fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Sektor Ekonomi Kreatif, Cari Tahu Nilai Pentingnya di Sini

sektor ekonomi kreatif

Indonesia terus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif menjadi tulang punggung ekonomi baru. Sektor ekonomi kreatif berpotensi memberi kontribusi ekonomi nasional secara signifikan. Sektor ekonomi kreatif di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Menurut data dari laporan OPUS Ekonomi Kreatif 2020, kontribusi subsektor ekonomi kreatif pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai Rp1.211 triliun. Merujuk pertumbuhannya, ekonomi kreatif tergolong masuk ke dalam kategori sektor yang tumbuh secara progresif tahun demi tahun.

Sementara itu, apabila melihat dari aspek tenaga kerja, pengaruh ekonomi kreatif juga cukup besar. Setidaknya ada delapan juta pelaku usaha ekonomi kreatif. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Konsep Ekonomi Kreatif di Indonesia 

Tampaknya, apa yang terjadi saat ini telah diperhitungkan baik-baik oleh pemerintah lebih dari satu dekade lalu. Pada 2009 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.

Inpres No. 6 Tahun 2009 tersebut membawa konsep pengembangan, pertumbuhan, dan kemajuan ekonomi yang menekankan pada kreativitas, kesenian, dan bakat individu. Tujuannya, yaitu untuk memproduksi barang bernilai ekonomis yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

(Baca juga: Seni Kriya, Simak Peluang Bisnisnya di Sini)

Berdasarkan buku Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional 2009-2015, ekonomi kreatif adalah era baru ekonomi yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.

Ekonomi kreatif adalah salah satu sektor yang diharapkan mampu menjadi kekuatan baru ekonomi nasional yang berkelanjutan. Selain itu, penekanan lainnya dalam ekonomi kreatif adalah penambahan nilai barang atas hasil pemikiran dan kreativitas manusia. Hal ini menjadi solusi dari ketergantungan ekonomi Indonesia pada komoditas yang minim akan nilai tambah dan sangat tergantung pada harga yang cenderung naik-turun.

Dalam neraca ekspor nasional, ekspor ekonomi kreatif masuk dalam kategori ekspor nonmigas. Pada tahun 2019, kontribusi dari ekspor ekonomi kreatif terhadap ekspor nasional adalah US$19,6 miliar atau setara 11,9% dari keseluruhan ekspor nasional.

sektor ekonomi kreatif

Subsektor Ekonomi Kreatif

Inpres No.6/2009 juga memetakan pembagian subsektor ekonomi kreatif menjadi 14 subsektor, yang kemudian berkembang menjadi 17 subsektor hingga saat ini. Mengutip dari laman resmi Kemenparekraf, terdapat 17 subsektor ekonomi kreatif di Indonesia, antara lain:

  1. Pengembang Permainan
  2. Arsitektur
  3. Desain Interior
  4. Musik
  5. Seni Rupa
  6. Desain Produk
  7. Fesyen
  8. Kuliner
  9. Film, Animasi, dan Video
  10. Fotografi
  11. Desain Komunikasi Visual
  12. Televisi dan Radio
  13. Kriya
  14. Periklanan
  15. Seni Pertunjukan
  16. Penerbitan
  17. Aplikasi

sektor ekonomi kreatif

Dari tujuh belas subsektor tersebut, berdasarkan dari kontribusi ekspornya, subsektor fashion masih menjadi andalan ekonomi kreatif Indonesia (62,4%), peringkat kedua kriya (30,95%), kemudian ketiga kuliner (6,76%).

(Baca juga: Tips Sukses Bisnis Fashion)

Sementara itu, berdasarkan dari kontribusinya terhadap struktur PDB di Indonesia, komposisinya sedikit berbeda, walaupun tiga subsektor itu masih mendominasi. Kuliner yang menduduki peringkat pertama menyumbang perolehan terbesar, yakni sebesar 41%, fashion berkontribusi sebesar 17%, sedangkan kriya sebesar 14,9%.

Manfaat Ekonomi Kreatif

Selain manfaat ekonomi, terdapat sejumlah manfaat besar dari konsep ekonomi kreatif, bagi produk, pelaku industrinya, juga untuk kehidupan dan lingkungan.

(Baca juga: Seluk-Beluk Ecoprint, Pengertian, dan Keuntungan Penggunaannya)

Dari sisi hasil produk, ekonomi kreatif secara langsung membangun iklim persaingan yang sehat. Selain memunculkan persaingan yang sehat, adanya inovasi dalam persaingan industri juga bagus untuk menciptakan produk-produk dengan kualitas yang baik.

Hal ini disebabkan karena produsen akan berlomba-lomba untuk melakukan pengembangan produk agar bisa bertahan di tengah persaingan pasar. Dengan demikian standar produk yang beredar di pasaran juga akan semakin meningkat.

Selain itu, inovasi juga membuat produk menjadi semakin beragam dan variatif. Hal ini menjadi keuntungan bagi para konsumen. Semakin banyak variasi produk yang tersedia di pasaran akan membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan untuk mendapatkan produk yang terbaik.

sektor ekonomi kreatif

Dari sisi pelaku industrinya, ekonomi kreatif membuka peluang lapangan kerja yang sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Selama tahun 2019, Jumlah penduduk yang bekerja di sektor ekonomi kreatif mencapai 19,2 juta orang. Jumlah tersebut setara 15,21% dari tenaga kerja nasional.

Pertumbuhan di Atas Tenaga Kerja Nasional

Sementara itu, berdasarkan pertumbuhannya, persentase pertumbuhan tenaga kerja sektor ekonomi kreatif dari 2018 ke 2019 mencapai 4,02%. Jumlah tersebut jauh di atas pertumbuhan tenaga kerja nasional yang mencapai 2,02%.

Dengan demikian, ekonomi kreatif membuka peluang yang besar bagi para pelaku industrinya, menciptakan pengusaha-pengusaha baru yang mulai membangun bisnisnya. Semakin banyak pengusaha baru, maka jumlah tenaga kerja yang terserap pun akan semakin besar dan angka pengangguran akan semakin berkurang.

(Baca juga: Cara Mulai Bisnis secara Online)

Berkurangnya angka pengangguran juga akan berdampak terhadap turunnya angka kemiskinan di Indonesia. Artinya, makin besar peluang membuka bisnis baru di sektor ekonomi kreatif membuka peluang untuk mengubah nasib banyak orang menjadi lebih baik.

Ekonomi kreatif juga biasanya membawa dampak positif bagi lingkungan. Hal ini disebabkan karena pada umumnya ekonomi kreatif membawa konsep green technology yang lebih ramah lingkungan dibandingkan produk hasil industrialisasi. Dengan semakin terjaganya lingkungan, secara tidak langsung juga akan membuat kualitas hidup masyarakat di sekitar menjadi lebih baik serta menciptakan budaya bisnis yang juga lebih baik.

Hantaman Pandemi Covid-19 pada Ekonomi Kreatif

Meskipun sektor ekonomi kreatif masih tumbuh progresif tahun demi tahun, ternyata pandemi menimbulkan dampak yang cukup besar di sektor ini. Restriksi yang disebabkan karena pandemi berupa pembatasan aktivitas sosial membuat pergerakan ekonomi nasional melemah, termasuk di dalamnya sektor ekonomi kreatif.

(Baca juga: 4 Tren Konsumen dan Tips Bisnis Bertahan di Kala Pandemi dari CEO Kursus Bisnis Online)

Dampaknya begitu terasa, hampir di semua subsektor ekonomi kreatif. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyebutkan, bahwa 98% pelaku ekonomi kreatif di Indonesia mengaku terdampak negatif oleh pandemi. Sebanyak 70% pelaku ekonomi kreatif di Indonesia mengaku mengalami penundaan dalam pelaksanaan project. Selain itu, 68% pelaku ekonomi kreatif di Indonesia mengalami penurunan penjualan maupun pemasukan.

Data Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) pada 2020 memaparkan, bahwa setidaknya 7 dari 10 pelaku desain interior mengalami penangguhan pekerjaan selama pandemi. Dari data yang sama, 7 dari 10 pelaku desain produk mengalami penurunan omset sekitar 50% selama pandemi.

Subsektor kriya juga mengalami masalah serupa. Setidaknya 70% jumlah ekspor ditangguhkan di subsektor kriya selama pandemi. Sementara itu, Studi Event Indonesia, Amity Asia Agency memperkirakan sebanyak 101.400 jumlah event yang melibatkan musisi setiap tahunnya menghilang karena pandemi.

Masih Ada yang Tumbuh

Tetapi, selalu ada peluang di setiap masalah. Beberapa subsektor malah mengalami pertumbuhan yang positif di periode yang sama. Kebijakan pembatasan sosial justru membawa juga berkah bagi sebagian subsektor lainnya.

Asosiasi Industri Animasi Indonesia mencatatkan bahwa 41% studio animasi di Indonesia melakukan penambahan karyawan selama pandemi. Asosiasi Pegiat Industri Board Game Indonesia (APIBGI) menyebutkan tren penjualan boardgame di tahun 2020 meningkat daripada pencapaiannya di tahun 2019. Sebanyak 1 dari 3 pengembang game mandiri merasakan kenaikan angka penjualan hingga 70% selama pandemi. Penjualan makanan sehat, makanan beku, dan makanan berbahan sayur meningkat selama pandemi berlangsung.

Pandemi ini sekaligus menjadi ujian bagi para pelaku ekonomi kreatif selama dua tahun belakangan ini. Kreativitas menjadi kata kunci untuk terus bertahan dan terus berkembang seiring perkembangan industri itu sendiri.

 

Baca juga artikel terkait lainnya

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP