fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Siklus Akuntansi: Pengertian, Manfaat, dan 9 Alur Urutannya

Siklus Akuntansi

Sebagai seorang pebisnis, kamu mesti memahami Siklus Akuntansi. Meskipun dalam praktiknya menggunakan beragam alat bantu seperti software laporan keuangan, aplikasi, atau staf ahli, kamu sebagai pemilik tetap mesti mengerti dan tak boleh “pasrah-pasrah” saja.

Ibarat naik pesawat, kamu adalah pilotnya, pengendalinya. Tidak mungkin rasanya menerbangkan pesawat jika tak tahu rutenya dan hanya “terima beres” pada apa kata penumpang atau pramugarinya. Bukankah begitu? Lantaran demikian, dalam artikel ini akan dijelaskan mengenai siklus akuntansi mulai dari pengertian, manfaat, hingga alurnya seperti apa yang pastinya akan sangat berguna untukmu sebagai pemilik bisnis.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Pengertian Siklus Akuntansi

Salah satu hasil dari beragam kegiatan transaksi bisnis adalah laporan keuangan. Untuk membuat laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan modal, dan catatan atas laporan keuangan, kamu tak bisa melakukannya secara instan seperti mengedipkan mata. Ada beragam tahapan atau alur yang harus kamu lalui. Dalam akuntansi, hal itu disebut siklus akuntansi. Jika diartikan lebih jauh, siklus akuntansi adalah tahapan proses pengelompokan atau identifikasi, pencatatan, peringkasan, serta pelaporan beragam informasi keuangan hingga menjadi satu kesatuan utuh dan bermanfaat bagi pihak-pihak berkepentingan.

Manfaat Penerapan Siklus Akuntansi

Mengapa siklus akuntansi penting banget dan tak bisa di-skip? Poin-poin di bawah ini adalah jawabannya.

  1. Membantumu berpikir runtut

Siklus akuntansi ibarat outline bagi penulis. Dengannya, kamu bisa berpikir lebih runtut. Apalagi ini menyangkut uang, pastinya, kamu ingin tahu ya uang Rp500 ribu ini misalnya milik siapa, dari mana asalnya, mana bukti transaksinya, dan semacamnya. Bayangkan kalau tak ada proses pencatatan yang jelas. Nah, alih-alih bahagia karena dapat uang, yang ada malah pusing karena tak tahu itu sebenarnya uang dari mana (milik pribadi atau bisnis).

  1. Meminimalisir kesalahan

Berkaitan dengan poin sebelumnya, kamu bisa meminimalisasi kesalahan jika pencatatan keuangan runtut sesuai siklusnya. Apalagi, masalah uang adalah hal yang sangat sensitif, ya.

  1. Memudahkan proses tracing saat auditing

Adanya alur yang jelas dalam proses pencatatan juga memudahkanmu dalam mengaudit secara berkala. Apalagi, jika kamu menemukan sesuatu yang tak beres. Kamu bisa dengan mudah menemukan penyebabnya segera. Misalnya, oh, ternyata ada transaksi yang buktinya ada tapi belum tertulis atau terlaporkan.

siklus akuntansi

Tiga poin di atas sifatnya sangat krusial, ya. Bagaimana, masihkah kamu menyepelekan siklus akuntansi? Semoga tidak, ya!

Alur Siklus Akuntansi

Selanjutnya, yakni langkah-langkah dalam siklus akuntansi mulai dari “mentahannya” hingga jadi laporan keuangan. Seperti apa prosesnya? Ada 9 tahap yang harus dilalui, yakni sebagai berikut.

  1. Identifikasi atau mengelompokkan atau menganalisa transaksi keuangan berdasarkan bukti-bukti yang ada

Setiap terjadi transaksi keuangan, identifikasilah ia termasuk transaksi apa, dan pastinya jangan lupakan bukti (jangan sampai hilang). Misalnya, kamu melakukan penjualan tunai sejumlah Rp100 ribu Dalam transaksi penjualan yang kamu lakukan tersebut, pastinya ada bukti transaksinya, bukan. Nah, bukti itulah yang akan menjadi dasarmu untuk melakukan pencatatan di tahap selanjutnya. Jangan sampai hilang,  karena kalau tidak, transaksi yang kamu lakukan akan dianggap fiktif.

  1. Memasukkan transaksi tersebut ke dalam jurnal

Selanjutnya, proses penjurnalan. Semua transaksi keuangan harus kamu catat di sini. Misalnya, mengambil contoh di atas, jurnal yang bisa kamu buat adalah:

Kas (Debit) : Rp100.000,00
Pendapatan penjualan (Kredit) : Rp100.000,00

Ke depan, ketika transaksi keuanganmu makin banyak, kamu bisa juga membuat beberapa jurnal seperti di bawah ini:

    • Jurnal Khusus

Penggunaan Jurnal Khusus untuk mencatat transaksi keuangan yang terjadi secara berulang. Dalam akuntansi, ada 4 jenis Jurnal Khusus yang kerap dibuat, yaitu sebagai berikut:

      • Pertama, Jurnal Penerimaan, yaitu untuk mencatat semua transaksi yang berhubungan dengan penerimaan kas seperti pembayaran piutang atau penjualan tunai.
      • Kedua, Jurnal Pengeluaran, untuk mencatat semua transaksi yang berhubungan dengan pengeluaran kas seperti pembayaran utang atau pembelian tunai.
      • Ketiga, Jurnal Pembelian, untuk mencatat semua transaksi pembelian secara kredit.
      • Terakhir, Jurnal Penjualan, penggunaannya untuk mencatat semua transaksi penjualan secara kredit.
    • Jurnal Umum

Jurnal Umum berguna untuk mencatat transaksi yang tidak termasuk kelompok di atas.

  1. Memasukkannya ke buku besar

Siklus Akuntansi

Jika transaksi yang tercatat pada jurnal masih tercampur antara satu dengan yang lain alias masih tertulis di satu tempat, berikutnya kamu perlu memasukkannya lagi ke Buku Besar berdasarkan akun-akun yang ada. Misalnya, Buku Besar untuk akun kas yang isinya berarti berkaitan dengan semua transaksi yang berhubungan dengan kas, Buku Besar untuk akun utang dagang yang isinya berarti berkaitan dengan semua transaksi yang berkaitan dengan utang dagang. Alhasil, saat kamu ingin melihat total transaksi atau alur transaksi yang terjadi di akun-akun tertentu pada suatu waktu, kamu bisa dengan mudah mendapatkannya. Misalnya, kamu ingin mengetahui seperti apa sih transaksi yang berkaitan dengan piutang selama ini, maka kamu tinggal mengeceknya saja di akun buku besar piutang.

  1. Membuat neraca saldo

Informasi keuangan dari neraca saldo bersumber dari saldo di Buku Besar. Kamu hanya perlu memindahkannya saja. Pada poin ini, kamu harus memastikan kembali bahwa jumlah aktiva atau aset atau harta di neraca saldo sama dengan penjumlahan total utang dengan modal. Jika sampai berbeda, berarti ada yang keliru. Kamu mesti kembali mengeceknya atau menelusurinya.

  1. Membuat jurnal penyesuaian

Namanya juga jurnal penyesuaian, jelas manfaatnya untuk menyesuaikan. Menyesuaikan apa? Mudahnya, penyusunan jurnal penyesuaian untuk menyesuaikan kondisi nyata dengan yang ada di catatan. Salah satu contoh hal yang perlu penyesuaian, yakni kendaraan untuk operasional perusahaan. Misalnya, biaya kendaraan untuk operasional perusahaan tercatat Rp200 juta pada awal tahun, apakah iya di akhir tahun nilainya masih sama? Tentu tidak, nilai itu sudah berkurang daripada saat awal tahun seiring waktu penggunaannya. Itu sebabnya, kamu harus menyesuaikannya agar nilai Rp200 juta tadi berkurang karena kendaraan sudah mengalami penyusutan sebagai efek yang ada sepanjang pengunaan. Penyusunan jurnal penyesuaian biasanya pada akhir periode atau akhir tahun.

  1. Membuat neraca saldo setelah penyesuaian

Setelah penyesuaian beberapa item atau akun, kamu perlu memperbarui neraca saldo setelah penyesuaian karena pastinya nilainya sudah berubah.

  1. Membuat laporan keuangan

Inilah hasil dari siklus akuntansi sebagaimana pembahasan pada awal artikel ini, yakni laporan keuangan. Dengan alur yang benar, kamu bisa membuat neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, serta catatan atas laporan keuangan yang benar pula.

  1. Membuat jurnal penutup

Penyusunan jurnal penutup pada akhir periode akuntansi. Sebelum bisnis “membuka lembaran baru”, ia perlu menutup beberapa akun yang berkaitan dengan pendapatan, beban, serta laba / rugi. Ke depan, akun-akun tersebut yang dalam akuntansi disebut dengan akun nominal akan dimulai dari nol lagi pencatatannya (tidak diakumulasikan dari tahun ke tahun atau dari periode ke periode).

  1. Membuat neraca saldo setelah penutupan

Terakhir dalam siklus akuntansi adalah membuat neraca saldo setelah penutupan. Tentu saja, setelah beberapa akun yang masuk dalam akun nominal (seperti pendapatan, beban, dan ikhtisar laba / rugi), neraca saldo harus di-update lagi karena jumlahnya berubah.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Kesimpulannya, siklus akuntansi ibarat tahapan dalam kehidupan: lahir – bayi – balita – anak – remaja – dewasa – tua – dst. Keberadaannya harus ada, tak bisa dilewati karena bisa memengaruhi “hasil akhir”-nya. Meskipun kamu bisa mencari bala bantuan dalam membuat laporan keuangan, tapi toh kamu tetap harus memahami alurnya karena kamu adalah “pilot” atau pengendalinya dalam bisnis yang kamu miliki. Semangat, ya!

Baca juga artikel terkait lainnya :

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP