fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Seluk-Beluk Ecoprint, Pengertian, dan Keuntungan Penggunaannya

seluk-beluk ecoprint

Bisnis fashion memang senantiasa stabil penjualannya, akan tetapi dampaknya nyata pada lingkungan. Mengutip mediaindonesia.com, aktivis Zero Waste Indonesia Syarifa Yurizdiana menyampaikan data global, bahwa timbulan limbah tekstil mencapai 92 ton setiap tahun. Limbah tekstil ini berasal dari proses produksi itu sendiri hingga pakaian bekas yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir. Dalam rangka mengendalikan penambahan limbah tekstil, muncul cara-cara dalam rangka menciptakan fashion yang berkelanjutan atau sustainable fashion. Salah satunya, yakni dengan ecoprint. Apa sih pengertian ecoprint? Bagaimana seluk-beluk ecoprint di Indonesia? Lanjutkan membaca, siapa tahu kamu juga mau ikut bagian menyelamatkan bumi, dengan tetap menghasilkan cuan.

Ecoprint merupakan teknik cetak alami yang mengambil warna alami dari daun, batang, hingga bunga dengan cara menempelkan langsung ke media seperti kertas, kain, clay, dan kayu. Meski sudah mengemuka sejak pertengahan 90-an, ecoprint semakin populer sejak India Flint meluncurkan metode cetak ini dengan daun eucalyptus. Sejak saat itu, gerakan ecoprint kian meluas ke berbagai penjuru dunia, terutama di Indonesia.

(Bacak juga: Sumber Keuntungan Bisnis Cetak Custom)

Potensi Produk Ecoprint

Lalu, kamu bisa menghasilkan apa saja dari teknik pencetakan alami ini? Hampir semua produk fashion bisa menggunakan teknik ini, seperti tas, sepatu, mukena. Penerapannya juga bisa pada kerudung dan scarf, kalung, maupun topi. Jadi, meski menggunakan teknik alami, ada banyak sekali produk yang bisa kamu garap sebagai bisnis berbasis eco.

(Baca juga: Kenali Habit Konsumen Fashion Online dari Generasi Z)

Ecoprint di Indonesia

Ecoprint justru tidak terlalu booming di negara pelopornya. Namun, begitu masuk ke Indonesia malah sebaliknya. Kelangsungan ecoprint di Indonesia berjalan sangat baik dan terus berkembang. Hal ini bisa jadi karena aneka jenis flora di Indonesia begitu kaya, sehingga tombol-tombol kreativitas begitu mudah menyala di sini.

Lantaran sistemnya menjiplak dedaunan dan merebusnya ini mirip seperti proses pembuatan batik, maka teknik ini di Indonesia lumrah dengan sebutan batik ecoprint. Namun, istilah ini kemudian menuai kontroversi di kalangan penggiat ecoprint. Soalnya, bagaimana pun, masih ada batik yang menggunakan pewarnaan tekstil, sehingga kurang tepat jika menyamakan ecoprint dengan batik ecoprint.

(Baca juga: 7 Strategi Marketing Bertema Hari Bumi untuk Pengusaha)

Kamu bisa membekali diri akan wawasan maupun keahlian menerapkan ecoprint melalui berbagai workshop atas penyelenggaraan Asosiasi Eco Printer Indonesia yang berada di seluruh daerah di Indonesia. Selain itu, ada pula IDEIndonesia atau Ikatan Desainer Ecoprint Indonesia yang juga rajin mengadakan kelas. Workshop-nya ada yang gratis, juga ada yang berbayar. Setelah itu, kamu juga bisa mengulik dan mendalami tekniknya, mengingat seluk-beluk ecoprint ini masih sangat luas.

Peluang Bisnis Ecoprint di Indonesia

Geliat cetak alami ini kian marak, bermunculan aneka event fashion show khusus ecoprint dengan penyelenggara tunggal dari satu desainer, sampai yang kolaborasi. Belum lama ini, terselengara Ecoprint Fashion Week 2022 di The Plaza Semanggi, tepatnya pada Maret lalu. Puluhan pelaku UMKM mengikuti event tersebut. Tertarik menjadi bagian dari itu? Ayo mulai kulik seluk-beluk ecoprint dari sekarang!

(Baca juga artikel terkait lainnya: Jaga Performa Karyawan Bisnis UMKM Kamu dengan Cara Ini)

Hambatan Ecoprint di Indonesia

seluk-beluk ecoprint

Sebagaimana produk handmade lainnya, produk dengan penerapan teknik ecoprint berharga terlalu mahal bagi anggapan sejumlah orang. Padahal, tidak semua harga produk ecoprint itu tinggi, lho.

Namun, anggapan perihal harga bukan salah mereka, juga bukan salah produk kamu. Hal yang perlu kamu lakukan, yakni mengarahkan ke market yang tepat. Kebanyakan kelas ekonomi menengah ke atas sudah lebih perhatian dengan isu ramah lingkungan, sehingga berkemungkinan mau berpartisipasi dengan sukacita. Apalagi, produk ecoprint ini juga secara visual elegan dan tidak kalah menonjol ketimbang produk lain.

Keuntungan Menggunakan Metode Ecoprint

  1. Ramah lingkungan. Metode ecoprint jelas lebih ramah lingkungan pada saat pembuatannya, bahkan pilihan kainnya harus menggunakan yang serat alami. Tak berhenti di situ, daun-daun yang telah digunakan, juga dapat diolah menjadi pupuk. Terdapat pula anjuran bagi para penggiatnya untuk turut menanam kembali pohon, tidak sekadar memetik daunnya hingga botak. Alhasil, keseimbangan alamnya juga tetap terjaga.
  2. Motifnya tidak pernah sama. Tidak ada daun atau bunga yang bentuknya sama persis satu sama lain, sehingga tentu saja hasil akhir teknik cetak ini tidak sama, walaupun menggunakan penataan yang sama. Bahkan warna yang keluar pun berbeda-beda, walaupun dari daun di satu pohon yang sama. Hal ini menjadikan tiap itemnya unik.
  3. Cocok untuk berbagai acara. Penerapan teknik ini bisa untuk desain acara santai hingga resmi. Pembuatnnya, bisa untuk mode kasual maupun formal. Bentuknya pun berbagai macam, kemeja hingga daster. Semua bisa dengan pesonanya masing-masing.
  4. Nilai jualnya tinggi. Dari prosesnya yang butuh berhari-hari, tekniknya yang alami, dan motifnya yang unik, hal wajar jika nilai jualnya tinggi. Hasil akhirnya jelas menunjukkan keunggulan kualitasnya.

Jadi, meski akar seluk-beluk ecoprint adalah terkait isu lingkungan, tetapi dari segi bisnis masih bisa ada marketnya dan mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit.

Cara Memilih Tanaman yang Tepat

seluk-beluk ecoprint

Bicara tentang seluk-beluk ecoprint tentu harus mengenal bintang utamanya, yakni tanaman. Beberapa daun tanaman yang dapat memberikan warna, di antaranya daun kayu jaran, daun lanang, daun camalina, daun eucalyptus, daun suren, daun jati, daun jambu biji, dan masih banyak lagi. Tidak semua daun dapat menjadi pewarna alami, walaupun itu dari tanaman yang sama. Ada beberapa cara untuk mengetahui daun maupun tanaman mana yang dapat menjadi pewarnaan alami. Cara-cara tersebut, yakni:

  1. Bila tanamannya mengeluarkan aroma tajam, itu adalah salah satu indikasi kalau tanaman tersebut dapat menjadi pewarna.
  2. Menggosokkan tanaman tersebut ke tangan atau ke permukaan lain. Jika meninggalkan noda, itu berarti daun tersebut berpotensi untuk pewarnaan.
  3. Rendam di air panas selama 10 menit. Bila warna airnya berubah, itu tandanya daun tersebut dapat menjadi pewarna alami.

(Baca juga: 5 Kampanye Hari Bumi Ini Dijamin Menginspirasi Usahamu)

Kain yang Cocok untuk Ecoprint

Mengingat semangatnya adalah ramah lingkungan, tentu pilihan kainnya tidak bisa sembarangan. Itu artinya kainnya juga harus menggunakan serat alami. Inilah yang membuat seluk-beluk ecoprint semakin bernilai. Sejumlah jenis kain yang bisa menjadi pilihan penerapan ecoprint, yaitu:

  1. Kain Blacu. Kain blacu adalah kain katun mentah (kain greige) yang tidak melalui proses finishing. Warnanya masih murni, yaitu putih tulang atau kecoklatan. Penggunaannya bisa untuk sejumlah produk, seperti tas, pouch, tempat tisu, dan lain-lain
  2. Kain Dobby. Kain dobby merupakan bahan kain bermotif geometris yang timbul efek penenunan. Biasanya, permukaannya tidak rata. Jenis kain dobby yang cocok untuk teknik ini adalah:
    • Dobby cotton: biasanya, pemakaiannya untuk batik premium.
    • Dobby rayon: biasa dipakai untuk gamis, mukena, sarung, gamis.
  1. Kain Serat Nanas. Sesuai dengan namanya kain ini dibuat dari serat daun nanas yang dipintal menjadi benang secara manual, setelah itu ditenun. Kain ini cocok dipakai di malam hari karena hangat.
  2. Kain Paris. Jenis kain katun yang tipis yang biasanya digunakan untuk pembuatan hijab.
  3. Kain Mori. Kain mori adalah kain tenun putih. Biasanya, penggunaanya untuk pembuatan batik tulis. Sehingga cocok juga untuk teknik ecoprint.
  4. Kain Rayon. Kain rayon dibuat dari serat hasil regenerasi selulosa atau dinding sel tumbuhan. Salah satu bahan yang paling banyak digunakan untuk ecoprint.
  5. Kain Sutra. Kain sutra seperti yang kita tahu berasal dari serat protein alami (dihasilkan oleh kepompong ulat sutra) yang dapat ditenun menjadi tekstil. Termasuk jenis dengan kualitas tinggi sehingga wajar harganya selalu tinggi.

Dari penjelasan seluk-beluk ecoprint di atas terlihat, bahwa peluang bisnis ini masih sangat besar. Produsen dan serapannya masih bisa berkembang lagi. Apalagi dengan tekniknya. Nah, apakah kamu sudah menentukan akan mulai berbisnis fashion ecoprinting dari mana? Semakin banyak pebisnis yang mendukung ecoprint berarti turut membuat Indonesia tetap lestari sekaligus meningkatkan perekonomian.  Semangat berkreasi dengan ecoprint!

 

Baca juga artikel terkait lainnya

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP