fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Tantangan dari Bisnis Model D2C

Model Bisnis D2C

Indonesia menempati posisi pertama negara dengan pengguna e-commerce tertinggi di dunia sebesar 88,1% berdasarkan survei yang dilakukan We Are Social April 2021 silam sebagaimana dilansir oleh katadata.co.id. Tak heran jika kemudian banyak yang berbondong-bondong ingin menjadi “pemain” utama di bisnis online. Tak hanya orang biasa, bahkan artis atau public figure pun tak mau ketinggalan. Baru-baru ini misalnya, Nama Beauty, bisnis model D2C (Direct-to-Consumer) milik Luna Maya, berhasil mendapatkan pendanaan tahap awal dari salah satu Venture Capital seperti yang tertulis di pikiran-rakyat.com.

Mengingat pangsa pasar e-commerce di Indonesia ini begitu tinggi, kamu mungkin sangat tertarik untuk mengikuti jejak mereka. Terlebih, jika model bisnis yang kamu pilih adalah D2C seperti public figure ternama pemilik perusahaan perawatan kecantikan di atas, kamu pasti juga berharap jika bisnismu bisa segera moncer dalam waktu singkat.

Bisnis dengan model Direct-to-Consumer memang akhir-akhir ini banyak diminati. Ketiadaan penghalang antara pemilik bisnis dengan konsumen menjadi salah satu daya tariknya. Jika supply chain atau rantai pasokan tak terlalu panjang atau hanya melibatkan supplier, kamu sebagai pemilik bisnis online, dan langsung konsumenmu, maka pengeluaran pun bisa ditekan. Ujung-ujungnya, laba yang kamu hasilkan pun bisa melimpah dalam waktu singkat. Tak perlu menunggu lama untuk mencapai titik impas atau Break Event Point atau kondisi modal kembali.

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Sekilas, bisnis online D2C memang sangat praktis dan mudah. Bagaimana tidak. Kamu yang membuat produknya, kamu juga yang menjual, dan kamu pula yang menikmati labanya. Siapa yang tidak tergiur. Padahal, tantangan bisnis model ini juga pastinya ada. Kamu harus mengetahuinya, jangan hanya membayangkan yang indah-indah.

Mengetahui tantangan bisnis model D2C bukan untuk menjadikanmu ragu atau takut melangkah, tapi justru bisa membuatmu mengantisipasinya sejak dini. Ibaratnya, sedia payung sebelum hujan. Pahami kekurangan serta tantangannya, kemudian siapkan strateginya.

Model Bisnis D2C

Berikut ini adalah beberapa tantangan bisnis model D2C yang harus kamu tahu.

  1. Kamu harus mau mengurus semuanya dari a sampai z

Bisnis model D2C ini akan banyak menyita waktumu di awal operasi karena kamu harus mau mengurus segala macam kebutuhannya mulai dari a sampai z. Berbeda dengan ketika kamu hanya berperan sebagai reseller atau dropshiper, kamu tak perlu serepot ini. Tapi ingat, bukankah memang tak ada makan siang gratis di dunia ini, begitu kata pepatah. Jika kamu menginginkan hasil yang lebih banyak, kamu juga harus mau meluangkan waktu lebih banyak juga untuk mengurus serta merawatnya.

Beberapa hal yang harus kamu urus:

    • menentukan barang yang akan kamu produksi dan jual setelah sebelumnya kamu mungkin sudah melakukan survei pasar
    • menentukan siapa supplier kamu
    • memetakan siapa konsumenmu, membuat shopping journey map
    • membuat rencana promosi dan launching produk
    • melakukan kegiatan pemasaran
    • melakukan feedback kepada konsumen
    • menjaga hubungan baik ke semua pihak yang berkaitan baik supplier maupun konsumen
    • membuat laporan keuangan
    • menentukan strategi jangka panjang
    • evaluasi
    • dan lain sebagainya   

Kalau mau dijabarkan, pastinya masih lebih banyak lagi. Kalau toh dalam praktiknya kamu mungkin punya tim atau pegawai, tapi tetap kamulah “otaknya”. Tidak mungkin di awal berjalan, kamu melepasnya begitu saja. Kamu harus mau investasi waktu serta tenaga. Tanpa adanya perhatian penuh di awal, semua yang kamu bangun akan sia-sia.

  1. Tak semua orang nyaman terlalu banyak berkomunikasi dengan orang lain

Memiliki bisnis D2C membuatmu harus meluangkan waktu untuk berinteraksi lebih dengan konsumen. Faktanya, tak semua orang nyaman dengan hal tersebut. Orang-orang introvert misalnya, energi mereka akan terkuras habis ketika terlalu banyak berhubungan dengan dunia luar. Atau, orang-orang yang tak sabaran. Mereka pastinya akan mudah tersulut emosi ketika ada komplain bertubi-tubi dari konsumen. Padahal, membangun serta menjaga hubungan baik termasuk investasi jangka panjang juga pada bisnis D2C ini. Tak bisa dianggap enteng ya poin ini. Nah, kamu kira-kira bertipe apa?

  1. Harus punya website sendiri

Tak bisa dipungkiri jika berbisnis online via marketplace, kamu tak perlu bingung membuat website. Tugasmu hanya gelar lapak, beres. Di bisnis D2C, kamu tak bisa “secuek” itu jika ingin serius. Atas nama profesionalisme dan juga mempermudah komunikasimu dengan konsumen, kamu harus memiliki website bisnis sendiri.

Bagi mereka yang punya ketertarikan dengan teknologi informasi mungkin tak masalah, tapi bagaimana dengan yang tidak. Kamu termasuk yang mana? Kalau kamu tidak menguasai teknologi informasi, jangan khawatir. Karena kamu bisa jualan pakai LummoSHOP. Di sana, kamu bisa memiliki “rumah” atau website sendiri yang bisa kamu atur sendiri sesuai keinginanmu.

  1. Membuat konsumen datang ke website kamu

Setelah memiliki website, tugasmu bukan berarti selesai, dan kamu bisa “meninggalkannya” begitu saja seraya menunggu konsumen datang sendiri. NOPE. Tugas berikutnya menanti. Kamu harus bisa membuat mereka datang ke website-mu dan betah berlama-lama di sana. Mungkin, ini akan menjadi salah satu tantangan terberat mengingat brand kamu masih baru dan belum dikenal banyak orang.

Beberapa cara yang bisa kamu lakukan agar konsumen mau berkunjung ke websitemu, berlama-lama di sana, tertarik dengan apa yang ada di dalamnya, hingga berakhir dengan membuat transaksi:

    • tampilan websitemu haruslah user-friendly
    • tawarkan beragam informasi menarik di sana, jangan hanya jualan, kamu bisa menuliskan artikel-artikel ber-SEO sehingga ketika konsumen mengetikkan kata kunci tertentu di mesin pencarian, mereka akan tertuju padamu.
    • gunakan Google Ads untuk mempromosikan websitemu.
    • jika memungkinkan, kamu bisa melakukan kegiatan blog-walking yang saat ini bahkan ada grup/komunitas sendiri khusus ini.
    • bagikan link websitemu di semua media sosial milikmu.
Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP
  1. Bersaing dengan brand ternama, salah satunya artis / public figure

Mengingat saat ini banyak yang ingin ikut serta di kancah bisnis bertipe D2C ini, maka kompetitormu ada banyak. Bahkan, tak hanya dari golongan orang biasa sepertimu, tetapi mungkin juga tokoh-tokoh ternama seperti artis atau public figure. Dari sisi brand, mereka mungkin jauh di atas karena namanya sudah melejit lebih dulu. Tapi, hal ini tak boleh membuatmu patah semangat karena dalam jangka panjang tetaplah kualitas yang berbicara dan bisa mengikat pelanggan. Apalagi, jika harga produkmu tak semahal milik mereka yang mereknya sudah dikenal. Setidaknya, kamu masih punya celah atau harapan untuk merebut hati konsumen.

  1. Bersaing dengan reseller atau dropshipper yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan konsumen

Selain bersaing dengan brand ternama milik public figure, kamu juga harus siap bersaing dengan reseller atau dropshipper. Dari sisi membangun relasi, mereka mungkin setingkat di atasmu karena lebih berpengalaman. Agar bisa  “mengalahkannya”, kamu harus mau meluangkan waktu untuk belajar serta sabar terkait dengan bagaimana memenangkan hati konsumen.

  1. Tantangan di stok barang

Karena di awal memulai belum terlalu jelas berapa jumlah konsumen atau pelangganmu, maka ini menjadi tantangan tersendiri buatmu. Berapa banyak barang yang harus kamu produksi? Sebisa mungkin jangan sampai over karena biaya penyimpanan bisa membengkak dan barang bisa rusak serta jangan sampai tak ada stok karena bisa mempengaruhi kepercayaan pelanggan.

Model Bisnis D2C
Tak ada bisnis yang tak ada tantangannya, termasuk bisnis dengan tipe
Direct-to-Consumer. Hal-hal tersebut bukan untuk membuat nyalimu ciut, tapi justru untuk menyiapkanmu agar tahan banting. Kelak, ketika di tengah jalan kamu menemukan situasi yang tak seindah teori, kamu tak akan mudah menyerah atau demotivasi.

Published by Gustia Martha Putri

Senior Content Writer at LummoSHOP