fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Storytelling yang Bikin Bisnismu Berkembang, Ini Tips Membuatnya

Storytelling

Storytelling adalah istilah yang awalnya dekat dengan dunia parenting. Dalam pola asuh, konsep ini mendorong orang tua untuk banyak bercerita kepada anaknya sejak usia dini. 

Kini, storytelling tidak hanya berada di dunia parenting, tetapi dunia bisnis juga mengadopsi istilah ini

Ada yang menyebutkan, brand yang lebih banyak bercerita akan menjual lebih banyak. Di zaman yang hampir semua serba otomatis dan digital ini, memang membuat manusia semakin nyaman, akan tetapi jadi kurang sentuhan manusiawi. Oleh sebab itu, marketing dengan cara bercerita dianggap menjadi salah satu solusi menjalin hubungan dengan audience atau calon konsumen kita. 

Storytelling marketing itu sendiri artinya menggunakan narasi dalam menyampaikan pesan. Cara ini bertujuan agar audience dapat merasakan sesuatu dan juga menggerakan mereka. Dengan kata lain, tidak hanya sebatas menumbuhkan simpati, namun juga empati. Psikolog, Jerome Bruner, pernah mengatakan bahwa seseorang dapat mengingat sesuatu 22 kali lebih cepat jika menerima pesan dalam sebuah cerita.

Jika kamu merasa tidak pandai merangkai kata-kata dan bingung harus mulai dari mana untuk memulai storytelling, simak caranya berikut ini.

Cara Merancang Storytelling Marketing

Menurut Pakar Marketing Digital dari Semrush, Diana Richardson, ada beberapa langkah saat merancang storytelling marketing, yaitu: 

Menentukan Target Audience

Kamu harus menentukan terlebih dahulu jenis konsumen yang hendak disasar. Sama seperti menentukan target pasar untuk produk kamu, tiap target pasar memiliki karakter terkait tayangan atau tema apa yang mereka sukai. 

Misalnya, jika target market kamu adalah ibu rumah tangga muda dan punya anak balita, lalu produk kamu adalah sabun mandi X. Kamu bisa mengangkat kisah seorang ibu rumah tangga yang sibuk mengurus balita yang aktif hingga mau buang air pun pasti anak akan langsung menangis. Dengan waktu yang sedikit, bisa mandi saja sudah dianggap me time dan sabun X memberi keharuman yang menyegarkan di siang hari dan menenangkan di malam hari. Selain memudahkan dalam mencari tema, format dan caranya pun juga berbeda sesuai target audience-nya. 

Membuat Storyboard

Laiknya tugas mengarang di pelajaran Bahasa Indonesia, sebelum membuat cerita, buatlah kerangka karangannya terlebih dahulu. Kerangka karangan ini bisa juga disebut storyboard. Bentuknya lebih menyerupai kisi-kisi, tentang apa saja pesan inti yang hendak kamu sampaikan agar storytelling kamu tidak melenceng ke mana-mana. Dan tentunya yang terakhir, call to action atau CTA yang kamu tekankan. 

Tentukan Platformnya dan Cara Penyampaiannya

Beda platform, beda cara penceritaan, meski inti ceritanya serupa. Tiap platform media sosial memiliki karakternya sendiri. Facebook misalnya, penggunanya bisa menikmati caption yang panjang dalam suatu postingan. Berbeda dengan pengguna Instagram yang lebih menyukai bentuk audio visual, sehingga storytelling bentuk video lebih kena. Dan pengguna TikTok lebih menyukai video pendek yang langsung to the point. Dari sini terlihat, bahwa dari satu storyboard kamu bisa mengembangkannya menjadi berbagai bentuk untuk platform yang berbeda-beda. 

Posting

Kamu sudah mulai membuat konten, tapi merasa kurang percaya diri untuk mempostingnya? Jangan. Posting saja. Proses kreatif tidak akan menjadi lebih baik jika terus-terusan terpendam. Apalagi kini semakin sulit memprediksi algoritma media sosial. Oleh sebab itu, posting saja, agar bisa buat yang baru. Dengan catatan, tentunya postingan itu tak mengandung unsur SARA dan hoax

Analisa dan Evaluasi

Langkah selanjutnya setelah posting adalah analisa dan evaluasi. Mencari formula pemasaran dengan bercerita yang tepat itu memang butuh waktu. Namun terus mencoba dan lakukan evaluasi akan membantu kamu berjalan di arah yang benar. 

Storytelling

5 Manfaat untuk Online Marketing

Berbeda dengan berjualan offline, berjualan online itu ibaratnya berjualan foto. Calon pelanggan tidak mendapatkan pengalaman indera yang lain untuk meyakinkan dirinya sebelum membeli. Menyentuh, membaui, adalah salah satu kenikmatan berbelanja yang sulit kita alami jika melalui online. Oleh sebab itu, peran kamu sebagai penjual pun menjadi lebih ekstra dalam menemukan cara agar calon pelanggan merasa harus membeli dari kamu. Meski informasi produk sudah terpapar jelas, tapi jika hati belum tergugah, transaksi belum akan terwujud. 

Brand Awareness

Dilansir dari Bynder, brand awareness adalah sebesar apa kesadaran pelanggan terkait produk atau pelayanan tertentu. Hal ini mencakup nama, warna, logo, tagline, dan atribut lain. Sebagai contoh, ketika kita melihat kotak merah dan ada kuning di tengahnya, pasti kita akan langsung teringat akan produk makanan siap saji. Atau ketika ada yang mengucapkan, “Ga fokus?” kita jadi ingin menawarkan merek air mineral tertentu. Kemelekatan inilah yang perlu dibangun kepada konsumen hingga masuk ke alam bawah sadarnya.

