fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Tanpa Karyawan, Perusahaan Bukanlah Apa-apa

apresiasi karyawan

“Melangkah sendiri, kamu bisa bergerak cepat. Melangkah bersama, kamu bisa bergerak lebih jauh.”

LummoSHOP berpendapat jika karyawan adalah aset perusahaan. Apakah kamu juga sependapat?

Tanpa sumber daya manusia, sebuah perusahaan tentu tidak akan bisa berjalan. Karyawan bukan resources melainkan sudah menjadi aset perusahaan. Karena sebagus apa pun sistem yang dibangun perusahaan, tidak akan jalan jika tidak didukung sumber daya manusia yang berintegritas dan andal.

Namun, tidak semua perusahaan menyadari hal tersebut. Sering kali muncul berita tentang mogok kerja yang dilakukan buruh pabrik karena haknya yang tidak dipenuhi perusahaan. Ada pula karyawan yang memilih resign karena kecewa dengan perusahaan yang memperlakukannya semena-mena.

Jadi antara perusahaan satu dengan yang lainnya ternyata memiliki beda pemahaman dalam memberi makna terhadap karyawannya. Ada yang menganggapnya aset, pun bisa saja beban. Perusahaan harus mengeluarkan beban gaji dan pengeluaran operasional lainnya untuk karyawan tanpa diingat bahwa karyawan juga berperan penting bagi perusahaan. Padahal wajar saja dan sudah menjadi tanggung jawab perusahaan untuk menanggung atau memfasilitasinya secara rasional.

Keputusan manajemen yang tidak paham bahwa karyawan adalah aset perusahaan biasanya juga memperlakukan karyawan sebagai sumber daya yang hanya perlu diambil keuntungan tanpa melihat faktor kemanusiaan di dalamnya. Salah satu cara untuk menjaga karyawan sebagai aset perusahaan dalam konteks tadi adalah pemberian apresiasi atau penghargaan.

Mengutip dari usetdata, 90% karyawan yang menerima penghargaan akan lebih percaya pada sistem kepemimpinan perusahaan. Lalu 58% penghargaan dapat meningkatkan keterikatan karyawan. Sementara 70% karyawan akan bekerja keras ketika menerima apresiasi.

Tidak bisa dipungkiri, apresiasi memainkan perannya dengan baik untuk membuat karyawan merasa lebih dihargai dari sisi kemanusiaan. Ketika karyawan merasa kamu sebagai pemilik perusahaan telah bertanggung jawab ke mereka, maka mereka pun cenderung akan lebih bertanggung jawab hingga tercipta rasa memiliki perusahaan.

Jadi jangan pernah menganggap bahwa semua pengeluaran secara materi dan nonmateri untuk karyawan semata hanya menjadi beban perusahaan. Justru kesejahteraan yang didapat karyawan akan membuat perusahaan semakin bergerak maju. Semakin penasaran mengapa bisa begitu? LummoSHOP akan memberi tahu alasannya.

Karyawan Sumber Daya Terbesar

Ketika perusahaan menyadari bahwa karyawan adalah sumber daya terbesar yang dimiliki perusahaan maka investasi sekecil dan sebesar apa pun akan diupayakan untuk kemajuan dan kesejahteraan karyawan. 

Sudah secara alami, sebagai manusia yang dihargai oleh orang lain, kamu akan balik menghargai orang tersebut. Karyawan yang dihargai oleh perusahaan pun cenderung menunjukkan loyalitasnya.

Hasilnya tentu akan kembali berdampak ke produktivitas yang meningkat. Sama halnya pelanggan yang loyal, mereka akan sering bertransaksi ke bisnis kamu. Sedangkan karyawan yang loyal, mereka akan lebih giat bekerja untuk memajukan perusahaan yang menghargainya. 

 

Memengaruhi Citra Perusahaan

Karyawan adalah orang yang pertama kali akan ditemui oleh klien perusahaan kamu. Selain itu, karyawan juga yang akan ditemui di awal oleh konsumen. Tidak salah jika karyawan menjadi perpanjangan tangan perusahaan atau perwakilan perusahaan.

Maka dari itu, sikap yang ditunjukkan karyawan dengan dunia eksternal bisnis akan memengaruhi citra perusahaan. Kamu harus menyatukan visi dan misi perusahaan ke karyawan agar mereka dapat berpikir dan bertindak selaras dengan perusahaan. 

Sumber daya manusia yang buruk, akan membuat citra perusahaan menjadi buruk pula. Akhirnya perusahaan tidak akan berkembang karena terhalang hal tersebut.

 

Wajah Perusahaan

Karyawan adalah wajah paling jujur dari bisnis. Hal ini berkaitan dengan retensi karyawan. Bisnis dapat dinilai baik atau tidak dilihat dari bagaimana perusahaan menjaga karyawannya. Mereka yang merasa nyaman tentu tidak akan berpikir untuk resign dari pekerjaan. Sehingga retensi karyawan menjadi salah satu tolak ukurnya. 

Selain itu, di zaman serba digital seperti saat ini, di mana berita memiliki dampak secara langsung terhadap sensitivitas masyarakat, perusahaan benar-benar harus menjaga wajah perusahaannya. Perlakuan tidak baik perusahaan kepada karyawan jika sampai terdengar media dan orang lain, maka akan menimbulkan ketidakpercayaan.

Akhirnya konsumen akan kabur meninggalkan perusahaan kamu dan pergerakan perusahaan menjadi lesu hingga terjadi hal tidak diinginkan lainnya, yaitu kebangkrutan.

 

Proses Rekrutmen dan Turn Over 

Lebih baik mempertahankan karyawan dan mengembangkan skill yang dimilikinya daripada melakukan proses rekrutmen terus-menerus. Selain itu, perjalanan pencarian karyawan akan menghabiskan banyak waktu pula. 

Waktu yang biasanya dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas menjadi terbuang percuma karena kamu sebagai pebisnis tidak memperhatikan karyawanmu. Pengeluaran terus bertambah sementara penghasilan terhambat.

Ditambah lagi akan terjadi cost opportunity ketika karyawan baru akan memasuki periode produktivitas rendah ketika beradaptasi dengan perusahaan baru. Butuh penyesuaian waktu untuk perusahaan bisa beroperasi secara optimal seperti sedia kala.

Turn over karyawan yang terlalu sering juga dapat berpengaruh ke karyawan lainnya. Mereka akan bertanya-tanya, ada apa dengan perusahaan? Kenapa perputaran karyawannya cepat dan silih berganti? Bisa jadi mereka yang kebingungan akan tetap bertahan atau memilih mengikuti jejak rekannya.

Klien yang melihat di luar perusahaan pun juga akan berpikiran serupa. Mengapa perusahaan tidak bisa menjaga retensi karyawannya? Akhirnya situasi yang penuh curiga di dalamnya akan merugikan operasional bisnis perusahaan.

Sampai di sini, apakah kamu masih menganggap karyawan tidak berpengaruh ke perusahaan? Kalau masih begitu, kamu perlu lebih dalam lagi mengetahui manfaat apa yang akan didapat sebagai pebisnis dengan adanya perhatian ekstra ke karyawan sebagai aset perusahaan berikut ini: 

  • Meningkatkan Daya Saing bagi Perusahaan

Variasi karyawan yang perusahaan miliki melahirkan berbagai potensi yang beragam. Jika kemampuan yang berbeda-beda dapat berkolaborasi menjadi satu, maka akan dapat meningkatkan kualitas kerja karyawan. Akhirnya perusahaan menjadi lebih kompeten dan memiliki daya saing yang positif.

  • Memberikan Ide

Karyawan yang diperhatikan perusahaan akan kembali memperhatikan perusahaan. Termasuk membantu perusahaan dalam menemukan ide-ide ketika dihadapkan dengan masalah tertentu.

 

Model bisnis apa pun termasuk D2C atau direct to consumer, semua membutuhkan karyawan untuk menunjang kegiatan operasional bisnis. Terlebih mereka yang menggunakan model bisnis ini harus lebih memperhatikan kinerja karyawannya yang langsung berhubungan dengan konsumen. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa karyawan merupakan wajah dan citra perusahaan.

Tidak terkecuali dengan bisnis jasa. Sebagai contoh, PT Transportasi Jakarta dan serikat pekerja telah membuat dan menandatangani perjanjian kerja sama yang mengatur hak dan kewajiban karyawan guna meningkatkan kesejahteraan karyawan. Dan kepada awak media, salah satu petingginya meyakini bahwa keberlangsungan bisnis perusahaan secara berkesinambungan terbentuk melalui hubungan kerja yang dinamis, harmonis, selaras, serasi, dan seimbang antara perusahaan dengan pekerjanya.

Jika perusahaan sekelas PT Transportasi Jakarta secara detail memperhatikan kesejahteraan pekerjanya, maka sudah sewajarnya jika kamu sebagai pebisnis yang baru melangkah juga melakukan hal yang serupa. Karena belajar dari pengalaman orang lain yang sudah senior itu jelas lebih menguntungkan. Mereka sudah lebih dahulu memakan asam garam kehidupan.

Harapannya, kesejahteraan karyawan yang semakin diperhatikan akan membantu bisnis terus beroperasi dengan lancar. Ujungnya juga akan berdampak baik bagi keberlangsungan profit perusahaan kamu.

Ternyata tanpa karyawan, perusahaan bukanlah apa-apa, ya?