fbpx
Dengan bangga kami umumkan TOKKO kini jadi LummoSHOP

Wajib Tahu! 6 Tipe Pembeli Online Produk Fashion

Tipe Pembeli

Artikel ini terkhusus kamu yang tertarik untuk melakukan ekspansi bisnis produk fashion secara online. Pasalnya, kamu perlu tahu beragam tipe pembeli online produk fashion. Agar kamu bisa atur strategi khusus sesuai masing-masing tipe pembeli.

Kisah Andrea Sachs berikut ini bisa jadi inspirasi kamu. Ia yang seorang jebolan Universitas Northwestern sangat berbunga-bunga manakala ia akhirnya dapat bekerja di sebuah perusahaan publikasi ternama di New York. Mimpinya menjadi jurnalis yang mengedepankan idealisme sepertinya sedang terwujud. 

Namun di luar dugaannya, perusahaan publikasi tempat dia melamar justru memberikannya pekerjaan sebagai asisten dari Miranda, Editor in Chief Majalah Runway, sebuah majalah fashion ternama. Dari sinilah keseruan dimulai. 

Penampilan Andrea ternyata jomplang dengan karyawan Runway yang hampir semuanya tampil modis dan mengenakan produk fashion dari brandbrand ternama. Selain itu, Andrea juga kesulitan menyesuaikan diri dengan jadwal Miranda yang super padat dan serba cepat. 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Seiring berjalannya waktu, Andrea menemukan ritmenya. Dibantu rekan kerjanya, Andrea di make over dan tampil sangat modis. Dia juga pelan-pelan berhasil membuat Miranda melunak, dan mereka menjadi berkawan baik. 

Ini adalah cerita dari sebuah film yang populer di tahun 2006 berjudul The Devil Wears Prada. Andrea diperankan oleh Anne Hathaway dan Miranda diperankan oleh Meryl Streep. Film bergenre drama komedi ini tak hanya menghibur, tetapi juga memanjakan mata dengan gaya fashion yang dikenakan pemainnya.

Tipe PembeliAndrea yang awalnya berpenampilan cuek, tiba-tiba berubah menjadi anggun dan berkelas setelah di make over. Ya begitulah fashion, kalau pilihannya tepat akan memperkuat persona seseorang. Tapi kalau salah pilih, justru membuat penampilan menjadi tidak menarik. 

Sebagai pebisnis fashion, kamu juga pasti menyadari bukan, kalau tidak semua orang akan cocok dan pas mengenakan produk buatanmu. Begitu juga konsumen, pasti memilih produk fashion yang sesuai dengan karakter dan kegemarannya. Itu hal yang wajar, karena fashion soal pilihan, dan kita nggak bisa menyenangkan semua orang. 

Namun kabar baiknya, bisnis fashion menjadi salah satu sektor industri yang prospektif di 2022. Terutama bisnis fashion online. Ini sejalan dengan tren bisnis di 2022 yang terus mengarah ke segala sesuatu yang serba digital. 

Kendati begitu, supaya sukses jualan pakaian secara online, kamu harus mengenali tipe pembeli karena dengan mengenali karakter konsumen kamu bisa mendapat strategi marketing yang jitu dan sesuai target, sehingga penjualan produkmu juga bisa lebih tepat sasaran. 

Kamu bisa memetakan tipe pembeli alias karakter konsumen bisnis fashion online berdasarkan 3 kelompok berikut:

  1. Deskripsi Pelanggan
    • Letak geografis 

Kamu bisa mulai memetakan mayoritas pelangganmu berasal dari daerah mana saja. Karena faktor budaya, iklim, dan kondisi geografis tempat tinggal berpengaruh pada pemilihan produk fashion. Misalnya minat konsumen bisnis online kamu cukup banyak dari Aceh, sebaiknya kamu mengeluarkan produk-produk fashion yang sesuai nilai-nilai Islami. Atau pilihan warna yang disukai di pulau Sumatra dan Jawa itu berbeda loh.

    • Sosial demografi

Ini menyangkut pendapatan, usia, jenis kelamin, dan status pelangganmu. Dengan mengetahui hal ini, kamu bisa mendapatkan titik harga produk yang pas. 

    • Generasi

Nah, pelangganmu itu kebanyakan berada di kisaran generasi mana. Secara umum generasi ini dibagi atas pra remaja, milenial, generasi X, baby boomer, atau lansia. Dari segi kebutuhan saja, fashion statement remaja berbeda dengan Generasi X. Remaja butuh pakaian untuk nongkrong, sementara generasi x juga membutuhkan pakaian untuk bekerja. 

Kalau bisa, cari tahu alasan yang membuatnya memutuskan pembelian. Karena bisa terjadi pelanggan memutuskan membeli bukan karena sesuai usianya atau alasan geografis misalnya, tapi ada alasan lain dan ini yang perlu kamu kulik. 

2. Perilaku

    • Status

Apakah pelanggan merupakan pelanggan potensial, konsumen biasa, atau mantan konsumen. Karena statusnya berbeda, pendekatannya pun akan berbeda. 

    • Loyalitas pada Merek

Biasanya pelanggan setia seolah sudah terikat secara emosional dengan merek bisnis fashion tertentu. Jadi mereka percaya pada merek, sekalipun misalnya produk yang ingin dibeli agak tidak sesuai dengan seleranya. Pelanggan semacam ini jelas harus kamu pertahankan. 

3. Psikologis

    • Inovator

Konsumen fashion yang satu ini sangat responsif pada perubahan dan inovasi. Ketika kamu meluncurkan produk fashion terbarumu, ia akan menjadi yang terdepan membeli, lalu membagikan ulasannya pada pembeli lainnya. 

    • Pemimpin Tren

Begitu bisnis fashion kamu berhasil membentuk tren, konsumen jenis ini akan menjadi pembeli pertama. Mereka juga akan mempengaruhi apakah tren yang kamu bentuk berhasil atau tidak. Karena mereka menjadi ‘pemimpin tren’, biasanya ulasan dari mereka bisa menjadi input bagi bisnis fashion kamu untuk melakukan pengembangan atau perbaikan. 

    • Mayoritas yang Terlambat

Konsumen jenis ini biasanya mengikuti tren fashion tertentu setelah tren itu sudah menjadi besar dan berpengaruh. Meskipun terlambat, tapi mereka juga menentukan apakah produk bisnis fashion kamu terus menunjukkan grafik menggembirakan atau justru mengalami penurunan penjualan. 

Tipe PembeliLalu promosi dan pendekatan marketing seperti apa yang bisa dilakukan berdasarkan masing-masing tipe pembeli yang memiliki karakter berbeda-beda supaya sukses bisnis pakaian?

  1. Konsumen Pemburu Kemewahan

Tipe pembeli satu ini biasanya membeli bukan semata karena butuh, tapi karena ingin memberi kesan ‘wah’, update pada tren alias nggak mau disebut ketinggalan zaman, dan ingin tampak berkelas. 

Kalau segmen ini sesuai dengan produk bisnis fashion yang kamu tawarkan kamu cukup diuntungkan. Biasanya konsumen ini tidak terlalu memperhatikan harga. Strategi marketingnya, ya kamu mesti menampilkan foto produk secara detail, apa saja bahannya, bagaimana proses pembuatannya, serta komposisi foto yang elegan, supaya pembeli yakni akan value produk yang kamu jual sesuai dengan harga yang ditawarkan. 

  1. Konsumen yang Boros tapi Selektif

Tetap menyukai barang mewah tapi agak selektif. Biasanya senang bergaya fashion mix and match dengan menggabungkan barang mewah dan barang pasar massal. Misalnya kalau pakaiannya sudah branded, tas atau jam tangannya tak perlu branded-branded amat. 

Pendekatan untuk tipe pembeli yang seperti ini, kamu bisa menawarkan variasi kategori produk fashion jualanmu berdasarkan kelasnya. Misalnya membagi segmen produk sebagai produk premium dan must have item yang bukan branded tapi kualitas boleh diadu. 

  1. Konsumen atas Dorongan Emosional

Yang mendorong konsumen ini membeli produk fashion tertentu bukan semata karena ia perlu atau suka, tapi bisa jadi karena dorongan emosional. Seperti ingin mendapat pengakuan tertentu, atau tidak mau kalah saing entah dengan apa dan siapa. 

Untuk konsumen jenis ini, ya kalau sudah rejeki bisnis fashion kamu ya dia akan membeli produknya. Kan tidak ada yang bisa menebak isi hati seseorang, bukan? 

  1. Konsumen Lintas Strata Sosial dan Ekonomi

Rasanya ini konsumen yang paling mendominasi pasar bisnis apa pun, entah itu bisnis Direct-to-Consumer atau D2C maupun bisnis konvensional. 

Konsumen pada kategori ini biasanya cukup mempertimbangkan harga, tapi cukup tricky soal detail dan kualitas barang sebelum memutuskan pembelian. Kuncinya, bersabar menghadapi pertanyaan konsumen jenis ini dan rajin-rajin luncurkan promo atau giveaway, walaupun semua jenis konsumen sih pasti doyan diskon dan promo. 

  1. Konsumen Berorientasi Nilai

Cenderung memaksimalkan manfaat dari membeli sebuah produk sambil tetap mempertahankan harga di ambang terendah. Pelanggan semacam ini biasanya akan cepat merespons promosi atau potongan harga, dan senang melakukan tawar-menawar jika memungkinkan. Jadi kamu paham dong harus bagaimana. 

  1. Konsumen Korban Mode

Pelanggan ini rela mengeluarkan uang terlepas mereka sebenarnya mampu membeli atau tidak. Intinya, mereka menganggap fashion seperti ekspresi diri sehingga mereka dikendalikan emosi ketika membelanjakan uangnya. Bedanya dengan konsumen atas dorongan emosional, konsumen korban mode kadang tidak terkendali. 

Iya sih, produkmu jadi laku, tapi tak ada salahnya memberi konsultasi apa produk yang cocok untuk konsumen ini. Sekalipun ujung-ujungnya ia akan tetap membeli produk bisnis kamu ya tak apa, setidaknya kamu sudah melakukan peranmu.

Tipe PembeliMengetahui tipe pembeli dengan beragam karakter yang berbeda-beda dan tahu benar siapa pelanggan bisnis fashion onlinemu memang penting, tapi jauh lebih penting menggali informasi mengapa mereka membeli produk fashion dari bisnis Direct-to-Consumer milikmu. Karena dengan pemahaman yang kuat, kamu bisa tahu produk apa yang disenangi dan bisa terus kamu kembangkan, serta strategi pemasaran yang tepat. 

Fashion merupakan produk yang sifatnya sangat personal, pelangganmu bukan semata mesin uang demi mengejar keuntungan. Ingat, pelanggan yang setia pada merek tak kalah pentingnya dengan pelanggan-pelanggan baru. Seperti kalimat bijak berkata, “The best marketing strategy: CARE.” 

Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!

Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.

Mulai SekarangUnduh LummoSHOP

Salah satu fitur yang bisa kamu manfaatkan untuk mengenal karakteristik pembeli toko online fashion milikmu di LummoSHOP, yaitu fitur “Analisa Data Pelanggan”. Dengan fitur ini, secara otomatis akan terekam kebiasaan belanja masing-masing konsumen-mu. 

Misal, A paling sering membeli jualan baju lengan panjang dan celana panjang, B langganan membeli kaos-kaos oversize di toko-mu, dan C lebih sering membeli kemeja dan jaket. Dengan demikian, bila kamu memiliki produk berupa baju lengan panjang dengan warna atau model baru, kamu bisa langsung merekomendasikan ke A, bila ada koleksi terbaru kaos oversize kamu bisa informasikan ke B dan bila ada jaket dan kemeja baru, kamu bisa rekomendasikan ke C dan konsumen lainnya yang pernah membeli produk sejenis. Jadi bisa lebih tepat sasaran, kan? Selamat mencoba!