipografi huruf yang khas di logonya dan warna korporat merah menyala, brand ini selalu mengomunikasikan Brand Voice yang sama; hangat, ramah, dan bahagia.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Brand Voice, Apa dan Seberapa Penting?

Dalam melakukan strategi branding, penting bagi sebuah brand untuk memiliki kepribadian yang akan menjadi pembeda atau ciri khas dibanding kompetitor. Dari sisi psikologi konsumen, ini merupakan hal yang penting. Konsumen cenderung memilih brand dengan kepribadian yang kurang lebih sama dengan mereka. 

Jika masih belum jelas, coba simak ilustrasi berikut ini. Bandingkan antara kedua brand mobil ini: Volvo dengan Jeep. Volvo menunjukkan kepribadian sebagai mobil yang elegan, mewah, berkelas. Sementara Jeep, menonjolkan kehebatannya di alam terbuka, tangguh, dan siap menerima tantangan. Kepribadian ini kerap terlihat dalam materi promosi mereka. Dengan melihat hal tersebut, konsumen yang memiliki kepribadian pemberani, senang berpetualang, atau suka kebebasan, cenderung akan memilih Jeep. Begitu juga dengan konsumen yang ingin terlihat berwibawa, mapan, dan berkelas, cenderung akan memilih Volvo

Agar lebih terlihat oleh konsumen, Brand Personality ini dapat kamu komunikasikan melalui aktivitas promosi sebuah brand, salah satunya iklan. Dengan rasa dan cara yang sama; baik dari sisi bercerita, cara penyampaian, hingga atribut yang digunakan mengacu pada brand tersebut. Inilah arti dari Brand Voice. Brand Voice membuat kepribadian sebuah brand bisa terlihat dan dirasakan oleh konsumennya. 

Belajar dari pengalaman brand-brand yang memiliki Brand Voice kuat seperti Coca Cola atau Harley Davidson, cara berkomunikasi dengan suara yang konsisten sangat membantu konsumen untuk lebih mengenali dan mengingat brand kamu. Jika nama brand kamu sudah melekat di benak konsumen, berarti strategi branding yang kamu lakukan sudah menunjukkan keberhasilan. Konsumen akan cenderung membeli brand kamu ketimbang brand kompetitor. Apalagi, bagi konsumen yang membeli sesuatu tidak sekadar karena fungsi, melainkan nilai lebih dari sebuah brand

Bagaimana Cara Menentukan Brand Voice Kamu?

  1. Tentukan Brand Personality dan Positioning Statement

    Pada awal membangun brand, dua hal ini tentu sudah kamu pikirkan. Ibarat seorang manusia, Brand Personality atau kepribadian brand merupakan karakter yang ingin kamu tampilkan. Misal, mobil “Jeep”. Brand ini memperlihatkan karakter tangguh dan senang kebebasan. 

    Karakter atau kepribadian tersebut tentu saja bukan sembarang dipilih tetapi mengacu pada keunikan atau kelebihan yang ditonjolkan oleh brand. Nah, untuk melekatkan kelebihan dari suatu brand, dibuatlah Positioning Statement. Misalkan, “mobil tangguh untuk petualang.”

    Dengan menentukan dua hal ini, kamu sudah tahu bagaimana brand kamu mau diingat oleh konsumen.

  2. Cocokkan dengan target audiens

    Setiap brand pasti memiliki target audiens yang berbeda-beda. Kamu bisa mempelajari target audiens, baik dari demografi maupun psikografi, sehingga Brand Voice yang ingin kamu sampaikan sesuai dan lebih mudah diterima oleh mereka. Secara demografi berarti kamu membagi target audiens berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, status ekonomi sosial, pendapatan per bulan, pengeluaran, dan sejenisnya. Sedangkan psikografi artinya memetakan target audiens berdasarkan kesukaan, kebiasaan, kepercayaan akan sesuatu, dan sejenisnya. 

    Coca Cola misalnya. Dengan konsep kehangatan dan kebersamaan yang diangkat di banyak materi promosi, sangat cocok dengan psikografi target audiens mereka yang senang berkumpul atau menomorsatukan kebersamaan. 

    Dengan mengenal target audiens kamu juga akan lebih memilih bahasa yang tepat dalam berkomunikasi dengan mereka. Kalau kamu berbicara dengan remaja, pemilihan kata-katanya juga harus kamu sesuaikan dengan penggunaan bahasa mereka sehari-hari. Begitu juga jika target audiens kamu adalah para eksekutif dengan jabatan dan pendidikan tinggi, tentu cara kamu berbicara dengan mereka akan berbeda, kan?

Mengomunikasikan Brand Voice di Media Sosial

Brand VoicePada dasarnya, Brand Voice perlu kamu komunikasikan di semua media. Tidak hanya di materi promosi media lini atas atau media digital tetapi juga di media lini bawah, seperti newsletter, e-magazine, atau ketika kamu berkomunikasi langsung dengan konsumen melalui layanan pesan singkat atau telepon. 

Namun, sebagai pebisnis yang banyak menggunakan platform digital, kamu tentu perlu perhatian ekstra jika ingin mengomunikasikan Brand Voice kamu di media digital, khususnya media sosial. 

Menurut Sprout Social Index, sebuah brand akan lebih terlihat menonjol di media sosial jika memiliki konten yang menarik dan mudah diingat, unik, dan menggunakan gaya bercerita yang menyentuh. Unik dapat berarti ciri khas atau kepribadian yang membedakan dengan brand lain (terlebih di dalam kategori produk sejenis). 

Apa Saja Langkah-Langkahnya?

Ada 5 langkah yang kamu perlu lakukan untuk mengomunikasikan Brand Voice kamu di media sosial.

  • Ciptakan Brand Persona yang jelas.
  • Tentukan Content Pillar yang menaungi semua jenis konten di media online kamu– baik di YouTube, media sosial berjejaring maupun aplikasi pesan singkat—dengan topik yang menyesuaikan dengan Brand Personality, Brand Positioning, dan kebutuhan target audience. Kalau kamu membuat produk rumah tangga yang menyasar target audiens, ibu-ibu bekerja, usia muda dengan anak balita, sesuaikan konten yang kamu angkat dengan sasarannya tersebut. Misalnya, konten yang berkaitan dengan masak cepat, manajemen waktu, parenting, dan sejenisnya.
  • Tentukan panduan untuk desain (tone warna, foto, tipografi, dan sejenisnya).
  • Buat panduan bagaimana social media officer menjawab pertanyaan, keluhan, saran dari konsumen di media sosial. Kamu bisa saja memiliki lebih dari social media officer yang menangani akun media sosial brand kamu, kan? Mereka, bisa jadi memiliki gaya berbicara yang berbeda. Namun, ketika mereka harus merepresentasikan brand kamu dengan Brand Persona yang mungkin berbeda dengan kepribadian mereka, cara penyampaiannya tetap harus sama.
  • Buat panduan bagaimana Brand Voice tersebut dapat diturunkan ke copywriting. Copywriter boleh berganti tapi cara berkomunikasi brand kamu melalui tulisan harus tetap sama.
Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Kalau kamu sudah menentukan apa Brand Voice kamu dalam tiga kata, selanjutnya, bagaimana menerjemahkan tiga kata tersebut ke dalam konten; baik visual maupun copywriting. Seperti halnya Coca Cola yang menerjemahkan kebersamaan ke dalam cerita di semua materi promosinya. 

Dari penjelasan di atas, sudah siap menentukan Brand Voice kamu?