fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Revolusi Industri 4.0, Peluang dan Tantangannya bagi Bisnismu

revolusi industri 4.0

Revolusi industri 4.0 sudah mulai terdengar pada era tahun 2000-2005 ketika internet berkecepatan tinggi mulai berkembang. Istilah tersebut semakin bergema saat sistem internet juga merambah semua produk pelayanan masyarakat berkat adanya penyimpanan cloud hingga big data. 

Dalam acara Hannover Trade Fair di tahun 2011, terjadi pembahasan mengenai proses produksi dalam industri yang harus ada pembaruan. Hal ini karena adanya perkembangan pesat terkait sistem internet. Pemerintah Jerman menanggapi gagasan tersebut dengan sangat serius, hingga akhirnya mereka membentuk sebuah tim khusus untuk merealisasikannya. 

Pada tahun 2015, dalam pertemuan tahunan World Economy Forum (WEF), Kanselir Jerman  Angela Markel mengartikan bahwa revolusi industri  4.0 adalah transformasi komprehensif yang menyelimuti seluruh aspek produksi, dari industri melalui peleburan teknologi dan digital dengan industri konvensional. 

Baca juga: Digital Marketing untuk Meningkatkan Penjualan, Ini Tips-tipsnya

revolusi industri 4.0Pada tahun yang sama, Schlechtendahl dkk. memunculkan definisi yang memberi penekanan pada unsur kecepatan dari ketersediaan sebuah informasi. Yaitu sebuah lingkungan industri yang mana seluruh entitasnya dapat selalu terhubung serta mampu berbagi informasi dengan mudah satu sama lain.

Sebelumnya, pada tahun 2013, Kagerman dkk. seperti dikutip dari Wikipedia juga memunculkan definisi yang lebih teknis. Ia mengistilahkan Revolusi Industri keempat sebagai integrasi dari Cyber Physical System (CPS) & Internet of Things and Services (IoT dan IoS) ke dalam proses industri yang mencakup proses manufaktur, logistik dan proses-proses lainnya.

Sebagai kelanjutan pernyataan Markel di WEF, pada tahun 2016,  Profesor Klaus Schwab, ekonom Jerman terkemuka  yang juga merupakan founder sekaligus Executive Chairman WEF, meluncurkan buku berjudul “The Fourth Industrial Revolution” saat pertemuan di Davos. Dalam buku tersebut, Schwab mengemukakan pendapatnya bahwa revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental. Pasalnya, revolusi industri tersebut memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas daripada revolusi yang sudah terjadi sebelumnya. Kemajuan teknologi baru, yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis, telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri maupun pemerintah. 

Baca juga: Cost per Mile dalam Periklanan Digital dan 5 Manfaatnya untuk Bisnis

Beda Revolusi Industri Keempat dengan Revolusi Industri Sebelumnya

Sesuai namanya, revolusi industri saat ini merupakan fase keempat dari perjalanan revolusi industri yang telah mengubah sejarah dunia. 

Revolusi Industri 1.0

Revolusi industri pertama atau populer juga dengan istilah Revolusi Industri 1.0, berawal pada tahun 1776. Ini saat James Watt menemukan mesin uap yang memiliki efisiensi tinggi. Meski bukan yang pertama, mesin uap Watt mampu memberikan daya kepada kapal-kapal selama 24 jam penuh. Hal ini menjadi pemicu penjelajahan negara-negara Eropa ke berbagai benua. Seperti kita ketahui, penjelajahan itu berlanjut dengan aksi kolonialisme terhadap ratusan kerajaan dan pemerintahan di berbagai wilayah dunia.

Selain ekspansi kekuasaan, penggunaan mesin uap Watt secara masif juga menghasilkan berbagai produk industri dalam skala besar. Hal ini sekaligus meningkatkan perekonomian secara luar biasa sepanjang dua abad. Efek lain yang tidak menyenangkan adalah mulai terjadinya pencemaran lingkungan di berbagai tempat. 

Baca juga: Naikkan Penjualan Lewat Strategi Dasar Digital Marketing Bisnis UMKM

Revolusi Industri 2.0

Satu abad kemudian, tepatnya pada tahun 1870, dunia masuk Revolusi Industri 2.0. Tanda perubahannya itu adalah berkembangnya energi listrik dan motor penggerak. Pada era yang sebutannya populer sebagai Revolusi Teknologi ini, terjadi manufaktur dan produksi massal. Pencapaian tertinggi dalam Revolusi Industri 2.0 adalah adanya penemuan pesawat telepon, mobil dan pesawat terbang. 

Revolusi Industri 3.0

99 tahun sesudahnya, tepatnya pada 1969, masuklah dunia pada revolusi industri ketiga dengan adanya penemuan komputer. Menukil situs KKP.go.id, tanda dari era ini adalah tumbuhnya industri berbasis elektronika, teknologi informasi, otomatisasi, dan kemudian berlanjut dengan munculnya teknologi digital dan internet. 

Revolusi Industri 4.0

Sekarang, 50 tahun setelah mulainya era tersebut, kita terbawa dalam era Revolusi Industri 4.0. Perubahan terjadi sangat dramatis dengan kecepatan eksponensial. Tanda Revolusi Industri keempat adalah berkembangnya Internet of/for Things, yang mana  kegiatan manufaktur terintegrasi melalui penggunaan teknologi wireless dan big data secara masif. Hal ini membuat pemanfaatan data lebih efisien dengan sistem server dan mengintegrasikan keseluruhan kegiatan otomasi dalam satu sistem.

Baca juga: Jenis-Jenis Digital Marketing yang Pebisnis Perlu Ketahui

revolusi industri 4.0Peluang dan Tantangan Revolusi Industri 4.0

Saat ini, penerapan revolusi industri 4.0 , yang oleh Kementrian Perindustrian Republik Indonesia sering menyingkatnya dengan istilah 4IR (Fourth Industrial Revolution), bisa kita temui di berbagai industri, seperti tekstil, otomotif, elektronik, kimia, hingga makanan dan minuman. Melansir laman Kominfo, revolusi 4IR di Indonesia berfokus pada 5 teknologi sebagai pilar utama dalam pengembangan industri siap digital. Masing-masing adalah  Internet of Things (IoT), Big Data, Artificial Intelligence (AI), Cloud Computing dan Additive Manufacturing.

Adapun tujuan dari program 4IR adalah untuk mendorong ekonomi Indonesia masuk ke dalam 10 besar dunia pada tahun 2030. Hal ini utamanya melalui strategi peningkatan kegiatan ekspor. Harus diakui, target ini bukan perkara ringan karena kita juga menghadapi kompetisi sengit dari berbagai negara.

Menukil ucapan Jaya Addin dari Fakultas Bisnis Ekonomika Univesitas Islam Indonesia yang ia kutip dari ucapan Klaus Schwab, era revolusi industri 4.0 saat ini merupakan suatu keadaan yang memberikan promise (janji) yang sangat besar, namun di sisi lain dibersamai dengan peril (ancaman) yang sangat besar juga. 

“Ini adalah semacam pisau bermata dua. Kalau kita bisa memanfaatkan dengan baik, tentu kita bisa mengambil keuntungan. Kalau tidak, ya akan tertinggal. Jadi kalau tidak bisa mengikuti kemajuan teknologi era ini, kita akan terlindas,” ucapnya.

Hilangnya kesempatan kerja

Salah satu ancaman terbesar dari era revolusi industri 4.0 adalah hilangnya sejumlah besar kesempatan kerja. Studi yang dilakukan Gerd Leonhard, seorang “Futurist” dari Jerman,  seperti dinukil dari situs Institut Teknologi Indonesia menyebutkan, era digitalisasi pada Revolusi Industri keempat akan menghilangkan sekitar 1 – 1,5 miliar pekerjaan sepanjang tahun 2015-2025 karena posisi manusia tergantikan oleh mesin otomatis. Dan yang tak kalah mengejutkan, US Department of Labor Report memperkirakan 65% murid sekolah dasar  (SD) di dunia saat ini akan bekerja pada pekerjaan yang belum pernah ada sekarang. 

Namun, meski terjebak di tengah situasi yang serba tidak pasti, Indonesia masih memiliki peluang untuk mengembangkan sumber daya dan lini bisnis baru melalui transformasi digital. CEO & Founder Anchanto, Vaibhav Dabhade dalam wawancara dengan Kontan.co.id mengemukakan pendapatnya bahwa, revolusi industri 4.0 dapat memberikan berbagai peluang baru bagi setiap jenis dan ukuran bisnis di Indonesia, tak terkecuali bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). 

Baca juga: 10 Tips Praktis Meningkatkan Digital Presence bagi Bisnis D2C

Untuk menemukan peluang itu, Vaibhav menyarankan sejumlah langkah yang dapat dilakukan para pelaku usaha. Antara lain dengan meninjau kembali model bisnis yang telah ada, melakukan investasi teknologi, memiliki pandangan terbuka atas peluang baru, serta menyusun strategi dan target jangka panjang. Menurutnya, langkah-langkah tersebut  penting untuk memastikan bahwa kamu tidak akan mengalami kerugian atas perubahan yang terjadi, dan mengambil berbagai langkah strategis untuk memastikan tetap mendapatkan keuntungan dalam perubahan tersebut. 

Peluang

Namun di sisi lain, digitalisasi dalam revolusi industri keempat juga meningkatkan beberapa peluang bisnis. Antara lain industri fintech, software As a Service (SaaS), cloud hosting, Bisnis jual beli inline, On-Demand Service dan Online Marketing.

Peluang industrial tersebut sekaligus memunculkan beberapa profesi prospektif. Beberapa di antaranya adalah Data Scientist, Koordinator robot, Arsitek jasa IoT / IT,  Programmer / insinyur komputer, UI/UX designer yang bertugas  membuat tampilan atau antarmuka (interface) untuk produk digital seperti website, ahli keamanan siber (cyber security), ahli pemasaran digital (digital marketing) dan berbagai profesi yang mungkin saat ini belum bisa kita duga. 

Sebagai pengusaha, keputusan ada di tangan kamu sendiri. Pilihan hanya ada dua, ikut kemajuan teknologi digital dalam revolusi industri 4.0 atau rela terlindas zaman. Kamu pilih yang mana? 

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Published by Emilia Natarina

Content Marketing LummoSHOP