fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Sandwich Generation, Kenali yang Spesial dari Mereka di Sini

Sandwich generation

Lummoners pernah mendengar istilah sandwich generation? Yang kalau kamu coba terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya adalah generasi roti lapis. Kira-kira apa ya maksudnya? Apa ada sesuatu yang menarik pula dari generasi tersebut? Atau jangan-jangan kamu adalah bagian dari sandwich generation yang sedang hangat menjadi topik perbincangan saat ini?

Bersama kami, kamu akan coba mengenal lebih banyak tentang generasi yang spesial ini. Yuk dimulai!

Apa Itu Sandwich Generation?

Siapa sih yang nggak tahu bentuk dari sandwich atau roti lapis? Bayangkan ada dua roti yang di tengahnya berisi irisan daging, sayuran, keju, dan saus sebagai pelengkap. Semua isian tersebut diapit oleh kedua roti yang membuatnya tidak akan mudah bergeser. Nah, isian tersebut seolah menggambarkan kondisi finansial seseorang yang sedang terhimpit dari generasi bawah dan juga atas yang juga bisa kamu ibaratkan dari kedua roti yang mengapit.

Generasi bawah merupakan anak bahkan cucu, sedangkan generasi atas merupakan orang tua atau mertua. Jika sedang berada pada kondisi ini, maka langkah pasti yang akan kamu lakukan adalah berupaya dalam memenuhi kebutuhan kedua generasi. Memang generasi sandwich ini terkesan seperti terjebak diantara pilihan yang sebenarnya tidak ada. Oleh karenanya, hal inilah yang membuat generasi ini menjadi “spesial”.

Tahukah kamu? Sandwich generation adalah istilah yang sudah muncul sejak tahun 1981. Tepatnya setelah Dorothy A. Miller dari Universitas Kentucky menuliskannya dalam jurnal yang berjudul “The Sandwich Generation: Adulth Children of The Aging”. Studi demografis yang dilakukan Dorothy A. Miller ternyata tidak hanya relevan pada masa lampau, tapi juga hingga masa kini.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Fenomena Sandwich Generation

Berdasar sumber dari Kemenko PMK, Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi pada tahun 2035. Usainya era bonus demografi juga menjadi selesainya penduduk usia produktif yang mendominasi alias aging population. Nah, hal ini juga akan berkaitan dengan fenomena generasi sandiwch yang mulai kamu kenal.

Di mana saat ini terdapat fenomena yang terjadi ketika seorang perempuan usia 30-an memiliki anak kecil dan orang tua yang lemah pada waktu bersamaan. Bisa kamu bayangkan? Biasanya saat seorang anak sudah menginjak usia 30 tahun, biasanya orang tuanya berusia sekitar 60 tahun. Itu merupakan usia yang membutuhkan dukungan lebih dari anak, baik secara fisik maupun finansial. 

Sementara di satu sisi, generasi si anak yang sudah menginjak usiak 30 tahun ini masih memiliki anak kecil yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang tidak kalah penting pula. Fenomena ini yang membuat generasi sandwich semakin eksis. Dan yang paling mengejutkan besar kemungkinan generasi sandwich ini bersifat turunan. Namun, apa semua semata karena usia saja?

Tentu tidak, Lummoners. Ada banyak hal yang membuat fenomena generasi sandwich semakin melangit. Bisa juga karena kurangnya kesiapan dalam menata masa depan dalam kaitannya tentang manajemen keuangan. Atau juga gaya hidup semasa muda yang besar pasak daripada tiang. Semua itu bekerja sama jadi satu membuat sebuah fenomena generasi sandwich semakin “spesial”.

Lantas, apa sandwich generation adalah hal yang tidak bisa berhenti? Tentu bisa! Kamu harus memulainya dari dirimu sendiri. Yuk, pelajari seluk beluk tentang generasi sandwich di bawah ini!

Ciri-Ciri Sandwich Generation

Terdapat tiga ciri-ciri dari generasi sandwich, yaitu:

  1. The Traditional Sandwich Generation

Meliputi orang dewasa antara usia 40 sampai dengan 50 tahun yang diapit antara orang berusia lanjut dan anak-anak.

  1. The Club Sandwich Generation

orang dewasa antara usia 30 sampai dengan 60 tahun yang diapit antara orang tua dan anak, bahkan cucu hingga kakek dan nenek.

  1. The Open Faced Sandwich Generation

Meliputi orang yang termasuk kategori perawatan lansia yang diapit antara orang tua dan saudara kandung.

Jadi, generasi ini tidak sebatas pada kamu yang sedang berada pada usia produktif. Maka dari itu generasi ini bisa saja terjadi secara turun temurun. Caranya agar tidak berkelanjutan, maka kamu harus memutus mata rantainya di generasimu!

Penyebab Sandwich Generation

Sebelum mengatur strategi untuk memutus mata rantai generasi sandwich, kamu perlu mengetahui apa saja penyebab dari munculnya generasi ini. Diantaranya adalah:

  1. Kemampuan Finansial yang Lemah

Sandwich generationFinansial sering kali terjadi sebagai penyebab utama dari generasi sandwich. Sadarkah kamu kalau saat ini generasi kita terkenal dengan perilaku konsumtif? Padahal ini merupakan perilaku yang akan berdampak pada masa depan. Disaat kamu harus menyusun rencana finansial yang matang, justru fokusmu menjadi teralihkan untuk bengkaknya pengeluaran yang tidak perlu di masa kini.