Proses brand awareness tidak melulu berasal dari iklan yang terus-menerus berulang. Namun juga dari kualitas produk dan seberapa berhubungannya cerita produk kamu dengan para calon pelanggan. Membangun kesamaan pengalaman. Oleh sebab itu, penting bagi kamu untuk memikirkan baik-baik tampilan produk kamu dan cara penyampaiannya. Dengan demikian, calon konsumen bisa mudah mengingat produk kamu dan juga menjadikannya prioritas mereka. 

Membangun Engagement

Buatlah platform jualan kamu hangat. Platform yang hangat adalah yang mampu memancing komentar. Bayangkan jika platform jualan kamu hanya berisi info produk, tentu sulit untuk mendapatkan komentar. 

Mengapa komentar calon pelanggan itu penting? Ini alasannya: 

  • Membuktikan bahwa online shop kamu memang benar ada, dengan kata lain membangun kepercayaan. Komentar akan membantu kamu mengetahui apakah konten bercerita kamu tepat sasaran atau tidak. 
  • Sebagai sumber insipirasi. Teknik penceritaan yang tepat dapat memancing cerita lain dari audience. Hal ini menjadi penting, ketika kamu bisa mengolah curhatan menjadi konten selanjutnya dan tentu saja produk kamu yang menjadi solusinya. 
  • Menjadi rekomendasi oleh audience. Sering kita jumpai di kolom komentar, seseorang yang men-tag kawan-kawannya karena dianggap sesuai dengan kontennya. Misalnya, isi konten dari influencer Agung Karmalogy yang menunjukkan tentang tingkah perempuan saat pacarnya mengajak debat. Tayangan itu menunjukkan kalau para wanita akan membalas dengan mengungkit-ungkit hal dari bertahun-tahun lalu. Kolom komentar penuh dengan tag entah untuk sahabatnya atau kepada pacarnya. 
Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Poin Unik

Cerita membuat produk kamu menjadi unik. Pilihan nama menu di Kopi Kenangan saja sudah termasuk storytelling. Dan tahukah kamu apa pilihan kopi terlarisnya? Ya benar, Kopi Kenangan Mantan. Membaca menunya saja mungkin pembeli sudah senyum-senyum sendiri. Tak perlu banyak kata, pernyataan ini bisa menembus para “pencinta senja” yang susah move on dari mantan. 

Dengan banyaknya produk serupa, cara kamu membedakan produk kamu dengan produk lain adalah dengan ceritanya. Jika Teh Botol mengusung ‘apa pun makannya, minumnya Teh Botol’, maka Sari Wangi membawa pesan ‘mari bicara’. Dari sini terlihat, Teh Botol mewakili masyarakat yang suka kumpul, sementara Sari Wangi mewakili mereka yang butuh keintiman atau kehangatan. 

Memanusiakan Konsumen

Calon konsumen juga manusia. Mereka bukan bot. Maka membuat konten dengan metode bercerita, akan membuat mereka merasa terhubung dengan produk kamu. “Relate banget, kak”, “Aku juga begitu, Kak.” Begitu yang biasanya bertebaran di kolom komentar, jika penceritaan kamu berhasil. Atau bahkan kamu dapat cerita-cerita lain dari mereka. Kalau sudah begini, kamu dan produk kamu perlahan akan menempel di kepala dan mendekat ke hati. Sehingga kamulah yang akan jadi prioritas para calon pelanggan dalam menentukan pilihan. 

Storytelling marketing yang berhasil bahkan bisa membentuk komunitas atau fans garis keras. Mereka menanti-nanti konten kamu. Komunitas atau fans garis keras seperti ini biasanya akan melahap produk apa pun yang kamu tawarkan. Karena mereka merasa, kamu sangat memahami mereka. Tidak main-main, bukan efek bercerita ini? 

Agar kamu tidak terlalu berkutat mencari formula yang tepat, simak tips berikut ini. 

 

Storytelling

Tips Merancang Storytelling 

Ada Hambatan, Klimaks, dan Keberhasilan

Sajikan konten storytelling pun laiknya novel atau film. Ada kisah awal, hambatan, klimaks, dan akhirnya mencapai keberhasilan. Beginilah cara agar emosi khalayak tergerak. Jika kontenmu datar-datar saja, mereka tidak merasa ada hal yang dapat dijadikan inspirasi atau sesuatu yang dapat mereka nikmati. 

Ada Karakter yang Unik

Kamu juga butuh penokohan atau karakter, untuk menegaskan bahwa itu adalah konten kamu. Contoh bisa dilihat dari influencer TikTok dan IG, yaitu Muhadkly Acho, yang menggunakan tokoh Yuyun sebagai karakter yang suka membuat plot twist mengejutkan. 

 Audio Visual yang Menarik

Materi storytelling yang keren akan semakin mantap dengan eksekusi yang juga menarik. Tenang, kamu tetap bisa menggunakan ponsel saja, tapi tetap perhatikan pencahayaan, pengeditan, suara, agar audience juga nyaman melihatnya. 

Storytelling memang butuh usaha, tapi kamu pasti bisa melakukannya jika mau mencoba memahami kebutuhan konsumen kamu. Selamat mencoba ya. 

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP
Published by Emilia Natarina

Content Marketing LummoSHOP