fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Tips Menjalankan Start-up dan Seluk-beluknya

start up 01

Istilah start up pastinya sudah tidak asing lagi di telinga pebisnis semuanya, termasuk kamu. Seringkali bikin bingung ya, tapi jangan khawatir, pada artikel kali ini, LummoSHOP akan membahas seluk beluk start up dan bagaimana tips menjalankannya. 

Apa Itu Start up dan Dari Mana Sejarahnya?

Saking happening nya, muncullah drama Korea berjudul Start up yang juga menjadi viral dan dapat memberikan bayangan kepada masyarakat seperti apa yang dimaksud perusahaan rintisan. Apakah kamu termasuk pebisnis yang mengambil insight dari drakor tadi?

Kalau menilik sejarah, perusahaan rintisan dengan istilah ini mulai muncul sekitar tahun 1998 sampai 2000. Tengah populer di tengah masyarakat adalah bubble.com, dan memicu kemunculan perusahaan berbasis dot com lainnya. Itu seperti yang ada dalam buku Kewirausahaan Bisnis Online (2020) yang Anggri Puspita Sari dkk tulis. 

Namun, jauh sebelum itu, baru-baru ini, kamu pasti juga sudah akrab dengan satu daerah di California Utara, Amerika Serikat, tepatnya di selatan Teluk San Fransisco, bernama Silicon Valley. Dari daerah itulah, muncul perusahaan-perusahaan start up papan atas seperti Google, Apple, dan Facebook. Menurut Steve Jobs, Silicon Valley menjadi markas bagi inovasi karena sekitar tahun 1960-an banyak orang berideologi anti kemapanan yang concern tentang ide kontra-budaya. Selain itu, karena peran Universitas Stanford yang fokus pada sains dan teknologi. 

Itu bisa jadi juga menjadi cikal bakal dari munculnya demam start up (perusahaan rintisan) seperti saat ini. 

Start,Up 02Apakah semua bisnis yang baru dalam tahap merintis tersebut adalah perusahaan rintisan? Kalau melihat pengertian menurut Maryati dalam Modul Pembelajaran Mata Kuliah Kewirausahaan (2020), start up merupakan perusahaan atau kegiatan usaha yang baru saja berdiri atau dalam masa rintisan. Namun, tidak semua perusahaan ternyata masuk kedalam kategori dalam jenis ini, karena istilah start up lebih khusus pada usaha yang bergerak di bidang teknologi serta informasi yang berkembang di internet. Misalnya saja pengembang aplikasi, jasa perdagangan (e-commerce), sistem pembayaran, dan sebagainya.

Istilah start up sendiri berasal dari Bahasa Inggris yang berarti bisnis yang baru saja dirintis.   

Senada dengan itu, menurut seorang pakar, Paul Graham di laman pribadinya, mengatakan bahwa start up adalah perusahaan yang didesain dengan cepat. Perusahaan yang baru saja merintis tidak langsung dianggap sebagai perusahaan rintisan

Seiring perluasan makna dari berbagai sumber, perusahaan rintisan yang berkembang dengan cepat dapat kamu kategorikan dalam jenis ini. Jadi, tidak melulu yang bergerak di bidang teknologi informasi. 

Unsur-unsur Penting yang Menjadi Karakteristik Start up

Namun yang pasti, menurut Alyssa Maharani, Launchpad Accelerator Start up Success Manager di Google, ada beberapa unsur yang tidak bisa ditemukan dari bisnis-bisnis lain secara umum dan hanya terdapat pada perusahaan rintisan, yaitu :  

  • Potensi tinggi (high potency)
  • Pertumbuhan yang pesat (fast growth)
  • Efisiensi modal (capital efficiency)

Potensi tinggi ini berkaitan dengan identiknya perusahaan rintisan yang kemunculannya dimaksudkan menjadi problem solving bagi permasalahan yang ada. Artinya, jika permasalahan itu sangat umum dialami di luar sana, artinya potensi market nya terhitung besar. Sebagai contoh GO-JEK ya, kemunculannya ingin memberikan solusi pada citra ojek yang sering tidak mendapatkan kepercayaan dari masyarakat padahal kehadirannya selalu ada di tiap daerah, dan tidak terbatas di kota tertentu. 

Berbeda dengan bisnis UMKM yang misalnya membuka toko kue yang cakupan produknya hanya pada sekitar kota tersebut dan produk tidak bisa terkirim ke berbagai kota karena tidak tahan lama, dan bisnis yang sejenis. 

Sedangkan pertumbuhan yang pesat, masih menurut Paul Graham biasanya memiliki prosentase pertumbuhan hingga 10 % per minggu. Baru dapat kamu katakan sebagai perusahaan rintisan yang sukses.  Yang ketiga yaitu efisiensi modal, mengeluarkan dana terbatas untuk return yang besar. Katakanlah saat GO-JEK masih menggunakan aplikasi sederhana sepeeti Excel, mengoordinasi lewat telelapon hingga saat ini memiliki aplikasi yang dampaknya masif, bisa dibayangkan berapa kali lipat return yang diterima para investor yang menyuplai saat GO-Jek masih menjadi perusahaan rintisan biasa.

Jenis-jenis Start up

Menurut Steve Blank, ada enam jenis start up menurut cara mereka mengembangkan bisnisnya atau cara bekerjanya, diantaranya :

1. Lifestyle Start up : Bekerja untuk Menghidupi Passion

Seperti dalam sejarah start up tadi, Silicon Valley menjadi semacam representasi dari para programmer lepas dan orang-orang yang tergila-gila dengan bidang teknologi pada awalnya. Banyak orang-orang semacam ini yang bekerja di ranah perusahaan rintisan demi setia pada jalur passion-nya.

2. Small Business Start up : Bekerja untuk Menghidupi Keluarga

Orang-orang yang berada di sini tidak berorientasi untuk mencapai perusahaan rintisan dengan skala besar seperti unicorn, namun mereka juga serius mengelola bisnisnya, seperti menjalankan perangkat sederhana dimulai dari website kemudian mengontrol customer service, memastikan layanan sampai, dsb. Biasanya mereka hanya mengandalkan pinjaman untuk usaha kecil dari lembaga penyedia modal seperti bank. 

3. Scalable Start up : Sejak Awal Terlahir untuk Menjadi Besar

Berbeda dengan dua jenis sebelumnya, jenis ini sangat terukur karena memang punya visi panjang untuk mengubah dunia dengan apa yang mereka kerjakan. Perencanaan dilakukan secara matang dan meng-hire orang-orang terbaik untuk percepatan mereka. Sehingga menarik investor juga menjadi fokus utama mereka. Contoh populer dalam hal ini adalah Facebook, Twitter, Google, Uber, Skype dan sejenisnya.

4. Buyable Start up : Terlahir untuk Bisa Dijual  

Jenis ini agak sedikit unik. Biasanya mereka yang gemar berinvestasi atau menghasilkan uang yang lebih lagi, hanya menggunakan perusahaan rintisannya sampai batas tertentu, kemudian menjualnya. Rate perusahaan rintisan yang terjual dan tidak berorientasi pada nilai milyaran rupiah, tapi berkisar antara $ 5 hingga $ 50, dan kamu tawarkan ke perusahaan yang lebih besar.

5. Large Company Start up : Berinovasi atau Menguap Begitu Saja 

Jenis ini merupakan perusahaan besar yang membeli perusahaan rintisan pada jenis nomor 4 di atas. Tantangannya adalah preferensi konsumen yang berubah, teknologi baru, kompetitor baru, sampai masalah perundang-undangan. Biasanya akan ada inovasi produk baru karena adanya persaingan yang ketat, yang pada akhirnya menimbulkan konsumen baru di pasar baru. Contoh nyatanya adalah Google dan Android. 

6. Social Start up : Berjalan untuk Menciptakan Perbedaan 

Jenis ini sering menyebut pebisnisnya dengan sebutan social entrepreneur. Mereka adalah orang-orang yang sangat passionate melakukan misi mereka untuk menjadikan perusahaan rintisannya menjadi bagian dari solusi permasalahan tertentu dan memberikan long impact positif untuk sekitar. Market share bukan menjadi tujuan utama dijalankannya perusahaan ini. Biasanya jenis ini bisa diorganisir dengan model non profit, for profit, atau hybrid (paduan keduanya). 

Tips Memulai Start up buat Kamu 

Start,Up 03Buat kamu yang tertantang buat memulai perusahaan rintisan, coba tips berikut ini yuk! 

  • Temukan Ide Brilianmu

Dalam memulai perusahaan rintisan, tak cukup modal berani saja. Kamu perlu untuk menemukan ide utama yang long lasting dan berbeda. Kamu bisa menganalisis permasalahan yang ada di sekitarmu supaya idemu bisa menjadi solusi di tengah permasalahan yang ada. Jangan lupa analisa kompetitor. Lalu terjemahkan ke dalam visi misi yang jelas. 

  • Kenali Target Market dan Buat Business Plan

Setelah ide, visi misi ditemukan, jangan lupa tentukan target market sehingga bisnismu bisa berjalan dengan arahan yang jelas. Jangan lupa untuk membuat business plan sehingga target yang akan kamu capai secara keseluruhan menjadi terukur dan kamu bisa memprediksi goals bisnismu tercapai. 

  • Pastikan Modal Awalmu Memadai

Tidak ada jumlah yang pasti tentang berapa modal yang sebuah perusahaan rintisan butuhkan. Namun, biasanya rata-rata memulai dengan modal awal terbatas namun memadai. Kamu juga bisa memasarkan ide bisnismu dengan mengikuti banyak kompetisi start up yang berkembang saat ini atau mencari investor melalui platform crowdfunding dan sebagainya. 

  • Build A Super Team

Melakukan semuanya sendirian alias one man show tak akan membuat sebuah bisnis, termasuk perusahaan rintisan berkembang dengan cepat atau paling tidak berjalan mulus. Kamu harus membentuk sebuah tim kecil yang dapat kamu andalkan dan bisa disebuat super team. Rekrut orang yang memiliki visi misi sama dan posisikan mereka di tempat yang tepat sesuai keahliannya. Perusahaan rintisan biasanya memiliki rata-rata kurang dari 20 anggota dalam timnya. 

  • Desain Platform Bisnis dan Tandai Lokasimu

Meski perusahaan rintisan berbasis teknologi dan memiliki rumah maya di platform bisnis yang nantinya akan menjadi produk yang akan kamu pasarkan, kamu harus tetap memiliki rumah secara fisik sehingga orang lain bisa mendeteksi keberadaanmu. Terutama memberikan trust pada calon investor atau partner ke depan. Jangan lupa tandai lokasimu di Google maps, lalu bangun website dan landing page mu. 

  • Kuasai Teknik Digital Marketing 

Setelah membangun produk, jangan lupakan untuk terus belajar meningkatkan kemampuan dan kuasai teknik digital marketing. Saat ini juga sedang kekinian menggunakan teknik inbound marketing yang bisa kamu aplikasikan ke banyak teknik digital marketing, mulai dari content marketing, SEO, social media marketing, email marketing, dan sebagainya. 

  • Bangun Customer Circle-mu 

Saat ini, services after sales penting banget, salah satunya dengan cara membangun customer circle mu. Libatkan mereka dalam pengalaman yang berkesan sejak awal mencoba produkmu, mulai dari membeli produkmu, misalnya tunjukkan dengan performa platform yang kencang (aplikasi ataupun web), fitur yang mudah konsumen lakukan, customer service yang responsif, sampai mengkompilasi data mereka dan memberikan mereka penawaran spesial. Buat customer mu menjadi pelanggan loyal. 

Bagaimana, lengkap sudah kali ini kamu menyimak seluk beluk start up dan cara memulainya. Jangan pernah takut gagal sebelum mencoba. Semoga sekarang kamu sudah tidak bingung lagi mendengar kata perusahaan rintisan atau start up dan terinspirasi dari tulisan ini.