  1. Sulitnya Menabung

Biasanya, kemampuan finansial yang lemah akan berdampak secara langsung pada kemampuan untuk menabung. Sebab tidak ada kontrol keuangan secara baik dan tepat sasaran. 

  1.  Sebab Keturunan

Mereka yang dulunya merasakan generasi sandwich lebih dulu biasanya akan mengalami pengeluaran yang tidak terkendali. Akhirnya menjadi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Dan ketergantungan berkelanjutan ini yang akan menyebabkan munculnya generasi sandwich berikutnya.

Putus Mata Rantai Sandwich Generation!

Beberapa cara yang bisa kamu lakukan dalam memutus mata rantai generasi ini, yaitu:

  1. Budayakan Mencatat

Mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan memang membutuhkan konsistensi. Sama halnya dengan berbisnis, kamu harus ulet dan tidak mudah menyerah. Hal ini seolah sepele, namun sangat berguna agar kamu dapat menentukan strategi finansial seperti apa yang sesuai dengan kondisi saat ini dan persiapan masa depan.

  1. Kelola Keuangan dengan Bijak

Ketika kamu sudah bijak dalam mengelola keuangan, maka kamu juga akan bisa menabung dengan lebih mudah. Terdapat salah satu rumus yang banyak pakar keuangan rekomendasikan dalam mengelola keuangan secara bijak. Rumus tersebut adalah dengan menggunakan 40% total penghasilan untuk kebutuhan hidup, 30% untuk cicilan. 20% tabungan, dan 10% untuk kebaikan.

Jika kamu sudah bisa secara konsisten menerapkannya, maka kamu sudah memiliki perencanaan masa depan berapa target pemasukan yang harus kamu peroleh dalam jangka waktu tertentu untuk memenuhi semua kebutuhan hidup.

  1. Miliki Berbagai Sumber Penghasilan Lebih Dari Satu

Menjadi generalis ternyata jauh lebih menguntungkan daripada spesialis, lho! Sebab kamu dapat meminimalisir terjadinya blind spot dalam kehidupanmu. Untuk itu, sangat disarankan kamu harus memiliki sumber penghasilan lebih dari satu.

  1. Berani Berinvestasi

Jika kamu merasa sudah mampu memiliki sumber penghasilan lebih dari satu. Kini saatnya kamu naik ke level selanjutnya. Cobalah untuk memberanikan diri berinvestasi. Sebab pendapatan secara pasif juga akan berguna kita kamu memasuki usia aging population.

Dampak dari Sandwich Generation

Sandwich generationSupaya kamu semakin semangat dan bersungguh-sungguh untuk dapat memutus mata rantai generasi sandwich, ada baiknya kamu harus mengetahui dampak apa yang bisa menyerang generasi ini. 

  1. Tingkat Stres yang Tinggi

Seperti yang sudah tertulis sebelumnya. Jika generasi sandwich dihadapkan pada pilihan yang sebenarnya tidak ada. Tuntutan yang tiada henti untuk dapat memenuhi kebutuhan dua generasi dalam sekaligus ini akan membuat generasi sandwich merasakan stres yang jauh lebih tinggi. Hal ini sudah menjadi suatu yang wajar. Sebab stres selalu berbanding lurus dengan tekanan yang sulit dikendalikan.

  1. Lelah Fisik Lelah Mental

Kelelahan secara fisik dan mental juga menjadi dampak nyata yang biasa terjadi bersama dengan datangnya stres. Apalagi kamu dituntut untuk kerja keras dalam mengumpulkan finansial yang cukup. Tidak heran jika jam istirahat dan tidur akan menjadi hal mewah yang sangat kamu idamkan. Kelelahan fisik ini juga akan berdampak pada kesehatan, lho.

Namun tentu yang paling bahaya adalah lelah mental. Maka dari itu saat ini banyak sekali layanan konseling secara online yang menerima secara terbuka keluh kesah dari generasi sandwich agar dapat bangkit dan berbenah diri.

  1. Mudah Merasa Cemas

Perasaan cemas tidak dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga inti, serta dua generasi yang sedang menjadi tanggungan adalah hal lumrah yang biasa generasi sandwich alami. Rasa cemas ini cenderung datang berlebihan. Sehingga sering membuat akal sehat menjadi terabaikan.

Perasaan cemas lebih menguasai diri daripada kemampuan berpikir secara logis untuk dapat membangun strategi jitu masa depan agar menemukan jalan keluar dari kekurangan atau ketidakmampuan yang ada. 

Tanggung jawab generasi sandwich ini memang luar biasa spesial, ya? Sebab tidak mudah untuk dapat menanggung beban hidup baik dukungan secara finansial maupun fisik untuk banyak anggota keluarga. Namun tetap saja hal ini bukanlah pedoman hidup yang tepat. Apalagi kamu sudah tahu dampak apa saja yang bisa terjadi pada generasi sandwich.

Maka dari itu, pastikan kamu untuk menghentikan garis keturunan generasi sandwich dimulai dari generasimu!

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP