fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Serba-serbi Shopping Journey untuk Bisnis D2C

shopping journey

Tujuan kamu menjalankan bisnis online adalah produkmu bermanfaat atau dipakai oleh konsumen. Semakin banyak yang menggunakan, maka semakin baik. Namun, pernahkah kamu berpikir bagaimana perjalanan mereka sebagai konsumen “menemukanmu” hingga pada akhirnya jatuh hati dan memilih produkmu? Perjalanan konsumen untuk menggunakan produkmu mulai dari saat pertama berinteraksi/bertemu, berkenalan lebih jauh, hingga pada akhirnya mantap mengikat janji untuk melakukan pembelian disebut dengan shopping journey.

Secara logika, tidak mungkin juga mereka random memilih produkmu tanpa informasi atau pengetahuan atau perjalanan apa pun sebelumnya. Terlebih, jika nilai pembelian yang mereka lakukan besar. Pastilah ada “sejarah” di baliknya.

Menurut surveysensum.com, sebelum benar-benar memilih produkmu, konsumen akan melalui LIMA tahapan ini:

  1. Awareness

Diartikan sebagai kesadaran konsumen akan kebutuhannya. Mereka sudah memahami apa yang mereka inginkan dan ingin dibeli, tetapi masih belum memutuskan akan membeli yang mana. Pada tahap ini, konsumen masih dalam tahap “menjelajahi” produk serupa dari berbagai macam merek. Mereka masih bingung ingin memilih yang mana, terlebih jika pilihannya sangat melimpah. Contohnya, seseorang tahu bahwa ia butuh produk pembersih wajah untuk kulitnya yang normal cenderung kering. Namun, ia masih belum memutuskan mereka pembersih wajah mana yang akan ia pilih. Kita sering temukan di percakapan sehari-hari ketika para wanita kumpul, “Eh, yang bagus yang mana ya?” Pada tahap ini, konsumen masih mempelajari semua pembersih wajah yang ditawarkan di pasaran.

  1. Interest

Jika sebelumnya, konsumen hanya menjelajahi ragam produk yang ada di pasaran. Maka, di tahap ini, keinginan mereka sudah mulai mengerucut. Sudah ada beberapa kandidat yang nantinya akan mereka pilih. Namun, lagi-lagi mereka belum memutuskan mana produk yang akan dibeli. Di tahap ini, mereka masih dalam proses mempelajari lebih lanjut serta membanding-bandingkan mulai dari membandingkan harga, manfaat, tingkat keamanan, hingga mungkin packaging mana yang lebih menarik atau eye catching.

  1. Decision

Lelah dengan proses penjajakan serta membanding-bandingkan, selanjutnya konsumen akan memutuskan produk mana yang akhirnya akan dipilih. Tentu saja, pada tahap ini, konsumen diasumsikan sudah mengetahui semua informasi mengenai produk yang ia pilih. Meskipun, sesekali mungkin masih ada keraguan walau sedikit, apakah pilihannya ini sudah tepat? Tak jarang, mereka “bertanya” pada konsumen merek yang ia pilih, dengan melihat testimoni-testimoni sebelumnya misalnya. Tujuannya tak lain adalah untuk menguatkan diri bahwa ia tak salah pilih.

  1. Retention

Di tahap ini, konsumen sudah melakukan transaksi pembelian. Tapi, apakah semua berhenti begitu saja? Tentu saja tidak. Apa gunanya membeli jika hanya sekali dan tak pernah kembali lagi karena kecewa. Pada tahap ini, sebagai pemilik bisnis, kamu akan mengetahui apakah produk kamu benar-benar bermanfaat atau sudah memenuhi keinginan mereka. Jika mereka “menoleh” atau menggunakan produkmu lagi, lagi, dan lagi, maka jawabannya sudah pasti: produkmu diterima atau mendapat tempat di hati mereka. Namun jika sebaliknya, bersiaplah karena itu artinya produkmu tak sesuai ekspektasi atau bisa jadi pelayananmu yang mengecewakan.

  1. Advocacy

Boleh dibilang, tahap ini adalah yang paling ditunggu semua pemilik bisnis. Ya, siapa yang tidak mau mendapatkan loyalitas, terlebih jika mereka bisa mendatangkan konsumen baru untukmu. Namun, untuk sampai di tahap janji setia sehidup semati ini tidak mudah, butuh waktu dan kesabaran dan silaturahmi yang baik.

shopping journeySetelah mengetahui proses perjalanan panjang konsumen sebelum menggunakan brand bisnis online kamu, mungkin selanjutnya kamu bertanya bagaimana membuat shopping journey, terlebih jika kamu baru saja membangun bisnis yang notabene belum memiliki pengalaman. Tenang saja, membuat shopping journey atau yang kerap disebut dengan shopping journey map itu relatif mudah kok. Kamu bisa menggunakan langkah-langkah berikut ini.

  1. Membuat buyer persona

Buyer persona dapat diartikan juga sebagai pemetaan produk bisnis kamu untuk siapa. Meskipun baru berupa pemetaan saja, tetapi jangan sepelekan. Dengan membuat buyer persona sedetail mungkin, kamu bisa semakin tahu bagaimana cara mempromosikan produk kamu.

Misalnya, produkmu bernama A ini adalah untuk mereka yang berusia 20 – 40 tahun, tinggal di kota besar, memiliki kisaran gaji Rp5.000.000 hingga Rp15.000.000 per bulan, masih single atau sudah menikah tapi belum punya anak, hobi nongkrong di kafe, blablabla. Semakin detail tentunya semakin bagus.

  1. Membuat touch point

Touch point adalah rangkuman bagaimana kamu sebagai pemilik bisnis sudah berinteraksi dengan konsumen. Dari mana kamu bisa mengetahuinya? Salah satunya dari website bisnis online yang kamu buat dengan LummoSHOP. Seberapa banyak pengunjungnya, seberapa banyak yang sekadar bertanya tanpa membeli/hanya melihat saja tapi membeli/bertanya kemudian membeli, serta adakah komplain dari konsumen adalah beberapa contohnya.

  1. Analisis Trend

Setelah tahap interaksi yang dilakukan tidak hanya sekali, tapi berulang, selanjutnya kamu bisa membuat analisis tren entah itu per hari atau secara berkala sebagai cara untuk mengenali kebiasaan konsumen kamu. Dari sini, kamu bisa mengetahui siapa konsumen yang selalu menggunakan produkmu, siapa yang hanya sekali saja beli, siapa yang suka komplain dan kenapa, dll.

 

Setelah membaca penjelasan di atas, untukmu yang menjalankan bisnis direct to consumer atau D2C, memahami shopping journey adalah keharusan karena hal tersebut menjadi salah satu cara mengenali kebiasaan konsumen kamu. Apalagi, efeknya ternyata tidak main-main. Boleh dibilang, shopping journey adalah salah satu faktor utama apakah bisnis online kamu memiliki kelangsungan hidup yang lama atau tidak.

Jika dijabarkan lebih jauh, berikut adalah beberapa manfaat membuat shopping journey map untuk bisnis D2C (Direct to Consumer) kamu.

  1. Mengetahui yang konsumen inginkan

Orang bilang pembeli adalah raja, mengetahui yang mereka inginkan adalah pintu masuk mendapatkan loyalitasnya. Semua orang senang ketika dimengerti, tak terkecuali pelanggan. Mereka bisa setia atau pindah ke lain hati ketika keinginannya tak terpenuhi sebagaimana yang dilansir salesforce.com yang mengatakan bahwa 76% konsumen akan beralih ke merek lain ketika mereka kecewa (kenyataan tak sesuai ekspektasi). Tentu saja, hal ini akan menjadi ancaman bagimu sebagai pemilik bisnis. Shopping journey adalah cara untuk mengetahui apa yang mereka inginkan.

  1. Sebagai salah satu cara mengenali kebiasaan konsumen

Ketika kamu mengenali konsumenmu, secara otomatis kamu akan tahu kebiasaan mereka. Sebagaimana yang sudah ditulis di atas. Dengan shopping journey, kamu bisa mengetahui juga di momen-momen seperti apa konsumen akan “menyerbu” produkmu. Pun sebaliknya, di tanggal atau kondisi seperti apa, mereka jarang menggunakan produkmu. Dengan mengetahui kebiasaan ini, kamu jadi bisa memutuskan, misal memproduksi lebih banyak di saat konsumen banyak “menyerbu” dan memproduksi lebih sedikit di saat kondisi sepi. Atau, menggunakan trik diskon/promo di saat kondisi sepi untuk tetap bisa menarik hati konsumen. Misalnya di dunia fashion, psikologis warna ternyata terpengaruh dari asal daerah pelanggan. Jika data ini tidak pernah diolah, maka pebisnis tidak akan pernah tahu.

  1. Berpengaruh dalam membuat strategi penjualan berikutnya

Tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut lagi, shopping journey nyatanya berpengaruh pada strategi yang kamu terapkan dalam bisnismu. Manakah yang harus diperbaiki. Manakah yang harus dipertahankan. Menelaah dari link apa pelanggan bisa mengetahui website kamu juga bisa jadi bahan evaluasi, apakah dari WA atau dari media sosial? Kenapa yang datang dari media sosial sedikit padahal sudah banyak endorse? Nah, banyak kenapa kenapa yang bisa dijawab dan dijadikan pertimbangan dalam melangkah ke depannya. 

shopping journeyShopping journey menjadi bagian tak terpisahkan dalam bisnis online dengan model D2C (Direct to Consumer). Apalagi, bisnis model tersebut “menuntut” hubungan yang harmonis antara pemilik bisnis yang notabene juga perantara/penjual dan konsumen. Shopping journey menjadi salah satu cara mengenali kebiasaan konsumen yang nantinya akan berimbas kepada strategi bisnis kedepannya. Jangan remehkan shopping journey, ya. Selamat mencoba!

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP